
Gus Aham memasuki ruangan paling akhir setelah Aisyah di kabarkan siuman. ia baru saja, selesai berjamaah di musholla untuk melaksanakan sholat maghrib.
Begitu melihat Gus Aham masuk ke ruangan tempat Aisyah di rawat. baik Ummi, ibu dan Ning Nafis segera undur diri untuk keluar. mereka memberi ruang pada keluarga baru ini.
"Ayo ke kantin dulu, Bu, mi.", ajak Ning Nafis, yang segera di angguki oleh keduanya.
"Tinggal dulu ya, nduk?!.", ucap ibu, dan Aisyah segera mengangguk sebagai jawabannya.
"Temani Aisyah ya, le?!.", ucap Ummi, yang berlalu keluar dari kamar rawat itu.
Pintu tertutup setelah ketiganya pergi. Gus Aham perlahan mendekat, ia meraih kursi di samping ranjang dan duduk di sana.
Ia menatap Aisyah lekat, dan masih belum bereaksi apa-apa kecuali hanya menatap wajah istrinya yang terlihat sedikit pucat.
"Kenapa?!.", tanya Aisyah, ketika mendengar Gus Aham menghela nafas. dan suaminya hanya menggeleng.
"Bagaimana perasaanmu?!.", tanya Gus Aham.
"Ada yang tidak nyaman?!.", sambungnya, seraya meraih tangan istrinya. Aisyah menjawab dengan senyuman yang di sertai gelengan.
Gus Aham mengecup tangan Aisyah berulang-ulang. membuat Aisyah tau bahwa suaminya baru saja merasakan takut dan cemas, tapi ia berusaha menyembunyikan nya.
"Hentikan, itu.", ucap Aisyah. tapi, Gus Aham tak menghiraukannya. ia tetap menciumi tangan sang istri, mengecupnya berulang-ulang hingga Aisyah menariknya.
Aisyah yang masih terbaring, memberi isyarat pada suaminya untuk mendekat dan memeluknya. langsung saja tubuh Gus Aham bangkit dari duduk, menindih tubuh Aisyah yang baru saja sadar kan diri.
Ketakutannya mencair bersama dekapan hangat sang istri. ia meletakkan kepalanya di dada Aisyah, sementara pelukannya mengerat.
Aisyah yang merasakan eratnya pelukan itu, mencoba menenangkan dengan mengusap-usap puncak kepala suaminya dan memberi kecupan-kecupan yang menenangkan di sana.
"Jangan lakukan itu lagi.", ucap Gus Aham lirih. ia masih memeluk Aisyah.
"Jangan membahayakan diri sendiri lagi.", sambungnya. yang membuat Aisyah tersenyum.
"Jangan tertawa!.", rengeknya. masih tetap memeluk istrinya. tapi Aisyah malah tertawa hingga mengeluarkan suara. membuat Gus Aham mendongak menatap wajah Aisyah.
__ADS_1
"Kenapa tertawa?!.", tanyanya kesal, saat mendapat respon seperti itu dari sang istri.
"Ada yang lucu?!.", tanyanya lagi. membuat Aisyah tertawa kecil, sambil menutup bibirnya dengan tangannya.
"Kamu pikir ini semua lucu?!.", ucap Gus Aham lagi. kali ini dengan tatapan marah, sehingga ia menjauhkan dirinya dari Aisyah, dan hanya duduk di tepi ranjang.
Aisyah yang sadar suaminya benar-benar marah, segera berhenti tertawa dan berusaha bangun dari tidurnya.
Gus Aham yang melihat istrinya kesulitan untuk bangun itu, segera membantu Aisyah untuk bangun dan duduk meski perasaannya masih kesal.
"Kemarilah!.", ucap Aisyah, meminta Gus Aham untuk mendekat. karena ia menjauh lagi setelah membantu Aisyah duduk. tapi, Gus Aham tidak bergeming. ia hanya menatap lurus dengan wajah kesal.
"Mas?!.", panggilnya. tapi Gus Aham tetap tidak bergeming. ia bahkan mengalihkan pandangannya keluar. tidak mau melihat Aisyah untuk saat ini.
Ia marah dan kesal, tapi bukan pada istrinya. melainkan pada dirinya sendiri.
Kenapa ia begitu bodoh?!. meminta Aisyah untuk menunggu dirinya saat proses persalinan, hanya karena ia ingin menemaninya?!. akhirnya, jadi seperti ini kan?!.
Ia hampir saja kehilangan istrinya, kalau saja ia tidak terus memompa jantung Aisyah. hah, sungguh perasaan bersalah yang hampir membuat nya hilang akal.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Aisyah menghela nafas, dengan sikap suaminya. ia hanya ingin memenuhi permintaan suaminya, agar bisa menemani saat proses persalinannya.
Sehingga suaminya menjadi orang pertama yang melihat anaknya lahir. tidak ada maksud untuk membahayakan dirinya atau bayi mereka.
"Yasudah. saya, minta maaf.", ucapnya lirih.
"Saya, ndak ada maksud membahayakan diri ataupun bayi kita.", lanjutnya. dan Gus Aham, masih tidak mau menatap nya. ia masih terus menatap ke arah pintu, yang mana sikapnya itu, membuat Aisyah beberapa kali menghela nafas dalam.
"Saya, hanya ingin memenuhi janji saya pada, njenengan.", ucapnya, pelan.
"Njenengan, kan. pengen nemenin, saya melahirkan. saya, sendiri juga begitu.", sambungnya. namun, semua ucapan nya belum mendapat respon dari suaminya. membuat ia kini, merasa bersalah juga.
"Mas. saya, minta maaf.", ucapnya. ia meraih tangan suaminya, tapi Gus Aham menampik nya. membuat tubuh Aisyah sedikit kaget, hingga punggungnya membentur dinding rumah sakit.
__ADS_1
"Ah.", erangannya, lirih. pinggang nya nyeri, karena saat jatuh kemarin lukanya sedikit terbuka lagi. membuat Gus Aham refleks menoleh dan mendekat.
"Mana yang sakit?!.", tanyanya. Aisyah menggeleng, ia tersenyum melihat suaminya yang panik hanya dengan erangan kecil darinya.
"Kenapa senyum-senyum?!.", tanya Gus Aham, ketus. Aisyah menarik tubuh suaminya, saat Gus Aham hendak menjauh lagi. sedapat nya, ia memeluk tubuh suaminya. hingga Gus Aham terdiam, saat Aisyah berhasil memeluk pinggang nya.
"Maaf.", ucapnya. saat ia berhasil membuat Gus Aham sedikit tenang dengan pelukannya. ia mendongak, menatap wajah suaminya yang masih terlihat kesal. sehingga membuat Aisyah menghela nafas, lalu menyandarkan kepalanya pada tubuh suami nya.
"Cobalah mengerti. saya, hanya berusaha memenuhi keinginan, njenengan.", ucapnya, lembut. berusaha memberi pengertian suaminya, kenapa ia masih bertahan untuk kelahiran bayinya hanya demi, agar suaminya bisa menemani ia menyambut kelahiran anak pertama mereka.
"Ini anak pertama kita. baik, njenengan ataupun saya pasti ingin memiliki sebuah kenangan manis untuk sesuatu yang sudah lama kita ingin dan impikan.",
"Saya, hanya berusaha melakukan dan memberikan sebisa dan semampu, saya.",
"Selama, saya dan bayi kita bisa bertahan. itu bukanlah, hal ataupun masalah besar.", ucap Aisyah, yang masih memeluk suaminya dari samping. sehingga membuat Gus Aham menoleh padanya.
"Bukan masalah besar?!.", sahut Gus Aham. suaranya terdengar marah dan kesal.
"Tau?!. apa yang terjadi, saat mereka lahir dengan selamat?.", tanyanya.
"Mereka hampir kehilangan ibunya?!.", sambung nya lagi dengan penuh penekanan. membuat Aisyah, sedikit terkejut.
"Kenapa selalu membahayakan diri sendiri?!, hanya demi orang lain?!. apalagi itu demi, aku?!.",
"Kamu itu, bodoh atau apa?!.", ucapnya kesal. ia sampai memaki dan mengatai istrinya seperti itu.
Entah lah, hatinya benar-benar gondok dengan penuturan istrinya. berulang kali, Gus Aham bilang. jangan menanggung nya sendiri, tapi tetap saja tidak di dengar. membuat nya kesal, sekarang.
Bukannya, sedih di katai oleh suaminya. Aisyah malah tersenyum senang, mendongak melihat wajah Gus Aham lalu memeluknya gemas. membuat pria berusia 30 an itu mengerutkan keningnya.
"Masih bisa ketawa.", ucap Gus Aham, masih dengan nada sebal.
"Kenapa?!.", tanyanya lagi.
"Karena, saya senang.", jawabnya, di sertai senyum manisnya, yang membuat Gus Aham menghela nafas dalam karena meleleh, melihatnya. jurus andalan, memang.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺