
"Jadi mau makan malam dimana?!.", tanya Riko, pada dokter Fitri. ia tidak menoleh karena sedang fokus menyetir. dokter Fitri nampak terdiam. jujur, sekarang ia merasa malu.
Bagaimana tidak?. ia sudah marah-marah dan menuduh Riko menuntut nya berdandan seperti Aisyah.
"Hm?!.", ucap Riko. kali ini, ia melihat dokter Fitri sekilas. memastikan bahwa dokter Fitri baik-baik saja.
"Mm, kita pulang saja.", ucapnya pelan. Riko langsung menginjak rem mobilnya. ia menepikan mobil, dan meminta penjelasan.
"Kenapa?!.", tanyanya.
"Kenapa, apa?.", tanya dokter Fitri.
"Kenapa pulang?.", tanyanya, memperjelas. dokter Fitri terdiam.
"Kan, katanya kita mau kencan?!.", sambung Riko. ia sendiri sebenarnya tidak setuju dengan acara ini. tapi, demi ibunya ia bersedia.
Lagipula, menginginkan hal yang tidak mungkin lagi juga percuma. ya, gadis pujaannya sudah bahagia bersama laki-laki yang di cintai.
Mereka bahkan bisa melewati setiap rintangan yang datang. sangat tidak mungkin bagi Riko, untuk merusak masuk dalam hubungan Aisyah dan Gus Aham.
"Tapi, saya merasa ndak nyaman.", ucap dokter Fitri.
"Kenapa?. kamu sakit?!.", tanya Riko. dokter Fitri menggeleng.
"Terus?!.", tanya Riko lagi.
"Ndak nyaman sama bajunya.", jawabnya pelan. membuat Riko tersenyum.
"Ndak apa. kan, sudah pakai jaket saya.", ucap Riko, mencoba membujuk dokter Fitri.
Dokter Fitri terlihat ragu, tapi karena Riko membujuknya ia pun akhirnya setuju. mengingat, ini adalah kencan pertama mereka. dan perjalanan mereka mencari tempat untuk berkencan pun akhirnya berlanjut.
...----------------...
"Masyaalloh. sampai, telinga Ummi mbengung (berdengung), lagek di angkat.", ucap Ummi, yang panggilannya baru bisa di angkat oleh Gus Aham.
"Assalamualaikum, Ummi.", ucap Gus Aham, dengan nada mengingatkan.
"Iya, to. Ummi, sampek lupa. assalamualaikum.",
"Waalaikum salam.", jawab Gus Aham, ia nampak tersenyum disana.
"Piye, le?!. Aisyah, kondisinya gimana?.", tanya Ummi.
"Alhamdulillah, baik Ummi. insyaallah, besok sudah boleh pulang.", jawab Gus Aham.
"Tenan, to?. Alhamdulillah...!.", ucap Ummi, penuh rasa syukur.
__ADS_1
"Fis, tolongin Ummi, nduk. ganti ke video call.", terdengar suara Ummi meminta mengganti panggilan suara via WhatsApp ke panggilan video.
"Le, Ummi. minta video call.", ucap Ning Nafis, yang di iyani oleh Gus Aham. sebelum akhirnya, panggilan itu beralih menjadi panggilan video.
"Le, mana Aisyah?!.", tanya Ummi, begitu layar ponselnya di penuhi wajah putranya. saat panggilan video mulai tersambung.
"Ummi, ndak mau nanya kabarku dulu?!. aku kan, anak kandungnya Ummi.", jawabnya.
"Oalah, le. tiap hari lho, Ummi wes nanya kabar mu. Aisyah mana?!. tiap telfon minta video call ndak boleh. giliran, sekarang bisa video call, kamu nya rewel minta di perhatiin.", gerutu Ummi. membuat Gus Aham memanyunkan bibirnya.
"Aisyah nya mana?.", tanya Ummi lagi, karena Gus aham tidak kunjung memperlihatkan istrinya di layar ponsel.
"Itu, le. rambutmu di cukur, brewok gitu kelihatan tua jadinya.", protes Ummi nya, membuat Gus Aham tersenyum.
"Ojo ngguyu ae..., Aisyah ndi?. ( jangan ketawa aja..., Aisyah mana?).", ucap Ummi, kesal. dan kalau logat Jawa Ummi sudah keluar, itu pertanda buruk. sebab Ummi akan mengubah bahasanya dengan kromo Inggil (bahasa Jawa tanpa campuran).
"Iya, iya.", jawab Gus Aham.
Nampak Gus Aham terlihat berdiri dari kursinya. ia mendekat pada istrinya yang sedang di periksa kesehatan nya oleh seorang dokter.
"Aisyah. nduk, assalamualaikum.", sapa Ummi, disana.
"Waalaikum salam, Ummi.", jawabnya, dengan senyuman. membuat Ning Nafis, Ning Dija dan Ning Shofy ikut muncul di layar ponsel Gus Aham. mereka tampak mengelilingi Ummi, agar bisa melihat Aisyah dari layar ponsel Ning Nafis.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Pak lek. kapan pulang?!.", tanya Dija. begitu melihat wajah Gus Aham muncul.
"Tunggu bulek, sehat.", jawab Gus Aham.
"Kapan bulek sehat?!.", sahut Ning Shofy.
"Nanti tanya dokter dulu.", jawab Gus Aham.
"Le, itu Aisyah.", rengek Ummi. ingin sekali berbicara dengan menantunya.
"Masih di periksa, Ummi.", jawabnya.
"Kok, suwe temen se?!.", ( kok, lama banget sih?!).", gerutu Ummi.
"Pemeriksaan, apa to le?.", tanya Ning Nafis, lembut.
"Pemeriksaan menyeluruh, mba. kan, Aisyah besok bisa pulang.", jawabnya.
"Alhamdulillah.., tenan ya, le?!. ndak bohong lagi kan?!.", sahut Ummi. suaranya terdengar sangat bahagia.
"Insyaallah. Ummi, doain saja nggeh?!. hasil pemeriksaan nya bagus semua. biar Aisyah, bisa cepat pulang.", jawab Gus Aham.
__ADS_1
"Aminn.", sahut Ummi, Ning Nafis, Ning Dija dan Ning Shofy bersamaan.
Mereka semua terlihat bahagia dengan kabar itu.
"Yowes, le. Ummi, ndak ganggu lagi. setelah pemeriksaan selesai, cepat ajak Aisyah istirahat ya?!. biar bener-bener sehat.", ucap Ummi, begitu sumringah.
"Salam buat Aisyah ya, le?.", sahut Ning Nafis.
"Insyaallah, mba.", jawab Gus Aham.
"Assalamualaikum.", ucap mereka bersamaan, sebelum panggilan video berakhir.
Bersamaan dengan berakhirnya panggilan video, berakhir pula pemeriksaan Aisyah.
"Kami permisi dulu, hasil pemeriksaan dan laporan akan kami sampaikan besok.", ucap dokter, yang segera pamit undur diri di ikuti seorang perawat. Gus Aham tersenyum dan mengangguk.
"Tadi Ummi?.", tanya Aisyah, ketika dokter sudah pergi dan suaminya mendekat. Gus Aham duduk di bibir ranjang, ia menatap istrinya dan tersenyum seraya mengangguk sebagai jawaban.
"Dapat salam dari, Ummi.", ucapnya kemudian. membuat Aisyah tersenyum.
"Besok bisa pulang kan, mas?!.", tanya Aisyah.
"Insyaallah. semoga hasilnya semua bagus, biar bisa cepat pulang.", jawabnya. ia lantas mengecup kening istrinya. dan Aisyah tersenyum setelah nya.
"Istirahat lah lebih awal. supaya besok, badan lebih sehat dan fit. Aisyah menganguk, menyetujui saran suaminya.
"Temenin ya, mas?!.", pintanya manja. membuat Gus Aham gemas. hingga merangkup kedua pipi Aisyah dengan tangannya, sehingga bibirnya terlihat manyun. ia lantas mencium kening, hidung dan bibir Aisyah.
Setelah nya, Gus Aham menggeser tubuh istrinya agar ranjang itu muat untuk mereka seperti biasanya.
Gus Aham mengusap-usap perut Aisyah, ia tidak lupa untuk membacakan doa-doa dan surat-surat Al-Qur'an untuk bayi dalam kandungan istrinya.
Sambil menemani Aisyah agar lekas tidur, sambil mengusap perut istrinya untuk memberi rangsangan dan perkenalan pada anak mereka.
Aisyah tersenyum melihat suaminya yang fokus membaca doa-doa, sambil mengusap perutnya. itu membuat perutnya merasa nyaman, sehingga ia merasakan rileks.
Dalam hati, ia sangat bersyukur. memiliki suami yang begitu menyayangi nya, begitu sabar menghadapinya. yah, walaupun awal-awal banyak konflik di antara mereka.
Rasa bahagianya tiba-tiba mendorong tangannya untuk membelai pipi suaminya, yang kini di tumbuhi rambut.
"Kenapa?!.", tanya Gus Aham, yang sadar bahwa sedari tadi istrinya memperhatikan nya.
"Njenengan, ganteng.", jawabnya polos. wajahnya merona mengatakan hal itu, tapi entahlah ia ingin memuji suaminya. dan ucapannya sukses membuat Gus Aham tersenyum, hingga memperlihatkan gigi gingsulnya yang menambah manis senyumnya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺
__ADS_1