Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 32


__ADS_3

Sebuah pesan WhatsApp masuk, Gus Aham membukanya dan nampak sebuah foto. gadis di foto itu tidak asing baginya. ya, dia Aisyah. ntah foto itu di ambil kapan?, tapi dalam foto itu Aisyah terlihat bahagia di gendongan seorang laki-laki.


Foto berlatar belakang pemandangan alam sekitar itu menunjukkan betapa Aisyah sangat bahagia dengan perlakuan laki-laki yang mengangkatnya tinggi-tinggi, sementara laki-laki itu memeluk pinggang Aisyah.


Sayangnya, wajah dan perawakan laki-laki itu tidak terlalu jelas.


Gus Aham menahan amarahnya, setelah melihat foto itu. ia begitu kesal, kenapa orang itu terus menerus menerornya?.


Terkadang, ia meneror dengan foto-foto Aisyah. terkadang, ia mengirim screenshot percakapannya dengan Aisyah. tapi tiap kali Gus Aham mengecek ponsel Aisyah, ia tidak menemukan nomer baru ataupun pesan dari selain anggota keluarga, dan pengurus pondok.


"Mau mandi sekarang, Gus?.", suara Aisyah membuyarkan lamunannya. ia melirik, sesaat ia bersikap dingin, tapi kemudian sadar bahwa semua akan terjawab sebentar lagi. jadilah ia berusaha bersikap biasa kepada istrinya.


"Iya, tolong siapkan air.", jawabnya.


Sementara Aisyah menyiapkan air mandi untuk suaminya, Gus Aham menghubungi Nigham, salah seorang anak jalanan yang ahli dalam masalah technologi, terutama dalam masalah peretas dan pelacakan.


"Tolong, selidiki nomer ini dan alamat IP nya. aku ingin tau, siapa yang berani mengusikku.",


Pesan terkirim pada Nigham. ia sedang menunggu balasan. "Siap" . ada balasan masuk, dan Gus Aham bernafas lega.


"Airnya sudah siap, Gus.", ucap Aisyah yang baru saja keluar kamar mandi. Gus Aham mengangguk. ia segera berjalan ke kamar mandi, dan masuk.


Aisyah mempersiapkan baju ganti untuk suaminya. entah kenapa?, perasaannya tidak enak tiap mengingat pemeriksaan yang mereka lakukan tadi pagi. ia merasa apa yang dilakukan kali ini salah, tapi ia tidak berani bertanya ataupun mencari tau lebih lanjut. ia takut Gus Aham akan merasa tersinggung atau kecewa bila Gus Aham tau kalau dia mencari tau secara diam-diam.


Aisyah terdiam. ia duduk di tepian ranjang, di pangkuannya ada baju suaminya yang ntah kenapa?!, saat ia menatap baju itu ia merasakan suaminya begitu jauh. dan itu mempengaruhi perasaannya sebagai wanita hamil.


Air matanya menetes, jatuh membasahi baju ganti milik suaminya. Gus Aham keluar dari kamar mandi, ia melihat Aisyah mengusap-usap bajunya dan menangis.


"Kenapa?.", tanyanya sambil mendekati Aisyah. Aisyah segera menghapus air matanya begitu sadar ada Gus Aham yang berjongkok di bawahnya.


"Ndak apa, Gus.", ucapnya lalu tersenyum. Gus Aham hanya diam, ia tak tahu harus berbuat dan bersikap bagaimana pada Aisyah.


"Njenengan ganti baju dulu, saya mau mandi.", ucapnya lagi, lalu memberikan baju ganti itu pada Gus Aham.


Aisyah masuk kamar mandi, dan menyalakan shower. entah kenapa?!, air matanya tidak mau berhenti. perasaannya terus menerka-nerka tentang apa yang sebenarnya terjadi, membuatnya berpikir yang tidak-tidak pada suaminya.

__ADS_1


Apa yang sebenarnya terjadi?!, ada yang salahkah?.


"Aisyah.", Gus Aham mengetuk pintu kamar mandi untuk meyakinkan bahwa istrinya baik-baik saja. cukup lama Aisyah berada di dalam sana, dan ia khawatir terjadi sesuatu pada Aisyah dan bayinya.


Sintya bilang, pemeriksaan itu berefek pada janin seperti gangguan kehamilan, bahkan juga bisa menyebabkan keguguran.


"Aisyah, kamu baik-baik saja.", ucapnya sedikit panik karena tidak mendapatkan jawaban.


Gus Aham berniat mendobrak pintu kamar mandi, tapi saat ia bersiap-siap Aisyah sudah lebih dulu keluar.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Mau nginep disini berapa hari lagi, Gus?.", tanya Aisyah yang masih bersiap memakai jilbab di depan cermin.


Gus Aham yang sedari tadi bermain ponsel seketika berhenti. ia melihat wajah istrinya di cermin.


Cantik memang, tidak salah banyak yang suka dan jatuh cinta padanya. diam-diam ia mengagumi wajah istrinya dari cermin.


"Gus.", Aisyah membuyarkan lamunannya. Gus Aham tersadar, ia menghela nafas dalam.


"Kalau, kamu masih mau berapa lama lagi nginep disini?.", tanya Gus Aham yang malah bertanya kembali pada Aisyah.


"Yasudah. sekarang kita cari makan dulu, ya.", ucap Gus Aham. yang di angguki Aisyah.


Mobil berjalan menyusuri kota pahlawan, hawa disini sedikit lebih dingin dan sejuk setelah hujan.


Aisyah dan Gus Aham menuju kesebuah resto bertema khas Bali. resto bebek tepi sawah, tidak sesuai dengan namanya, nyatanya resto ini di bangun di tepi jalan raya.


Gus Aham memarkir mobilnya, lalu ia segera turun dan membuka pintu mobil untuk Aisyah. batu besar dengan beberapa patung bebek diatasnya menjadi lambang dan ikon untuk resto ini.


Belum lagi gapura yang di bangun sedemikian rupa, menambah kentalnya suasana pedesaan Bali.


Resto bebek tepi sawah ini adalah cabang dari resto utama yang berada di Bali. tidak hanya ornamen dan suasananya yang di bangun sedemikian rupa, tapi para pramusaji dan pelayan juga memakai baju adat Bali. membuat pengunjung benar-benar merasa di pulau Dewata.


Gus Aham dan Aisyah segera masuk, dari sekian banyak tempat mereka tetap memilih gazebo pada akhirnya.

__ADS_1


"Silahkan.", ucap seorang pelayan wanita lengkap dengan baju adat Bali, datang dan memberikan buku menu. Gus Aham dan Aisyah menerimanya.


Gus Aham membaca dan melihat menu yang ada, sementara Aisyah hanya diam.


"Mau yang mana?.", tanya Gus Aham.


"Terserah njenengan, saya manut.",


"Bebek betutu, crispy duck, udang telur asin, cumi goreng tepung. minumnya, beri kami dua es puter dan dua botol air mineral. kamu mau dessert apa?.", tanya Gus Aham yang membuat pelayan itu menulis semua pesanan dengan cepat.


"Sudah Gus, itu saja. itu terlalu banyak.", jawab Aisyah.


"Yakin?.", tanya Gus Aham melihat istrinya. Aisyah mengangguk.


"Itu saja.", ucap Gus Aham lalu menutup buku menu dan memberikannya pada pelayan.


"Baik. silahkan ditunggu.", ucap pelayan itu, lalu undur diri.


Aisyah terdiam menatap suaminya, entah kenapa perasaannya begitu resah, tidak tenang. matanya bahkan berkaca-kaca, ada rasa sesak yang tidak bisa di ungkapkan, yang tidak ia ketahui karena apa?.


"Kenapa?.", tanya Gus Aham. Aisyah tersadar dan tersenyum kecil lalu menggeleng. ia memalingkan wajahnya, berpura-pura melihat suasana sekitar lalu diam-diam menghapus air mata yang membendung di kelopak matanya.


"Besok, yakin mau pulang?.", tanya Gus Aham.


"Iya.", jawab Aisyah. ia berusaha tersenyum di depan suaminya.


"Nggak mau disini beberapa hari lagi?.", tanya Gus Aham meyakinkan. Aisyah menggeleng.


Ia hanya ingin pulang, entah kenapa?!. ia sendiri tidak tau kenapa, ia hanya ingin pulang. ingin bertemu dan berkumpul dengan keluarga.


"Sebenarnya, ada apa?.", tanya Gus Aham. ia juga merasa aneh dengan sikap istrinya. Aisyah menggeleng.


Bukankah, seharusnya ia yang bertanya?!, sebenarnya ada apa?, dan itu pemeriksaan apa?!.",


"Saya, kangen Ummi. Gus.", jawabnya.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2