Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Episode 79


__ADS_3

Matahari menampakkan sinarnya. cukup menghangatkan bagi mereka yang tinggal di daerah berhawa dingin ini.


Aisyah nampak mengeringkan rambutnya dengan handuk. ia belum sempat mengeringkan nya setelah sholat subuh berjamaah tadi.


Ia duduk di meja rias dan terus mengusap-usap rambutnya. beberapa kali, ia nampak memijit kulit kepalanya untuk membantu vitamin rambutnya meresap ke akar.


Gus Aham membuka pintu kamar. ia masuk dan meletakkan baju Aisyah yang sudah kering di ranjang, kemudian beralih berdiri di belakang Aisyah dan membantunya memijat kepala dan mengeringkan rambut istrinya.


"Mau langsung pulang hari ini?!. atau mau jalan-jalan dulu?.", tanyanya. ia menatap wajah istrinya dari kaca. sangat cantik tanpa riasan apapun.


"Langsung pulang.", jawab istrinya.


"Nggak mau jalan-jalan dulu?!.", tanya Gus Aham, memastikan.


"Ummi, pasti ngizinin. nggak mungkin nggak ngizinin kalau sama kamu.", sambung suaminya.


Aisyah menarik kedua tangan suaminya, hingga tubuh Gus Aham membungkuk ke depan handuknya pun menggantung di lehernya dengan kedua ujung yang masih di genggam oleh suaminya. Aisyah mendongak membuat jelas wajah suaminya yang berada di atasnya. jarak mereka semakin dekat.


"Meskipun, Ummi, selalu ngasih izin. tapi, saya ndak mau terus ngambil kesempatan. karena, imbasnya juga ndak baik untuk pekerjaan, saya.", jawabnya. Gus Aham nampak berpikir disana.


"Ummi, kasih tugas apa?!.", tanya Gus Aham. masih dengan posisi yang sama.


"Persiapan wisuda Khotmil Qur'an.", jawab Aisyah.


"Itu masih, satu bulan lebih kan?!.", sahutnya.


"Acaranya, masih kurang satu bulan lebih. tapi, persiapannya?!.",


"Banyak.", sambung Aisyah penuh penekanan.


"Baiklah. mas, bisa bantu apa?!.", tanyanya.


"Bantu doa.", jawab Aisyah. ia tersenyum. hingga membuat Gus Aham gemas, dan mengecup kening istrinya yang berada di bawahnya. Aisyah tersenyum, lalu membalas dengan mengecup kening suaminya juga.


"Sudah selesai?!.", tanya Gus Aham. ia beralih duduk di meja rias. Aisyah mengangguk.


"Kalau gitu, handuknya, mas jemur dulu.", ucap Gus Aham. ia pergi ke balkon kamar untuk menjemur handuk itu di tempat jemuran yang sudah tersedia.

__ADS_1


Ia masuk setelah Aisyah sudah berganti baju. terlihat istrinya sedang membereskan pakaian kotor miliknya. Aisyah memasukkan nya ke dalam koper. mereka akan pulang hari ini juga.


Bagaimanapun, Aisyah merasa dirinya terlalu di bebaskan oleh Ummi sejak rujuk dengan Gus Aham. ia sudah kangen dengan kegiatan diniyah dan kegiatan pondok lainnya.


Ia kangen mengajar, ia kangen menyimak hafalan, ia juga kangen dengan semua repotnya perayaan dan acara-acara di pondok.


Gus Aham sudah memasukkan kopernya ke mobil. ia pamit pada Mbah Rosyid dan istrinya yang sedang membersihkan villa. tidak lupa, ia memberikan sedikit uang sebagai rasa terima kasih.


"Loh. gajinya si Mbah kemarin sudah di anter kang Mu'idz lho, Gus.", ucap Mbah Rosyid, saat Gus Aham menyelipkan beberapa lembar uang berwarna merah ke tangannya ketika pamit.


"Ini, sodaqoh dari saya dan istri. semoga bermanfaat buat Mbah dan istri.", ucapnya.


"Masyaalloh. matur nuwun.", jawabnya. yang di sambut senyuman dari Gus Aham dan Aisyah.


"Hati-hati nggeh, Ning?!. sering-sering main kesini.", ucap istri Mbah Rosyid pada Aisyah.


"Insyaallah. Mbah juga hati-hati, ya?!.", jawabnya. lalu tersenyum.


"Pamit dulu ya, Mbah?!.", ucap Gus Aham. ia meraih tangan Mbah Rosyid dan istrinya secara bergantian dan menciumnya. Aisyah pun melakukan hal yang sama.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Nanti mampir beli oleh-oleh buat Abah sama Ummi nggeh, Gus?!.", ucap Aisyah yang duduk di samping suaminya.


"Mau beli apa?.", tanya Gus Aham yang sedang mengemudi.


"Ndak tau. Abah sama Ummi, biasanya suka apa?.", ia bertanya balik pada suaminya, karena tidak terlalu tau apa kesukaan mertuanya.


"Abah, biasanya suka duren. tapi kalau maem duren suka lupa. jadi, tensi sama kolesterol pasti naik.", jawab Gus Aham. yang membuat Aisyah tersenyum.


Sepanjang perjalanan ada banyak yang di ceritakan Aisyah pada suaminya. entah itu masa saat ia masih mondok dan menjadi santri Ummi. entah tentang teman-teman sekelasnya atau sekamar, yang begitu mengidolakan Gus Aham.


"Berarti, kamu ngalahin semua temen sekelas dan sekamar kamu dong.", sahut Gus Aham membuat Aisyah menghentikan ceritanya.


"Kenapa?.", tanyanya. ia melihat suaminya yang duduk di sampingnya.


"Iya. karena, kamu nikah sama idola mereka.", jawab Gus Aham penuh percaya diri di sertai senyuman.

__ADS_1


"Enggak lah.", tampik Aisyah. ia memalingkan wajahnya menghadap jendela. pipinya memerah, menunjukkan bahwa saat ini ia sedang malu. Gus Aham yang melihat wajah istrinya dari pantulan kaca jendela pun tersenyum.


"Pipinya merah, tuh.", goda Gus Aham pada Aisyah. yang membuat Aisyah salah tingkah. ia tetap menatap keluar jendela.


"Ya, kan?!. merah, kan?!.", godanya lagi. yang membuat Aisyah jengkel. seketika ia menghadap suaminya dan menggelitik Gus Aham.


Gus Aham tertawa geli. ia berusaha menampik tangan Aisyah yang menggelitik nya.


"Stop!. sayang, stop!. mas, lagi nyetir lho.", ucapnya, berharap istrinya menghentikan gelitikan nya.


"Njenengan, jengkelin sih.", ucapnya. ia lantas menghadap ke lurus ke depan. pipinya menggembung. Gus Aham tersenyum melihatnya, mengingat ia tidak pernah melihat Aisyah merajuk.


Biasanya, saat Aisyah marah padanya. ia akan lebih banyak diam. tidak mengajak Gus Aham bicara dan selalu menghindar. tapi, kali ini ia melihat bagaimana istrinya merajuk layaknya anak kecil.


"Yaudah. mas, minta maaf.", ucap Gus Aham. ia tidak ingin Aisyah lama-lama marah padanya.


"Dulu, waktu saya tau bahwa yang dijodohkan dengan saya, itu njenengan. saya, sempet mau nolak.", ucapnya bercerita.


"Kenapa?!. bukane seneng dapat idola?!.", ucap Gus Aham, lagi-lagi ia menggoda istrinya.


"Gus, njenengan sadar mboten sih?!. njenengan niku, sien pripun?!. ( Gus, anda sadar tidak?!. anda itu, dulu bagaimana?!.).", ucap Aisyah.


"Sinten seng mboten wedi kaleh njenengan, sien?! (siapa yang ndak takut sama anda, dulu?!).", sambungnya.


Gus Aham tersenyum mendengar ucapan istrinya. ia meraih tangan Aisyah dan menciumnya, sementara tangan satunya tetap menyetir.


"Terimakasih.", ucap Gus Aham. ia tersenyum menatap istrinya. membuat Aisyah dag dig dug tak karuan dan salah tingkah.


"Perhatikan jalan.", ucapnya ketus. untuk menutupi perasaannya.


"Kita, sudah berhenti.", jawab Gus Aham.


Aisyah melihat ke sekitar. benar, mobil mereka sudah berhenti di depan sebuah toko oleh-oleh yang cukup besar. banyak mobil pengunjung lain terparkir disana.


Aisyah menoleh pada suaminya, ia merasa kesal. kesal karena malu. di tariknya tangan itu dari genggaman Gus Aham. ia segera membuka pintu dan hendak turun. membuat Gus Aham tersenyum melihat tingkah istrinya kali ini. ia segera membuka pintu mobil dan turun menyusul Aisyah.


Gus Aham menghampiri Aisyah. ia mengulurkan tangannya untuk menggandeng Aisyah. malu-malu Aisyah meraih tangan suaminya dan mereka pun melangkah masuk ke dalam.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2