Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 147


__ADS_3

Gus Aham tidak mendengarkan perkataan maupun penjelasan dokter lebih lanjut. ia segera berlari menerobos kamar tempat istrinya di rawat.


Ada beberapa perawat yang masih berada di sana. mereka nampak melepas satu persatu alat medis di tubuh istrinya.


"Apa yang kalian lakukan?!.", teriaknya. ia berjalan menghampiri perawat-perawat itu dan menarik tangan mereka. meminta mereka keluar dan tidak mengizinkannya menyentuh sang istri.


Gus Aham mendorong tubuh mereka keluar, lalu mengunci pintu kamar rawat istrinya. dengan tergesa-gesa, ia menghampiri tubuh Aisyah.


"Sayang. anak kita sudah lahir, ayo bangun!.", ucapnya. ia meraih tangan Aisyah. mencoba meraba denyut nadi di pergelangan tangan kecil milik istrinya.


Gus Aham mencoba mencubit lengan istrinya. ia memberi rangsangan pada saraf Aisyah, dan hasilnya?!. jari Aisyah memberi respon.


Ya. ia paham sedikit ilmu medis dari Mike. ia ingat, Mike pernah melakukan hal yang sama untuk menyelamatkan seorang anak kecil yang tinggal di yayasan nya.


Anak kecil berusia delapan tahun itu, bermain-main di sungai dan terbawa arus. saat di temukan, ia sudah tidak sadarkan diri. nafas juga tidak terdeteksi.


Saat Gus Aham memutuskan untuk membawa anak itu ke rumah sakit, Mike melarangnya.


Ia malah mengambil alih, menggendong anak itu di pundaknya dengan posisi sungsang, lalu berlari mengitari halaman yayasan.


Saat dirasa air yang masuk ke dalam perut dan paru-paru bocah itu sudah keluar semua. Mike, menidurkan anak itu di lantai. memberinya rangsangan dengan beberapa cubitan untuk mengetahui, apakah ia masih bisa merasakan rasa sakit dari cubitan itu.


Dan benar, jarinya merespon. dengan langkah sigap, Mike menyatukan kedua tangannya dan meletakkan di dada anak kecil itu. ia memompa dan terus memompa untuk melancarkan peredaran darah agar sampai ke jantung dan paru-paru. dan berhasil, anak itu terbatuk di sertai muntahan air dari mulutnya, saat sadar.


Sama dengan yang di lakukan Mike, Gus Aham juga melakukan hal yang sama pada Aisyah. ia memompa jantung dan paru-paru istrinya. berharap cara ini juga berhasil pada Aisyah.


"Ayo!. bernafas, sayang.", ucapnya, saat ia hampir menyerah karena sudah cukup lama melakukan hal itu, tapi belum juga ada respon dari tubuh Aisyah.


Sampai mas Raihan berhasil membuka pintu kamar tempat Aisyah di rawat. dan ia melihat, apa yang di lakukan Gus Aham terhadap adiknya.


Ia mendekap erat tubuh adik iparnya. bukan untuk menenangkan, melainkan untuk menghentikan usaha Gus Aham.

__ADS_1


"Hentikan!.", ucapnya. tangannya terus berusaha mendorong tubuh Gus Aham agar menjauh dari Aisyah.


"Hentikan!.", ucapnya sekali lagi. ia menarik tangan Gus Aham agar berhenti menekan dada adiknya. tapi, Gus Aham mengibaskan tangan mas Raihan. ia bahkan kalap sehingga membuat mas Raihan jatuh karena dorongan nya yang cukup keras.


Di sisi lain, semua anggota keluarga hanya bisa berdiam di pintu. melihat pertengkaran Gus Aham dan mas Raihan yang saling dorong, dengan isakan tangis karena berita kematian Aisyah.


Ning Nafis mencoba menjadi anak yang baik dengan menenangkan ibu dan Ummi. sementara Gus Ma'adz mengajak Abah untuk duduk agar lebih tenang.


Sampai pada saat mas Raihan kehilangan kesabaran. ia berteriak-teriak dan terus berusaha mendorong Gus Aham agar menjauh dari tubuh adiknya.


"Hentikan!. pergi dari sini!.", teriaknya. ia masih terus berusaha menjauh kan Gus Aham.


"Apakah kau tau?!. kau melukai adikku?!.", ucapannya, berhasil membuat Gus Aham sedikit lengah. cepat-cepat mas Raihan mendorong Gus Aham hingga tersungkur jatuh ke lantai.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Kalau kamu mencintai adikku, bukan begitu caranya!.", ucapnya. membuat Gus Aham yang terduduk di lantai menengadah, menatap kakak iparnya.


Padahal, ia melihat dengan jelas tadi bahwa istrinya masih bisa menerima rangsangan dari cubitan yang ia berikan di lengannya. Aisyah masih bisa merasakan sakit, keningnya sedikit berkerut tadi.


"Jadilah suami yang baik. ikhlaskan, dia!.", ucap mas Raihan. membuat Gus Aham menunduk. memeluk lututnya dan menyembunyikan kepalanya di sana.


Ia tidak percaya, semuanya berakhir seperti ini. bulu matanya mulai basah. Gus Ma'adz masuk dalam ruangan. ia menghampiri adiknya yang masih duduk di lantai. mengusap-usap punggungnya untuk menenangkan.


"Mas?!.", ucapnya. saat ia tau Gus Ma'adz datang menghampiri nya. ia memandang kedua manik sang kakak. persis seperti seorang anak kecil, yang sedang mengadu pada kakaknya bahwa apa yang dia punya telah hilang.


Gus Ma'adz mencoba lebih tenang. ia mengangguk perlahan, mengusap dada bidang Gus Aham, memberi isyarat pada adiknya untuk sabar, ikhlas dan tawakal.


"Insyaallah, kalau ikhlas. jalannya, juga tenang.", ucap Gus Ma'adz. Gus Aham memeluk kakaknya, yang juga di balas pelukan oleh sang kakak. dadanya sesak, apalagi saat memikirkan bayi-bayi mereka.


"Mmhhh......", suara erangan kecil yang membuat semua terdiam.

__ADS_1


"Mmhhh.....", sekali lagi suara itu terdengar. mas Raihan, yang sedari tadi hanya bersandar di tembok dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. mencoba memberanikan diri melihat asal suara itu.


Ia menoleh ke ranjang tempat Aisyah di baringkan. ya, itu suara adiknya. Aisyah bahkan menggerakkan kepalanya pelan. membuat Gus Aham segera bangkit dengan bantuan Gus Ma'adz.


Mereka bertiga mendekat ke samping ranjang. Aisyah menggerakkan kepalanya pelan. tanpa pikir panjang, Gus Aham berlari keluar ruangan tempat Aisyah di rawat.


Ia berlari, mencari dokter yang bertanggung jawab untuk memeriksa istrinya.


Saat Gus Aham kembali dengan dokter dan beberapa perawat. mereka segera memeriksa keadaan Aisyah. sementara semua anggota keluarga di minta untuk menunggu di luar.


Harap-harap cemas tergambar jelas di wajah mereka masing-masing. Abah, Ummi, ibu, Gus Ma'adz dan Ning Nafis tidak henti-hentinya bersholawat, berdoa. meminta kesehatan, kesembuhan dan keselamatan untuk Aisyah.


"Ceklek.", pintu kamar terbuka. Gus Aham dan mas Raihan, sudah pasti menghadang dokter itu dulu.


"Bagaimana keadaan istri saya, dok?!.",


"Bagaimana keadaan adik saya?!.", hampir bersamaan mereka menanyakan keadaan Aisyah saat ini.


"Alhamdulillah. ibu Aisyah selamat. hanya kondisinya masih lemah.", jawab dokter, yang membuat semua orang yang hadir di sana tersenyum lega. Ummi dan ibu, bahkan terlihat saling berpelukan dengan kabar yang di sampaikan oleh dokter.


"Kemungkinan, pasien tadi mengalami gejala henti jantung mendadak karena sesak nafas.", ucap dokter menjelaskan.


"Seperti, yang bapak lihat tadi, istri bapak sempat mengalami sesak nafas kan?!.", sambung nya, mencoba mengingatkan Gus Aham. dan ia mengangguk mendengar penjelasan dokter.


"Itu sebabnya, jantungnya berhenti. jantung yang seharusnya memompa darah ke seluruh tubuh, hanya mampu bergetar karena tidak kuat.",


"Tubuh si pemilik, tidak mempunyai kekuatan untuk melakukan nya karena tidak adanya asupan tenaga.",


"Tapi, syukur lah. berkat pompa yang di lakukan bapak, istri bapak bisa selamat. kita hanya perlu menunggu nya sadar sekarang.", ucap dokter.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2