
Di waktu yang bersamaan. Gus Aham yang sedang sarapan bersama dengan para jama'ah, kyai sepuh dan habaib tidak sengaja menjatuhkan ponselnya.
Seketika, layar ponsel yang menjadikan foto istrinya sebagai wallpaper itu mati. padahal, jatuhnya tidak terlalu tinggi.
Perasaannya mendadak tidak enak, seketika ia ingat istrinya. ia mengambil ponsel itu, lalu berusaha menyalakannya, tapi ponsel itu tidak mau menyala kembali.
Ia mencobanya lagi. berusaha menekan tombol power lebih lama, untuk membuat ponselnya menyala kembali. tapi, nyatanya sama. nihil, tidak ada hasil.
"Kenapa, le?!.", tanya Gus Ma'adz. yang melihat adiknya panik dari tadi, sehingga tidak merespon ucapan salah seorang habaib yang bertanya padanya.
"Ponselnya, mati mas.", jawabnya, pelan.
"Habib Hasan, nanya kamu.", bisik Gus Ma'adz. yang membuat adiknya langsung menatap para habaib. Gus Aham tersenyum, untuk menghilangkan kecanggungan.
"Enek opo, le?!.", tanya habib Hasan.
"Mboten, yai. hp nya jatuh.", jawabnya.
"Insyaallah, seng nek omah sehat Slamet.", ( insyaallah, yang di rumah sehat, selamat).", ucap habib Hasan, seolah-olah tau kekhawatiran dan perasaan Gus Aham. Gus Aham tersenyum mendengarnya, ia mengangguk menyetujui ucapan habib Hasan.
"Usahamu opo, le?!.", tanya habib Hasan. di sela-sela menunggu sarapan datang.
"Kulo, ngelola yayasan anak jalanan, bib. usaha bengkel otomotif kaleh rumah makan.", jawabnya.
"Alhamdulillah. wes pirang tahun, yayasan e?!.",
"Gangsal tahunan, bib.", ( lima tahun an, bib ).",
"Apik, kuwi. tututkno!. insyaallah, barokah.", ucap habib Hasan, mendoakan Gus Aham dan menyenggol pundak Abah yang duduk di sampingnya.
"Amiin. matur nuwun, bib.", ucap Gus Aham, ia cukup senang usahanya untuk menolong anak-anak jalanan di apresiasi dan di doakan oleh seorang habib.
Aisyah kesakitan. ia mencoba berdiri, tapi perutnya sangat sakit.
"Ya Allah, Ning.", seru Kamila, yang baru saja datang ke Mahids dengan beberapa guru dan pengurus lainnya.
Buru-buru Kamila berlari ke gerbang. berharap ada yang bisa di mintai tolong.
"Mas!.", panggilnya. saat melihat seseorang , berjalan ke arah ndalem. orang yang tak lain adalah Riko, itu menoleh. ia melihat Kamila yang begitu terlihat khawatir dan ketakutan.
"Kenapa?!.", tanya Riko, setelah menghampiri Kamila.
"Ning Aisyah.", hanya itu yang terucap dari bibirnya. ia segera menarik tangan Riko menuju tangga Mahids.
Begitu sampai, Riko yang melihat Aisyah kesakitan, segera menggendong Aisyah. dan berlari membawanya ke ndalem.
__ADS_1
"Ya Allah. Ono opo Iki?!.", tanya Ning Nafis, yang berada di depan pintu ndalem, hendak ke pondok.
"Ning Aisyah, jatuh Ning.", sahut Kamila, yang ikut di belakang Riko.
"Ya Allah. ayo masuk.", ajak Ning Nafis.
"Enek opo?!.", tanya Ummi, yang keluar karena mendengar suara ribut di ruang tengah.
"Aisyah, Ummi.", jawab Ning Nafis.
Ummi melihat menantunya begitu kesakitan.
"Ya Allah.", gumam Ummi.
"Kita kerumah sakit, yo nduk?!.", ucap Ummi.
"Fis, minta tolong ke kang-kang untuk siapkan mobil.", perintah Ummi.
"Pake mobil saya saja, Bu nyai.", ucap Riko. menawarkan. tanpa pikir panjang, Ummi segera menyetujuinya.
Riko, segera membopong tubuh Aisyah keluar ndalem menuju mobilnya. tentu saja Ummi ikut masuk ke dalam mobil Riko.
Mobil Riko segera berjalan. mulai dari keluar pelataran ndalem dan menyusuri jalan, menuju rumah sakit terdekat agar Aisyah bisa segera mendapatkan pertolongan.
Sementara Ummi, tidak henti-hentinya menenangkan dan mengusap-usap perut menantunya. berharap bisa mengurangi rasa sakit yang sedang di rasakan Aisyah.
Mobil Riko sampai di pelataran rumah sakit. ia segera turun, lalu membuat pintu mobil bagian belakang dan segera membopong Aisyah.
Ia menidurkan Aisyah di atas brankar. lalu, membantu para perawat untuk mendorong brankar itu dalam ruang pemeriksaan. tidak kalah paniknya dengan Riko, Ummi hanya bisa mengikuti kemana Aisyah di bawa. raut wajahnya jelas khawatir. bibirnya tak henti-henti bergerak mengucapkan sholawat.
"Aisyah, masih di periksa. Bu nyai.", ucap Riko, ketika melihat Ummi duduk di ruang tunggu. ia baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.
Ummi terdengar menghela nafas berat. sorot matanya, mengucapkan terimakasih pada Riko, karena menolong Aisyah.
"Saya...", ucap Riko ragu. ia ingin mengatakan tujuannya datang ke pondok pagi ini, tapi melihat raut wajah Ummi yang begitu khawatir, ia tidak bisa melanjutkannya.
"Njenengan, ndak usah khawatir Bu nyai. insyaallah, Ais dan bayinya selamat.", ucapnya, menenangkan Ummi.
"Assalamualaikum.", sapa ibu dan Ning Nafis bersamaan. membuat Riko dan Ummi menoleh ke arah mereka.
"Waalaikum salam.", jawab Ummi dan Riko bergantian.
Ummi langsung saja menubruk tubuh besannya. Isak tangisnya yang sedari tadi tertahan, pecah seketika.
"Sepurone, yu. aku, ndak bisa jaga mantuku.", ucap Ummi, di sela-sela isak tangisnya.
__ADS_1
"Bu nyai, jangan gitu. ndak ada yang perlu di salahkan.", jawab ibu, membuat Ummi melepaskan pelukannya.
"Sekarang, Aisyah dimana Bu?!.", tanya ibu pada Ummi.
"Di dalem. belum tau keadaannya.", jawab Ummi. kali ini, tangisnya sudah mulai mereda. dan itu, membuat Ning Nafis mengajak Ummi untuk duduk, agar tenang.
"Ko?!.", panggil ibu, ketika melihat Riko ada disana juga.
"Bu.", sapanya.
"Matur nuwun.", ucap ibu. Riko nampak menghela nafas disana.
"Ibu, ndak perlu terimakasih sama saya. saya, hanya kebetulan ada disana.", jawab Riko.
"Ada perlu apa?!.", tanya ibu.
"Saya, ngundang Ais, Bu.", jawabnya.
"Untuk hadir di acara lamaran dan ijab qobul saya, sama dokter Fitri. bagaimanapun, kami teman sejak kecil. dan dokter Fitri, juga merupakan dokter ndalem. jadi, saya ke sana buat nganter undangan.", sambungnya, menjelaskan.
"Tapi, pas di jalan pulang. saya, ingat. kalau saya, sudah pindah rumah sakit. jadi, saya balik lagi buat nemuin Ais. saya, pengen ngasih tau dia aja.",
"Tapi, pas saya baru parkir di depan madrasah. turun, mau ke ndalem, saya di tarik sama santri.",
"Dia nyebut-nyebut nama Aisyah. saya, khawatir. jadi, saya ikut masuk madrasah saja. ndak taunya, Ais jatuh. dia udah kesakitan, pas saya datang.", ceritanya.
"Apapun itu. ibu, matur nuwun. kamu, bantuin Ais.", ucap ibu. ia masih bisa tersenyum pada Riko, bahkan saat belum mengetahui keadaan putrinya dengan jelas.
Seorang dokter umum keluar dari ruangan tempat Aisyah berada, semua segera berdiri.
"Bagaimana keadaan menantu saya?!.", tanya Ummi, yang langsung menghadang langkah dokter itu.
"Pasien, sudah lumayan membaik sekarang. tapi, bayinya mungkin harus di lahirkan lebih awal.", jawab dokter.
"Kenapa?!.", tanya ibu, ingin tau alasannya.
"Ketuban nya rembes, Bu.", jawab dokter.
"Apakah pernah mengalami persalinan prematur?!. atau ada riwayat keturunan kembar?!.", tanya dokter, lebih lanjut.
karena ketuban rembes biasanya terjadi karena dua faktor tersebut.
"Semuanya benar. tapi, itu tadi adik saya barusan jatuh di tangga.", jawab Ning Nafis.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
🌺TO BE CONTINUED 🌺