Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 53


__ADS_3

Malam semakin larut. ibu sudah tidur dengan nyenyak, sementara Aisyah masih terjaga. ia mengambil tongkatnya, berjalan ke balkon kamar ruang tamu yang berjarak dua balkon dari balkon kamar Gus Aham.


Aisyah duduk di kursi yang ada di balkon. ia merasa sedikit gerah, jadi memutuskan untuk ke balkon menikmati udara malam.


Gus Aham yang kebetulan juga ada di balkon kamarnya tidak sengaja melihat Aisyah. ia tersenyum, bisa menikmati malam bersama walaupun tidak dalam satu tempat dan status yang sama lagi.


"Aku, merindukanmu.", gumamnya. Gus Aham terus menatap Aisyah. terlihat tapi tak tersentuh.


Untuk saat ini, cukup baginya hanya bisa menatap dan melihat istrinya dari jauh. tapi, ia berjanji pada dirinya sendiri, akan sesegera mungkin memperbaiki semuanya. agar mereka bisa bersama lagi.


Gus Aham sadar, memperbaiki semuanya tidaklah mudah. ia perlu meyakinkan banyak orang, terutama Aisyah dan keluarganya. tapi ia yakin, jika jodohnya adalah Aisyah.


Setelah Aisyah merasa badannya sudah tidak terlalu gerah, barulah ia masuk ke kamar. ia berjalan dengan tongkat dan berpegangan pada tembok ataupun daun pintu. Aisyah menutup pintu kamar balkon, lalu berjalan ke ranjang, naik dan segera merebahkan tubuhnya di dekat ibu.


Gus Aham masih duduk di sana, dan masih menatap bayangan istrinya yang baru saja menghilang di balik pintu.


Keesokan harinya....


Hari ini, ibu dan Aisyah memutuskan untuk pamit. bagaimanapun, Aisyah dan Gus Aham sudah cerai secara agama. tinggal di bawah satu atap yang sama akan menjadi rikuh. meskipun, perceraian itu hanya di ketahui oleh keluarga dari Gus Aham dan Aisyah. ya, memang kabar itu sengaja di jaga agar tidak keluar dan tersebar kemana-mana.


Ibu, sudah selesai berkemas. karena mereka datang hanya membawa keranjang buah kemarin dan tidak membawa baju ganti. jadi, mereka cukup berkemas diri. mandi, dan merapikan diri sebelum pulang.


"Sudah, nduk?!.", tanyanya pada Aisyah yang sedari tadi duduk di tepian ranjang.


"Sudah, Bu.", jawabnya seraya mengangguk.


Ibu segera membantu Aisyah berdiri, dan mereka segera berjalan keluar kamar, setelah memastikan kamar yang mereka tiduri semalam sudah benar-benar tertata rapi.


Ning Nafis sibuk menyiapkan sarapan pagi di meja makan.


"Bu. nduk. sarapan dulu, nggeh?!.", ucap Ning Nafis.


"Ndak usah, Ning. ibu sama Aisyah sarapan dirumah saja, kasihan Mira, ndak ada temennya.", jawab ibu. Ning Nafis terdiam, ia tidak tau lagi harus bagaimana?!, untuk membuat hubungan keluarga mereka kembali seperti dulu lagi.


Ning Nafis tau, tidak ada orang tua manapun di dunia ini yang mau anaknya menderita. tidak terkecuali dengan ibu. perlakuan Gus Aham, memang sudah keterlaluan. hingga membuat mereka menjauh dari keluarga ndalem.

__ADS_1


"Bu. setidaknya, kalau mau pulang. sarapan dulu, nggeh?. bareng-bareng kita semua.", bujuk Gus Ma'adz, yang baru saja datang.


"Ndak, usah. Gus. takutnya, kami ngrepotin.", jawab ibu.


"Ndak kok, Bu. ndak ngrepotin, Nafis sudah siapin semuanya. jadi, ndak repot.", jawab Gus Ma'adz lagi.


"Tapi....,


Ucapan ibu terpotong, melihat Aisyah mengerutkan keningnya. wajahnya seperti mencari-cari sesuatu. ia juga terlihat mencium sesuatu.


"Kenapa, nduk?.", tanya ibu. Aisyah diam, ekspresi nya tidak berubah.


"Nduk?!.", ibu menggerakkan lengan Aisyah. sehingga ia tersadar.


"Ndak apa, Bu.", jawabnya. tersenyum ragu.


Iya, Aisyah merasakan kehadiran Gus Aham lewat aroma parfum yang biasa di pakainya. Gus Aham yang bersembunyi di balik tirai ruang makan, dan menyadari hal itu, segera pergi. ia tidak ingin kehadirannya membuat Aisyah tidak nyaman.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Kenapa ndak ikut sarapan bareng, le?.", tanya Ning Nafis yang meletakkan nampan berisi sarapan, minum dan buah untuk Gus Aham.


"Aisyah, ndak akan ngerasa nyaman kalau aku di sana, mba.", jawabnya.


"Biar aku, sarapan disini aja.", lanjutnya.


"Sabar ya, le?!. insyaallah. semua segera membaik, antara kamu sama Aisyah.", ucap Ning Nafis. menenangkan.


Gus Aham tersenyum simpul. ia terdengar mendengus kan nafasnya.


"Kesalahanku fatal, mba.", ucapnya. ia menggeleng pelan. Ning Nafis merasa sedih melihat adik iparnya. ia tau adiknya salah, tapi itu atas dasar cemburu. tidak bisakah memberi adiknya kesempatan lagi?.


"Ya, sudah. mba balik dulu ke ruang makan.", ucap Ning Nafis, pamit pada Gus Aham.


Seketika ibu yang hendak ke kamar mandi, segera berbalik. ibu mengurungkan niatnya untuk ke belakang. cepat-cepat ibu berjalan ke ruang makan lagi, agar Ning Nafis tidak mengetahui keberadaan ibu, yang tidak sengaja mendengar pembicaraan Ning Nafis dan Gus Aham.

__ADS_1


Gus Aham duduk di gazebo, ia mulai menikmati sarapannya. ingatannya menerawang ke masa saat ia sering menghabiskan waktu bersama Aisyah di gazebo ini.


Ya, gazebo yang sedang di tempatinya adalah tempat favorit istrinya bersantai, mengerjakan tugas diniyah, tempat muroja'ah atau sekedar berdua dengan Gus Aham.


Ia ingat betul, saat istrinya ingin keluar kamar dan hanya bisa ke sini. dengan manja, istrinya minta di pijit, minta di temani, atau sekedar melepas penat berdua. melihat tanaman dan ikan yang berenang dan menari kesana-kemari.


Ia tersenyum mengingat masa-masa indah itu, masa-masa saat Aisyah selalu berada di sisinya, selalu mendukungnya, selalu membelanya, dan selalu meyakinkannya. tapi semua itu, sekarang tinggal kenangan. bisakah semuanya kembali dari awal dan tidak terulang kesalahan yang sama?.


Saat Aisyah selesai sarapan. seperti biasa dua keponakannya merengek padanya.


"Bulek. bulek kemana aja?.", tanya Ning Dija.


"Shofy, nyariin bulek terus.", sambungnya.


"Bulek, bener ndak bisa lihat?.", tanya Ning Shofy. kedua keponakannya itu duduk di samping kanan dan kirinya di ruang tengah sebelah ruang makan.


Aisyah tersenyum dan mengangguk mendengar pertanyaan dari Ning Shofy.


"Bulek, emang habis dari mana?.", tanya Dija.


"Kata Mimi, bulek jalan-jalan. kok Shofy, gak di ajak.?!", celotehnya.


"Saya, ndak bisa ajak Ning Shofy.", jawabnya singkat.


"Bulek. nanti cerita, nabi Hud. di sambung lagi ya?.", pintanya. yang membuat Aisyah terdiam.


Ya. Aisyah cukup dekat dengan kedua putri Ning Nafis ini. semenjak ia masuk ke ndalem, kedua putri Gus Ma'adz sangat menyukainya. mereka bahkan mengatakan lebih sayang bulek dari pada Mimi.


Itu karena Aisyah selalu berusaha menuruti keinginan mereka. sedang Mimi lebih suka kalau anak-anak jadi anak yang penurut.


Dan rutinan Aisyah dengan kedua keponakannya ini adalah, bercerita sebagai pengantar tidur bagi Ning Dija dan Ning Shofy. biasanya, Aisyah menceritakan kisah nabi-nabi untuk mereka di depan TV ruang tengah. saat mereka tidur, barulah Gus Ma'adz menggendong mereka ke ndalem Gus Ma'adz untuk ditidurkan di kamar masing-masing.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺 TO BE CONTINUED 🌺

__ADS_1


__ADS_2