Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 77


__ADS_3

Aisyah dan Gus Aham sudah siap untuk pergi ke acara tasyakuran khitan putera temannya. mereka segera bergegas menaiki mobil dan menuju ke sana.


Jarak villa dan tempat acara lumayan dekat. sekitar dua kilometer. sekitar lima belas menit saja, sudah sampai.


Begitu sampai, mereka segera turun. Gus Aham dan Aisyah bergandengan tangan memasuki tempat berlangsungnya acara tasyakuran itu.


Di gedung yang sangat besar itu, Gus Aham dan Aisyah segera mencari temannya, si empunya hajat. ia memeluk dan berjabat tangan dengan bahagia begitu melihat temannya. Aisyah sendiri, memberikan kado pada putera dari sahabat suaminya.


"Semoga, lekas nyusul. awet-awet saja ini, persis pengantin baru.", ucap temannya yang membuat Aisyah tersenyum dan Gus Aham tertawa mendengarnya.


"Semoga lekas hamil lagi ya, Ning?!.", ucap istri temannya.


"Aamiin.", jawab Aisyah. ia merasa bahagia ada yang mendoakannya.


"Waktu Guse, cerita ke suami. saya, ikut sedih. tapi, juga bersyukur, karena Ning Aisyah nanti masih bisa hamil lagi. ndak kaya', saya.", ucapnya lagi. Aisyah tersenyum dan mencoba menguatkan. ia meraih tangan istri dari sahabat suaminya itu.


"Tapi, kan. Gusti, sudah ngasih ganti.", ucap Aisyah sambil melirik kedua anak yang telah dirawatnya. dan sangat menyayanginya. membuat istri dari sahabat suaminya itu tersenyum.


"Monggo, Gus. Ning e di ajak nyicipi hidangan. pun, seadanya.", ucap sahabatnya. mempersilahkan. membuat Gus Aham pamit undur diri untuk mengajak Aisyah menikmati kudapan dan aneka hidangan yang sudah disiapkan.


Gus Aham mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka, lalu mengambil beberapa kue dan makanan serta minum untuk mereka. setelahnya, Gus Aham membawa semua itu ke mejanya. dimana, Aisyah menunggunya disana.


"Maem dulu, ya?!. mas, mau ke toilet sebentar.", pamitnya, setelah meletakkan aneka makanan di meja, tempat istrinya duduk. Aisyah, menjawab dengan anggukan.


Gus Aham pergi meninggalkan istrinya duduk sendiri di meja yang telah mereka pilih.


"Loch. ini, Ning Aisyah, to?!. Gus Aham mana?!.", tanya seorang pria dan wanita yang juga hadir di acara itu. Aisyah tidak mengenalnya. mungkin itu teman suaminya.


"Masih ke kamar mandi.", jawabnya.

__ADS_1


"Duduk disini boleh?!. saya, mau ngambilin istri saya makanan dulu.", ucap pria itu meminta izin. Aisyah yang melihat perut wanita itu membesar pun mengizinkannya. meja bulat dengan empat kursi yang mengelilinginya itu, masih cukup untuk mereka. lagi pula, menyenangkan memiliki teman ngobrol saat Gus Aham meninggalkannya.


Wanita itu duduk di sampingnya. ia memandangi Aisyah sesaat.


"Kenapa?!.", tanya Aisyah.


"Ndak apa. cuma agak aneh aja.", jawab wangi itu.


"Aneh?!. aneh kenapa?.", tanya Aisyah. ia masih bersikap ramah dan terlihat sumringah sebelumnya.


"Sampean Iki, ndak cantik-cantik banget lho, mba. trus ya mandul. kok isone, Guse seneng Karo sampean.", ucapnya. perkataan itu langsung menyabet hati Aisyah. dadanya sakit, nyeri luar biasa. tenggorokan nya tercekat, sakit bahkan untuk menelan. tapi, ia tidak bisa menjawab.


"Loch. tenan tah, mba?!. sampean mandul?. Guse suruh nikah lagi ae, mba!. atau ikut bayi tabung.", seloroh orang lain yang baru datang, yang sedari tadi mengamatinya.


Ia tidak mengira, sebagai sesama wanita mereka bahkan tega secara terang-terangan mengatakan itu padanya. ia sendiri, juga merasa tidak memiliki masalah dengan para wanita ini. lagi pun, ini masalah rumah tangganya dengan Gus Aham. kenapa mereka ikut campur?!.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Publik tidak perlu tau, apapun yang terjadi pada keluarga kecil mereka. biar mereka menilai dengan pemikiran mereka sendiri.


Gus Aham menoleh pada istrinya. ia tau, Aisyah tidak ingin mendengarnya, tapi ada yang harus diluruskan disini. ia tidak ingin istrinya terus di salahkan atau di pojokkan oleh orang-orang yang tidak tau cerita sebenarnya.


"Tapi, karena kelalaian saya sebagai suami. kami kehilangan bayi kembar kami. jadi, mohon dengan hormat jangan mendikte semua kepada istri, saya. karena, saya sendiri sebagai seorang suami, juga tidak bisa menjaganya dengan baik.", ucap Gus Aham.


Pernyataannya itu, membuat semua tamu yang hadir mengerumuninya. sebagian ada yang merasa kasihan pada pasangan ini. dan sebagian ada yang memuji keberanian Gus Aham melindungi istrinya di depan umum. ada juga yang mendoakan agar mereka segera mendapat momongan lagi.


Gus Aham sudah selesai berbicara. ia menoleh pada Aisyah yang masih berdiri di sampingnya dengan menggamit tangan suaminya. ia menunduk, ada perasaan malu dan sedih, tapi tidak ia tunjukkan. agar tidak membuat suaminya sedih.


Gus Aham menggandeng tangan Aisyah erat. ia berjalan ke si empunya acara. meminta maaf karena telah mengacaukan acaranya, dan pamit undur diri, karena ia yakin istrinya sudah merasa tidak nyaman disini.

__ADS_1


"Maaf, ya. mengacaukan acara kalian.", ucapnya.


"Ndak apa. ndak kacau juga.", sahut sahabatnya.


"Ning. jangan dipikirin ya?!. tetap semangat!, insyaallah, cepat isi lagi.", ucap istri sahabat suaminya. cukup menghibur hati Aisyah saat ini.


Mungkin mereka tidak mengerti, bagaimana rasanya jadi dirinya?!. karena mereka belum merasakan apa yang di rasakan Aisyah. berbeda dengan istri dari sahabat Gus Aham ini, yang mencoba menyemangati dan menghiburnya. ini, karena mereka berada di posisi yang sama. bedanya, Aisyah masih bisa hamil lagi, sedang istri dari sahabat Gus Aham, tidak.


"Terimakasih.", ucap Gus Aham dan Aisyah hampir bersamaan. mereka lantas pergi keluar ruangan. Gus Aham segera mengajak Aisyah ke tempat parkir. ia membukakan pintu untuk istrinya begitu sampai di sana. Gus Aham sendiri, segera naik ke mobil dan duduk di belakang kemudi.


Ia mulai menyalakan mesin. memutar mobil, agar bisa keluar gerbang dengan sempurna. mobil mulai berjalan perlahan menyusuri jalanan.


"Pulang ke villa, Gus.", ucap Aisyah. Gus Aham terdiri sesaat, sebelum akhirnya mengangguk. mengiyakan permintaan istrinya.


Awalnya, ia ingin mengajak Aisyah menikmati suasana malam kota Malang untuk mengurangi rasa sedih istrinya. tapi, istrinya meminta langsung pulang ke villa. i mencoba mengerti, Aisyah ingin sendiri saat ini.


Gus Aham segera melajukan mobilnya menuju villa. begitu mobil sampai di depan gerbang villa, Mbah Rosyid segera membuka gerbang. barulah mobil Gus Aham masuk. ia memarkirkan mobilnya di garasi.


Mbah Rosyid segera menghampiri mobil dan membuka pintu untuk Gus Aham dan Aisyah.


"Ada lagi, yang bisa di bantu, Gus?!.", tanya lelaki paruh baya itu.


"Ndak ada, Mbah.", jawab Gus Aham.


"Yasudah. Mbah, pamit dulu.", ucapnya. lalu segera pergi.


Aisyah sudah lebih dulu masuk ke kamar. ia hendak mengganti bajunya, tapi ternyata bajunya tidak ada saat ia mencarinya di koper.


"Nyari apa?!.", tanya Gus Aham. Aisyah menoleh pada suamiku yang baru saja memasuki kamar.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2