
Gus Ma'adz membuka telapak tangan adiknya. luka robek itu cukup dalam, seharusnya di jahit.
Gus Ma'adz memanggil perawat pria untuk membantunya, bagaimanapun luka itu harus mendapatkan jahitan. hanya mengandalkan obat dan perban akan membutuhkan waktu yang lama untuk pulih.
"Maaf. bisa tolong bantu kami sebentar?!.", ucap Gus Ma'adz pada seorang perawat pria. Gus Ma'adz pun menjelaskan keadaan adiknya yang terluka dan butuh perawatan, tapi tidak mau meninggalkan istrinya karena khawatir.
Perawat itu berusaha mengerti. ia pun ikut Gus Ma'adz untuk membantu membalut luka Gus Aham. perawat pria itu menyuntikkan cairan anestesi, baru ia mulai menjahit telapak tangan Gus Aham. begitu selesai menjahitnya ia memberi plester anti air pada luka itu lalu baru membalutnya dengan perban.
Selesai, dan perawat itupun pamit undur diri untuk melayani pasien lain.
"Terimakasih.", ucap Gus Ma'adz mewakili adiknya sebelum perawat pria itu pergi.
"Selamat pagi.", sapa seorang polisi menghampiri Gus Aham ,Gus Ma'adz dan mas Raihan yang masih menunggu di depan ruang ICU. Gus Ma'adz langsung mendekati polisi itu dan menjabat tangannya. sementara mas Raihan tetap berdiri dan tidak memperdulikannya.
"Lapor. polisi belum menemukan pelakunya.", ucap polisi itu.
"Anda mungkin tau ciri-ciri nya?.", polisi itu bertanya pada Gus Aham untuk memudahkan penyelidikan. Gus Aham terdiam sesaat. ia bahkan tidak sempat membuka masker orang itu. membuat Gus Aham frustasi dengan mengusap wajahnya kasar.
"Yang aku tau, dia hanya memakai burqa dan masker. aku tidak sempat membuka masker itu dan melihatnya.", jawab Gus Aham.
"Masalahnya, pelaku itu tidak meninggalkan jejak apapun. jadi kami kesulitan melacaknya.", Gus Aham terdiam mendengar laporan polisi itu. ia tampak mengingat-ingat sesuatu.
"Mobil.", seru Gus Aham.
"Iya, pelaku itu menaiki mobil Jeep Rubicon berwarna putih. sama seperti punyaku, mas.", ucapnya pada Gus Ma'adz.
"Jeep Rubicon?.", tanya polisi itu, Gus Aham mengangguk pasti.
"Baiklah, kami akan menyelidikinya lebih lanjut. kalau begitu, kami permisi dulu.", pamit polisi itu menjabat tangan Gus Aham dan Gus Ma'adz. lalu undur diri.
Gus Ma'adz mengantarkan polisi itu keluar dari rumah sakit. sementara Gus Aham masih duduk di depan ruang ICU. dan mas Rai pun tetap sama, berdiri di samping pintu.
Tak berapa lama Gus Ma'adz kembali menemui Gus Aham dan mas Raihan.
__ADS_1
"Ganti baju dan bersih-bersih badan dulu, mas.", ucapnya seraya menyodorkan satu set baju dan sarung dalam paper bag pada mas Raihan.
Gus Ma'adz sengaja membelinya karena melihat baju mas Raihan penuh dengan darah Aisyah. mas Raihan melihat paper bag itu, lalu menatap Gus Ma'adz. Gus Ma'adz mengisyaratkan untuk mengambilnya, dan pada akhirnya mas Raihan pun mengambilnya dari tangan Gus Ma'adz lalu bergegas pergi mencari kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Le. mas nyariin makan dulu, ya?!.", pamitnya pada Gus Aham yang hany menjawab dengan anggukan.
Gus Ma'adz pun berlalu meninggalkan Gus Aham sendirian di depan ruang ICU.
"Bagaimana keadaan istri saya?.", tanya Gus Aham.
"Pasien butuh donor darah.", ucap perawat yang baru keluar dari ruang ICU. Gus Aham tersentak.
Perawat itu pergi mengambil persediaan darah yang sama dengan golongan darah Aisyah yang hanya tinggal beberapa kantong.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Donor darah kurang. stok yang tersisa tidak cukup untuk pasien.", ucap dokter di ruang ICU kepada perawat.
"Telepon PMI pusat. minta kiriman darah yang sama.", perintah dokter itu pada perawat di sekitarnya.
"Kita harus mencari pendonor dengan golongan darah yang sama.", ucap dokter itu yang membuat perawat keluar lagi dari ruang ICU.
Gus Aham yang sedari tadi mondar-mandir di depan ruang ICU segera mendekati perawat begitu melihat salah satu dari mereka keluar.
"Bagaimana keadaan istri saya?.", tanyanya. hanya pertanyaan itu yang berulang kali keluar dari bibirnya ketika ada perawat keluar dari ruang ICU.
"Pasien butuh donor darah. tapi kami tidak memiliki persediaan lagi, di PMI pusat juga kosong. adakah dari kalian yang memiliki golongan darah yang sama?.", tanyanya setelah menjelaskan keadaan pasien.
"Ambil darahku.", jawab Gus Aham tegas. perawat itu tercengang menatapnya. karena Gus Aham terlihat tidak sehat.
Iya, Gus Aham terlihat pucat karena kurang tidur, kurang istirahat dan belum sempat makan sejak kemarin siang.
"Tapi anda tidak terlihat sehat.", jawab perawat itu.
__ADS_1
"Aku sehat. ayo, ambil darahku. keruangan mana kita harus pergi?.", ucapnya sambil meraih tangan perawat itu memintanya menunjukkan ruangan agar ia bisa segera di ambil darahnya.
Perawat itu menunjukkan sebuah ruangan dimana biasanya pendonor di periksa dan di ambil darahnya, walau dengan wajah bingung.
Gus Aham segera menarik perawat itu untuk masuk. ia menyuruh perawat itu untuk segera mengambil darahnya setelah memeriksa tekanan darahnya.
"Tuan, tekanan darah Anda terlalu rendah. itu berbahaya.", ucap perawat itu mencoba memberi pengertian.
"Akan lebih berbahaya bila istri dan anakku tidak segera mendapatkan donor darah.", jawabnya. perawat itu hanya terdiam, ia bingung harus bagaimana.
"Ayo. lakukan!, atau aku lakukan sendiri.", perintahnya.
"Tuan, ini....,
"Lakukanlah, aku mohon!. aku tidak akan menuntut apa-apa bila terjadi sesuatu padaku. tolonglah!, pikirkan istriku dan bayinya.", Gus Aham semakin menggila. fikirannya tidak jernih, ia harus menyelamatkan Aisyah dan bayinya.
Gus Aham mengambil jarum, ia kemudian mencari alkohol.
"Tuan, apa yang anda lakukan?.",
"Karena kamu tidak mau melakukannya, maka aku akan melakukan sendiri.", jawabnya.
Karena perawat itu khawatir Gus Aham melakukan kesalahan saat mengambil darahnya sendiri, jadilah perawat itu menuruti permintaan Gus Aham.
Ia mengoleskan alkohol di siku bagian dalam tangan Gus Aham, lalu mulai mengarahkan jarum yang sudah terhubung dengan selang ke kantung darah ke siku bagian dalam.
Jarum masuk ke dalam kulit dengan sempurna. darah mulai terlihat mengalir melewati selang mengisi kantong darah.
"Bertahanlah, sayang. tunggu sebentar lagi, semuanya akan baik-baik saja. kamu dan anak kita akan selamat, mas akan segera bawa kamu dan anak kita pulang. kita akan berkumpul bersama lagi.", batinnya penuh harap.
Begitu donor darah selesai Gus Aham keluar ruangan mengikuti perawat itu menuju ruang ICU. tapi saat perawat itu masuk ruangan Gus Aham pingsan. beruntung ada mas Raihan yang baru saja datang setelah selesai mandi dan ganti baju.
Mas Raihan pun meminta tolong pada perawat yang berada di sekitar. pada akhirnya, Gus Aham di bawa ke bangsal untuk di periksa.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺