Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 46


__ADS_3

Mas Raihan memasuki ruangan dimana Aisyah sedang di periksa oleh suster tekanan darahnya. begitu suster itu selesai dengan tugasnya dan mencatat perkembangan kondisi Aisyah, ia pun pamit undur diri.


Aisyah duduk di ranjang. luka robek di tengkuk juga pundaknya baru saja di ganti perban.


"Mas.", panggilnya. ia bisa mengenali kakaknya dari suara langkah kaki.


"Kerudung ku mana ya, mas?.", tanyanya.


"Nanti, mas beliin. ya?!.", ucapnya pelan. ia masih berdiri di depan ranjang adiknya. tidak tau harus bagaimana?!. Aisyah tersenyum. rambut ikal yang terurai itu terlihat indah, begitu sesuai dengan bentuk wajah Aisyah yang lancap ,hidung yang bangir dan bibir yang tipis.


Gus Aham dan Gus Ma'adz baru saja sampai di kamar ruang perawatan. Aisyah mengerutkan keningnya, wajahnya terlihat bingung.


"Mas.", panggilnya. mas Raihan berjalan mendekat.


"Apa ada, Gus Aham?.", tanyanya. mas Raihan menoleh ke belakang, melihat Gus Aham dan Gus Ma'adz yang masih berdiri.


"Ndak ada kan, mas?!.", tanyanya lagi. mas Raihan melihat Aisyah, lalu melirik Gus Aham. menghentikan langkah Gus Aham yang hendak mendekati Aisyah.


"Ndak ada.", jawab kakaknya. Aisyah mengendus-endus. ada aroma tubuh suaminya, dan itu tidak mungkin salah.


"Tapi, bau parfum ini...,


"Itu bau parfum, mas.", jawab mas Raihan memotong ucapan Aisyah.


"Ooh.", ucap Aisyah lantas tersenyum.


"Kenapa?.", tanya mas Raihan.


"Ndak apa. Aisyah, cuma Ndak mau. Gus Aham, lihat keadaan Aisyah, seperti ini.", jawabnya lalu tersenyum. mas Raihan terdiam mendengar jawaban adiknya. jelas, ada alasan lain kenapa adiknya seperti ini, tapi kenapa tidak mengatakan padanya?!.

__ADS_1


Mas Raihan menoleh sesaat ke arah Gus Aham, sedang Gus Ma'adz meminta adiknya untuk menenangkan diri.


"Mas. ini ruang apa, to?. kok gelap?!.", tanyanya. mas Raihan menghela nafas dalam. ia beralih duduk di tepi ranjang, dan meraih tangan adiknya. ia menata hatinya, mengumpulkan keberanian mengatakan semua yang terjadi pada adiknya.


"Sya.", begitu biasanya mas Raihan memanggil adiknya. panggilan kesayangan sedari adiknya masih di dalam perut ibunya. ia menghela nafas berat.


"Semua yang kita punya, titipan Allah. kan?!.", ucapnya. Aisyah mengangguk.


"Berarti, kalau sewaktu-waktu Allah mengambilnya juga tidak masalah kan?!.", lanjutnya. ia sengaja mengatakan itu, mengingatkan adiknya, sebelum memberi tau semua yang terjadi. ia tidak ingin adiknya meratapi apa yang hilang dan sudah pergi. penglihatannya, dan calon anaknya.


Aisyah mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan kakaknya. memang benar, semua milik Allah dan akan kembali padanya. tidak menunggu kita siap atau tidak, jika Allah ingin mengambilnya kembali, kita harus siap dan ikhlas.


"Sya. Allah memberi kamu mata yang indah. alhamdulillah, Syasya menggunakannya dengan baik. menghafal Al-Qur'an, mengaji dan hal baik lainnya. tapi sekarang, Allah mengambilnya lagi saat Syasya sudah khatam hafal Al-Qur'an. apakah salah, jika Allah melakukan itu?.", tanya kakaknya.


Aisyah mengerenyitkan keningnya. ia berusaha mencerna apa yang telah di katakan kakaknya. yang secara tidak langsung mengatakan bahwa ia buta sekarang.


"Iya. sekarang, Syasya buta.", ucap kakaknya memperjelas. bibir Aisyah bergerak. ekspresi nya tak terbaca, wajah dan matanya menyiratkan rasa sedih tapi bibirnya berusaha tersenyum.


Bagai tersambar petir di siang hari mendengarnya, tapi ia berusaha tegar. senyum tetap ia paksakan untuk menghiasi bibirnya. Aisyah menunduk, tangannya meremas selimut yang menutupi bagian pinggangnya.


"Ndak apa. insyaallah jadi penolong di akhirat kan, mas?!.", ucapnya dengan suara kelu pada kakaknya, untuk menghibur diri. kakaknya mengangguk meskipun adiknya tidak bisa melihat.


"Mas. mau ke mushola dulu, ya?!. sebentar lagi dhuhur.", ucapnya pada Aisyah. lalu meninggalkan adiknya pergi, Aisyah mengangguk.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Mas Raihan sengaja pergi meninggalkan Aisyah, karena jika ia tetap disana adiknya akan tetap berusaha terlihat baik-baik saja. mas Raihan pergi, agar bila Aisyah ingin menangis dan mengeluarkan semuanya, ia bisa menangis sepuasnya. itu akan lebih baik, dari pada ia harus berusaha terlihat kuat dan menyembunyikan semua luka dan beban di hatinya seorang diri.


Begitu tidak terdengar langkah kaki kakaknya, Aisyah yang sedari tadi menahan kesedihan dengan senyum palsunya langsung menangis. air matanya tumpah membanjiri kedua pipinya, nafasnya sesenggukan.

__ADS_1


Ia sadar semua milik sang pencipta, tapi kenapa masih sesakit ini?!. Aisyah meraba perutnya yang sempat membuncit, kini perut itu telah rata.


Yang lebih menyedihkan adalah, ia baru tau jika janin di kandungannya kembar. ia tidak lagi merasakan gerakan halus di perutnya. mereka memilih menunggu Aisyah di surga.


Gus Aham yang hanya bisa melihat istrinya di ambang pintu itu juga terlihat begitu kehilangan. apalagi melihat istrinya yang berpura-pura kuat dan baik-baik saja. ia menangis menyandarkan kepalanya di gawang pintu. terlebih Gus Aham tidak bisa mendekat dan menenangkan Aisyah saat menangis, membuatnya lebih terpukul lagi.


Aisyah merebahkan tubuhnya. ia menarik selimut untuk menutupi badan dan sebagian wajahnya. masih terdengar sengguk kesedihannya, tapi ia berusaha meredam tangisnya. yang sudah terjadi dan sudah pergi tidak bisa di sesali, maka dalam tangisnya ia berusaha ikhlas dan sabar walaupun tidak mudah.


Keesokan harinya....


Aisyah sudah bisa pulang hari ini. setelah Gus Aham mengurus semua prosedur dan melunasi pembayaran juga meminta surat rujukan untuk pemeriksaan mata lebih lanjut bagi Aisyah.


Mas Raihan membantu Aisyah naik ke mobil Gus Aham. ia duduk di belakang bersama kakaknya, sementara Gus Aham duduk di depan dengan Gus Ma'adz yang mendampinginya.


"Mas. Aisyah pulang ke panti, ya?!.", ucap Aisyah meminta izin pada kakaknya.


"Aisyah ingin di rawat sama, mas Rai. lagi pula, Aisyah ndak mau Gus Aham lihat Aisyah dalam keadaan seperti ini. malu.", ucapnya. ia masih saja menutupi masalah yang terjadi antara dia dan suaminya.


"Iya.", jawab mas Raihan. setelah diam beberapa saat.


Mas Raihan bukannya menutup mata dengan masalah rumah tangga adiknya, tapi ia lebih memilih menunggu untuk di beri tau. baik itu Aisyah atau Gus Aham yang mengatakan padanya lebih dulu.


Notif pesan masuk ke ponsel mas Raihan yang ternyata dari istrinya. ia pun membacanya.


" Mas. aku nginep disini dua hari lagi, ya?!. sekalian ikut ngiring manten.",


"Iya. hati-hati dan jaga diri. makan dan sholat jangan lupa.",


Selesai membalas pesan WhatsApp dari istrinya. ia pun kembali menatap jalanan sekitar. ada perasaan lega di hatinya, karena ibu akan sedikit lebih lama di Pati untuk menemani Mira. yang berarti, ada kesempatan untuk menyelesaikan masalah antara Aisyah dan Gus Aham sebelum ibunya pulang, kembali lagi ke panti.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2