Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 115


__ADS_3

Ibu, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. sampai Gus Aham berlutut di depannya dan mencium tangan ibu.


"Assalamualaikum, Bu. maaf, Aham terlambat.", ucapnya. ibu hanya menatap Gus Aham, air matanya mengalir begitu saja. ibu menunduk, ingin menahan tangisnya tapi tak bisa.


Senang, haru dan bersyukur menantunya datang.


"Kenapa, njenengan tidak memberi tau saya?!.", tanyanya, saat tangis ibu mertuanya mereda.


"Aisyah, tidak mengizinkan. dia tidak ingin mengganggu proses kesembuhan mu.", jawab ibu, pelan. Gus Aham terdiam. rahangnya terlihat mengeras. mendengar jawaban ibu mertuanya.


Apakah Aisyah, tidak percaya padanya?!, sehingga ingin melalui ini sendiri?!, pikirnya.


"Bagaimana keadaan Aisyah sekarang?!.", tanyanya. ibu menggeleng pelan.


"Masuklah!. mungkin, dia mau bangun saat tau njenengan disini.",


"Ibu, mau ke bawah dulu.", ucap ibu. yang di angguki Gus Aham.


Gus Aham berdiri dan meninggalkan mertuanya di sana. ia membuka pintu, pandangan nya langsung fokus pada sosok yang terbaring di brankar.


Perlahan ia mendekat. detak jantungnya bergemuruh, nafasnya sedikit berat. rahangnya mengeras, pertanda ia sedang menahan sesuatu.


Hingga akhirnya, ia berjalan semakin cepat, mendekat pada istrinya. ia terduduk di samping ranjang Aisyah.


Tangannya bergerak menyentuh wajah istrinya yang terlihat tirus. kulit cerah milik Aisyah sedikit kusam. bibir berwarna pink milik istrinya juga terlihat kering.


Gus Aham merangkup wajah istrinya dengan kedua tangan. ia mengecup lama kening Aisyah, sebelum turun ke hidung dan bibirnya. terlihat, bulu mata milik Gus Aham basah.


Ia sedih melihat keadaan istrinya, yang kurus dan tidak terawat. terlebih kini, istrinya koma bersama bayi yang mereka nanti-nantikan.


"Mas, sudah datang. maaf, mas terlambat.", ucapnya saat kening mereka beradu.


"Ayo, berjuang bersama. kamu harus sehat. jangan menyerah. demi, mas dan anak kita.", pintanya.

__ADS_1


Yang membuat sela-sela mata Aisyah meneteskan air mata. seolah-olah Aisyah, benar-benar mendengar nya. Gus Aham tersenyum melihatnya. itu, pertanda Aisyah merespon nya.


Dimulai malam itu, Gus Aham yang menjaga istrinya. ia terus berada di samping Aisyah. tidak beranjak sedikit pun kecuali saat tiba waktu sholat.


Gus Aham juga merawat istrinya. ia tidak lupa menyeka badan istrinya dengan air hangat, setiap pagi dan sore. menggantikannya baju juga.


Terkadang, setelah sholat, bertawasul dan tahlil. Gus Aham mengaji di samping ranjang istrinya. memperdengarkan ayat-ayat Qur'an, untuk merangsang saraf istrinya.


Bila waktu malam tiba, hendak beristirahat. Gus Aham akan membacakan Aisyah cerita tentang ulama-ulama Islam sebelum Gus Aham tidur.


Terkadang, Gus Aham menceritakan tentang ulama ahli fisika, matematika, astronomi, filsafat, sejarah dan astronomi. seperti, Abu Raihan Al-biruni, Abu Yusuf Yacob Al-kindi, Fakhruddin Ar-razi, Imam Ghazali, Imam Syafi'i, Imam Suyuthi, Imam Hanafi, dan masih banyak lagi. itu semua, nama-nama ulama favorit Aisyah.


Gus Aham ingat. Aisyah, selalu membaca cerita dan sejarah tentang mereka berulang-ulang. ia juga, pernah berkata. ingin memberi nama anak mereka dengan salah satu nama-nama ulama itu, bila lahir laki-laki.


Atau di beri nama dengan nama-nama wanita hebat di zaman Rasulullah. seperti, Khadijah, Aisyah, Shirin, Afra, Rumaisha, Arwa, Lubna, Banashfa dan masih banyak nama-nama wanita terhormat di masa Rasulullah.


Ada yang terhormat karena menjadi istri nabi, ada yang terhormat karena ikut berperang dan mengobati prajurit di medan perang, ada yang menyerahkan semua hartanya di jalan Allah, dan ada juga yang merelakan ke tujuh putranya ikut berperang dan mati syahid, dialah wanita yang bernama Afra.


Ia membersihkan musholla, terkadang juga mengepelnya, mengelap kaca jendela musholla, dan menyiapkan sajadah pada setiap shaf, untuk sholat berjamaah. terkadang juga, bila marbot membutuhkan muadzin, Gus Aham akan adzan juga.


Itulah yang di lakukan Gus Aham, untuk meraih ridho Allah, agar Allah mengabulkan setiap doanya untuk sang istri dan calon anak mereka.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Kondisi pasien semakin membaik. perkembangan nya terus stabil.", ucap Dokter di klinik itu, yang memeriksa Aisyah.


Gus Aham dan ibu tersenyum mendengarnya. itu berarti, peluang Aisyah untuk sembuh dan sadar semakin besar. ini hari ke lima Gus Aham merawat istrinya.


Dokter keluar ruangan Aisyah, di ikuti ibu yang juga kebetulan harus turun ke bawah.


Gus Aham melihat istrinya. ia tersenyum, lalu dengan gemas merangkup wajah Aisyah.


"Terimakasih, sudah mau berjuang sayang.", ucap Gus Aham, ketika kening mereka beradu. ia memejamkan matanya, merasakan hangatnya kulit Aisyah yang beradu dengan pipinya.

__ADS_1


Ia lantas turun ke perut Aisyah, mengusap dan mengecupnya. tidak lupa pula, Gus Aham mengajak berbicara pada bayi mereka.


Meskipun bayi mereka sangat lemah dan belum bisa merasakan gerakannya, karena memang usianya baru sekitar 8 minggu. tapi, Gus Aham juga memberikan rangsangan-rangsangan. agar bayinya, bersemangat. hingga Aisyah bisa cepat sadar.


"Terimakasih, sudah memberi semangat pada ibumu. katakan pada ibu, ayah disini menunggu kalian.",


"Ajak ibu, untuk segera bangun, agar kita bisa kembali berkumpul bersama.",


"Katakan itu pada ibu, anak pintar.", ucap Gus Aham. ia lalu mengecup perut datar milik Aisyah, cukup lama.


"Ayah janji, setelah ibumu bangun. kita akan pulang lebih dulu, menemui yang ti, dan Mbah kung mu.",


"Ayah, juga akan mengenalkanmu pada kedua kakak perempuanmu, yang selalu menemani ibumu ketika di ndalem. jadi, nanti saat kamu lahir, mereka juga akan menyanyangimu.",


"Berikutnya, tentu saja mengadakan syukuran untuk tiga bulan usiamu dalam kandungan ibu.",


"Lalu, kita akan pergi kemanapun ibumu mau. untuk membeli semua kebutuhanmu.", ucap Gus Aham.


Ia mengucapkan semua yang ingin ia katakan pada calon anaknya. agar anaknya tau, betapa ia sangat menyanyangi dan menginginkannya. mengingat, ia dan Aisyah sudah lama menantikannya.


Gus Aham mengecup perut datar milik Aisyah lagi sebelum pergi. mengingat ini sudah pukul 10 pagi. ia harus pergi ke mushola, untuk membersihkan tempat itu, sebelum dhuhur berkumandang.


Entahlah, dengan melakukan semua pekerjaan itu, membuat Gus Aham tenang. ia merasa tidak khawatir tentang Aisyah dan bayi mereka seperti sebelum-sebelumnya.


Mungkin, karena waktunya habis dan tersita untuk melakukan suatu pekerjaan. jadi, pikirannya tidak terlalu fokus dan terbebani dengan kondisi istrinya.


Jari Aisyah bergerak perlahan. ibu, yang sedang menunggunya tidak percaya. ibu, berpikir mungkin ia kelelahan, jadi melihat hal itu.


Tapi jari itu bergerak lagi setelah beberapa saat. raut wajah Aisyah juga berubah, keningnya berkerut. membuat ibu segera berlari memanggil dokter, dan memintanya untuk memeriksa Aisyah.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺 TO BE CONTINUED 🌺

__ADS_1


__ADS_2