
Gus Aham datang paling akhir, setelah jama'ah sholat magrib. menemui Abah dan kakaknya, yang sudah menunggunya di gazebo taman belakang ndalem, Ummi.
Ada yang ingin di bahas oleh Abah dengan semua putranya. mengenai istighosah kubro, yang akan berlangsung sebulan lagi.
"Assalamualaikum, mas, bah.", sapa Gus Aham. ia segera ikut naik bergabung di gazebo.
"Waalaikum salam.", jawab mereka bergantian, sebelum akhirnya Gus Aham mencium tangan Abah dan kakaknya.
Mereka pun segera membahas acara yang biasa di selenggarakan oleh para kyai-kyai sepuh itu.
Acara istighosah kubro se-Jawa timur, yang di hadiri oleh para kyai sepuh, para pemilik pondok pesantren, para ulama', tokoh agama dan sebagai ajang perkenalan Gus-Gus muda. karena mereka lah, nantinya yang akan meneruskan acara-acara seperti ini.
"Jadi, pas sehari setelah acara tujuh bulanan istrimu, le.", ucap Gus Ma'adz, yang sedari tadi menjelaskan maksud Abahnya pada sang adik.
"Tapi, aku pengen pas Aisyah lahiran, aku nemenin dia mas, bah.", ucap Gus Aham.
"Lahiran nya, berarti kan masih kurang dua bulan to, le.", ucap Gus Ma'adz.
"Iyakah?!.", tanya Gus Aham. ia bahkan tidak tau hal itu.
Yang ia tau, ia mengantarkan istrinya periksa kandungan. kontrol jahitan, dan merawat luka istrinya. ia tidak pernah bertanya, kapan perkiraan bayi mereka lahir?!. pokok istri dan bayinya sehat, yowes. hihihi.....
"Jadi gimana?!. mau ikut apa ndak?.", tanya Abah.
"Insyaallah, bah. tapi, Aham tanya Aisyah, dulu.", jawabnya. Abah mengangguki jawaban Gus Aham. karena Abah yakin, Aisyah pasti mendukung.
"Yowes. Abah, mau siap-siap dulu buat ngaji ihya' habis isya' nanti.",
"Abah, duluan yo.", ucap Abah. Gus Aham dan Gus Ma'adz, segera meraih tangan Abahnya, sebelum Abah pergi.
...----------------...
Gus Aham masuk ke kamarnya, ia melihat istrinya sedang memandangi ponsel.
"Lihat, apa?!.", bisik Gus Aham. membuat Aisyah sedikit terkejut karena tidak menyadari kehadiran suaminya.
Ia terlihat menoleh pada sang suami, dan mendengus.
"Njenengan, ngagetin saja.", ucapnya. ia lantas melihat ponselnya lagi, yang membuat Gus Aham ikut melihatnya juga.
"Stroller?!.", tanya Gus Aham. karena ia melihat foto-foto stroller yang dikirimkan kakak iparnya pada sang istri.
__ADS_1
"Iya. mba Mira, kirim gambar. suruh pilih satu, model dan warnanya. saya, jadi bingung.", jawab nya.
Gus Aham meraih ponsel istrinya. lalu ia mengetik sesuatu.
"Mba saja yang pilih. pasti pilihan yang paling bagus dan terbaik buat keponakannya.", πππ
"Lagian, aku nggak ngerti.",
Dan Gus Aham pun segera mengirim pesan itu pada kakak iparnya. tak berapa lama, ponsel Aisyah menyala. tanda notif pesan masuk.
"Gus Aham, Iki seng njawab.",π€¦ yang mana, saat mereka membuka pesan itu. membuat Gus Aham dan Aisyah tertawa.
"Budhe, yang pilihkan ya?!. Aisyah, ndak ngerti. pilih yang sekira bisa di pake lama, ya?!. bisa multi fungsi, jadi ndak mubadzir.", Aisyah mengirimkan pesan itu pada mba Mira. dan segera mendapatkan balasan.
"*Nah, nek ini baru kamu. yang jawab.
Iya, nanti mba pilihin. warna netral wae,ya?!. kan jenis kelaminnyaa, juga ndak tau baby nya cowok apa cewek?!.",
"Injih, mba. warna netral saja. matur nuwun.",πππ
"Sama-sama.", ππ*
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
"Njenengan, ndak ikut ngaji ihya'?!.", tanya Aisyah, ketika mereka baru saja selesai melaksanakan jama'ah sholat isya'.
"Bentar lagi.", jawabnya. dan Gus Aham masih berbaring di pangkuan istrinya yang masih lengkap memakai mukena.
Ia mengecup-ngecup perut buncit istrinya. dimana ada calon bayi mereka di sana. sesekali Gus Aham membaca doa-doa dan lalu meniup perut Aisyah setelah selesai membacanya. sedang Aisyah, hanya duduk bersandar sambil membelai rambut sebahu milik suaminya.
"Sayang.", panggil Gus Aham, pada sang istri. Aisyah menatapnya dengan senyuman, menunggu perkataan selanjutnya dari sang suami.
"Sayang. tadi, setelah sholat magrib. mas, mas Ma'adz diminta Abah ke gazebo.", ucapnya mengawali. sedang istri nya masih setia mendengarkan.
"Abah, bilang. satu bulan lagi, akan ada acara istighosah kubro se-Jawa timur.",
"Biasanya selain istighosah dengan para kyai-kyai sepuh, para habaib, para ulama'. waktu itu, juga jadi ajang perkenalan para Gus-Gus.", terangnya.
"Kata Abah, karena Gus-Gus muda adalah orang yang akan melestarikan, ngurip-nguripi dan melanjutkan semua kegiatan itu. jadi, mas di minta ikut sama, Abah.", sambungnya.
"Tapi, mas nggak mau ninggalin kamu.",
__ADS_1
"Mas, pengen pas kamu lahiran. mas, yang nemenin. mas, mau menyambut anak kita lahir.", ucapnya, mengakhiri ceritanya.
"Kalau satu bulan lagi, berarti setelah acara tujuh bulanan?!.", Aisyah bertanya. Gus Aham, yang masih merebahkan diri di pangkuan istrinya itu, menjawab dengan anggukan.
"Kalau acaranya, setelah tujuh bulanan. berarti kira-kira masih ada waktu satu setengah, sampai dua bulan buat bayinya lahir. jadi, njenengan tetap bisa ikut.", jawab Aisyah.
"Tapi, yang nemenin kamu nanti, siapa?!.", tanya Gus Aham. membuat Aisyah tersenyum dengan sikap dan pikiran suaminya yang begitu posesif dengan dia dan bayi mereka.
"Kan, ada Ummi, ada mba Nafis, ada Ning Dija sama Ning Shofy. mba ndalem juga banyak, jadi saya ndak sendirian.", jawabnya.
"Tapi, kan lebih enak kalau, mas yang nemenin.", ucap Gus Aham.
"Tapi, kalau njenengan selalu nemenin, saya. njenengan, ndak akan bisa belajar.", jawab Aisyah. Gus Aham terdiam mendengar jawaban istrinya. membuat Aisyah menghela nafas dalam sebelum memberi pengertian pada sang suami.
"Suatu hari, meskipun bukan njenengan yang menjadi penerus Abah dan Ummi, untuk mengelola pondok. njenengan, juga tetap perlu untuk bersosialisasi dan mengenal para Gus-Gus dan kyai-kyai sepuh lainnya.", ucapnya pelan.
"Kenapa, untuk apa?.",
"Kita santri. mau apa-apapun, mau bagaimanapun, ndak lepas dari para kyai, dari para habaib.",
"Karena, kyai dan habaib panutan kita. doanya maqbul, jadi kita hanya bisa manut, nurut. selama itu bukan hal maksiat, insyaallah berkah buat hidup kita.", sambungnya.
"Lagipula, njenengan punya yayasan. suatu hari, kita pasti butuh bantuan, walaupun hanya arahan ataupun doa. itu, sangat bermanfaat bagi kita.",
"Bukankah, nantinya saat Abah dan Ummi, menyetujui kita pindah ke yayasan. kita juga akan mempersilahkan anak perempuan dan para lansia untuk tinggal disana?!.", tanyanya, dan suaminya masih mendengarkan.
"Tanggung jawab kita, bukan hanya memberi mereka tempat tinggal dan pekerjaan. tapi, lebih dari itu.",
"Memberi pengajaran juga. mengenalkan mereka agama juga. banyak tanggung jawabnya.",
"Dan..., akan sangat bermanfaat, kalau njenengan mengikuti acara-acara semacam itu.",
"Njenengan, bisa minta doa. minta pengarahan dan pencerahan pada para kyai dan habaib. insyaallah, juga. pikiran Abah, bisa semakin terbuka dan mendukung njenengan, dengan njenengan mengikuti acara itu.", Gus Aham menganguk paham mendengar perkataan istrinya.
Aisyah memang lembut dalam bertutur kata, sehingga Gus Aham mampu menangkap nya dengan mudah. membuatnya, menyetujui semua saran dari sang istri.
"Ok. mas, akan ikut.", jawabnya. yang membuat Aisyah senang mendengarnya.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
πΊTO BE CONTINUED πΊ
__ADS_1