Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 56


__ADS_3

"Iya. lagi pula, perceraian antara Gus Aham dan Aisyah kan belum tersebar. hanya dari kedua belah pihak keluarga saja yang tau.", ucap suami budhe. membenarkan omongan istrinya.


"Tapi, masak?!. sampean ndak kasihan to, yu?, sama keponakanmu?. Aisyah wes kelangan bayine, trus sekarang buta. iku Kabeh, goro-goro sopo?. Yo Gus Aham.", bulek menjawab ucapan budhe dan pembelaan pak Dhe untuk istrinya.


"Lhawong, sekarang ae wes koyo' ngunu. mosok?!, masih mau di lanjutne?, remuk, yu. ponakanmu.", sahut yang lain.


Benar kata pak lek, bulek, budhe dan pak Dhe nya. jika rujuk lagi dengan Gus Aham, mungkin adiknya akan lebih menderita lagi. tapi bila tidak rujuk, bagaimana juga hubungan antara kedua keluarga yang sudah di bangun bertahun-tahun itu?. mas Raihan terdiam duduk di kursi. masih terus mendengarkan spekulasi dan pendapat dari para tetua.


Sebenarnya, Aisyah bukanlah cucu perempuan satu-satunya. dari semua putra budhe dan buleknnya. cucu si Mbah ada kurang lebih tujuh puluh lima, baik laki-laki ataupun perempuan.


Saudara ibu sendiri, ada sebelas orang. rata-rata saudara nya memiliki enam hingga tujuh orang anak. kecuali ibu, ibu hanya memiliki mas Raihan dan Aisyah. itupun mereka harus hidup tanpa seorang ayah, sejak Aisyah berumur dua tahun.


Ayahnya meninggal secara mendadak karena serangan jantung. dokter bilang, terlalu kelelahan menjadi penyebabnya. itulah sebabnya, mas Raihan sangat menyayangi adiknya. selain selisih umur yang jauh, dimana ia sampai merengek pada ibunya, agar memberinya seorang adik, juga karena ia adalah sosok laki-laki yang harus bisa melindungi ibu dan adiknya.


Sedang untuk perjodohan itu sendiri. kenapa?!, dari sekian banyak cucu perempuan Mbah kung, yang dipilih adalah Aisyah?. itu karena sedari hamil, Mbah yai sudah bilang kalau yang di perut adalah jatah pondok.


Ya, ibu ingat dengan jelas. saat Mbah yai datang berkunjung ke rumah Mbah kung disuatu pagi.


"Sarapan Karo opo, Mad?.", begitu biasanya Mbah yai memanggil Mbah kung. yang sedang memakan singkong rebus dengan di cocol sambel korek. tak lupa secangkir besar kopi di sampingnya.


"Niki, lho yai. Roti sumbu khas wong jowo.", ( ini, lho yai. roti sumbu khas orang Jawa/telo).", jawabnya.


Seperti biasa, saat Mbah yai datang kerumah. Mbah kung pasti memanggil istrinya dan semua anaknya untuk keluar dan sungkem pada Mbah yai. sebagai bentuk ta'dhim atau penghormatan.


Mbah kung bernama Nur Ahmad, tapi biasa di panggil kang Mad atau Mbah Mad. baik itu oleh Mbah yai atau oleh para santri.

__ADS_1


Dan saat itulah, Mbah yai melihat ibu yang tengah mengandung Aisyah. usianya baru tujuh bulan.


"Mad. seng nek wetengan Iki, bayi wedok. mben tak jaluk, tak wehke anak e Malik, tak pek mantu. Endi pak e bayi?.", (Mad. yang di dalam perut ini, bayi perempuan. nanti tak minta, tak kasihkan anaknya Malik ( nama Abah), tak ambil jadi cucu menantu. mana ayahnya?.", ucap Mbah yai.


Setelah mendapat izin dari ayah mas Raihan, maka sejak saat itulah hidup Aisyah sudah di tentukan. sejak ia lahir, ia sengaja di didik Mbah kung dan mba uti nya untuk jadi wanita tangguh.


Tidak hanya itu, jika saudara-saudaranya yang lain boleh memilih pendidikan mereka, meskipun kebanyakan anak perempuan budhe dan buleknya juga di arahkan ke pesantren. tapi, tidak dengan Aisyah. sedari kecil semua pendidikan nya di siapkan, agar ia bisa, siap dan mampu untuk membatu dan mengabdi pada pondok Mbah yai.


Sama seperti Mbah kung nya, yang meneruskan "PENGABDIAN" dari sesepuh-sesepuh sebelumnya. pengabdian jiwa dan raga.


"Piye, le?!. pendapatmu?.", tanya salah satu tetua, berusaha menengahi dengan menanyakan pendapat mas Raihan sebagai wali dari adiknya. dan itu membuat ingatan ibu tersadar.


Ia menatap ke sekeliling, melihat satu persatu wajah dari pak lek, bulek, budhe dan pak Dhe nya. sejenak ia menghela nafas dalam.


"Yang bakal ngejalanin kan, Syasya. jadi lebih baik, kita tanya ke Syasya. dan....., ucapannya terputus. ia nampak berfikir sejenak.


"Dan, apapun keputusan Syasya. Raihan harap, semua menghormati dan tidak memaksakan kehendak masing-masing. permisi.", ucapnya lalu pergi.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Mas Raihan gusar malam itu, memikirkan apakah adiknya harus rujuk atau tidak. ada perkataan para tetua yang membuatnya bimbang, ada yang menyetujui ada juga yang menghalangi dengan berbagai alasan tentang perangai buruk Gus Aham pada Aisyah.


"Belum tidur, mas?.", tanya Amira, yang terbangun di tengah malam karena bayi di perutnya merasa lapar.


"Kamu, bangun?.", mas Raihan malah bertanya balik. dan istrinya hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari suaminya. mas Raihan menghela nafas lalu tersenyum melihat istrinya yang manja selama kehamilannya.

__ADS_1


"Mas. kalau ndak tenang, istikharah saja. minta petunjuk sama, Gusti. insyaallah di beri yang terbaik.", ucap Mira seraya bergelayut manja di lengan suaminya. meskipun suaminya menyembunyikan keresahannya, tapi sebagai pasangan, ia bisa merasakan itu. walaupun tanpa bertanya pada suaminya lebih dulu. mas Raihan tersenyum dan mengangguk, mengiyakan saran istrinya.


"Sekarang. mau maem apa?.",, tanyanya pada Amira.


"Kupasin mangga ya, mas?!.", pintanya. mas Raihan mengangguk, lalu mereka berjalan menuju dapur.


"Kamu, serius mau mangga aja?!.", tanyanya. meyakinkan sang istri dengan permintaan ngidamnya. pasalnya, Amira selalu bangun di tengah malam dan minta untuk dibuatkan makanan. padahal beberapa jam sebelumnya, ia sudah bangun dan minta beberapa camilan. oleh sebab itu, mas Raihan, bertanya padanya lagi. agar saat mas Raihan sedang terlelap, Amira tidak membangunkannya dengan alasan bayi mereka lapar.


"Buatin ramen juga deh, mas.", pintanya.


"Udah?!. ramen sama mangga aja?.", tanya mas Raihan lagi kesekian kalinya, untuk meyakinkan istrinya.


"Sama susu ya, mas?!.", pintanya lagi. ia kemudian tersenyum manja. yang membuat mas Raihan gemas sehingga mencubit dagu istrinya. Amira hanya mengerutkan hidung nya.


Mas Raihan pun mulai mengupas mangga, lalu membelahnya, dan memotongnya dengan rapi. menyajikan di piring dan memberikannya pada Mira. berikutnya, ia mulai meracik bumbu untuk membuat mie ramen.


Mas Raihan terlihat sibuk mengupas udang, mengupas bumbu lalu menghaluskannya. barulah mas Raihan menyalakan kompor, menuang minyak dan mulai memasukkan semua bumbu di teflon.


Sementara menunggu mie ramen matang, mas Raihan membuatkan susu ibu hamil untuk istrinya. sedang Amira menunggu mie ramen matang dengan memakan buah mangga manis yang sudah di potong oleh suaminya.


Mas Raihan menuang semua ramen yang di masaknya dalam mangkok besar, lalu menghidangkannya tepat di depan istrinya. Amira menahan air liurnya. bagaimanapun, mie ramen itu terlihat sangat menggoda.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺

__ADS_1


__ADS_2