Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 90


__ADS_3

Gus Aham melewati tol. ia berharap, bisa cepat sampai di ndalem. mengingat istrinya tidak membalas pesannya yang terakhir. membuatnya sedikit takut dan khawatir, istrinya akan marah.


Dua jam perjalanan di tempuh dengan mudah. pukul sembilan lewat, mobil Jeep itu memasuki pelataran ndalem. terlihat lalu lalang para santri, yang akan pergi ke madrasah diniyah untuk sawir ( belajar bersama. adapun waktunya jam sembilan istiwa' atau setelah jama'ah sholat isya' dan mengaji kitab ta'lim yang di ajar oleh Gus Ma'adz. tempatnya berada di aula).


Gus Aham segera turun. ia mengambil sesuatu yang berada di dalam kantong kresek berwarna hitam.


"Assalamualaikum.", ucapnya ketika memasuki ndalem.


"Waalaikum salam.", sahut Ummi dan Abah yang sedang duduk di ruang tengah.


Gus Aham segera mencium tangan kedua orang tua nya secara bergantian.


"Aisyah, mana mi?.", tanyanya. yang membuat Ummi tersenyum, sebelum menjawab.


"Kaya' e di kamar.", jawab Ummi.


"Kalau gitu, Aham ke kamar dulu nggeh, mi, bah?!.",


"Iya, le.", jawab Ummi. sementara Abah hanya menjawab dengan anggukan.


Ia bergegas menuju kamarnya, ingin segera menemui istrinya. langkahnya sedikit tergesa-gesa, merasa tidak sabar.


"Assalamualaikum.", ucapnya, bersamaan dengan membuka pintu kamar.


Gus Aham melihat ke sekitar, tidak terlihat ada istrinya disana. ia juga tidak mendengar balasan salam.


Ia melangkah masuk. baru beberapa langkah, ia melihat istrinya sedang tertidur dengan posisi duduk di meja sofa. Gus Aham mendekatinya. ia membelai rambut keriting gantung yang menutupi sebagian wajah Aisyah, lalu menyibakkan nya.


Gus Aham berdiri, meletakkan kantung kresek nya di meja samping ranjang. lalu, segera mengambil handuk dan masuk kamar mandi. ia membersihkan diri sebelum menggendong istrinya ke ranjang.


Gus Aham merebahkan tubuh Aisyah di ranjang, lalu ia segera beralih ke sisi lain dan ikut naik ke ranjang. ia menyelimuti istrinya.


Saat selimut itu menyentuh pundaknya, lamat-lamat mata Aisyah terbuka. Gus Aham memasang senyum manis untuk istrinya.


"Njenengan, kapan sampai?.", tanyanya.


"Sudah mandi?.", sambungnya. Gus Aham menganguk dan tersenyum.


"Masih ngantuk?.", tanya Gus Aham. Aisyah menguap dan dengan sigap Gus Aham menutup mulut istrinya.

__ADS_1


"Saya tadi ketiduran ya, mas?.", tanyanya.


"He'em.",


"Terlalu lama di mobil. padahal, tadi saya mau rekap laporan keuangan hari ini. supaya gampang ngasih rinciannya ke Ummi.", ucap Aisyah.


"Yaudah kalau capek, istirahat saja.", ucap Gus Aham, lembut.


"Sekarang jam berapa?.", tanyanya pada Gus Aham.


Gus Aham menoleh ke dinding kamarnya. terlihat jelas jam digital yang menghias dinding kamarnya itu menunjukkan pukul sepuluh lewat.


"Jam sepuluh.", jawab Gus Aham. Aisyah mendadak bangun, ia turun dari ranjang dan segera menuju ke meja. Aisyah menghampiri bukunya dan duduk di sofa. membuat Gus Aham mengikutinya dan duduk di sampingnya.


"Sudah malam lho.", ucap Gus Aham. Aisyah menoleh, ragu-ragu ia berucap.


"Aku, selesai in ini dulu ya, mas?!.", ucapnya. berharap suaminya mengerti dan mengizinkannya. Gus Aham mendengus, tapi sesaat kemudian ia mengangguk menyetubuhi permisi istrinya.


Aisyah mulai menulis semua rincian belanja untuk keperluan wisuda. lalu menyiapkan dan menyusun acara, kemana ia akan pergi besok?!. seharusnya, besok ia mendatangkan tukang jahit untuk mengukur semua anggota wisuda Khotmil Qur'an.


Gus Aham menemaninya dengan sabar. agar tidak menggangu istrinya, ia menyibukkan diri dengan memainkan ponselnya.


Beberapa kali, ia melirik istrinya dan menyibakkan rambut Aisyah ke belakang telinga agar tidak menghalangi pandangan istrinya.


Waktu menunjukkan pukul dua belas kurang sepuluh menit. tapi, istrinya masih sibuk dengan catatannya.


Gus Aham masih mendampingi, meskipun terlihat beberapa kali ia menguap dan Aisyah memintanya untuk istirahat lebih dahulu. tapi, Gus Aham tetap duduk di sampingnya.


Pukul dua belas kurang lima menit. Gus Aham beranjak dari duduknya. ia mengambil kantung kresek yang di taruhnya di meja samping tempat tidur tadi.


Dibukanya perlahan. nampak tart mini berukuran sekitar sepuluh sampai dua belas centimeter. kue yang simpel tapi cukup elegan. mengingat Gus Aham tidak sempat memesannya dan membeli stock yang tersedia di toko kue.


Ia membuka dua buah lilin yang sama-sama membentuk angka dua. ya, Aisyah berusia dua puluh dua saat ini.


Sewaktu ia dinikahkan dengan Gus Aham, gadis itu baru saja menginjak umur dua puluh tahun.usia yang lumayan muda untuk sebuah pernikahan.


Gus Aham sendiri waktu itu, berusia dua puluh tujuh tahun. hanya selisih lima sampai enam tahun dari Aisyah.


Gus Aham menancapkan lilin di atas kue dan mulai menyulut sumbu lilin itu dengan korek.

__ADS_1


"Happy birthday to you......", ia berdiri di depan Aisyah dan menyanyikan lagu yang biasa terdengar saat ulang tahun.


Aisyah melihat suaminya. ia heran dengan apa yang dilakukan Gus Aham. Aisyah masih menatapnya, wajahnya datar.


"Selamat ulang tahun.",


"Barokalloh, sayang. panjang umur, murah rezki. terimakasih, selalu menjadi yang terbaik untuk ku.", ucapnya. lalu Gus Aham mengecup kening istrinya.


"Ayo, buat permintaan dan berdoa dulu.", ucap Gus Aham pada Aisyah. Aisyah pun menengadahkan tangannya, ia memejamkan mata dan berdoa. begitu selesai, ia membuka mata dan segera meniup lilinnya.


"Mas. hari ini, bukan ulang tahun saya.", ucapnya lirih, ia takut menyinggung perasaan suaminya.


"Ini kan, tanggal tiga puluh.", sambungnya.


Gus Aham hanya diam. ia menunjukkan layar ponselnya, dimana tanggal dan bulan sudah berganti, pukul dua belas lewat.


Jam di ponsel itu menunjukkan bahwa sudah memasuki hari dan tanggal selanjutnya. tanggal yang tertera juga bukan tanggal tiga puluh lagi, tapi tanggal satu bulan Juli.


Aisyah sedikit terkejut, tapi ia senang. senyumnya terlihat jelas mengembang, wajahnya terlihat berseri dan ceria.


"Loch. bukannya, tanggal tiga puluh satu Juni ya, mas?!.", tanyanya polos. Gus Aham tersenyum mendengarnya.


"Sejak kapan Juni jadi tiga puluh satu hari?!.", ucapnya. membuat Aisyah berpikir sejenak lalu tersenyum, setelah sadar apa yang di ucapkannya.


"Jadi?!.", Gus Aham mendekatkan wajahnya pada Aisyah. berharap mendapatkan ucapan terimakasih dalam bentuk apapun dari istrinya.


"Jadi, terimakasih.", jawabnya. ia lantas mengambil kue itu dari tangan suaminya. memotong kue coklat itu dan menyuapkan pada mulut Gus Aham.


"Itu saja?!.", tanya Gus Aham.


"Apalagi?.", Aisyah pura-pura tidak tau. ia sengaja bersikap bodoh dan pura-pura tidak tahu.


Gus Aham menunduk. bukan karena sedih, ia sednag berusaha mengambil sesuatu di saku celana pendeknya. tapi, Aisyah berpikir lain.


Ia segera meraih wajah suaminya dan merangkupnya. memberi kecupan lembut di bibir suaminya, Gus Aham sedikit terkejut tapi kemudian ia membalasnya. dan saat mereka selesai, Gus Aham mengeluarkan hadiahnya.


Sebuah kalung menjuntai indah dari tangannya. kalung emas berliontin kan huruf bermahkota.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED🌺E



__ADS_2