
"Le, besok mas mu datang.", ucap Ummi yang sedang duduk di kursi meja makan, menunggu Aisyah menyajikan sarapan yang di masak oleh mba-mba ndalem.
Gus Aham terdiam mendengar ucapan Ummi nya. tidak ada respon dari raut wajahnya.
"Berapa hari nginep?.", tanyanya to the points tanpa basa-basi kepada Ummi.
"Katanya, cuma mau nginep tiga harian karena Bilqis kan hamil tua, tapi Ummi suruh sampai acara tiga bulanan Aisyah. jadi mungkin mas mu nginep disini hampir sepuluh hari.",jelas Ummi.
"Kalau istrinya, memang ndak mungkin di tinggal, sebaiknya Ummi bilang sama mas Irfan untuk datang kesini setelah istrinya melahirkan.", ucapnya lalu pergi meninggalkan ruang makan.
Ummi terkejut dengan sikap Gus Aham.
"Ummi.", Aisyah mencoba menenangkan mertuanya.
"Mungkin, Gus Aham sedang banyak fikiran. Ummi.",
"Aisyah susul dulu nggeh?.", pamitnya yang di angguki oleh Ummi.
Aisyah berjalan menuju kamar untuk menyusul suaminya. Ummi yang masih sedikit kaget dengan sikap putranya itu hanya terdiam.
"Ummi?!.", suara Gus Ma'adz mengalihkan pikiran Ummi, sehingga membuatnya menoleh dan melihat Gus Ma'adz.
"Kenapa?.",tanya Gus Ma'adz begitu ibunya melihatnya.
"Ha?!. ndak apa.", jawabnya lalu mengalihkan pandangannya kepada Ning Dija dan Ning Shofy.
"Cucu uti, mau makan apa hari ini?.", tanya Ummi pada kedua putri Gus Ma'adz untuk menghibur dirinya sendiri.
"Tiap hari kan, maem nasi, Ti. emang hari ini ada menu lain?, roti atau sandwich gitu seperti orang bule?!.", jawab Ning Dija dengan polosnya membuat semua yang ada di ruangan tertawa.
Aisyah mendekati suaminya yang sedang berdiri di balkon kamar.
"Gus.", panggilnya lembut. Gus Aham hanya melirik.
"Gus, waktunya sarapan bersama. ayo ki....
"Aku sedang tidak ingin sarapan.", ucapnya tegas.
"Tapi, nanti njenengan bisa sakit.",
Gus Aham berbalik, ia mendorong Aisyah masuk kedalam kamar, lalu menutup pintu yang menghubungkan kamarnya dengan balkon. Gus Aham menekan tubuh Aisyah ke tembok, sorot matanya begitu tajam, membuat Aisyah takut.
__ADS_1
"Gus!.", teriaknya ketika suaminya menggendongnya lalu menjatuhkan nya di ranjang. ia berusaha bangun, tapi Gus Aham dengan sigap menahannya dengan tubuhnya.
"Gus, saya siap melakukan tugas sebagai seorang istri, tapi bukan begini caranya.", ucapnya , tapi tak di gubris oleh suaminya.
Gus Aham terus ******* bibir Aisyah, ia mengecup leher dan dada Aisyah dengan ganas hingga meninggalkan bercak merah pada kulit istrinya.
Aisyah tidak tau apa yang terjadi dengan suaminya, kenapa suaminya berubah menjadi brutal?!.", bukankah dulu ia berjanji akan melakukannya saat Aisyah siap?!.
Air mata Aisyah menetes di perlakukan demikian oleh suaminya, tapi ia juga tidak bisa menolak. ia sadar betul ini hak suaminya dan ini adalah kewajibannya sebagai seorang istri.
Pergumulan mereka selesai. Aisyah memunggungi suaminya, sementara Gus Aham bergegas ke kamar mandi. terdengar pancuran shower begitu Gus Aham menutup pintu kamar mandi.
"Sementara Aisyah menangis. ia ingat betul apa yang di ucapkan suaminya ketika mereka melakukan hubungan badan pagi ini.",
"Kamu hanya milikku. tidak ada seorang pun yang bisa mengambil dirimu dariku, sekalipun kamu menjadi seorang pelac*r".,
Aisyah menangis mengingatnya. apa?!, kenapa?!, dan bagaimana?!, suaminya bisa menyebutkan kata-kata itu ketika berhubungan badan dengannya?.",
Apakah itu yang menyebabkan suaminya berubah dalam beberapa hari ini?!.", tapi kenapa?.",
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Tok....,
"Tok....,
"Tok....,
Aisyah membuka pintu kamar, terlihat seorang mba ndalem membawa nampan penuh dengan makanan,cemilan dan minuman.
"Disuruh ibu nganter sarapan, Ning.", ucapnya. Aisyah pun mempersilahkan mba ndalem itu masuk dan menaruh nampan itu di meja, setelahnya mba ndalem itu undur diri kita keluar dari kamar.
Aisyah menatap suaminya dari dalam kamar, ia menghela nafas dalam.
"Gus. makan dulu.", ucapnya saat sudah berdiri di depan suaminya. Gus Aham hanya diam, pandangannya tetap fokus ke depan.
Aisyah masuk ke dalam kamar, Gus Aham mengikutinya. mereka sudah duduk di sofa dengan makanan di meja, Aisyah mengambilkan sarapan untuk suaminya dan memberikannya lalu, ia mengambil sarapan untuk dirinya sendiri.
Aisyah mencoba untuk makan sendiri, ia tidak ingin terlalu bergantung pada Gus Aham.
"Kamu marah?.", tanya Gus Aham. Aisyah menggeleng.
__ADS_1
"Itu hak njenengan. kenapa saya harus marah?!.", jawabnya, ia mencoba tersenyum. walau sebenarnya air matanya sudah ingin terjun bebas.
Aisyah ingin muntah begitu ia menyuapkan makanan ke mulutnya, tapi buru-buru ia meneguk air putih. berharap makanan itu bisa masuk ke perutnya dengan bantuan air.
"Makan.", perintah Gus Aham sambil mendekatkan sesendok makanan miliknya ke bibir Aisyah. ia tidak tahan melihat Aisyah memaksa perutnya untuk makan dari tangannya sendiri, sehingga membuat perut Aisyah mual dan ingin memuntahkannya.
Aisyah melihat suaminya, air mata yang sudah menggenang itu akhirnya terjun bebas membasahi pipinya yang terlihat lebih berisi. Gus Aham menaruh sendoknya, lalu memeluk istrinya.
"Maaf.", ucapnya. Aisyah semakin terisak.
"Maaf. mas janji nggak akan ngulangi.", sambungnya. Gus Aham semakin erat memeluk Aisyah. ia tau, tindakannya tadi sangat keterlaluan, tidak seharusnya ia memperlakukan istrinya demikian. tapi amarah itu berhasil membakar jiwanya hingga lepas kendali pada Aisyah.
Gus Aham melepas pelukannya dan menghapus air mata yang membasahi pipi istrinya, setelah tangis Aisyah mereda. ia benar-benar menyesal melakukan itu semua pada istrinya saat marah.
Berulang-ulang kali Gus Aham mencium puncak rambut istrinya, hingga akhirnya kening dan hidung mereka beradu, memejamkan mata untuk sesaat.
Gus Aham berusaha meyakinkan dirinya, bahwa Aisyah hanya miliknya.
"Mau makan lagi?.", tanyanya masih dengan posisi yang sama. Aisyah menggeleng.
"Kenapa?.", tanyanya. membuka kedua matanya dan sedikit menarik wajahnya kebelakang agar bisa melihat wajah istrinya dengan jelas.
"Sudah ndak nafsu, ndak laper.", jawab Aisyah pelan. Gus Aham terdiam sejenak, ia berfikir.
Gus Aham dan Aisyah berpamitan pada Ummi, setelah Gus Aham meminta maaf lebih dahulu pada ibunya.
"Aham minta maaf nggeh, mi?!. Aham banyak pikiran akhir-akhir ini.", ucapnya, memeluk kedua kaki ibunya yang sedang duduk di kursi ruang keluarga. kepalanya ia gelethakkan di pangkuan ibunya.
"Ndak apa, le. tapi kamu harus bisa kontrol diri, jangan sampai nanti Aisyah kena juga. kasihan dia.", jawab Ummi lembut sambil mengelus-elus rambut Gus Aham.
Aisyah datang menghampiri Gus Aham dan Ummi.
"Sudah siap?.",tanya Gus Aham yang harus mendongak untuk melihat istrinya karena posisinya sedang duduk di bawah. Aisyah mengangguk.
"Mi, Aham dan Aisyah pergi dulu, ya?!. nggak jauh-jauh kok.", pamitnya yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Ummi.
Aisyah dan Gus Aham mencium tangan Ummi bergantian, lalu keluar rumah dan menaiki mobil.
Untuk menebus kesalahannya tadi, Gus Aham ingin mengajak Aisyah jalan-jalan agar Aisyah tidak bersedih lagi. bagaimanapun, Gus Aham tidak ingin istri dan anak dalam kandungan Aisyah tertekan karena perlakuannya tadi.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
🌺TO BE CONTINUED 🌺