Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 157


__ADS_3

"Tidur dulu aja, sayang. nanti, mas bangunin kalau sudah mau sampai.", ucap Gus Aham.


Ya, mereka pergi di jam dan hari sesuai yang Abah instruksikan. dan ini adalah jam tidur siang. nampak Umar dan Fatimah, terlelap di tempat tidurnya masingmasing.


"Njenengan ndak apa, kalau saya tinggal tidur?!.", tanya Aisyah. ia memang sangat lelah dan mengantuk, karena harus mengurus dua bayinya serta berkemas, tadi.


"Iya, mas ndak apa.",


"Sudah, tidur saja dulu.", ujarnya. Aisyah yang memang sudah lelah, akhirnya memilih untuk memejamkan matanya. Gus Aham, menurunkan sedikit jok kursi istrinya. agar Aisyah bisa lebih nyaman beristirahat selama di perjalanan.


Dua jam lebih kira-kira perjalanan yang mereka tempuh. Aisyah, bangun tepat saat Gus Aham menghentikan mobilnya di depan yayasan miliknya.


"Baru, mau mas bangunin.", ucapnya. saat melihat sang istri sudah membuka matanya.


"Sudah sampai, mas?.", tanyanya, sembari melihat ke sekitar. Gus Aham mengangguk, menjawab pertanyaan istrinya.


Gus Aham turun lebih dulu. lalu, membukakan pintu mobil untuk Aisyah. tidak lupa, Gus Aham membantu Aisyah menggendong kedua bayinya. tidak berapa lama, sudah banyak anak-anak yang datang untuk berjabat tangan dan mencium tangan Gus Aham serta Aisyah bergantian.


Ali lantas membantu Gus Aham menurunkan barang-barangnya, di bantu oleh satpam.


Ali dan satpam membawa koper itu ke rumah Gus Aham. ya, rumah yang telah ia siapkan untuk di tinggali bersama istri dan anaknya.


Ya, rumah minimalis dengan gaya Jawa estetik. ada beberapa pohon dan tanaman serta bunga di sekitar rumah minimalis modern, milik mereka. ada kolam ikan dan gazebo di sekitar rumah.


"Terimakasih, Al.", ujar Gus Aham.


"Injih, Gus.", jawabnya. ia kemudian pamit undur diri dan pergi dari rumah Gus Aham bersama satpam.


"Assalamualaikum, Gus.", sapa seorang ibu paruh baya, sembari menghampiri Gus Aham dan Aisyah. ia nampak keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi minuman dan camilan.


"Waalaikum salam.", jawab Gus Aham dan Aisyah, bersamaan. wanita paruh baya itu meletakkan nampan di meja ruang tamu.


"Monggo, Gus, Ning, di minum.", ucapnya, mempersilahkan, Aisyah mengangguk dan tersenyum.


"Ini budhe Mini, yang masakin anak-anak di yayasan, sayang.",


"Tapi anak-anak biasa manggil Mbok ni.", ujar Gus Aham memperkenalkan pada Aisyah.


"Mbok, ini istri dan anak-anak saya. istri saya namanya, Aisyah, putra saya namanya Umar, dan putri saya namanya Fatimah.", ujar Gus Aham. budhe Mini, nampak sumringah dengan perkenalan itu.


"Mbok, asli tiyang pundi?!.", tanya Aisyah, dengan bahasa Jawa. ia mulai membuka percakapan, saat suaminya minta izin keluar untuk menemui pengurus yayasan yang lain.


"Asli orang sini mawon, Ning.",


"Cuma, bapak kan sudah pensiun kerjanya. jadi, mulung sebelum ketemu Gus Aham.",


"Alhamdulillah, setelah ketemu Gus Aham. mbok sama bapak di ajak tinggal di yayasan. di ajak ngerawat anak-anak. mbok, yang masak. bapak ngajarin anak-anak beternak kambing.", ceritanya.

__ADS_1


"Lha memang dulu, bapak kerjo nopo, mbok?!." tanya Aisyah lagi.


"Dulu jaga palang pintu kereta api. cuma sakniki sampun pensiun.", jawabnya. Aisyah tersenyum mendengar penuturan wanita paruh baya yang mempunyai nama asli Darmini ini.


"Mbok, masaknya sendiri?!.", tanya Aisyah.


"Ada yang bantu, Ning. anak-anak perempuan.", jawabnya.


"Oalah, ada anak perempuan juga to disini?!. tak kira cuma anak laki-laki saja, mbok.", ujar Aisyah. ia baru tahu ada anak-anak perempuan juga.


......................


"Baru sebulanan ini Ning.", ujar mbok ni. ia nampak mengangguk, mendengar jawaban budhe Mini.


"Anak perempuan berapa banyak, mbok?.", tanyanya.


"Mungkin, baru sekitar 10-11.", jawabnya.


"Ning, mbok mau ke belakang dulu. kalau njenengan ada perlu apa-apa, jangan sungkan buat manggil, ya?!.", ujarnya. Aisyah mengangguk.


"Injih, mbok.", jawabnya. Aisyah segera masuk ke kamar yang sudah disiapkan oleh suaminya. ia melihat dua bayi kembarnya masih tertidur pulas. ponselnya berdering, jelas di layar tertera "ummi" pasti mertuanya ingin tahu, apakah ia sudah sampai dengan selamat atau masih di jalan.


"Assalamualaikum, ummi.", sapanya.


"Waalaikum salam.", jawab ummi.


"Alhamdulillah, sudah ummi. baru saja.", jawabnya.


"Alhamdulillah.", ummi turut lega mendengar anak, menantu serta cucunya sampai di yayasan dengan selamat.


"Mana cucu ummi?.", tanyanya.


"Masih tidur, ummi. kaya'e Umar sama Fatimah kecapekan.", jawabnya.


"Oalah, mesakne cucune Mbah uti.", gumam ummi.


"Terus, kamu sambang kesini kapan, nduk?.", tanyanya. Aisyah yang mendengar pertanyaan ini, hanya bisa tersenyum.


"Masha Allah, mi. kan, Aisyah baru nyampe di yayasan. belum ada sehari, lho niki. tapi, ummi sudah tanya begitu.", ujarnya.


"Lha gimana?!. ndalem jadi sepi.", jawab ummi.


"Ning Dija sama Ning Shofi, kan ada.", ujar Aisyah.


"Yo bedo. mereka kan bukan Umar sama Fatimah, yang masih bisa di gendong dan di uyel-uyel.",


"Kalau ummi gendong mereka, yo jelas wes ndak kuat, nduk.", ujar ummi. Aisyah tersenyum. nampak Gus Aham baru saja masuk dan menutup pintu kamar. ia bertanya dengan bahasa isyarat, siapa yang sedang menelpon istrinya. Aisyah pun, menjawab dengan gerakan bibir "ummi".

__ADS_1


Dengan cepat Gus Aham mengambil ponsel dari tangan istrinya.


"Assalamualaikum, mi.", sapa Gus Aham.


"Waalaikum salam.",


"Piye to, le?!. udah sampai kok ya ndak langsung ngasih kabar ke ummi.", Gus Aham tersenyum mendengar suara ummi nya. ya, padahal belum ada sehari. tapi, ia sudah kangen untuk menggoda ummi seperti saat masih berada di ndalem.


"Maaf, mi.",


"Aham, juga baru nyampe. baru ketemu pengurus yayasan.",


"Ini saja, baju-baju si kembar baru di rapikan sama ibunya.", ujar Gus Aham, yang melihat Aisyah sedang memasukkan baju-baju si kecil pada tempatnya.


"Acara syukuran pindahannya, jadi kapan?!. Abah, ummi, mas mu sama Nafis mau kesana.", tanyanya.


"Insyaallah besok, mi.", jawabnya.


"Mertua mu, juga sudah di kabari?.", tanya ummi, menyelidik.


"Belum.", jawab Gus Aham, singkat.


"Ya Allah, lha karepmu Iki piye to?!.", lagi-lagi ummi nya menggunakan nada tinggi, membuat Gus Aham tersenyum membayangkan wajah kesal ibunya.


"Mi, kan Aham baru sampai. ini aja tadi mau ngabarin ummi, tapi ummi duluan yang telpon. ya, jadi Aham belum ngabarin ibu.", ujarnya.


"Yowes, yowes. telponnya sama ummi, sudahan.",


"Sana, cepet telpon mertuamu. keburu ndak enak, nanti.", sela ummi.


"Iya, mi.", ujar Gus Aham.


"Assalamualaikum.",


"Waalaikum salam.", sahut Gus Aham, mengakhiri panggilan telepon, dari ibunya. ia lantas merebahkan diri di pangkuan istrinya.


"Padahal, belum ada sehari. tapi, mas sudah kangen sama omelannya, ummi.", ujar Gus Aham. Aisyah tersenyum mendengar penuturan suaminya.


"Dan belum ada sehari, ummi sudah tanya kapan mau main ke ndalem, jenguk Abah dan ummi?!.", sahut Aisyah.


"Masa', ummi nanya gitu?!.", tanya Gus Aham. ia menatap istrinya lekat. Aisyah mengangguk dan tersenyum.


"Tahu gitu tadi, mas ledekin.", ujar Gus Aham. Aisyah tersenyum, sembari mencubit hidung suaminya.


"Ndak sopan.", ujarnya, sembari tersenyum manis.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2