Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 99


__ADS_3

Tanpa sepengetahuannya, ternyata Abah dan saudara-saudaranya sama-sama sedang berusaha menyelamatkan suaminya.


Ya, diam-diam Abah, Gus Fahim, Gus Ma'adz dan kakaknya ikut pemeriksaan prosedur transplantasi ginjal untuk suaminya. tapi karena beberapa faktor, mereka tidak bisa mendonorkan ginjalnya untuk Gus Aham.


Abah nya penderita hipertensi dan memiliki penyakit batu ginjal. Gus Ma'adz selain menderita hipertensi, hasil ginjalnya di nyatakan kurang bagus karena ia pecandu rokok.


Gus Fahim sendiri juga tidak di izinkan mendonorkan ginjal, karena perokok dan pecandu kopi. yang mana kafein dalam kopi, membuat fungsi kerja ginjal menurun. maklum, anak pondok. temannya begadang, selain kitab ya kopi dan udud (rokok).


Sedang mas Raihan tidak di izinkan untuk mendonorkan ginjal karena kondisinya tidak cukup baik.


"Ayo, masuk.", ajak ibu. pada Abah, Ummi dan juga Gus Fahim. secepat kilat Aisyah kembali ke tempat duduknya. ia berakting seolah-olah, baru saja bangun tidur.


"Abah, Ummi.", sapanya. ia masih duduk di tempatnya. Ummu melangkah ke arah Aisyah dan duduk di sampingnya, ia memeluk menantunya erat. Aisyah tau bagaimana perasaan mertuanya, tapi ia harus kuat. ia menahan semua kesedihan dan kesusahan hatinya.


"Assalamualaikum.", ucap Gus Fahim yang baru saja masuk.


"Waalaikum salam.", sahut semua yang ada di dalam ruangan.


Ia terlihat mendekati Abah nya dan membisikkan sesuatu. Abah terlihat mengangguk-angguk, menjawab bisikan Gus Fahim. setelah nya, Abah ganti berbisik di telinga Gus Fahim, yang membuat Gus Fahim mengangguk dan mengerti. ia hendak melangkah keluar, sebelum melihat Aisyah sedang duduk bersama ibunya.


"Mba.", sapanya pada Aisyah. lalu mendekat dan mencium tangan kakak iparnya. Aisyah tersenyum.


"Kapan sampainya, Gus?.",


"Tadi pagi, mba.",


"Saya, keluar dulu nggeh?!. mau telpon dulu.", pamitnya pada Aisyah yang di jawab dengan anggukan.


Gus Fahim segera keluar kamar. ia menelpon Gus Ma'adz, yang menunggu keputusan dari Abah.


"Assalamualaikum, mas.", sapa Gus Fahim, begitu tersambung.


"Waalaikum salam. piye le?!, ngendikane (kata) Abah?.",


"Abah, sanjang. njenengan, kaleh mba Nafis mawon engkang teng Sarang, ta'ziyah.", ( Abah, bilang. kamu, dan mba Nafis saja yang ke Sarang, melayat).", jawab Gus Fahim.


"Yowes. kalau gitu, mas sama mba, siap-siap dulu. Dija sama Shofy, mas tinggal di rumah ya?!. dari pada mereka rewel di jalan.", ucap Gus Aham.


"Injih, mas.", jawabnya.


"Yaudah, le. gitu aja. assalamualaikum.",

__ADS_1


"Waalaikum salam.", jawabnya. lantas mengakhiri sambungan teleponnya.


Gus Fahim segera masuk ke kamar. terlihat Abah dan Ummi nya yang sedang berpamitan pada Aisyah untuk kembali ke pondok.


"Nduk. Abah, sama Ummi pulang dulu. kamu seng sabar, seng kuat, semua lagi ngusahain nyari pendonor buat Aham.", ucap Abah. Aisyah mengangguk dan tersenyum tipis.


"Abah, nopo to?!. kok buru-buru pulang?.", tanya Ummi. yang ndak setuju Abah ngajak pulang. ia masih ingin menemani menantunya.


"Ma'adz, mau ke Sarang. Nafis sama Dija gak ada yang jaga.", jawabnya.


"Nopo kok ke Sarang?!.", Ummi yang belum tau kabar bahwa besannya meninggal, sedikit protes.


"Abah e Bilqis, ninggal. Ma'adz, mau ngelamar sama Nafis.", jawab Abah.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un.", ucap semua yang berada di ruangan itu.


"Ya Allah, bah. kapan?.", tanya Ummi.


"Baru saja.", jawab Abah.


"Yu..., kata-kata Ummi urung selesai. tapi, ibu sudah faham apa yang mau di katakan besannya.


"Ndak apa, Bu. saya, yang akan jaga Aisyah dan Gus Aham. njenengan, bisa ta'ziyah ke Sarang.", jawab ibu.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Keputusan akhir adalah, semua keluarga ndalem berangkat ke Sarang untuk melayat. karena, rasanya kurang pantas bila hanya Gus Ma'adz dan Ning Nafis yang berangkat. mengingat, itu adalah besan dari Abah dan Ummi.


Jadilah Aisyah yang menjaga suaminya di rumah sakit sendirian. terkadang, mas Raihan, mba Amira atau ibu bergantian datang untuk menemaninya. ada juga mba Yati dan pak Budi, yang sesekali datang membawakan makanan atau baju ganti untuk nya saat mas Raihan dan mba Amira sibuk ngisi seminar dan Ummi harus ketemu dengan para donatur.


Dan karena cintanya, Aisyah nekat mengikuti serangkaian pemeriksaan untuk donor ginjal. ia tau, itu berbahaya dan beresiko bagi ia dan bayinya.


Harusnya, tes darah itu menunjukkan adanya hormon HCG yang bisa menunjukkan bahwa ia hamil, bisa terbaca dan di ketahui dokter saat tes darah. tapi, seolah-olah bayi mereka berkompromi dengan Aisyah untuk menyelamatkan ayahnya.


Hasil lab, Aisyah bisa mendonorkan satu ginjalnya. ginjalnya sehat, kondisi Aisyah juga baik. bahkan darahnya cocok dan resiko penolakan tubuh Gus Aham pada ginjalnya kemungkinan sangat sedikit bahkan tidak ada.


Aisyah tersenyum puas mendengarnya. ia bisa melakukan hal baik untuk menyelamatkan suaminya.


Ia baru saja masuk ke kamar suaminya, saat mas Raihan yang tengah merapikan selimut Gus Aham bertanya padanya.


"Dari mana, sya?.", tanya kakaknya. ia sedikit terkejut, tapi kemudian tersenyum untuk menutupinya.

__ADS_1


"Dari ruang dokter, mas.", jawabnya.


Ia melangkahkan kakinya masuk, dan menghampiri kakaknya lalu mencium tangan mas Raihan.


"Mas, sudah lama?!.",


"Barusan.",


"Mas, sendiri?!.",


"Iya. baru pulang dari seminar, jadi sekalian mampir.", jawabnya.


Mas Raihan melangkahkan kakinya ke arah sofa dan kemudian duduk di sana. Aisyah menghampirinya, dan ikut duduk bersama kakaknya.


"Aham, sudah sadar?.", tanya mas Raihan. Aisyah menghela nafas dan memandang suaminya yang masih bum sadarkan diri Sampai saat ini. ia menggeleng pelan, sebagai jawaban atas pertanyaan kakaknya.


"Yang sabar.", ucap mas Raihan. ia mengusap punggung adiknya untuk menenangkan dan memberi kekuatan pada Aisyah. berharap kakaknya tidak khawatir, Aisyah tersenyum.


"Mas. pendonor ginjal untuk Gus Aham, sudah ada.", ucapnya, pelan.


"Alhamdulillah!!.", seru mas Raihan, yang ikut senang mendengar berita itu.


"Siapa, Sya?.", tanyanya sejenak kemudian.


"Aku.", jawabnya.


Sontak mas Raihan menatap adiknya. raut wajahnya jelas terlihat bahwa ia terkejut dan tidak percaya. tapi melihat wajah adiknya, ia tahu benar bahwa wajah adiknya menunjukkan keseriusan.


"Sya. kamu, serius?!.", tanya mas Raihan meyakinkan. Aisyah mengangguk mantap.


"Sya. kamu wanita, dan belum memiliki anak. bagaimana nanti kalau kamu hamil?!, punya anak?. akan sulit untuk hidup normal.", ucap mas Raihan, mencoba menjelaskan kemungkinan efeknya pada tubuh Aisyah.


"Kata dokter. baik pria atau wanita, bisa kok mas hidup normal dengan satu ginjal.", jawabnya. kakaknya menghela nafas, menggeleng. ia tidak percaya adiknya melakukan hal yang nekat.


Aisyah turun dari kursi, ia berlutut di depan kakaknya.


"Mas.", panggilnya. tangannya meraih kedua tangan kakaknya.


"Mas. aku, hanya ingin anakku merasakan masa kecil yang indah bersama ayahnya. aku, hanya ingin anakku mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah. tidak seperti diriku.", ucapnya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2