Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 39


__ADS_3

Malam semakin larut, tapi Gus Aham tidak mengizinkan matanya untuk terlelap. hatinya tak tenang, perasaannya gelisah.


Ia merindukan istrinya. di lantai balkon Gus Aham duduk, salah satu lututnya menopang dagu. di temani gemerlap cahaya lampu yang menari-nari menghiasi malam kota Surabaya.


"Kemana kamu membawa anak kita pergi?. apakah kalian baik-baik saja?!.",


Pikirannya menerawang, menatap langit malam yang hanya di terangi cahaya bulan. ia menyandarkan tubuhnya pada pagar besi yang mengitari balkon. di ambilnya ponsel yang tergeletak di lantai, ia mulai menyalakan ponselnya yang sedari tadi di matikan.


Begitu ponsel menyala, banyak notif pesan dan email yang masuk. tapi Gus Aham tidak menanggapi, ia hanya melihat foto Aisyah yang entah sejak kapan?!, menjadi wallpaper ponselnya, dari wallpaper utama hingga wallpaper semua aplikasi di ponselnya.


Ya, foto istrinya yang di ambil secara candid yang memakai kemeja Gus Aham berwarna putih itu terlihat begitu manis.


Gus Aham ingat. foto itu di ambil ketika Aisyah selesai mandi, karena baju gantinya jatuh dan kebetulan baju Gus Aham tertinggal di gantungan kamar mandi. Aisyah terpaksa keluar dengan memakai kemeja Gus Aham. itu bukan kemeja bersih, karena sudah di pakai Gus Aham sebelum ia mandi.


Waktu mau keluar, Aisyah menengok ke kanan dan ke kiri. memastikan suaminya tidak ada di kamar. ia malu, kalau Gus Aham melihatnya hanya memakai atasan dan celana pendek sepaha.


Setelah Aisyah memastikan suaminya tidak ada di kamar, bergegas ia keluar kamar mandi dan segera berjalan ke arah lemarinya untuk mengambil baju ganti.


Saat Aisyah sedang memilih baju ganti, tiba-tiba ada tangan kekar yang menarik pinggangnya dari belakang dan kemudian mengangkat nya ke ranjang.


Gus Aham ingat, mereka tertawa bahagia waktu itu walau Aisyah terlihat sedikit malu dengan pakaian Gus Aham yang melekat ditubuhnya.


Dengan menunduk dan suara yang kecil, ia menjelaskan bahwa bajunya terjatuh di kamar mandi dan terpaksa keluar memakai kemejanya karena lupa membawa handuk.


Pada saat itulah Gus Aham diam-diam mengambil foto itu. ia tersenyum. Aisyah terlihat sangat cantik, rambut ikalnya tergerai indah, kulitnya bersih, bibirnya tipis dan berwarna soft, selembut pemiliknya. walaupun baju yang di pakainya kebesaran, tapi itu justru menambah imut wajahnya.


Ia mengalihkan pandangannya ke sekitar.


...****************...


Waktu menunjukkan pukul empat subuh, Aisyah sudah bangun dan membantu si Mbah di dapur. Mbah menyiapkan banyak nasi bungkus hari ini, karena ini hari Jum'at.


"Setiap hari memasak sebanyak ini, Mbah?.", tanyanya

__ADS_1


"Ndak, Ning. masak banyak hanya pas hari Jumat, nanti di bawa ke masjid. di bagikan untuk para peziarah yang mau.",


"Njenengan dan mbah kung, masak sebanyak ini untuk peziarah. sedang njenengan sama Mbah kung hanya makan ubi, ketela dan sejenisnya. kenapa?.",


"Ada rejeki, nduk.", sahut Mbah kung yang baru saja pulang dari makam sunan Ampel untuk membersihkan area makam.


"Mbah kung, ndak makan nasi. mbah kung hanya makan ketela dan sejenisnya, istilah pondok "ngrowot". sambung si Mbah menjelaskan. Aisyah kagum dengan dua sosok di hadapannya.


Mbah Mustajab atau yang biasa di sapa Mbah kung ini, sudah lama tinggal di sini. dari Mbah kung masih lajang, Mbah kung suka membersihkan area makam sunan Ampel, Mbah bolong, Mbah Soleh dan para pengikut, murid serta santri sunan Ampel.


Di kalangan teman-temannya, Mbah Mustajab memang terkenal ahli tirakat. teman-temannya yang berziarah sering juga mampir, membawakannya bahan makanan atau memberinya beberapa lembar uang. tapi semua itu tidak digunakan Mbah Mustajab sendiri, kebanyakan uang itu ia belikan bahan makanan lain untuk di olah si Mbah dan di bagikan pada para peziarah, seperti saat ini.


Beliau sangat mengagumi salah satu sosok penyebar agama Islam yang menjadi salah satu dari Walisongo ini.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Coba maem telo (ketela), nduk.", ucap si Mbah memberikan sepiring ketela pohon yang masih hangat pada Aisyah. saat melihat Aisyah ingin muntah karena mencoba makan pisang. Aisyah tersenyum dan menerimanya.


Sejenak Aisyah terdiam. ia heran, kenapa si Mbah bisa tau kalau ia hamil?!, padahal ia ndak cerita.


Ia melihat perutnya yang sedikit membuncit, di elusnya perut itu dari luar baju "Jadilah anak pintar". batinnya seakan memberi tau malaikat kecil di perutnya bahwa ia tidak akan pernah bisa makan dari suapan tangan ayahnya.


"Ndak usah heran. di lihat dari kening sudah kelihatan.", sambung si Mbah sambil terus membungkus nasi yang hendak di bagikan pada para peziarah.


Aisyah memegang keningnya. ada plester yang masih melekat disana, bekas luka kemarin.


Tiba-tiba air matanya menetes. ia merindukan Gus Aham, tapi itu bukanlah hak nya lagi. Gus Aham mentalak nya saat hamil.


Aisyah menghapus air matanya. ia tersenyum dan mencoba kuat.


Tarkhim berkumandang. Mbah kung dan si Mbah juga di bantu Aisyah segera bersiap berjama'ah di masjid Ampel dengan membawa dua kantong kresek besar makanan yang sudah mereka masak.


Ternyata, tidak hanya Mbah kung saja yang membuat nasi gratis untuk para peziarah. penduduk sekitar juga banyak yang membuat dan di bagikan secara percuma pada peziarah.

__ADS_1


Shalat subuh di tunaikan berjama'ah. suasana riuh tahlil dan tahmid bersahut-sahutan, terdengar indah di telinganya. belum lagi pemandangan para peziarah yang berlalu lalang keluar masuk area makam membuatnya lupa akan kesedihannya.


Selesai sholat, Aisyah dan si Mbah juga Mbah kung membagikan nasi bungkus mereka pada para peziarah yang hadir, hingga nasi itu habis. ada 40 nasi bungkus yang dibuat si Mbah hari ini. jika nasi bungkus si Mbah dan Mbah kung habis lebih dulu, mereka akan membantu warga sekitar yang juga membagikan nasi bungkus nya sampai habis.


"Mbah, Aisyah ke toilet riyen, nggeh?!.", ucapnya meminta izin. si Mbah mengangguk.


Sementara Aisyah ke toilet, si Mbah masih membagikan nasi bungkus pada para peziarah. tak jarang saat mereka membagikannya, peziarah itu menolak. mengira si Mbah penjual nasi bungkus yang sedang menawarkan dagangannya.


Cahaya matahari mulai menunjukkan sinarnya, sudah pukul setengah enam pagi. dan aktivitas di area makam sunan Ampel semakin ramai.


Gus Aham, Gus Ma'adz dan mas Raihan sudah sampai di parkiran area makam sunan Ampel. segera mereka menuju lokasi makam dengan tetap memperhatikan setiap orang yang mereka temui, untuk mencari Aisyah.


Iseng-iseng, Gus Aham menghampiri salah seorang penjual di area makam.


"Permisi.", ucapnya berbasa-basi.


"Pak. pernah lihat dia?.", tanyanya sambil memperlihatkan foto Aisyah dan dirinya yang di ambil beberapa hari lalu saat Gus Aham mengajak Aisyah ke cafe.


"Oo, anaknya si Mbah, to?!. jawaban pedangan itu membuat ketiga orang yang mencari Aisyah terheran-heran.


"Anaknya, Mbah?.", Gus Aham mengulangi perkataan orang itu.


"Iya. itu anak e, Mbah. katane baru dateng kemarin.",


"Tempat tinggal Mbah nya, dimana?.", sahut mas Rai.


"Mbah sama Mbah kung, tinggal di luar kompleks makam. tapi kalau pagi begini, Mbah sama Mbah kung ada di area makam. tanya sama orang nyari si Mbah sama Mbah kung, nanti banyak yang ngasih tau.", jelasnya.


"Injih, pak. matur nuwun.", ucap Gus Ma'adz. saking senangnya, Gus Aham mengambil tangan penjual itu dan menyelipkan beberapa lembar uang kedalamnya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺

__ADS_1


__ADS_2