Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 101


__ADS_3

Perjalanan Gus Ma'adz selama empat puluh lima menit akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sakit, tempat adiknya di rawat, setelah berpisah dari rombongan keluarganya dan memilih turun di tol Ngawi.


Begitu turun, ia segera mencari kendaraan lain untuk menuju rumah sakit. hingga akhirnya, ia mendapat ojek online dan segera di antar ke rumah sakit.


Setelah membayar ongkos. Gus Ma'adz bergegas masuk ke rumah sakit. dengan langkah lebar dan tergesa-gesa ia menyusuri koridor, menuju ruangan tempat adiknya di rawat.


"Assalamualaikum.", ucapnya, seraya membuka pintu.


"Waalaikum salam.", jawab Aisyah dan mas Raihan yang berada dalam ruangan.


Gus Ma'adz memasuki kamar itu, ia melihat Aisyah nampak kelelahan. bukan hanya lelah jasmani, rohani nya juga lelah. adik iparnya itu nampak sedang duduk bersandar di sofa kamar.


"Maaf, telat.", ucapnya sesaat kemudian setelah ikut duduk bersama Aisyah dan mas Raihan.


"Gimana, mas?!.", tanya Gus Ma'adz pada mas Raihan. ia ingin tau lebih rinci mengenai kedatangan polisi tadi. mengingat, saat ia sampai para petugas itu sudah pergi.


Mas Raihan menghela nafas. ia lantas mengajak Gus Ma'adz keluar untuk membicarakannya. ia ingin adiknya tenang sejenak.


Pintu kamar ditutup, setelah mas Raihan dan Gus Ma'adz keluar.


Aisyah menghampiri suaminya yang masih belum sadar juga. ini sudah hari ketiga, dan belum ada tanda-tanda ia akan membuka matanya.


Aisyah meraih tangan suaminya, begitu duduk di samping ranjang. ia tidak tau harus berkata apa, air matanya lah yang mewakili perasaannya saat ini.


Sedih melihat keadaan suaminya. susah dengan berita yang baru saja ia terima.


"Mas...", ia menghela nafasnya sejenak. menenangkan diri dan berusaha meredam tangisnya. ia tidak ingin suaminya mendengar isakannya. Gus Aham pasti sedih jika tau, ia menangis.


"Ayo bangun!.",


"Ada banyak yang ingin saya sampaikan dan ceritakan pada, njenengan.", ucapnya. tangannya masih menggenggam tangan suaminya. berharap Gus Aham bisa merasakan dan memberi respon padanya.


Ia menyembunyikan wajahnya di selimut suaminya pada akhirnya. isakannya tak terbendung lagi. ini bukanlah hal mudah baginya, dan ia merasa sedang melewatinya seorang diri. tangannya masih menggenggam erat tangan suaminya. tapi, Gus Aham tak kunjung memberikan respon padanya.


Tiba-tiba ia meredam tangisnya. mengusap bekas air mata yang mirip anak sungai, mengalir di kedua pipinya. ia menguatkan niatnya, berbuat sesuatu untuk suaminya.


"Nduk.", panggil Gus Ma'adz, ketika mereka memasuki kamar perawatan Gus Aham.


"Mas, mau pulang dulu. sekalian ngasih tau keluarga, masalah tadi.", ucap Gus Ma'adz, ketika sudah berada di depan adik iparnya. Aisyah menganguk, mengiyakan perkataan kakak iparnya.

__ADS_1


"Mas. saya, titip Aisyah dan Aham.", ucap Gus Ma'adz pada mas Raihan, yang juga di jawab anggukan.


"Seng sabar ya, nduk. tetep berdoa, istighfar. insyaallah ada jalan.",


"Ini nanti, mas mau jemput Abah dulu. terus lanjut nyari pengacara buat masalah e Aham.", ucap Gus Ma'adz. berharap adik iparnya sedikit tenang dengan ucapannya.


"Matur nuwun, mas.", ucap Aisyah. hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya. Gus Ma'adz menganguk, dan ia segera pamit undur diri, meninggalkan Aisyah dan Gus Aham serta mas Raihan, di ruangan itu.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Ibu datang di sore hari, membawakan baju ganti dan makanan untuk Aisyah.


"Assalamualaikum, nduk.", pintu terbuka. ibu segera masuk, Aisyah tiba-tiba langsung menubruk tubuh ibunya. ia memeluk ibunya erat.


Banyak yang ingin ia ceritakan. menanggungnya sendiri, sungguh terasa berat. tapi, ia tidak ingin membuat ibunya khawatir. jadilah, ia hanya memeluk tubuh ibunya. berharap, ada sedikit kelegaan di rongga dadanya.


Setelah beberapa saat, Aisyah melepaskan pelukannya. ibu mengajaknya untuk duduk.


"Makan dulu ya, nduk?!. ibu bawakan sambel bawang, sambel teri kemangi dan tempe goreng kesukaanmu.", ucap ibunya.


Ia sengaja membawa menu kesukaan putrinya, agar sang anak lahap makan. mengingat, mas Raihan tadi bercerita bahwa ada polisi yang datang kemari.


Ibunya paham. pikiran Aisyah sedang tak tenang sekarang. sekalipun, ia mencoba tetap tersenyum dan bersedia memakan bekal yang di bawa oleh ibunya. tapi ibunya tau, perasaannya, pikirannya sedang di aduk dan di hantui perasaan takut dan was-was.


Ibu masih memandang Aisyah yang tengah menikmati menu sederhana favoritnya. ya, hanya sayur bayam rebus yang di cocolkan ke sambel teri dan sambel bawang, serta lauk tempe. membuatnya makan begitu lahap. dan ibu sangat senang melihatnya.


Setidaknya, ibu tau. bahwa putrinya masih memiliki semangat di tengah keterpurukan nya kini.


"Teng nopo, Bu?!.", Aisyah berhenti makan. dan bertanya pada ibunya, saat ia menyadari bahwa ibunya terus memperhatikan nya.


Ibu hanya tersenyum. "Ndak apa.", jawabnya.


"Enak?!.", sambung ibu. menanyakan rasa masakan nya pada sang putri.


"Iya.', jawab Aisyah, menganguk.


"Bu...", panggilnya, saat ia selesai menyantap makanan yang di bawa ibunya.


"Aisyah kemarin, ikut tes ginjal. dan hasilnya cocok.", ucapnya pelan.

__ADS_1


Ibu terlihat menghela nafas. ia tau, kemana arah percakapan ini. mengingat, mas Raihan sudah pernah mengatakan padanya.


"Kalau kamu yakin, bismillah saja. ibu hanya bisa bantu doa.", sahut ibunya. Aisyah mendongak senang menatap ibunya, yang mengizinkan ia mendonorkan ginjal nya pada sang suami.


"Tapi, Bu. masalah Ummi, Abah dan keluarga ndalem....,


"Ibu tau. ibu, ndak akan bilang. ibu akan bantu rahasiakan.", sahutnya.


"Matur nuwun, Bu.", ucapnya. ia memeluk ibunya.


Entah kenapa?!. ada rasa ngilu yang menggores hati ibu, membuatnya meneteskan air mata dipelukan putrinya.


"Tapi berjanjilah!. kalian akan baik-baik saja.", ucap ibu setelah melepas pelukannya dan menghapus air matanya. Aisyah mengangguk mengiyakan permintaan ibunya.


Ponselnya berdering syahdu. Aisyah melihat sebuah nama di layar ponsel.


"Assalamualaikum, Ummi.", ucapnya. menyapa mertuanya di seberang sana.


"Waalaikum salam, nduk.",


"Wonten nopo, mi?!.", (ada apa, mi?!).",


"Ma'adz, nek kono?!. enek opo, nduk?.", (Ma'adz, disana?!. ada apa, nduk?!).",


"Ndak ada apa-apa. hanya, pendonor ginjal buat Gus Aham, sudah ada, mi.",


"Alhamdulillah!.., sopo nduk?!.", ( Alhamdulillah!.., siapa nduk?!).",


"Orangnya, ndak mau di ketahui identitasnya. kita, cukup bersyukur aja ya, Ummi.", jawabnya. ia berbohong, dan hatinya terasa nyeri. tapi, untuk sementara ini, lebih baik begini.


"Iya, iya. nanti, Ummi sama Abah tak ke rumah sakit. kapan operasinya, nduk?!.",


"Nanti, kalau ada kabar lagi. Aisyah telepon, Ummi.", jawabnya.


"Yasudah. Ummi, tak bersih-bersih dulu, ya?!. baru sampai rumah ini, setelah ta'ziyah di Sarang.",


"Injih, Ummi. assalamualaikum.",


"Waalaikum salam.", jawabnya, yang membuat panggilan mereka terputus.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2