Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 63


__ADS_3

"Mike. bisakah kalian tidak menyambut kami, saat kami ke rumah sakit nanti?!. aku tidak ingin Aisyah trauma lagi. ia sepertinya terpukul dengan apa yang kita lakukan terakhir kali, saat tes DNA.",


Gus Aham mengirim pesan pada sahabatnya. ia hanya tidak ingin Aisyah merasa tidak nyaman lagi, ia harus menjalani pemeriksaan mata, untuk persiapan operasi. dan, Gus Aham tidak ingin itu gagal.


Baginya, ini salah satu usahanya untuk menebus satu, dari sekian banyak luka yang ia torehkan di hati sang istri. walaupun sebenarnya ia tau, Aisyah tidak masalah dengan kebutaannya.


Luka terdalam istrinya adalah, ketidak percayaanya pada hubungan mereka. sehingga mengorbankan bayi-bayi mereka.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua lewat, tapi Aisyah belum bangun juga. ia khawatir jika membangunkan istrinya akan membuat dia pusing. mengingat, ia baru saja mengalami trauma hebat.


Gus Aham mendekati Aisyah yang terbaring di ranjang. ia mencium kening istrinya. bibirnya terasa panas ketika menyentuh kening istrinya.


Ia beralih memeriksa leher Aisyah dengan tangannya. dan benar, Aisyah demam.


"Sayang.", panggilnya.


"Sayang.", panggilnya sekali lagi, karena tidak melihat istrinya merespons. Gus Aham segera mengangkat tubuh Aisyah dan keluar kamar. ia terlihat begitu panik saat menunggu lift terbuka, hingga akhirnya memutuskan untuk membopong tubuh istrinya melewati tangga.


Semua pelayan hotel, resepsionis dan pengunjung hotel yang melihat Gus Aham membopong Gus Aham segera mendekat. khawatir jika Gus Aham membutuhkan bantuan.


"Tuan?!.", tanya resepsionis yang menghampiri Gus Aham di balkon.


"Ambil kunci mobil ini. suruh satpam atau tukang parkir bawa mobilku kemari, cepat!.", perintahnya sambil memberikan kunci mobil pada resepsionis itu. yang segera di terima dan di berikan pada salah satu petugas di sana.


Mereka yang sudah hafal dengan Gus Aham segera mengambil mobil BMW yang terparkir di parkiran. tak berapa lama kemudian, mobilnya datang.


Seorang petugas yang bertugas mengambil mobilnya dari parkiran keluar dari mobil. lalu membukakan pintu depan samping kemudi untuk memudahkan Gus Aham memasukkan tubuh Aisyah.


Gus Aham membenarkan posisi kursi agar nyaman untuk menggeletakkan istrinya. baru setelahnya, ia masuk dari sisi mobil yang lain dan duduk di belakang kemudi.


Petugas itu menutup pintu mobil untuk Gus Aham.


"Tin....,

__ADS_1


"Tin....,


Gus Aham memencet klakson yang di jawab dengan anggukan semua petugas dan resepsionis di sana. ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit. sesekali ia menoleh pada Aisyah yang tengah terbaring di sisinya.


Wajahnya terlihat begitu cemas. salah satu tangannya tak lepas menggenggam tangan istrinya. seolah berkata agar Aisyah harus kuat dan jangan meninggalkannya lagi.


Ia memencet klakson nya berkali-kali saat macet dan hanya bisa berjalan pelan-pelan. Gus Aham merasa sedikit frustasi karena mengkhawatirkan kondisi Aisyah.


Ya. ini jam dimana banyak orang yang bekerja pulang kerumah, jadi membuat jalanan sedikit macet.


"Ayolah, cepat jalan!.", ucapnya yang merasa kesal dengan padatnya lalu lintas di kota pahlawan itu.


Rupanya, ada kecelakaan di depan sana. sehingga membuat mobil" yang berada di depannya hanya bisa berjalan dengan pelan. dan Gus Aham baru mengetahui hal itu ketika ia akan melewati tempat kejadian.


Terlihat sebuah minibus terlibat kecelakaan dengan mobil Avanza, pengendara mobil Avanza masih terjebak di dalamnya. beberapa orang dan warga sekitar mencoba untuk mengeluarkannya, sehingga menimbulkan kemacetan yang membuat polisi turun tangan untuk mengatur lalu lintas.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Gus Aham segera turun dari mobil dan membopong istrinya. beberapa perawat yang melihatnya segera mengambilkan brankar dorong untuk memudahkan mereka membawa Aisyah ke ruang IGD, agar mendapatkan pertolongan pertama.


Beberapa saat di periksa di ruang IGD, Aisyah kemudian di pindahkan ke ruang perawatan. Gus Aham minta ruangan VIP, ia ingin istrinya istirahat dengan baik.


Ia duduk di samping ranjang istrinya. belum ada keterangan dari dokter tentang kondisi terkini Aisyah, dan belum di ketahui apa yang menyebabkan Aisyah tiba-tiba demam.


Lelah. tapi ia tidak mengizinkan tubuhnya beristirahat. tidak, sekalipun hanya merebahkan tubuhnya di sofa. ia takut, saat Aisyah bangun, dan ia tidak mengetahuinya. ia lebih memilih menidurkan kepalanya di ranjang tempat istrinya terbaring.


"Tok....,


"Tok....,


"Tok....,


Seorang dokter wanita dan seorang perawat masuk, setelah mengetuk pintu kamar tempat Aisyah di rawat. Gus Aham segera berdiri.

__ADS_1


Sejenak dokter itu memeriksa kondisi Aisyah. sedang perawat itu mengecek suhu tubuh, kecepatan pada aliran infus dan tensi.


"Ibu Aisyah, baru saja keguguran kah. pak?.", tanya dokter ketika selesai memeriksa.


"Iya.", jawab Gus Aham pelan.


"Demam yang terjadi pada istri bapak, di sebabkan oleh infeksi pasca kuret.",


"Kondisi ini mungkin terjadi karena, ada anggota rahim yang terluka saat kuret, bisa juga di sebabkan karena kurangnya istirahat dan perawatan pasca kuret, seperti tidak meminum obat untuk mengurangi rasa nyeri di rahim atau bisa juga di sebabkan kelelahan berhubungan setelah kuret dan stress yang berlebihan pada si ibu.", ucap dokter. menjelaskan.


Gus Aham terdiam mendengar penjelasan dokter. ia tau dengan jelas, setelah rujuk. ia belum pernah berhubungan dengan Aisyah. karena, ia fokus untuk kesembuhan mata istrinya dulu.


Mungkin, demamnya bisa jadi di sebabkan oleh infeksi dan stress yang di alami istrinya akhir-akhir ini.


"Kita akan melihat perkembangan dan hasil selanjutnya. bila mungkin di perlukan, kita akan melakukan operasi.", ucap dokter itu, lalu pamit undur diri.


"Operasi?.", gumamnya. Gus Aham masih terdiam di tempatnya.


"Operasi apa?.", pikirnya. mendadak badannya lemas, ia terduduk di kursi samping ranjang Aisyah.


Apakah setelah operasi istrinya bisa hamil lagi?. akan sangat menyedihkan bagi istrinya bila sampai mereka tidak dapat memiliki anak.


Kata-kata dokter itu terus berputar di otaknya. seperti rekaman yang terus di putar berulang-ulang. Gus Aham hanya memandang istrinya yang terbaring lemah dan tak sadarkan diri disana.


Ia berjanji akan memberikan kebahagiaan untuk istrinya, maka ia tak akan biarkan apapun dan siapapun menyakiti Aisyah.


Jika sampai harus operasi pengangkatan rahim, Gus Aham berjanji akan membawa istrinya keluar dari rumah sakit ini dan mencari rumah sakit yang lebih baik, agar istrinya tetap bisa hamil lagi.


Entahlah, fikiran Gus Aham hanya terpaut pada hal itu. mereka sudah pernah kehilangan bayi mereka, jadi saat dokter mengatakan "mungkin perlu tindakan operasi", pikirannya hanya satu, istrinya harus tetap bisa hamil.


Akan sangat sulit bagi Gus Aham untuk memberitahu Aisyah tentang kondisinya saat operasi itu benar-benar di lakukan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2