
Ia menghampiri suaminya, dan meraih pundak Gus Aham lalu memijatnya.
"Capek?.", tanya Aisyah. Gus Aham, mengangguk menjawab pertanyaan istrinya.
"Tapi, kalau udah dipijit istri capeknya hilang.", ujar Gus Aham. ia berganti posisi, membuat Aisyah yang paham segera menggeser posisi duduknya, hingga akhirnya Gus Aham merebahkan tubuhnya di sofa dan menjadikan pangkuan Aisyah sebagai bantalannya.
"Mas, njenengan ndak mau nambah orang buat bantu, mbok ni?.", tanyanya. Gus Aham yang semula tidur miring segera merubah posisinya. wajahnya menghadap sang istri.
"Mbok ni, bilang. ada saudaranya bapak, yang tuna wisma juga. istrinya, tuna rungu.",
"Rumahnya, di daerah Jember.",
"Bapak, sebenarnya sudah lama ngajak kesana untuk jemput mereka, karena mereka ndak punya anak juga.",
"Cuma, mas, Ali dan pengurus yayasan masih repot, sayang.",
"Ini sebentar lagi, ada kunjungan pemerintah mau nyurvei. jadi, mas sama anak-anak masih sibuk berbenah.", ujarnya.
"Trus, rencananya kapan?!.",
"Kasihan lho, mas. mbok ni.",
"Sudah sepuh, masih harus masak segitu banyaknya untuk anak-anak yayasan.", ujar Aisyah.
"Iya, mas paham.",
"Tapi, masalahnya mbok ni sendiri, juga ndak mau di carikan teman masak.",
"Katanya, cukup di bantu anak-anak saja.", jawab Gus Aham.
"Rencananya, setelah acara kunjungan pemerintah. mas mau kesana, jemput saudara bapak.", sambungnya.
"Oh, njih. mas, masalah anak-anak.",
"Mbok ni, bilang. cuma ada Ali sama bapak yang bantu anak-anak belajar ngaji.",
"Bukannya, lebih baik kalau njenengan nyari orang lagi buat bantu-bantu ngajar anak-anak ngaji?!.", tanya Aisyah.
"Mas, juga punya rencana gitu.",
"Masih ngobrol-ngobrol sama mas Ma'adz, juga.",
"Mas Ma'adz bilang, mau ngomong sama Abah dulu.",
"Siapa tahu, Abah ngizinin salah satu ustadz pondok untuk bantu-bantu ngajar disini.", jelasnya.
__ADS_1
"Atau mungkin, ada alumni pondok seperti ustadz Tamim, yang bersedia membantu mengajar disini juga.",
"Cuman, kan. semuanya bertahap dan butuh proses, sayang.", sambungnya.
Aisyah tersenyum. ia kembali memijit lengan dan pundak suaminya yang sedang bermanja, berbaring di pangkuannya. setelah mempunyai Umar dan Fatimah, waktu bersama untuk mereka berdua memang sedikit. itu sebabnya, Aisyah selalu menyempatkan diri mendengar semua keluh kesah dan curhatan suaminya, di waktu seperti ini. selain, menunjukkan rasa perhatian dan sayang pada suaminya. ia juga bisa memanjakan dan memijit badan Gus Aham, untuk sekedar mengurangi rasa lelah suaminya.
"Bismillah, njih mas?!.",
"Insyaallah, di permudah.", harap Aisyah. Gus Aham tersenyum menatap wajah ayu Aisyah yang berada di atas wajahnya. ia bahagia, bersyukur dan merasa beruntung di pertemukan, di jodohkan dan memiliki wanita cantik, lembut dan kuat ini.
Ia menarik tengkuk istrinya, lalu wajah mereka saling mendekat. dan akhirnya, bibir itu saling beradu. Gus Aham menyudahi semuanya, sebelum terlewat jauh. ia ingat, istrinya sedang berhalangan saat ini. tidak mungkin, ia melakukan hal itu.
"Ini udah malam. kamu, tidur gih!.",
"Mas, masih mau ke aula. ngobrol dan tukar pikiran sama anak-anak pengurus yayasan.", ujarnya. Aisyah mengangguk.
"Njenengan, nanti kalau tidur jangan malam-malam, njih.",
"Ndak baik, tidur terlalu malam.",
"Apalagi kan, kita baru datang disini tadi siang. njenengan, pasti capek nyetir.", pesannya. Gus Aham tersenyum dan bangun dari posisi tidurnya. ia gemas dengan cara istrinya berpesan.
"Hah, mas mau keluar dulu. takut disini ndak kuat iman, mas.", ujarnya, lalu menguyel-uyel pipi merah istrinya. ia nampak mengambil kopyah di meja sebelumya, dan beranjak keluar. Aisyah yang melihat suaminya seperti itu, hanya tersenyum.
Malam semakin larut. Aisyah dan kedua bayi kembarnya sudah terlelap. sementara, Gus Aham masih berkumpul dengan Ali dan pengurus yayasan yang lain sembari membahas aturan dan kegiatan yang sebentar lagi akan mulai di tertibkan oleh Gus Aham.
Ya, dulu karena Gus Aham masih harus riwa-riwi jadi, ia tidak terlalu fokus mengatur kegiatan di yayasan nya. tapi, karena sekarang ia dan keluarga kecilnya sudah menetap disini, Gus Aham jadi bisa lebih fokus untuk mengurus yayasan dan mengembangkannya.
Apalagi, usahanya ini di apresiasi pemerintah karena anak jalanan lumayan berkurang. mereka bisa bersekolah lagi, sembari belajar dan bekerja di bengkel, ataupun rumah makan milik Gus Aham.
"Jadi, anak-anak yang masih sekolah masih berapa anak, Al?.", tanyanya.
"Kurang lebih, 125an mas.",
"Itu yang masih di sekolah dasar, menengah sama SMA.",
"Yang kuliah ndak tak hitung.", jawabnya.
"Kenapa ndak dihitung?.", tanya Gus Aham.
"Mereka ndak mau, Gus. malah mereka bilang, harusnya sudah bisa membantu Gus Aham, merawat dan membiayai adik-adik.", ujarnya. Gus Aham tersenyum. ia merasa senang, ada yang memiliki pemikiran seperti itu. itu tandanya, akan semakin banyak anak jalanan yang tertolong untuk mendapatkan tempat tinggal serta pendidikan lebih baik.
"Jadi, Al. aku pengennya, anak-anak mulai di fokuskan ke sekolah. khususnya, yang masih SD, MI, Mts, dan SMP.",
"Kalau yang sudah MA atau SMA, ndak masalah aku pikir, kalau mereka mau nyoba-nyoba kerja.",
__ADS_1
"Cuman, kalau bisa kerjanya di tempatku saja. kenapa?!.",
"Soalnya, mereka masih perlu fokus belajar. jadi, kerja itu biarlah buat pengalaman dan hiburan.",
"Lagi pula, kalau kerja di tempat sendiri kan, kita bisa ngawasi pergaulannya, juga bisa membatasi waktunya. harapannya sih, biar sekolah mereka ndak terganggu. dan mereka juga bisa dapat pengalaman baru.", ujar Gus Aham, menjelaskan. Ali dan para pengurus yayasan mengangguk paham.
"Terus masalah kegiatan.", sambung Gus Aham.
"Mas, maunya anak-anak lebih di tertibkan terutama masalah sholat berjamaah sama ngaji.",
"Eman-eman, tenan... sayang banget, kalau sampai mereka lalai dua masalah ini.", ujar Gus Aham. semua mengangguk setuju.
"Nah, kebetulan pondok Abah, Alhamdulillah. mau mengutus beberapa alumni pondok yang berdomisili di sekitar sini untuk ikut membantu, mengajar. baik itu, menjadi imam sholat atau membantu mengajar ngaji.", jelasnya.
"Mas, minta untuk di buatkan jadwal harian kegiatan anak-anak.",
"Pokoknya, jangan sampai bertabrakan sama kegiatan sekolah, ya?!.", ujarnya, mengingatkan.
"Jadwalnya, dari bangun sholat subuh ya, mas?!.", tanya salah seorang dari mereka. Gus Aham mengangguk.
"Iya.", jawabnya.
"Jadi, misal pagi hari. bangun jam sekian, trus lanjut sholat subuh berjamaah.",
"Setelah sholat subuh, bareng-bareng ngaji dan hafalan surat-surat pendek. mulai dari surat 'amma yaa tasa 'alun itu sampai surat An-Nas.",
"Tapi, kan ndak semua anak hafal, Gus?!.", sahut yang lain.
"Maka dari itu, di baca tiap hari nanti juga lama-lama bisa hafal di luar kepala, kok.",
"Semuanya, tuh berawal dari terbiasa. jadi, bisa.", jawab Gus Aham.
"Setelahnya nanti, mungkin anak-anak bisa bersiap untuk berangkat sekolah. sarapan, dan sebagainya.",
"Pulang sekolah, mereka bisa istirahat sambil menunggu waktu jama'ah sholat dhuhur.",
"Setelah, sholat dhuhur bisa istirahat. menunggu waktu ashar, mungkin mereka bisa olahraga seperti sepakbola, voli atau apalah.",
"Dibelakang kan, wes Ono lahan. alatnya, juga susah ada, to?.", semuanya mengangguk setuju.
"Setelah ashar, kegiatannya ya seperti biasa. cuma, Al. aku minta di tambahin, ada kegiatan belajar bareng ya!.",
"Insyaallah, nanti ada guru yang datang ngajar anak-anak, sesuai kelasnya masing-masing.", pesannya. Ali dan yang lain mengangguk, mengerti.
...----------------...
__ADS_1