Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 146


__ADS_3

Gus Aham sebenarnya, hanya berniat untuk ikut jama'ah dan dzikir saja. selanjutnya, ia ingin segera kembali ke kamar tempat Aisyah di rawat.


Tapi, di perjalanan ia pulang dari musholla. Gus Aham, melihat seorang nenek tua dan cucu lelakinya yang masih berumur sekitar sepuluh tahun, turun dari becak.


Anak kecil itu, nampak keberatan menurunkan barang dagangan mereka. jadi, Gus Aham memutuskan untuk menghampiri mereka dan membantunya.


Mereka tidak memiliki kios di kantin seperti para penjual lainnya. ia hanya berjualan di dekat pintu masuk.


Nenek itu, sudah cukup lama berjualan di rumah sakit ini. para perawat dan staf rumah sakit, sudah mengenal nenek ini dengan baik. bahkan, setiap hari nya para perawat dan staf suka membeli dagangan ataupun cemilan dari sang nenek.


Biasanya setelah turun dari becak, dan menggelar dagangannya. hanya dalam waktu sekejap, dagangannya akan habis tak bersisa. dan satpam rumah sakit, akan segera memanggil kan tukang becak, saat melihat nenek itu berkemas.


Kali ini, selesai membantu menurunkan dagangan si nenek. Gus Aham, juga ikut membantu si nenek dan cucunya menggelar dagangan.


"Sadean nopo, Mbah?!.", ( jualan apa, Mbah?).", tanya Gus Aham.


"Sadean sarapan e lare nom.", ( jualan sarapannya anak muda).", jawab si Mbah. Gus Aham nampak mengerutkan keningnya, yang membuat si nenek tertawa renyah.


"Niki lho, ayam geprek. sanjange putu kulo, niki maemane lare nom jaman sakniki.", ( ini lho, ayam geprek. kata cucu saya, ini makanan anak muda jaman sekarang).", ucapnya menjelaskan.


"Padahal, namung ayam di paringi Lombok terus di penyet.", sambungnya, masih dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Tapi laris nggeh, Mbah?.", tanya Gus Aham.


"Alhamdulillah.", jawab si Mbah.


Setelah puas bercengkrama dengan si nenek dan cucunya tadi, Gus Aham segera pamit. ia harus segera menemui istrinya, khawatir ada sesuatu yang membuat istrinya tidak nyaman.


Tidak lupa, ia membeli beberapa dagangan si nenek. berjaga-jaga bila nanti ada sanak saudara mereka yang datang menjenguk. jadi, ada yang bisa di hidangkan untuk mereka.


Gus Aham berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. sudah mulai terlihat cahaya matahari pagi yang menyusup dan menyinari pepohonan.


Ia nampak menghela nafas. ada rasa gugup dalam dirinya yang kini melanda.


Ya. hanya beberapa saat lagi, ia akan bertemu dengan bayi yang sudah lama ia nantikan.


Perempuan kah?!, atau laki-laki?!. mirip Aisyah?!, atau mirip dirinya?!. huh, pertanyaan-pertanyaan di benaknya membuatnya sesekali menghela nafas dari bibir, sehingga pipinya menggembung sesaat.


Ia ingat, saat terakhir kali periksa sebelum pergi menemani Abah, menghadiri acara istighosah. mereka sempat memeriksa kandungan Aisyah, untuk mengetahui jenis kelaminnya.

__ADS_1


Tapi, hasilnya nihil. bayi mereka seolah-olah, sedang menyiapkan kejutan untuknya.


Sebenarnya, tidak masalah laki-laki atau perempuan. ia hanya ingin tau saja. menurutnya, dengan mengetahui jenis kelaminnya, ia bisa membayangkan bagaimana rupa bayi mereka kelak. mirip Aisyah kah?!, atau mirip dengan rupa dirinya.


Ia hanya berharap, bayi mereka mewarisi sifat dan kelemah lembutan ibunya. penyabar, kuat, tegas, tekun dan gigih seperti Aisyah.


Gus Aham berbelok. tinggal melewati beberapa ruangan lagi, dan ia akan segera sampai di tempat istrinya di rawat.


Tapi tiba-tiba, ia merasakan hal aneh. detak jantungnya, bergerak tak karuan saat melihat para perawat berlarian ke ujung lorong.


Ya. ujung lorong, tempat ruangan istrinya di rawat. mereka berlarian ke sana. membuat Gus Aham, tanpa pikir panjang juga ikut berlari ke arah itu.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Kebetulan, ruangan tempat Aisyah di rawat yang berada di ujung lorong itu tidak sempat di tutup oleh dokter maupun perawat.


Mungkin, karena mereka gugup melihat keadaan Aisyah yang melahirkan normal secara dadakan. mengingat, seharusnya ia menjalani operasi cesar pagi ini.


Gus Aham sampai di pintu. nampak jelas terlihat, semua sedang sibuk menangani istrinya.


Perlahan Gus Aham melangkah kan kakinya. ia mendekat pada kepala istrinya. wajah lelah milik istrinya itu, nampak kesakitan untuk melahirkan bayinya. ia berusaha dan berjuang sekuat tenaga.


Aisyah sempat melihatnya, ia juga nampak tersenyum melihat suaminya datang dan berdiri di samping nya. tapi kemudian.....


"Ambil oksigen!.", perintah dokter.


"Siapkan kantung darah!.", sambungnya.


Ya. kondisi Aisyah memburuk. ia tidak memiliki tenaga untuk mengejan, karena kemarin harus berpuasa untuk persiapan operasi.


Parahnya, kini ia tengah mengalami sesak nafas yang membuat semuanya cukup panik, terutama Gus Aham.


"Sayang!. ayo yang kuat!. mas, disini sama kamu.", bisiknya. membuat air mata Aisyah menetes lewat sudut matanya. sedang nafasnya masih belum stabil.


Saat sedang memberikan dukungan pada Aisyah. Gus Aham, merasakan ada seseorang yang menarik tubuhnya dari belakang. sedang para perawat dan dokter terus berusaha menangani istrinya.


Mereka terus berusaha untuk membuat Aisyah tetap sadar, sambil memasang selang oksigen dan memberi transfusi darah.


Gus Aham hanya bisa pasrah saat beberapa petugas mendorong serta menariknya untuk keluar ruangan. ia terus berada di depan pintu, berusaha mengintip dari celah-celah jendela kaca untuk mengetahui keadaan istri dan bayinya.

__ADS_1


"Assalamualaikum.", ucap mas Raihan, ibu, Gus Ma'adz, Abah, Ning Nafis, dan Ummi, bersamaan ketika melihat Gus Aham berada di luar ruangan kamar Aisyah.


Mereka tidak sengaja bertemu di parkiran tadi. dan memutuskan untuk masuk bersama.


Mereka sengaja datang, untuk menemani Aisyah melakukan operasi caesar pagi ini.


"Waalaikum salam.", jawab Gus Aham. wajahnya nampak bingung dan khawatir.


"Kenapa, le?.", tanya Ummi.


"Aisyah, melahirkan.", jawabnya. wajahnya sesekali menoleh dan menatap ruangan tempat istrinya sedang ditangani.


"Loh?!....


"Aisyah, ndak jadi operasi Bu.", ucap Gus Aham. menjawab ucapan ibu mertuanya yang menggantung.


"Alhamdulillah.", ucap mereka bersamaan. ada raut kelegaan dari wajah mereka. tapi, tidak dengan Gus Aham.


Bagaimana ia bisa tenang?!. setelah ia sendiri melihat keadaan istrinya tadi. Aisyah, kesulitan bernafas. ia juga harus menerima transfusi darah. bahkan mungkin, istrinya bisa hilang kesadaran mengingat tidak ada tenaga untuk mengejan.


Di tengah kebimbangannya, mereka mendengar suara tangis bayi dari ruangan tempat Aisyah di rawat.


"Wes lahir, yu!.", seru ummi, kegirangan. ia nampak begitu senang mendengar suara tangisan cucu barunya. begitu juga ibu, Ning Nafis, Gus Ma'adz, mas Raihan dan Abah. mereka mengucapkan kalimat syukur bergantian.


"Alhamdulillah.", ...


Beberapa saat kemudian, tidak ada suara lagi dari kamar Aisyah. di susul dengan keluarnya para perawat dan dokter. perawat itu, membawa dua bayi mungil berjenis kelamin laki-laki dan perempuan dalam sebuah inkubator. mereka nampak mungil.


"Silahkan, di adzani, pak!.", ucapnya. Gus Aham, segera membungkuk kan badannya, mendekatkan bibirnya dan melantunkan adzan di telinga kanan bayi mereka dan iqomah di telinga kiri bayi mereka, secara bergantian.


Setelah nya, bayi-bayi itu di bawa oleh perawat menuju ruangan bayi.


"Bagaimana keadaan istri saya, dok?!.", tanya Gus Aham.


"Maaf, pak. kami menyesal.....


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺

__ADS_1


__ADS_2