
Makan siang dihidangkan, Gus Aham dan Aisyah baru saja datang bergabung dengan ibu dan Abel di meja makan.
"Bulek, nanti tidur disini toh?.", tanya anak kecil berusia delapan tahun itu. Aisyah menoleh ke arah Gus Aham, seolah-olah meminta izin.
"Iya, tapi besok pak lek sama bulek harus sudah balik ke pondok.", jawab Gus Aham mewakili Aisyah.
"Yes!!, ucap Abel girang mengepalkan tangannya.
"Kenapa?.", tanya ibu.
"Abel, mau di dongengin to, ti.", jawabnya.
"Bulek sama pak lek kan baru pulang dari Surabaya, Bel. pasti capek, nanti minta mba Yati saja yang dongengin.", sahut utinya mencoba memberi pengertian.
Abel mengerucutkan bibirnya sambil memainkan nasi dipiring.
"Boleh ya, pak lek?.", tidak kehabisan akal. Abel malah minta izin langsung ke si empunya. Gus Aham tersenyum.
"Mm..., pak lek sih boleh-boleh aja. tapi coba dong tanya bulek.", ucapnya malah melempar jawaban.
"Bulek?.", rengeknya.
"Kalau pak lek ngizinin, bulek ndak masalah. kalau dulu bulek belum nikah, bulek bisa semaunya. tapi sekarang bulek sudah nikah, jadi harus manut pak lek.", jawab Aisyah.
"Pak lek?!.", kini giliran Gus Aham yang di rengeki Abel.
"Makan dulu, ya.", jawabnya mengalihkan pembicaraan.
Abel tetap memainkan makanannya saat yang lain sedang makan. dan itu membuat Gus Aham mengiyakan permintaan keponakannya.
"Makan ya, Bel. nanti di dongengin bulek.",ucap Gus Aham. Abel pun girang, segera ia menghabiskan makanan yang ada di piringnya.
Selesai makan siang semua anak-anak menuju kamar mandi, mereka mengantri mengambil air wudhu, bersiap untuk sholat dhuhur berjama'ah.
Anak-anak di panti ini lumayan banyak. yang tinggal di panti ada sekitar anak 70an laki-laki dan perempuan. sedang anak non panti (anak yatim piatu yang tidak mau tinggal di asrama panti) ada sekitar 35an anak. tapi mereka sama-sama mendapatkan haknya meskipun tidak tinggal di panti.
Gus Aham memasuki musholla, dimana anak-anak panti sudah menunggu dengan melantunkan puji-pujian.
Begitu Gus Aham masuk, mereka segera melantunkan iqomah. ya, hari ini Gus Aham yang mengimami mereka, sesuai perintah dari mertuanya.
__ADS_1
Mereka berbaris rapi sesuai shof nya. anak laki-laki di depan, sedang jama'ah perempuan di belakang dengan satir sebagai pembatasnya.
Begitu sholat jama'ah dan dzikir selesai mereka segera berebut untuk bersalaman dengan Gus aham, Aisyah dan ibu. dan biasanya setelah jama'ah sholat dhuhur mereka di izinkan istirahat. ada yang tidur siang, ada yang bermain badminton, sepak bola dan lainnya, ada juga yang mengaji ataupun belajar.
"Anak-anak disini sangat mandiri ya.", ucap Gus Aham membuka pembicaraan. Aisyah hanya tersenyum.
"Aku mau keliling, lihat-lihat ke belakang. kata ibu, ada peternakan juga sekarang.",
"Saya temeni ya, Gus.", ucap Aisyah, menawarkan diri. dengan cepat Gus Aham mengangguk.
Mereka berjalan menuju peternakan kambing yang sudah mulai di kelola sendiri oleh panti. mereka juga memperluas sawah di belakang panti untuk di tanami sayur dan buah. selain hasilnya di jual, buah dan sayur yang mereka tanam juga di masak sendiri sebagian, atau di berikan pada donatur yang kebetulan datang berkunjung.
"Ibumu hebat. bisa mengatur dan memikirkan semua ini sendiri.", ucapnya memuji mertuanya.
"Ibu ndak sendiri, Gus. ada pak lek, bulek, budhe dan pak Dhe yang bantu ngelola.", jawabnya
"Dulu, pas belum punya donatur, Mbah wo (panggilan akrab Aisyah untuk adik ibunya yang paling kecil. dipanggil demikian karena pak lek nya menjadi kamituwo atau kepala desa), yang muter-muter nyari donatur. Alhamdulillah berkat usaha pak lek, bulek, budhe dan para pak Dhe akhirnya yayasan ini bisa di kelola dengan baik dan bisa bermanfaat bagi mereka.", ucap Aisyah menyambung ceritanya
Ia menarik nafas, menghirup segarnya udara kebun yang di tanami macam-macam sayuran.
"Awalnya juga ndak ada niat bangun panti Gus, tapi makin hari yang ikut makin banyak. kalau harus di biayai secara pribadi, jelas keluarga kami ndak mampu.", sambungnya.
"Apalagi, banyak orang-orang dulu yang pernah ikut Mbah kung untuk belajar di pondok, datang dan memasrahkan anak-anaknya kesini, ada yang beralasan karena memang ingin balas budi, atau ingin anaknya mengabdi disini, mengingat Mbah kung dulu mau menampung mereka untuk menghemat biaya agar tetap bisa ngaji dan sekolah pondok. dan sebagian dari orang tua mereka ada juga yang jadi donatur.", lanjutnya lebih jelas.
Gus Aham tersenyum kecut memikirkan itu.
"Berarti, di panti ini bukan hanya anak yatim-piatu aja donk?!,
"Kebanyakan anak yatim-piatu, Gus. anak donatur sekitar 7-10 anak.",
"Tapi mereka dapat perlakuan yang sama?.",
"Sama. takutnya kalau di bedakan mereka malah merasa dikucilkan, jadi di samakan.",
Aisyah menikmati udara kebun hingga sore menjelang, waktunya mereka untuk mandi dan berjama'ah sholat ashar bersama anak-anak panti.
Malam menyapa, menunjukkan indahnya sinar rembulan. aisyah sedari habis isya' sudah berada di kamar Abel, setelah menemani keponakannya dan anak-anak panti belajar. meninggalkan suaminya yang sibuk dengan laptopnya.
"Bulek, ceritain itik buruk rupa yang jadi angsa cantik.", ucapnya saat sudah berbaring di tempat tidurnya.
__ADS_1
"Kisah nabi-nabi saja, atau kisah para wali.",
"Bulek...?!, gantilah dengan yang sedikit modern.", protesnya.
"Tapi, bulek ndak tau cerita tentang itik buruk rupa.",
Abel mengambil ponselnya dan memberikan pada Aisyah.
"Cari di google.", ucapnya. Aisyah tersenyum melihat tingkah keponakannya. akhirnya Aisyah pun mencarinya di google.
Cukup lama Aisyah bercerita, bahkan cerita itu hampir selesai ia baca.
"Ternyata, itik itu berubah menjadi angsa yang cantik.", Aisyah melihat keponakannya yang sudah tidak merespon, dan ternyata Abel sudah tidur. jadilah Aisyah menyudahi cerita yang belum selesai itu. ia menaruh ponsel Abel di atas meja lalu membenarkan selimutnya dan segera keluar kamar.
"Mba Aisyah, dongengin kami juga donk.", ucap seorang anak kecil yang tiba-tiba menghadangnya.
"Mba....
"Iya, ya mba Aisyah. mau ya?!,", tiba-tiba terdengar suara bersahutan yang membuat aisyah tidak melanjutkan perkataannya, dan mereka muncul dari tempat persembunyian mereka masing-masing.
Aisyah mengangguk dan tersenyum.
"Yaeyyy!!!....., mereka bersorak kegirangan dan segera masuk asrama. kasur yang berjejer beralaskan karpet itulah yang menjadi alas tidur mereka, persis seperti suasana di pondok.
Mereka berbaring di tempatnya masing-masing, sedang Aisyah duduk di tengah dengan barisan kasur di sebelah kanan dan kirinya.
"Berdoa dulu, ya!.", ajaknya pada anak-anak panti
Mereka membaca doa akan tidur bersama-sama, dan sesudahnya mereka bersiap mendengarkan cerita dari Aisyah.
Gus Aham mencari Aisyah di kamar Abel, tapi tidak menemukannya. jadilah ia mencarinya dengan raut wajah kesal. bagaimana tidak?, ia sudah menyelesaikan pekerjaannya dan menunggunya, tapi Aisyah tidak juga kembali.
"Jadi, nabi Nuh mengajak ummat nya untuk membuat sebuah perahu yang sangat besar, atas perintah dari Allah.",
Samar-samar ia mendengar suara yang sangat dikenalnya, terdengar dari asrama anak-anak. dengan langkah cepat Gus Aham mendatanginya, benar saja ia melihat Aisyah sedang bercerita kepada anak-anak sebagai pengantar tidur.
Aisyah yang melihat Gus Aham, tersenyum. Gus Aham pun masuk dan duduk di dekat aisyah. ia melihat arloji sudah jam 10 lewat. kenapa anak-anak ini belum tidur?!, padahal ini adalah waktunya Aisyah menidurkan dirinya,
keluhnya dengan tangan menopang dagunya.
🌺TO BE CONTINUED 🌺
__ADS_1