
Gus Aham baru saja memarkir mobilnya di garasi ndalem. waktu menunjukkan pukul sembilan lewat. ndalem tampak sepi, baik ndalem Abah maupun ndalem Gus Ma'adz.
"Assalamualaikum.", ucapnya. ia terus memasuki ndalem dan berjalan menuju kamarnya. biasanya, selarut apapun ia pulang. Aisyah pasti menyambutnya, tapi ini ndak ada siapa-siapa, sepi.
Sampai akhirnya Gus Aham membuka pintu kamarnya. ia sedikit terkejut pada awalnya. bagaimana tidak?!. banyak kertas lipat berbentuk burung tergantung di hampir semua sudut kamarnya, begitu juga dengan balon yang hanya diikat dengan benang dan menggunakan batu sebagai pemberatnya.
Ia tau siapa yang melakukan ini?!. siapa lagi kalau bukan kedua keponakannya, dan Aisyah pasti tidak bisa melarang mereka.
Gus Aham mulai berjalan memasuki kamar, di antara balon-balon yang menutupi pandangannya itu, terlihat sebuah pemandangan indah.
Ya, pemandangan itu tidak lain dan tidak bukan adalah Aisyah yang telah tertidur dengan kedua keponakannya di ranjang mereka. mereka terlihat manis, hingga membuat Gus Aham mengusap wajah dan menghapus air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Seandainya..., ia tak mau melanjutkan pengandai-andaiannya, itu tidak baik. satu-satunya cara adalah mengikhlaskan, ia tahu Allah sedang mempersiapkan hal terindah untuknya dan Aisyah.
Gus Aham menaruh tas berisi baju kotornya di sofa. ia masuk ke kamar mandi setelahnya. membersihkan diri dengan benar, sebelum akhirnya keluar dan berganti baju.
Ia mendekati ranjang lalu membenarkan selimut pada kedua keponakannya. Gus Aham beralih ke sisi Aisyah terbaring, lalu membenarkan selimutnya. sesaat ia mengecup kening istrinya. ada rasa, doa dan harapan yang mendalam tergambar jelas dari lamanya kecupan itu bersarang di kening istrinya.
Gus Aham beranjak. ia mengambil ponselnya, lalu memfoto kedua keponakannya. dan mengirimkan pada Gus Ma'adz.
"Mereka tidur disini malam ini, mas.", tulisnya di bawah foto itu. selanjutnya, Gus Aham naik keranjang disisi Ning Dija. ia ikut tidur di ranjang, persis seperti keluarga kecil yang bahagia.
Malam semakin larut. acara lamaran sekaligus ijab itu berakhir juga pada akhirnya. pukul sepuluh malam lewat tepatnya, Gus Ma'adz memarkir mobil Alphard milik Abah di garasi. disusul dengan mobil Honda Mobilio miliknya yang di supiri oleh kang ndalem. lalu, tak berselang lama mobil rombongan dari keluarga kang Mu'idz yang rencananya, menginap disini dulu, untuk malam ini.
Ya, kang Mu'idz berasal dari Jawa tengah. Ummi meminta mereka untuk istirahat di ndalem malam ini, agar besok mereka bisa melakukan perjalanan pulang dengan sehat dan selamat.
Ummi mengantarkan semua anggota keluarga kang Mu'idz ke kamar tamu yang sudah disiapkan oleh mba-mba ndalem.
Untuk tamu putra, mereka tidur di ndalem Gus Ma'adz.
"Bi, susul anak-anak gih?!.", ucap Ning Nafis begitu Gus Ma'adz masuk dan menutup pintu kamar.
__ADS_1
"Ndak usah disusul.", jawab Gus Ma'adz sambil melepas kopyah dan bajunya hingga memperlihatkan kaos dalamnya.
"Ndak usah disusul piye to, bi?. mereka pasti ngrepotin Aisyah.", ucapnya
"Mereka, sudah tidur.", jawab Gus Ma'adz. membuat Ning Nafis yang sedang duduk di depan meja rias untuk membersihkan wajah nya menoleh tidak percaya pada suaminya.
"Mosok?!.", tanya Ning Nafis tidak percaya. Gus Ma'adz menghampiri istrinya dan memberikan ponselnya. ia menunjukan foto yang dikirim oleh Gus Aham tadi.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Subuh menyapa, membuat Aisyah terbangun dari tidurnya. Gus Aham baru saja selesai dan keluar dari kamar mandi. ia sudah menyiapkan air mandi untuk istrinya.
"Assalamualaikum.", ucapnya. menyapa istrinya, karena semalaman saat ia pulang, istrinya sudah tertidur bersama keponakannya. Aisyah sedikit terkejut, namun segera tersenyum begitu menyadari bahwa itu suaminya.
"Mas, sudah siapkan air. kamu mandi dulu, ya?!.", ucap Gus Aham yang di jawab dengan senyuman dari Aisyah.
"Njenengan, ndak marah?!.", tanya Aisyah ragu, mengingat suaminya sangat suka dengan kabar yang bersih dan rapi. Gus Aham menghela nafas disana.
"Suatu hari nanti, kita pasti juga akan memiliki anak. dan mungkin, mereka lebih aktif dan lebih kreatif dari kakak-kakaknya.", ucap Gus Aham sambil memandangi kedua keponakannya yang masih terlelap di ranjangnya. Aisyah tersenyum mendengarnya.
Ia senang mendengar pemikiran suaminya. ia sendiri, juga berharap segera hamil lagi, mengingat ia sudah dua bulan lebih rujuk dengan Gus Aham.
"Mandi dulu, ya?!.", ucap Gus Aham mengusap rambut Aisyah. ia tersenyum, lantas segera turun dari ranjang dan berjalan memasuki kamar mandi.
Gus Aham naik ke ranjang dan mencoba membangunkan kedua keponakannya.
"Dija, Shofy. para keponakan yang cantik, ayo bangun!.", ucapnya sambil memberi sentuhan kecil agar kedua keponakannya bangun. dan hanya terdengar jawaban yang malas dari kedua keponakannya.
"Ayo, jama'ah sholat subuh.", ajaknya lagi, mencoba membangunkan kedua keponakannya.
"Udah pernah, pak lek.", jawab Ning Dija yang masih merem sekenanya.
__ADS_1
"Sholat, kok udah pernah ki, piye to?!.", tanya Gus Aham lagi, heran mendengar jawaban keponakannya.
"Emang udah pernah, pak lek.", jawabnya lagi.
"Ho'oh. wes tau.", sahut Ning Shofy, yang juga masih terpejam.
"Abi, mau ajak Ning Dija dan Ning Shofy, jama'ah?!.", ucap Aisyah yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan nada bertanya, seolah-olah Gus Ma'adz ada bersama mereka sekarang. sontak ucapan bulek nya itu, membuat mereka langsung bangun dan turun dari ranjang menuju kamar mandi, untuk mengambil air wudhu.
"Kamu?!.", ucap Gus Aham heran, tapi di sertai senyuman dengan tindakan istrinya. Aisyah hanya tersenyum di sana.
"Tega.", ucap Gus Aham beberapa saat kemudian.
Dua bocah kecil itu keluar dari kamar mandi.
"Mana, Abi?!.", tanya Ning Dija yang menerima handuk untuk mengelap wajahnya dari Aisyah.
"Abi, di ndalem. yu', sholat sama bulek sama pak lek.", ucap Aisyah. pada awalnya, dua anak kecil itu menuruti perintah Aisyah. sampai akhirnya, setelah selesai sholat subuh berjamaah. mereka baru sadar bahwa sudah di kerjain buleknnya. jadilah, mereka ngambek sampai waktunya sarapan pagi tiba.
Aisyah menggiring kedua keponakannya ke ruang tengah untuk sarapan bersama dengan semua anggota keluarga kang Mu'idz yang sudah menunggu disana. tapi, saat ia hendak sampai diruangan itu. ia mendengar beberapa orang membicarakannya.
"Padahal, sudah setahun lebih ya?!. kasihan, belum di kasih anak. Bu nyai, kok ya ndak nyuruh promil, ya?!.", celetuk salah seorang dari mereka.
"Iya. coba disuruh priksa. biar tau yang bermasalah Ning e opo Guse?!.", sahut yang lain.
"Bulek?!.", panggil Ning Dija yang melihat buleknnya berhenti di samping ruang tengah. Aisyah mencoba tersenyum, ia menyuruh kedua keponakannya untuk masuk ke ruang tengah lebih dulu.
"Kalian, duluan ya?!. bulek, mau bantu mba ndalem.", ucapnya. yang di angguki oleh kedua keponakannya. Ning Dija dan Ning Shofy pun masuk ke ruang tengah dan bergabung dengan anggota keluarga yang lain.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺
__ADS_1