
Begitu acara selesai, dan semua jamaah sudah pamit pulang. tentu saja acara selanjutnya adalah melepas kangen.
Terutama Ummi, tak henti-hentinya ummi bercerita dan bertanya pada menantunya yang baru saja pulang dari rumah sakit itu.
Tentang keadaannya, tentang kondisinya, tantang apakah Aisyah merasa lelah?!. entahlah, masih banyak yang di tanyakan Ummi, pada Aisyah dan besannya.
Waktu menunjukkan pukul sebelas lewat. semua kerabat dan tamu dari warga sekitar yang menjenguk sudah mulai surut. mereka satu persatu, sudah mulai pamit undur diri.
Melihat hal itu, Gus Aham segera mengajak istrinya untuk istirahat di kamar.
"Mi, Aham ajak Aisyah masuk ya?!. kasian, dari tadi duduk terus.",
"Kalau ummi, ibu, mba Mira dan yang lainnya masih mau ngobrol. ngobrolnya di kamar saja, biar Aisyah bisa rebahan juga.", ucap Gus Aham, meminta izin. ia khawatir istrinya kelelahan, karena terlalu lama duduk. sehingga menimbulkan rasa nyeri di jahitan dan perutnya.
Semua pun menyetujui ide Gus Aham. mereka pun segera mengikuti Gus Aham yang menggendong Aisyah, ke kamar mereka.
Pintu kamar di buka oleh Abel. dan, nampaklah balon-balon berwarna-warni, juga kertas lipat berbentuk burung nampak menghiasi langit-langit kamar.
Sungguh banyak, hingga Gus Aham merasa kamarnya tidak memiliki tempat untuk istrinya beristirahat.
Sudah tertebak, siapa biangnya?!. dan dua keponakannya terlihat sudah tertidur pulas di ranjang miliknya. mereka nampak kelelahan.
Gus Aham meletakkan Aisyah di ranjang, ia ingin membangun kan kedua ponakannya. tapi Aisyah melarangnya.
"Biarin aja.", ucapnya.
Mba Mira, Abel, Ning Nafis, ibu, Ummi, Gus Ma'adz, mas Raihan dan Abah serta Gus Aham. berkumpul lagi, di kamar Gus Aham setelah jama'ah sholat dhuhur.
Para lelaki nampak sedang bercengkrama di sofa kamar, sementara para wanita, selonjoran di karpet bulu. tidak lupa, Abel menyalakan TV dan menonton film kesukaannya.
...----------------...
Hari-hari berikutnya, di lewati dengan begitu saja. Gus Aham semakin sibuk membantu Gus Ma'adz mengurus pondok. ia jarang ke luar kota untuk melihat yayasan dan mengecek bisnis otomotif, ukir, dan rumah makannya jika tidak benar-benar ada sesuatu yang mendesak.
Ia juga setiap hari memandikan Aisyah, karena luka bekas jahitan nya belum juga mengering dengan sempurna.
Maklum, bayi di kandungan nya tumbuh semakin besar. membuat penyembuhan luka pasca operasi nya tidak bisa cepat kering seperti Gus Aham.
Tapi, Gus Aham dan Aisyah bersyukur. istrinya, sudah bisa mulai mengajar dan membantu Ummi mengurus pondok dan diniyah lagi. meskipun, belum sepenuhnya.
__ADS_1
Minimal, Aisyah ada kegiatan saat Gus Aham sibuk membantu Gus Ma'adz mengurus pondok. sehingga, ia tidak terlalu merasa jenuh.
Pagi datang, seperti biasa ia membantu istrinya membersihkan diri setelah sholat subuh. walaupun, itu selalu berakhir dengan Gus Aham yang mandi cukup lama di kamar mandi, untuk meredam syahwatnya ketika memandikan istrinya.
Huh, Gus Aham harus benar-benar menahannya, mengingat jahitan istrinya belum sembuh sepenuhnya. apalagi dokter sudah memperingatkan, untuk tidak berhubungan lebih dulu.
Ruang tengah terdengar begitu ramai pagi ini. rupanya, Abah, ummi, dan Ning Nafis tengah bermusyawarah. entah apa yang dibicarakan?!, yang jelas suara Ummi terdengar mendominasi. sedang Abah dan Ning Nafis hanya menjawab singkat.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Bu, sarapannya sampun siap.", ucap seorang mba ndalem, menghampiri Ummi, yang berada di ruang tengah bersama Abah dan Ning Nafis.
"Tolong, panggil Aham sama Aisyah ya, mba!.", pinta ummi, pada mba ndalem itu, yang di jawab dengan anggukan, dan langsung pamit untuk memanggil Gus Aham dan Ning Nafis.
Tak berapa lama, semua sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama.
"Jadi, acara tujuh bulanan Aisyah kan, kurang sebulanan to, le.", ucap Ummi, saat Gus Aham baru saja mengambil duduk untuk istrinya.
"Nah, Ummi mau bikin acara tahtimul Qur'an. sama, kaya' pas tiga bulanan dulu.",
"Gimana?!.", sambung Ummi.
"Kok, kamu gitu?!. ndak setuju sama Ummi?!.", ucap Ummi, kesal.
"Ndak gitu, Ummi. Aham, cuma kasian. khawatir, Ummi kecapekan.", jawab Gus Aham.
"Ummi, ndak bakal kecapekan. kan, Ummi ngelakuinnya dengan perasaan senang.", jawab Ummi, sumringah.
"Bukan karena, senang. tapi, karena semua yang ngerjain Nafis. Ummi mu, tinggal nunjuk.", sahut Abah, yang di sambut tawa dan senyuman semua orang.
"Ikhlas to, nduk?.", tanya Ummi, yang di jawab anggukan dan senyuman oleh Ning Nafis.
"Selama Nafis, bisa bantu dan bermanfaat bagi banyak orang. Nafis, senang dan ikhlas.", jawabnya, tulus.
"Matur nuwun, ya mba.", ucap Aisyah, mengusap punggung tangan Ning Nafis yang duduk di sampingnya. dan Ning Nafis menjawab dengan senyuman dan anggukan.
Mereka pun segera sarapan bersama, setelah melalui perdebatan kecil tentang tujuh bulanan Aisyah.
Selesai sarapan, seperti biasa. Aisyah, Gus Aham, Ning Nafis dan Gus Ma'adz pergi ke pondok. mengurus Diniyah dan sibuk dengan urusan pondok lainnya.
__ADS_1
Bel istirahat berbunyi, pertanda waktu anak-anak diniyah untuk beristirahat, sebelum melanjutkan pelajaran berikutnya.
Aisyah pulang ke ndalem, karena memang jadwalnya mengajar sudah tidak ada. Gus Aham pun, juga pulang ke ndalem. karena, Mike mengatakan akan datang ke berkunjung.
"Njenengan, pulang?!.", tanya Aisyah, pada suami yang baru saja masuk ke kamar mereka.
Gus Aham segera menghampiri istrinya, yang sedang duduk di bangku meja rias. ia nampak menyisir rambutnya. Gus Aham mendekat, lalu mengambil sisir itu dari tangan Aisyah, dan menyisir rambut istrinya.
"Tumben pulang.", ucapnya, pada Gus Aham yang sedang berdiri di belakangnya. ia hanya tersenyum.
"Mau pakai hair dryer?!.", tanya Gus Aham. yang melihat rambut Aisyah masih sedikit basah.
Ya, tadi pagi istrinya meminta untuk keramas. dan setelahnya, rambut itu malah di ikat karena harus pergi mengajar. jadilah, Aisyah baru bisa menggerai dan menyisir rambutnya sekarang.
"Ndak usah. sebentar lagi juga kering.", jawabnya. Gus Aham tersenyum, melihat rambut panjang milik istrinya sudah rapi.
"Mm..., sayang. Mike, mau kesini. bolehkah, mas menemuinya?!.", tanya Gus Aham, ada keraguan dalam ucapan nya. mengingat reaksi pertemuan Aisyah yang terakhir kali dengan Mike.
"Sama siapa?!.", tanyanya.
"Sendiri. Sintya, tidak boleh keluar. karena, satu minggu lagi mereka akan bertunangan.", jawab Gus Aham.
"Berarti, saya ndak harus ikut nemuin kan?!.",
"Terserah kamu.",
"Kan, Sintya ndak ikut. jadi, saya juga ndak usah ikut. ndak apa kan?.",
"Kamu, ngizinin?.", tanya Gus Aham. Aisyah menganguk dan tersenyum. membuat Gus Aham, mengecup kening istrinya yang mendongak, untuk melihatnya yang sedang berdiri di belakang Aisyah. sebagai ucapan terimakasih.
"Titip salam saja ya, mas?!. terimakasih, sudah bantu kamu saat kita dalam masa-masa sulit.",
"Terutama, saat saya koma dan ndak bisa dampingi njenengan.",
"Terimakasih juga, karena berhasil membebaskan kamu dari semua tuduhan.", ucapnya. yang membuat Gus Aham tersenyum.
Ah, rupanya Aisyah sudah tau, pikirnya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
🌺TO BE CONTINUED 🌺