Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 100


__ADS_3

"Saya, harus menyelamatkan suami saya. njenengan, tau?!. selain cinta dan harapan, ada janji yang harus saya penuhi pada Bu nyai.", sambungnya.


"Saya, akan baik-baik saja. selama suami, saya juga baik-baik saja.",


"Saya, hanya ingin memberikan keluarga yang utuh untuk anak-anak saya, nanti. juga ingin memenuhi janji saya, pada Bu nyai.",


"Mas?!.",


Aisyah mendekap erat tangan kakaknya dengan tangannya. ia berharap kakaknya mendukung.


Mas Raihan menghela nafas dalam. ia tau masa kecil adiknya tidak seindah masa kecil anak-anak pada umumnya.


Sejak kecil, ayah mereka sudah meninggal. hanya mas Raihan yang sempat bermain bersama ayahnya. itupun, hanya sampai ia berumur tujuh tahun. membuatnya, tidak ingat begitu jelas, bagaimana rupa sang ayah?.


Adiknya, sedari kecil tidak merasakan kasih sayang dari seorang ayah.


Meskipun Mbah kung, pak Dhe dan pak lek nya, baik dari pihak ibu maupun ayahnya, sangat menyayangi mereka dan memperlakukan mereka selayaknya anak sendiri. tetap saja, rasanya berbeda.


Sekarang, kondisi suaminya seperti ini. selagi ada kesempatan, pastilah adiknya akan terus berusaha. karena Aisyah, bukanlah anak manja dan cengeng.


Ia, gadis yg memiliki kepribadian cerdas, kuat, pantang menyerah, ceria dan akan terus berusaha meraih serta mendapatkan keinginannya setiap ada kesempatan.


"Keluarga, Gus Aham tau?.", tanya mas Raihan, setelah beberapa saat diam dan menghela nafas dalam.


Aisyah menggeleng. "Mereka, ndak akan ngizinin.", jawabnya.


"Terus, kamu mau sembunyiin ini dari mereka?.", sahut kakaknya. Aisyah menganguk. mas Raihan mendengus kesal dengan keputusan adiknya.


"Kalau mereka tanya dimana keberadaan kamu saat Gus Aham menjalani operasi?!. mas, harus jawab apa?.",


"Mas, bilang saja. saya sedang tidak enak badan.",


"Sya!.", nada suara mas Raihan sedikit meninggi. ia tidak ingin adiknya bermain-main' dengan nyawa.


Aisyah menghela nafas panjang. ia berusaha menenangkan dirinya.


"Mas. kalau mba Mira di posisi yang sama dengan Gus Aham. dan hanya ginjal, mas yang cocok. apakah, mas Raihan akan tetap diam dan tidak melakukan tindakan apa-apa?.", tanyanya. ia sengaja berkata demikian. ingin tau bagaimana reaksi dan keputusan kakaknya.

__ADS_1


"Tapi kan, keluarga ndalem juga sedang berusaha nyari pendonor. setidaknya, tunggu dulu.", ucap mas Raihan. kali ini dengan nada bicara yang lembut. ia ingin adiknya mengurungkan niatnya. operasi ginjal bukanlah hal sepele.


"Mas, juga nyari-nyari ini. terus nyari info, dan nyari pendonor yang cocok. kita semua enggak diem kok.", sambungnya. ia membangunkan adiknya, yang masih berlutut di depannya, dan mendudukkan nya di kursi.


"Tapi dari kemarin, Gus Aham belum sadar. dokter bilang, mungkin operasi kemarin tidak cukup efektif untuk menangani luka di rongga perut nya. itu sebabnya, Gus Aham butuh pendonor ginjal segera.", ucap Aisyah. wajahnya terlihat sendu, suaranya parau menahan tangis. dan mas Raihan, paling tidak bisa melihatnya seperti ini.


"Kalau kondisi ini terus berlanjut. mungkin juga akibatnya fatal, bahkan bisa mengarah pada kematian.", ia terus menjelaskan bahaya yang sedang mengancam suaminya pada sang kakak. sementara kedua manik hitamnya, masih terus memandangi tubuh suaminya, yang masih belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar.


"Operasi ginjal bukan hal sepele, Sya.", sahut mas Raihan setelah terdiam beberapa saat. ia ingin adiknya berpikir ulang, atau setidaknya benar-benar memahami apa efeknya untuk kehidupannya nanti.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Aisyah mengantarkan kakaknya keluar dari ruangan tempat suaminya di rawat. mereka cukup terkejut, saat ada beberapa polisi berdiri di depan pintu kamar.


"Selamat siang, pak.", ucap salah seorang dari petugas itu, menyapa Aisyah dan mas Raihan. nampak ia mengulurkan tangannya pada mas Raihan.


"Iya, selamat siang.", jawab mas Raihan, sembari meraih tangan petugas itu dan menjabatnya.


"Kami, mencari seseorang bernama Aham. dia di tuduh membunuh seseorang bernama Kevin dengan cara menjatuhkannya dari jalan tol.", ucap petugas itu.


Aisyah dan kakaknya terkejut bukan main. tidak mungkin suaminya seorang pembunuh. pasti ada kesalahan disini, pikirnya.


Mas Raihan menoleh, ia melihat adiknya yang terlihat kesal dengan ucapan polisi tersebut.


"Maaf pak. saya, kakak iparnya. dan ini, istrinya. bisa tunjukkan pada kami surat penangkapan nya?!.", ucap mas Raihan, berusaha menengahi.


"Ini, pak.", ucap polisi itu, sembari menyodorkan sebuah amplop.


Buru-buru mas Raihan membukanya. Aisyah juga ingin tau, apa alasan mereka menuduh suaminya seperti itu. ia pun mendekat pada kakaknya saat surat itu sudah terbuka dengan sempurna.


Aisyah terlihat sedikit syok dengan isi surat itu. hampir saja ia jatuh, jika mas Raihan tidak sigap meraih tubuhnya.


"Mari, masuk dulu.", ajaknya pada semua polisi yang hadir.


Mereka pun segera masuk ke ruang perawatan Gus Aham. ia menuntun adiknya dan mendudukkan di sofa.


"Silahkan duduk sebentar. saya, akan memanggil dokter, supaya bapak-bapak sekalian tau bagaimana kondisi adik saya.", ucapnya.

__ADS_1


Mas Raihan keluar menuju ruang dokter dan menjelaskan maksudnya. membuat dokter itu segera melangkah menuju kamar rawat Gus Aham.


"Assalamualaikum, Gus.", mas Raihan menyapa seseorang di seberang telepon. ia menghubungi Gus Ma'adz, karena pihak ndalem juga harus tau, bahwa ada polisi yang datang untuk menjemput Gus Aham.


"Waalaikum salam.", jawab Gus Ma'adz.


"Bisa, njenengan ke rumah sakit sekarang?!.", tanya mas Raihan.


"Ini, saya masih di tol. baru saja dari Jawa tengah. ada apa ya, mas?!.", tanyanya pada mas Raihan.


"Ada beberapa polisi datang. membawa surat penangkapan untuk Gus Aham. saya, sedang menahannya dengan bantuan dokter.", jawabnya.


"Ooh...", Gus Ma'adz yang sedang duduk di samping kang Mu'idz sebagai pengemudi itu, menoleh ke sekitar. memastikan tidak ada yang tau ataupun ada yang mendengar apa yang disampaikan oleh mas Raihan.


Nampak istri dan Ummi serta anak-anaknya tertidur karena kelelahan di dalam mobil Alphard milik Abahnya. sedang Abah, meskipun terlihat memejamkan mata, tapi bibirnya nampak tak putus-putus bersholawat.


"Saya, segera kesana.", jawabnya, setelah beberapa saat kemudian.


"Injih, Gus. saya, tunggu.", sahut mas Raihan. Gus Ma'adz nampak menganguk meskipun mas Raihan tidak bisa melihatnya.


"Assalamualaikum.",


"Waalaikum salam.", jawabnya. lalu mengakhiri sambungan telepon dari kakak Aisyah.


"Kang. keluar dari tol, tolong berhenti. saya, mau langsung ke rumah sakit. ada urusan mendesak.", ucapnya pada kang Mu'idz, yang fokus mengemudi.


"Injih, Gus.", jawabnya.


"Eneng opo, Adz?!. ( ada apa, Adz?!).", tanya Abah. matanya langsung terbuka begitu mendengar Gus Ma'adz mau ke rumah sakit.


Gus Ma'adz menoleh ke arah Abahnya. ia melihat Ummi dan yang lainnya. memastikan, apakah mereka benar-benar tidur?!. ia, khawatir Ummi mendengarnya.


Abah yang faham dengan sikap putranya itu, lantas berucap.


"Yasudah, hati-hati. kalau ada apa-apa, jangan lupa kabari Abah.", ucap Abah. yang di angguki oleh Gus Ma'adz.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2