
Aisyah pada akhirnya, berangkat bersama Ning Nafis dan kedua keponakannya setelah sarapan bersama dengan Abah, Ummi dan Gus Ma'adz.
Terlihat kedua keponakannya sudah naik lebih dulu. disusul Aisyah dan Ning Nafis, setelah mereka berpamitan pada Abah, Ummi dan Gus Ma'adz.
"Hati-hati, ya?!.", pesan Ummi, sedikit berteriak karena kedua menantunya sudah berada di dalam mobil.
"Iya, Mbah uti ku yang cantik.", jawab Ning Dija. kepalanya keluar dari jendela mobil. dan ucapannya membuat semua tersenyum.
"Lihat, le!. anakmu kebanyakan main sama adikmu, jadi pinter ngerayu, Ummi mu.", ucap Abah.
"Njenengan, cemburu to bah?.", Gus Ma'adz malah meledek ayahnya dengan sebuah pertanyaan konyol. membuat Ummi yang berdiri di samping Abah dan Gus Ma'adz tersenyum.
"Da-da, Abi, Mbah kung, Mbah uti. assalamualaikum.", ucap Ning Dija dan Ning Shofy bersamaan. mobil segera berjalan keluar dari pelataran ndalem.
Abah melangkah masuk, tapi terhenti karena mendengar obrolan Gus Ma'adz dan Ummi.
"Tuh, kan?!. Abah mu cemburu. padahal kan, seng ngelem (yang memuji) cucunya. gitu aja lho cemburu, le!.", ucap Ummi, membuat Gus Ma'adz tersenyum.
"Jian, yang mirip Abah mu itu, Aham. jibles (duplikat) banget.", sambung Ummi.
"Terus ae, di ceritakan semua.", seloroh Abah, yang terlihat kesal dengan Ummi. membuat Gus Ma'adz dan Ummi semakin senang untuk membicarakannya.
"Ada yang lihat Ummi, cemburu. ada yang ngajak ngobrol Ummi, ngambek. Sampek ada yang muji Ummi, sekalipun sama-sama perempuan. Abah mu juga marah.", Ummi menyambung ceritanya, membuat Abah semakin kesal dan segera masuk ke ndalem, menuju ruang tengah dan segera duduk sambil membaca kitabnya. meninggalkan Ummi dan Gus Ma'adz yang masih tertawa.
Sementara itu,
Gus Aham terlihat sedang memantau persiapan penyambutan walikota. ia sampai di Surabaya pukul tujuh lewat.
Begitu turun, langsung menyapa semua anak jalanan yang tinggal disini dan menemui pengurus yayasan yang sudah ia susun dan atur sedemikian rupa.
"Jadi, sudah sampai mana persiapannya?!.", tanya Gus Aham, pada ketua pengurus yayasan bernama Ali.
Ali ini, ia pasrahi semua urusan yayasan. mulai dari, uang masuk, uang keluar. biaya sehari-hari, kebutuhan anak-anak baik itu kebutuhan makan, belajar dan kebutuhan lainnya. semua di atur oleh Ali dengan senior jalanan yang lain.
__ADS_1
"Udah hampir seratus persen lah, mas.", jawabnya. sambil sesekali memberi arahan pada orang-orang yang berlalu lalang.
"Jadi, karena ini kunjungan walikota. sebenarnya kita cuma harus fokus di jamuan aja kok.", ucap Ali.
Ia mulai menerangkan idenya, karena Gus Aham kemarin tidak terlalu mau di ganggu, dan hanya menjawab chat serta emailnya dengan jawaban "Terserah kamu". jadilah, ia memikirkan ide ini bersama senior jalanan yang lain.
"Jadi, Gus. ini nanti, anak-anak akan melakukan tugas dan aktivitas nya seperti biasa.",
"Tujuan kita adalah, memperlihatkan. bagaimana cara kita mengajari dan mendidik anak-anak jalanan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.",
"Untuk sekolah, nanti akan tetap di adakan ketika ada pertemuan, sedang untuk perkembangan usaha ataupun pekerjaan. nanti, akan kita tunjukkan di layar. jadi, biar walikota tau, bahwa selain belajar, ada juga pengembangan bakat sesuai kemampuan dan keterampilan mereka.",
"Meskipun kebanyakan dari mereka, lebih memilih otomotif dan keterampilan mengukir. tapi, setidaknya kita bisa menciptakan sedikit lapangan kerja untuk mereka.", ucap Ali, mengakhiri penjelasannya, yang di sambut tepuk tangan dari Gus Aham.
"Good job.", ucap Gus Aham. ia menepuk pundak Ali, merasa bangga.
Berikutnya, Gus Aham beralih ke jamuan yang berada di aula. tempat yang akan digunakan oleh anak-anak jalanan dan walikota makan siang bersama.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Kang Mu'idz memarkir mobil Honda Mobilio milik Gus Ma'adz dengan sempurna di pelataran sebuah bangunan besar, perdana textil, Malang tepatnya.
Ning Shofy dan Ning Dija segera keluar begitu, kang Mu'idz membuka pintu. mereka terlihat sangat senang.
"Ayo, mi!. ayo, bulek.", ajak mereka pada kedua orang yang selalu memanjakan mereka.
Ning Nafis dan Aisyah segera turun dan mengikuti Ning Shofy serta Ning Dija untuk masuk ke dalam.
Pemandangan yang indah. kalau perempuan yang hobi shopping bilang, inilah surga nya mata. memandang keseluruh penjuru, banyak sekali jenis, warna serta macam-macam kain terhampar.
"Cari yang brukat, Nduk.", ucap Ning Nafis saat mereka mulai melangkah masuk.
Ning Nafis dan Aisyah segera menuju ke deretan kain brukat dan tile, ada banyak motif brukat dan jenis tile. membuat Aisyah sedikit bingung menentukan kain yang akan di buat seragam oleh para hafidzoh.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Ning.", sapa pemilik toko, yang biasa di panngil umik oleh orang-orang.
Ning Nafis dan Aisyah menoleh ke sumber suara, mereka tersenyum melihat umik berdiri di sana.
Pemilik toko itu mengulurkan tangannya, yang segera di sambut oleh Ning Nafis, dan Aisyah pun mengikutinya dengan berjabat tangan.
"Ini?....", pertanyaan umik menggantung. ia tidak yakin untuk mengatakannya, membuat Ning Nafis tersenyum dan memperkenalkan adik iparnya.
"Ini, Aisyah. istrinya Aham, menantu Ummi yang baru. tahun ini, Ummi mempercayakan semua keperluan wisuda pada Aisyah, umik.", ucap Ning Nafis, memperkenalkan dan menjelaskan.
"Oh, iya. ngapunten lho, Ning?!. waktu Ummi mantu Gus Aham, saya ndak bisa dateng karena mertua baru saja meninggal. jadi, ndak tau siapa njenengan.", ucap umik. ia merasa tidak enak pada Aisyah.
"Ndak apa.", jawabnya. ia tersenyum memaklumi sikap pemilik toko.
"Kami kesini atas pernikahan Ummi. kami, mencari kain untuk wisuda para hafidzoh tahun ini. bisa bantu kami memilih kain yang sesuai dengan Ummi?!.", tanya Aisyah. ia meminta bantuan pada pemilik toko untuk merekomendasikan kain yang kira-kira bisa disukai mertuanya juga.
Jadi ia, tidak akan mengecewakan Ummi dengan pilihannya.
"Kami ada warna-warna baru. seperti nude, burgundy, navy dan Gandaria.", ucapnya sambil berjalan dan menunjukkan kain brukat itu, satu persatu.
Aisyah dan Ning Nafis mengikutinya, mereka juga menyentuh, mengamati dan melihat setiap warna yang di tunjukkan.
"Brukat ini sangat indah. dia mewah, dengan benang emas dan manik-manik mutiara. sangat memancarkan si pemakainya.", pemilik toko itu, menawarkan beberapa brukat terbaru.
Aisyah dan Ning Nafis memeriksanya. bagus, tapi ini bukan selera Ummi, pikirnya.
"Adakah brukat lain?!.", tanya Aisyah. pemilik toko menganguk dan mengajaknya ke bagian brukat tile.
Banyak macam brukat, membuat Aisyah sedikit bingung. ia melihat brukat tile dengan hiasan bordir bunga timbul. warnanya soft perpaduan warna hijau tosca dan pink soft. ia berpikir, mungkin akan bagus jika di padu padankan dengan furing hijau tosca atau pink.
Ya, pada akhirnya Aisyah mengambil kain itu. untuk masalah dalamannya, akan ia tanyakan pada kakak iparnya yang sedang mencari kedua putrinya, yang sedari tadi berlarian di dalam toko.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
🌺TO BE CONTINUED 🌺