Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 161


__ADS_3

"Ayo, pinarak di dalam rumah, bah, mi!.", ajak Gus Aham. mereka pun berjalan masuk ke rumah Gus Aham, agar ummi, Abah, Gus Ma'adz, Ning Nafis dan kedua putrinya bisa beristirahat sejenak.


Ummi nampak berkelok di temani Ning Nafis dan Aisyah. bukan berkeliling ke sekitar yayasan. tapi, berkeliling dan melihat semua ruangan di rumah itu. nampaknya, ummi benar-benar ingin memastikan bahwa, anak, menantu dan cucunya merasa nyaman tinggal disini.


"Ini kamarmu, nduk?!.",


"Terus, masih ada berapa kamar lagi?.", tanya ummi. Aisyah pun menunjukkan beberapa kamar tamu yang tidak kalah besar dengan kamar utama.


"Ini ada kamar buat Umar.", ujarnya, sembari membuka pintu kamar itu. nampak beberapa perabotan dan kasur yang belum tertata.


"Yang di depannya ini buat Fatimah, ummi. ngendikane, mas.", ucapnya. ia pun membuka pintu kamar dan pemandangan tidak jauh berbeda dari kamar Umar pun, terpampang nyata.


"Kalau yang di sebelah sana. kamar tamu ada empat, ummi.", ujarnya. sembari melangkahkan kakinya menuju ruang yang ia maksud.


"Akehe, kamare.", seloroh ummi, yang sedikit merasa heran. Aisyah hanya tersenyum.


"Sanjange, mas Aham. kalau Abah, ummi, mba Nafis, Gus Ma'adz sama ibu mau nginep disini, biar enak.", jelasnya. menjawab ucapan ummi barusan, yang di ucapkan dengan nada bertanya.


"Jadi, total ono tujuh kamar, nduk?!.", tanya ummi, memperjelas. Aisyah mengangguk.


"Injih, ummi.", jawabnya.


"Wes koyo' kos-kosan wae, lho.", ucap ummi yang masih heran dengan rumah penuh kamar milik Gus Aham ini. Aisyah dan Ning Nafis hanya tersenyum dan saling melirik.


"Aham, bikin seperti ini kan pasti sudah di pikir-pikir dan dikira-kira, ummi.",


"Jadi, ndak usah heran.", ujar Ning Nafis.


"Dibelakang ono opo, nduk?!.", tanya ummi, sembari membuka pintu yang menghubungkan ke arah dapur.


"Dapur kaleh ruang makan, ummi.", jawabnya. ummi berjalan melewati dapur dan meja makan. ia nampak berjalan membuka pintu keluar. mungkin, ummi ingin melihat ada apa di taman belakang rumah.


"Lho, itu rumahe sopo?.", tanya ummi, saat melihat ada rumah kecil sederhana di belakang rumah megah Gus Aham.


"Niku daleme mbok ni, ummi.", jawabnya. ummi, menoleh dengan wajah penuh tanda tanya pada menantunya.


"Mbok ni niku, orang yang masak untuk anak-anak di yayasan ini, ummi.", jelasnya. ummi mengangguk paham mendengar jawaban menantunya.


"Lha orange mana, nduk?.", tanya ummi pada Aisyah.


"Mbok ni masih masak di dapur yayasan.", jawabnya.


"Sendiri?.", tanya ummi lagi. Aisyah menggeleng.


"Mboten, ummi. banyak yang bantu juga dari warga sekitar.", jawabnya, membuat ummi nampak mengangguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


Selesai melakukan tour rumah, ummi segera kembali ke ruang tamu. Fatimah dan Umar sedang tidur, itu sebabnya ummi bingung harus ngapain.


"Masyaalloh, yu!.", serunya, saat melihat ibu, mas Raihan dan istri serta kedua putrinya datang.


Cepat-cepat ummi menghampiri ibu Aisyah dan saling berjabat tangan serta memeluknya.


"Mangkat jam piro?.", tanya ummi, sembari mengajak ibu dan mas Raihan beserta sang istri untuk duduk.


"Harusnya, mangkat mantun subuh, Bu nyai. tapi, Raihan nembe tilem mantun subuh. jadinya, agak siang.", jawab ibu.


"Oalah, ndak ada supir to, yu?.", tanya ummi lagi.


"Supir, kedah mboten sehat, Bu nyai. dadose, kulo supiri piyambak.", jelas mas Raihan.


"Oalah.... iya, le.", ujar ummi, mengangguk paham.


......................


Umar dan Fatimah nampak di pangku dan bermain bersama kedua neneknya beserta Ning Shofi dan Ning Dija. sementara Abah dan Gus Ma'adz mengajak Gus Aham untuk berkeliling yayasan. sedangkan, Ning Nafis dan Aisyah memilih ikut sema'an Al-Qur'an yang sebentar lagi juga akan khatam.


"Lahan iki, kok sek kosong to, le?!.", ujar Abah.


"Njih, bah. rencana buat asrama perempuan.", jawab Gus Aham.


"Njih, mas. rata-rata anak sekitar sini.",


"Mereka korban putus sekolah, dan ekonomi rendah. akhirnya, memilih untuk membantu orang tua dengan mengamen atau membersihkan kaca mobil di lampu merah.",


"Ada juga, yang jadi pedagang asongan. sistemnya ambil dan setor.", jawab Gus Aham, sekaligus sedikit bercerita.


"Terus, nek tidur ndek mana?.", tanya Abah.


"Untuk sementara, yang rumahnya dekat disekitar yayasan. setelah kegiatan di yayasan selesai, pulang dulu kerumahnya, bah. tapi, kalau yang jauh sementara ini, tidurnya jadi satu di rumah mbok ni.", jawabnya.


"Siapa itu, le?.", tanya Gus Ma'adz.


"Mbok ni itu, orang yang bantu-bantu disini, mas.",


"Beliau yang masak untuk anak-anak.", ujarnya.


"Aham, sengaja buatkan rumah untuk mbok ni dan suaminya, di belakang rumah, bah, mas.",


"Kasihan, mereka ndak punya anak. umurnya sudah lanjut juga, jadi daripada kerja mulung di jalan, Aham ajak saja kesini, mas.", ceritanya.


"Disini, Aham beliin kambing. jadi, suami mbok ni bisa ngajarin anak-anak beternak kambing, sama bertani.", sambungnya. Abah mengangguk dan menatap putranya bangga.

__ADS_1


Mereka melanjutkan berkeliling. kali ini, nampak tanaman sayuran hijau. dari selada, kacang panjang, labu siam, tomat serta cabe. nampak juga, anak-anak yang fokus memberi pupuk, dan membuang daun atau tangkai yang rusak.


Seorang pria sepuh nampak berjalan menghampiri Gus Aham, Gus Ma'adz dan Abah.


"Assalamualaikum.", sapanya, sembari meraih tangan Abah dan menciumnya. membuat Abah sedikit kaget, karena pria itu nampak lebih tua darinya.


"Perkenalkan. kulo Soleh, yai, Gus.", ucapnya, pada Abah dan Gus Ma'adz. membuat keduanya tersenyum.


"Niki, bah. engkang nembe Aham, ceritakan.",


"Biasane, anak-anak manggil pak Soleh dengan sebutan bapak.",


"Nah, pak Sholeh niki garwane mbok ni, wau.", sambung Gus Aham.


"Oalah, njih.",


"Matur nuwun, lho pak.", ucap Abah .


"Matur nuwun, Aham sampun di kancani.",


"Ampun, sungkan ngemutaken nek larene salah njih, pak.", ujar Abah.


"Alah... Gus Aham niku estu sae, bah.",


"Seumpami wonten nopo ngoten, mesti sanjang rumiyen. 'pak, niki karepe kulo ngeten-ngeten. menurute njenengan pripun?'. ngoten Gus Aham, niku.", ujar pak Sholeh. Abah tersenyum mendengar cerita pak Sholeh. ia bersyukur putranya berhasil mewujudkan impiannya membangun yayasan untuk anak-anak jalanan. sangat bermanfaat tentunya.


Abah mengerti sekarang, untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain dan sesama, tidak perlu harus menjadi kyai. tidak harus pintar membaca kitab kuning atau hafal Al-Qur'an, sesuai standar yang pernah Abah buat dulu.


Asal paham sedikit ilmu, dan mengamalkannya. membaginya dan mengajarkan pada mereka yang butuh, yang belum tahu, dan belum paham. itu adalah manfaat sesungguhnya.


"Sesok, Irfan wisuda.",


"Hafalan Qur'an e wes khatam. Alhamdulillah.", ujar Abah.


"Jadi langsung pulang, bah?!. Irfan?.", tanya Gus Ma'adz. Abah mengangguk.


"Abah wes matur nek Romo kyai.", ujarnya.


"Alhamdulillah. gek ndang di nikahkan, bah.", goda Gus Aham.


"Hallah, yo ben belajar ngurus pondok, sek.", ujar Abah.


"Lha kamu, wes punya yayasan sendiri. Ma'adz, ngurus pondok sendiri. trus, gantinya Abah sopo?!, kalau adikmu ndak di ajari?.", sambungnya, membuat kedua putranya tersenyum mendengar penuturan Abah.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2