Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 160


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul dua belas lewat tengah malam. Gus Aham dan pengurus yayasan baru saja selesai musyawarah dan makan malam bersama. kebetulan, ada pedagang sate keliling setelah mereka selesai musyawarah. jadilah, Ali menghentikan penjual sate dan membeli dagangannya.


Selesai menikmati sate, tidak lupa Gus Aham membayar semua pesanan mereka dan memilih untuk pamit lebih dulu.


"Semuanya. saya, mau masuk rumah dulu, istirahat.", pamitnya.


"Kalian, kalau sudah selesai juga cepat istirahat dan tidur ya?!.", pesannya.


"Njih, gus.", jawab mereka bersahutan.


"Jangan lupa!, besok kan ada acara tasyakuran. kita sibuk.", ujarnya, mengingatkan.


"Njih.", jawab mereka bergantian.


"Ya sudah, tak masuk dulu, ya?!.", pamitnya, sekali lagi. mereka mengangguk, sembari melanjutkan makan malamnya.


Gus Aham pergi setelahnya. meninggalkan para pengurus yayasan yang masih menikmati sate nya. ia bergegas menuju rumah untuk istirahat dan menemui istrinya.


Pintu kamar terbuka, Gus Aham masuk begitu saja dengan sangat pelan, agar tidak membangunkan kedua buah hatinya dan juga istrinya.


Nampak Umar dan Fatimah berada di ranjangnya. ya, kamar yang berukuran besar ini cukup di isi dua bed ukuran besar, empat lemari besar berisi bajunya, baju suaminya, dan baju kedua buah hatinya, serta perlengkapan mereka yang lain.


Ada juga meja rias, satu set sofa, TV dan karpet bulu serta kamar mandi tentunya.


Di ranjang besar itu, satu ranjang untuk Umar dan Fatimah dan ranjang yang lain untuk Aisyah dan suaminya. bukan tanpa sebab, mereka ditidurkan di ranjang sendiri.


Gus Aham berpikir bahwa, istrinya lebih bisa istirahat nyenyak jika ranjang kedua buah hatinya terpisah dari mereka.


Terkadang, Gus Aham yang terbangun saat mendengar Umar atau Fatimah menangis di tengah malam karena meminta ASI atau ganti popok. sengaja, ia tidak membangunkan Aisyah bila, istrinya memang tidak mendengar tangis buah hatinya, agar istrinya bisa beristirahat sedikit lebih lama.


Gus Aham, nampak melepas peci nya di gantungan dekat pintu kamar. ia lantas mendekati kedua malaikat kecilnya, dan membenarkan selimut mereka agar tidak terlalu kedinginan saat terkena AC kamar.

__ADS_1


Selanjutnya, tentu Gus Aham menghampiri istrinya yang tengah tertidur pulas di ranjang mereka. ia nampak mengusap rambut hitam milik sang istri, dan mengecup puncak kepala Aisyah.


"Mas?!.", Aisyah terbangun saat Gus Aham hendak beranjak ke kamar mandi.


"Mas, ganggu tidur kamu, ya?!.",


"Maaf, njih sayang.", ujarnya. Aisyah tersenyum, lalu segera bangun dari tidurnya dan duduk di ranjang.


"Njenengan, baru masuk kamar?!.", tanya Aisyah, yang di angguki oleh suaminya.


"Iya, rapat sama pengurus yayasan baru selesai. sekalian makan-makan sama mereka. Aisyah melirik jam dinding yang menggantung dikamar mereka. sudah hampir jam dua, pikirnya.


"Yasudah. ayo, tidur. istirahat.", ajaknya pada sang suami. ia nampak sedikit terduduk dan menata bantal suaminya.


"Mas, mau sholat dulu sekalian. baru, tidur.", ujarnya.


"Oh.", Aisyah paham maksud suaminya. hanya kali ini, ia tidak bisa menemani suaminya sholat malam bersama karena sedang halangan.


"Mas, wudhu dulu njih?!.",


Tidak berapa lama kemudian, sang suami sudah kembali dan menggelar sajadah nya di dekat ranjang. Aisyah hanya bisa melihat sang suami sholat malam sendiri, sampai ia terpejam lagi.


......................


Pagi ini, setelah anak-anak panti berangkat ke sekolahnya masing-masing. mbok ni, sudah terlihat repot dengan aktivitas dapurnya lagi. ya, apalagi hari ini ada acara tasyakuran. tiba-tiba Aisyah merindukan Ning Nafis. tentu saja, ia tidak biasa menyiapkan acara besar seperti ini. dan sekarang karena ia sudah berada disini, menjadi tuan rumah. ia harus mengurus semuanya sendiri.


Nampak wali dari anak-anak yang di tampung di yayasan ini yang tinggal di sekitar yayasan, datang. mereka membawa hasil kebun dan sebagainya untuk buah tangan sekaligus, ingin membantu meringankan pekerjaan dapur mbok ni.


Kebanyakan, mereka adalah warga kurang mampu untuk menyekolahkan anak-anaknya. sehingga, putra putri mereka lebih memilih mengamen, untuk membantu kebutuhan rumah kedua orang tuanya. Gus Aham, datang pada mereka dan menawarkan pendidikan gratis, dengan syarat mau belajar mengaji di yayasan.


Gus Aham pun tidak menekankan harus tinggal di yayasan. mereka bebas ingin pulang pergi antara rumah dan yayasan, selama itu tidak menggangu aktivitas sekolah dan mengaji mereka.

__ADS_1


"pak Sum, tolong di bantu ya?!. belanjaan nya datang.", ucap Aisyah, pada satpam yayasan saat melihat sebuah mobil bak terbuka masuk ke pelataran yayasan.


Pria paruh baya itu segera berlari menghampiri mobil bak itu, di ikuti anak-anak yang lain. mereka berbondong-bondong menurunkan belanjaan dan sayuran serta membawanya ke dapur.


Sudah banyak orang yang datang dan siap membantu.


"Ning, nanti untuk nasi kotak sama snack nya baru datang nanti siang.", ucap mbok ni. Aisyah mengangguk.


"Njih, mbok. ndak apa, kan acara intinya nanti malam.", ujar Aisyah. mbok ni mengangguk.


"Saya, ke dapur dulu njih Ning.", ucapnya, lalu pergi.


Untuk acara pagi ini, ada sema'an Al-Qur'an pastinya. bukan di ambil dari pondok ummi, tapi dari teman wisuda hafalan Qur'an seangkatan Aisyah.


Mobil Honda Mobilio terlihat di depan gerbang yayasan. nampak mobil milik Gus Ma'adz itu meluncur bebas dan berputar sejenak mencari tempat parkir yang pas.


Gus Ma'adz nampak turun lebih dulu. lalu membukakan pintu mobil untuk Abah dan untuk istrinya.


Abah yang duduk di depan nampak turun dengan mudah. sementara Ning Nafis yang duduk di jok penumpang bersama ummi dan kedua putrinya nampak turun lebih dulu, baru membukakan pintu untuk ummi, dan menolong Ning Dija serta Ning Shofi untuk turun.


Abah melihat sekilas bangunan baru yang telah di bangun oleh putranya. nampak beberapa kali Abah menghela nafas lega. entah apa yang dirasa dan dipikirkan, yang jelas wajah Abah nampak sumringah.


Gus Aham yang melihat Abah, ummi serta kakak dan keponakannya datang segera berjalan menghampiri dan menyambut mereka. begitu juga dengan Aisyah.


"Assalamualaikum, Abah, ummi, mas, mba.", sapanya. ia nampak mencium tangan kedua orang tuanya dan memeluk mereka sesaat. Aisyah pun melakukan hal yang sama. mereka juga mencium tangan Gus Ma'adz beserta istrinya.


"Abah, ummi, sehat?.", tanya Aisyah, pada kedua mertuanya. ummi begitu sumringah, ia nampak merangkul menantunya setelah menciumi wajah Aisyah.


"Ummi, kemarin sempat tinggi tensinya. makanya, ndak jadi kesini. tapi, pas Abah ngendikan kalau mau ke sini hari ini, mendadak ummi sehat.",


"Pas mau berangkat, di cek sama dokter juga normal.", ujar Ning Nafis bercerita, Aisyah, ummi dan yang lain yang mendengar hanya tersenyum.

__ADS_1


"Kangen sama ibunya Umar, Fatimah, itu.", ujar Gus Ma'adz yang menambah suasana tawa diantara mereka.


...----------------...


__ADS_2