
Keesokan harinya, semua bersiap menuju ke pondok Gus Fahim. ya, putra bungsu Abah dan ummi akan di wisuda hari ini.
Tentunya, Abah sudah menentukan langkah selanjutnya untuk putra bungsunya ini. apalagi, Gus Fahim sudah di wanti-wanti oleh Abah bahwa, ia yang akan meneruskan Abah dan ummi untuk mengelola pondok sekaligus di beri kesempatan untuk mengamalkan ilmunya selama nyantri.
Gus Fahim adalah tipe anak yang manut, nurut seperti Gus Ma'adz. jadi, apapun kehendak Abah dan ummi jika dia bisa, pasti akan di lakukan dan dikabulkan.
"Assalamu'alaikum.", ucap Abah di ambang pintu yang segera di jawab oleh para tamu yang lain, saat Abah sowan ke ndalem yai Kholil, guru sekaligus kyai dari putranya.
"Waalaikum salam warahmatullah.", jawab kyai Kholil, sembari menyongsong kehadiran Abah. mereka bersalaman dengan saling mencium tangan bergantian, lalu berakhir dengan pelukan. di susul kemudian Gus Ma'adz, Gus Irfan yang jauh-jauh menyusul dari sarang dan Gus aham yang berada di belakang Abah. mereka dengan sikap tawadhu'nya sowan dan mencium tangan yai Kholil, mengharap barokahnya.
Sementara Ning Nafis, Ning Bilqis, Aisyah dan putra-putri mereka di lewatkan pintu samping untuk bertemu dengan Bu nyai Syarifah, yang tidak lain dan tidak bukan adalah garwo dari yai Kholil.
Sama dengan Abah dan yai Kholil. ummi dan Bu nyai Syarifah juga saling mencium tangan satu dan lainnya lalu berpelukan. ya, memang begitulah cara para habaib jika bertemu dengan orang-orang sholeh.
Setelahnya, sebelum acara wisuda di mulai para wali santri mengobrol bersama di aula ndalem dengan aneka suguhan yang tersedia. ummi nampak heboh saat bertemu dengan beberapa orang yang sudah ummi kenal, dan memang berteman dengan ummi. tidak lupa juga, berkenalan dengan wali santri yang belum ummi kenal juga.
Kata ummi. "Sopo ngerti to nduk, ummi bisa dapat mantu disini.", ujarnya, membuat Aisyah dan Ning Nafis tersenyum.
Ya, pondok salaf ini di khususkan untuk santri yang mau menghafal Qur'an saja. belajarnya, juga cukup dari Qur'an dan hadits, saja. bukan pondok seperti kepunyaan Abah dan ummi, yang mengharuskan hafalan dan sekolah. menghafal Al-Qur'an dan mempelajari kitab lain seperti tafsir jalalain, ta'lim muta'lim dan kitab lain.
Disini, fokus hafalan Qur'an dan hadist. karena menurut yai Kholil, dalam Al-Qur'an dan hadist cukup banyak ilmu untuk bekal hidup. benar-benar metodenya menjiplak dari tanah Tarim.
Jika ingin sekolah Diniyah, disini juga ada. hanya bukan di pondok tempat Gus Fahim belajar ini. tapi, di pondok adik yai Kholil. yai Subhan, yang juga masih satu kompleks dengan pondok tempat Gus Fahim belajar.
Pondok yai Kholil menerima santri dan santriwati, hanya saja tentu tempatnya di pisah. sama dengan santri, santriwati yang mondok disini juga hanya di fokuskan untuk hafalan Qur'an dan hadits, serta membedah kajian-kajian dalam Al-Qur'an untuk bekal di zaman yang kian modern.
Acara wisuda akan dilaksanakan setelah jamaah sholat isya. dan yang pertama akan diwisuda adalah santri putri terlebih dahulu. setelahnya, baru santri putra.
Acara wisudawan santri putri berlangsung dengan khidmat dan berakhir tanpa hambatan. sebanyak 74 santri putri tahun ini, menyelesaikan hafalannya dan mendapatkan gelar tahfidzoh. para wali santri baik dari santri putra maupun santri putri mengikuti proses wisuda dengan khidmat, tak terkecuali Abah, ummi, Gus Ma'adz, Gus aham serta para istri dan putra-putri mereka.
......................
Kini, giliran santri putra yang akan melaksanakan proses wisuda. nama-nama para tahfidz pun di panggil dan diperkenalkan beserta nama kedua orang tua mereka.
Rasa haru dan bangga jelas menyelimuti wajah para wali santri saat putra mereka masing-masing di panggil untuk berdiri di podium. apalagi, selain di sebutkan nama santri, nama wali santri pun, juga di sebut dan mengharuskan mereka berdiri, agar tamu dan wali santri yang lain tahu wali para santri yang akan di wisuda malam ini.
"Ahmad Fahim Abdul Hasan Al - Maliki putra dari yai Abdurrahman Abdul Hasan Al - Maliki dan ibu nyai Amira as-syarifah.", terdengar jelas, nama Gus Fahim di panggil beserta nama Abah dan ummi, yang membuat Gus Fahim segera naik ke podium, sedang Abah dan ummi berdiri dan menyapa dengan menganggukkan kepalanya pada semua tamu dan wali santri yang hadir.
Acara berlangsung dengan lancar. Gus Fahim bahkan mendapatkan gelar wisudawan tahfidz terbaik untuk tahun ini. dengan bekal ini, kiranya cukup ia gunakan dan amalkan untuk memimpin pondok Abah dan ummi nya. tentunya, di sertai belajar kitab-kitab lainnya, saat mulai ikut berpartisipasi mengajar di pondok kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Mas, bangga sama kamu, le.", ujar Gus aham, yang di tambahkan acungan jempol dari Gus Ma'adz, saat mereka akan photo bersama, setelah acara wisuda selesai.
"Jagoannya, Abah nih!.", seru Gus Irfan, tidak kalah bangganya dengan adik bungsunya ini, sembari mengguncangkan bahu Gus Fahim.
"Habis ini, Ndang nikah. soalnya, ummi geger minta cucu.", imbuh Gus Aham.
"Ya Allah, mas. aku baru selesai wisuda beberapa menit yang lalu, lho.",
"Kok wes disuruh nikah.", kesalnya. Gus Ma'adz hanya tersenyum mendengar kedua adiknya yang sedang ribut itu.
"Mi, masa' habis ini aku disuruh nikah, sama mas Aham.",
"Kan, aku baru wae selesai wisuda.", adunya pada ummi, saat ummi, Abah, Ning Nafis, Ning Bilqis, Aisyah dan putra-putri mereka masuk ke aula untuk membuat foto keluarga bersama.
"Tapi bener lho, kata mas mu.", ucap ummi, sembari tersenyum. melihat ibunya sumringah ke empat putranya sudah tahu, ada yang di sembunyikan.
"Ummi, kok bahagia banget to?!.",
"Aku kok jadi curiga.", selidik Gus Fahim.
"Piye gak sumringah, ummi mu?!. wong, Abah sama ummi nembe di timbali yai Subhan.", jawab Abah. saat mereka tengah mengatur posisi untuk berfoto.
"Ummi sama Bu nyai Syarifah bakal besanan.", jawab ummi dengan senyum bahagia nya, membuat semua orang terkejut bersamaan dengan cahaya kilat lampu kamera.
"Cekrek". bunyi khas, photo saat gambar telah terambil. membuat sang photograper tersenyum dengan hasilnya, dan menunjukkan pada Abah sekeluarga.
"Ndak apa, mas. jangan di hapus!.",
"Photo sekali lagi, tapi cetak keduanya, ya?!. buat kenang"an. ujar Gus Aham, setelah melihat hasil jepretan photo yang pertama, dengan ekspresi bahagia ummi, dan ekspresi heboh serta terkejut dari para saudara dan iparnya.
"Ummi, Ki piye to?.", gerutu Gus Fahim.
"Wes, photo sek. mengko maneh, siaran ne.", ujar Abah, yang membuat semua fokus pada aba-aba photograper nya.
"Putrinya yai Subhan, seng mana, mi?!. ature?.", tanya Gus Fahim, setelah selesai acara photo, sembari masuk ke aula untuk menikmati jamuan sebelum akhirnya, pamit pada kyai Kholil untuk membawa Gus Fahim boyong atau pulang dari pondok.
"Tau Ning Amalia Subhan al-qudsy to, le?.", ujar ummi setelah semua anggota keluarganya duduk melingkar dan menikmati jamuan yang tersaji di meja makan mereka. Gus Fahim mengangguk.
"Yo, iku calon mantune ummi.", ujar ummi sumringah. Gus Fahim langsung mengepalkan tangannya. "Yes!.", ujar Gus Fahim, girang yang membuat para kakak dan kakak iparnya menoleh ke sekitar sebelum akhirnya menoleh pada Gus Fahim.
__ADS_1
Gus Fahim yang sadar, dengan sikapnya langsung berubah sikap. walaupun dalam hatinya ia merasa bahagia. ya, sudah lama dia menaruh hati pada Ning Amalia, keponakan dari yai Kholil itu. siapa sangka, mereka benar-benar berjodoh.
"Gebetanmu, ya?!.", senggol Gus Aham pada lengan adiknya yang tidak mampir menahan raut bahagianya.
"Opo sih, mas.", ujarnya, berusaha menahan bahagia yang membuncah di hatinya.
"Lampu ijo, mi.", ujar Gus Irfan, memberi isyarat pada ummi.
"Langsung gas ini kaya' e, mi.", sahut Gus Ma'adz.
"Ummi, setuju.",
"Bah, besok langsung sowan ke ndalem yai Subhan buat ngelamar, ya?!.", ujar ummi, membuat semuanya menatap ummi seketika.
"Langsung, mi?.", tanya Abah meyakinkan. ummi mengangguk sumringah. Abah melihat putra dan putri menantunya sebelum mengangguk dan mengiyakan permintaan ummi.
"Alhamdulillah.", seru ummi dan Gus Fahim bersamaan. membuat putra-putri serta cucu mereka yang tidak paham pun tertawa.
Keesokannya, lamaran di laksanakan. selang tiga minggu acara akad nikah dan resepsi di adakan. untungnya, ummi punya tim solid baik dari ketiga putranya maupun ketiga menantunya. sehingga acara resepsi megah nan mewah itu terkodinir dan berjalan dengan lancar. tidak lupa mereka sempatkan photo keluarga bersama kedua mempelai.
Sengaja mereka banyak mengambil gaya, mulai dari gaya formal sampai gaya santai. photo itu, akan mereka bawa untuk di pajang di rumah masing-masing sebagai pengingat bahwa, mereka terlahir dari kedua orang tua yang hebat dan memiliki saudara yang luar biasa dekat dan kompak.
Kini, mereka hidup di tempatnya masing-masing. berjuang dan mengamalkan ilmunya sesuai dengan kemampuan dan pemikiran mereka.
Gus Ma'adz dan sang istri dengan pondok tarbiyah putra-putrinya. juga masih membantu mengajar di pondok orang tuanya.
Gus Irfan dan istri dengan pondok tahfidz putra-putri, meneruskan pondok mertuanya, pondok dari orang tua sang istri.
Gus Aham dengan yayasan dan beberapa bisnisnya, yang semakin maju. bahkan kini, di yayasan nya telah di bangun sebuah TK, agar anak-anak kecil yang terlantar bisa sekolah TK dengan baik, serta terus mendapatkan pengajaran ilmu agama dari Aisyah dan dirinya yang juga di bantu beberapa tenaga pengajar sukarelawan. tapi, meskipun mereka sukarelawan. Gus Aham tetap memberi tunjangan pada mereka setiap bulannya. bahkan kini, Gus Aham juga tengah membangun sebuah panti sosial, khusus para lansia yang terlantar.
Sementara Gus Fahim dan Ning Amalia, pasangan pengantin baru ini. tengah menikmati masa-masa indah sebagai pasangan sembari membantu ummi dan Abah mengurus pondok dan sekolah Diniyah nya.
Begitulah hidup, terkadang bahkan sering tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. tapi, percayalah semua sudah di atur sedemikian indah oleh sang pemilik alam
...Tamat...
...----------------...
terimakasih atas dukungannya ya Kaka... yuk, mampir ke cerita aku yang lainnya. cukup klik profil dan pilih cerita yang ingin kamu baca.
__ADS_1
see you di cerita aku yang lain. terimakasih 🙏🙏🙏🖤