
"Saya, tidak pernah ingin terikat lagi dengan, njenengan. tapi njenengan selalu memaksa. menarik saya, lagi dan lagi.
"Saya, tidak bisa hidup dengan orang yang tidak percaya pada, saya. tidak mencintai saya bahkan meragukan diri saya.", Aisyah mulai berteriak, mengeluarkan semua uneg-uneg di hatinya.
"Tapi, njenengan. selalu menarik, saya. memaksa saya kembali ke sisi njenengan lagi, dan lagi. saat semuanya sudah berjalan sedikit baik, saat saya sudah mulai bisa tersenyum dan mencintai, njenengan. njenengan akan dengan mudahnya melempar, saya. mengacuhkan, saya dan menganggap saya tidak ada.",
"Saat saya, mulai berhenti. ganti njenengan yang datang menghampiri, menawarkan semua obat untuk luka, saya. lalu, jika saya membaik. pasti njenengan akan menyakiti saya lagi, kan?!.",
"Saya, lelah. tidak mau lagi merasakan sakit. saya, menyerah. tidak mau bertahan lagi dengan, njenengan. bisakah njenengan, melepaskan saya sampai disini?!.", tanyanya. air matanya tak lagi bisa di bendung.
"Kita akan memperbaiki semuanya lagi, sayang.", ucapnya. Aisyah hanya tersenyum dan menggeleng. ia beranjak pergi tapi Gus Aham menarik nya karena ada mobil lain yang melintas dan hampir menabrak Aisyah.
Aisyah dan Gus Aham terjatuh. Aisyah mencoba segera bangun saat menyadari apa yang mereka lakukan. ya, Aisyah jatuh menimpa tubuh Gus Aham.
Aisyah mencoba berdiri, tapi ia tidak bisa. kakinya terkilir. Gus Aham yang melihat hal itu segera meraih tubuh istrinya dan menggendongnya. kebetulan hotel, sudah tidak terlalu jauh mungkin sekitar lima ratus sampai tujuh ratus meter.
"Apa yang njenengan lakukan?!. turunkan, saya!.", ucapnya. tapi Gus Aham tidak menggubrisnya. ia tetap berjalan dan menggendong Aisyah hingga sampai kamar hotel tempat mereka menginap.
Ia mendudukkan Aisyah di ranjang. lalu mengambilkan handuk dan handuk kimono untuk istrinya. Gus Aham meletakkan handuk kimono pada tubuh Aisyah yang masih mengenakan pakaiannya yang basah. sedang Gus Aham mengeringkan rambut Aisyah dengan handuk.
Setelah dirasa rambutnya cukup kering. Gus Aham meninggalkannya, masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Suara shower dan air bergemericik menyentuh lantai. Aisyah memandang pintu kamar mandi dengan mata nanarnya. tak terasa air mata jatuh mengalir di pipinya.
Ada rasa penyesalan di hatinya, tapi juga ada rasa kecewa. ntah kecewa pada siapa?!, pada dirinya sendiri atau pada suaminya.
Aisyah sudah tertidur ketika Gus Aham keluar dari kamar mandi. sementara baju basah Aisyah telah berganti dengan kimono handuknya.
Gus Aham membereskan baju basah Aisyah yang tercecer di dekat ranjang. ia membawa baju itu dan memasukkannya ke keranjang.
Ia kembali untuk mengecup kening Aisyah setelah beberapa saat lamanya memandangi wajah gadis yang dicintainya. ada rasa penyesalan tersirat di mata dan wajahnya. penyesalan yang terlambat pastinya, karena tidak berfikir panjang saat itu. ia menyelimuti Aisyah sebelum akhirnya pergi ke balkon.
__ADS_1
Gus Aham duduk di kursi, ia mulai menyalakan korek dan menyulut rokok. sudah lama, ia tidak merokok. itupun atas permintaan Ummi yang mengkhawatirkan kesehatannya. malam ini, ia merokok lagi.
Gus Aham bersandar, memejamkan matanya. ia merasa penat dan lelah tapi tidak mau menyerah. bagaimanapun, semuanya terjadi karena dirinya. jadi, ia tidak menyalahkan Aisyah bila semuanya jadi seperti ini.
Ia hanya menyayangkan tindakannya waktu itu. ia begitu egois, begitu ceroboh dan gegabah. tidak ada wanita, yang tidak akan kecewa bila diperlakukan sama dengan Aisyah.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Waktu menunjukkan jam dua dini hari lewat. Aisyah terbangun, ada yang memakaikan selimut pada tubuhnya. tapi kemana orang itu?!.
Ia duduk di tepian ranjang dan nampak berfikir meliputi baju basahnya sudah tidak ada disana. ia mencium aroma asap rokok dan melihat sosok yang sangat ia kenal di balik tirai yang menutupi jendela balkon kamarnya.
Ia berjalan ke jendela itu dan mengintip dari balik tirai. sedikit terkejut, karena tidak pernah melihat suaminya merokok.
Mendadak ia khawatir karena ingat pesan Ummi.
"Aham, ndak ngerokok. karena punya penyakit bronkitis sejak lahir. jadi, mau maem sebanyak apapun ndak akan bisa gemuk, nduk.",
Gus Aham memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya disana. raut wajahnya nampak lelah. ia mengangkat tangannya, lalu menghisap rokok nya. matanya tetap terpejam.
Sesaat terdengar suara batuk keluar dari bibirnya, dan nafasnya terlihat sedikit berat setelahnya. wajahnya juga nampak sedikit pucat, sementara bibirnya sedikit membiru.
Aisyah mendekatinya. ia berjongkok di depan tempat Gus Aham duduk. meraih rokok yang tersisa di tangannya, lalu membuangnya. Gus Aham membuka matanya karena merasa ada yang datang menghampirinya.
Ia melihat istrinya berjongkok di depannya dan menangis.
"Sudah bangun?!.", tanya Gus Aham yang melihat Aisyah menunduk. suaranya terdengar berat, nafasnya juga terdengar tidak bisa lega. ia memejamkan mata beberapa kali untuk menarik nafas, terasa ada sedikit nyeri di dadanya, tapi lebih nyeri bila melihatnya istrinya menangis.
Gus Aham yang tidak mendapat jawaban dari istrinya segera merangkup kedua pipi Aisyah dan mengangkatnya.
"Kenapa?.", tanya Gus Aham yang melihat istrinya menangis lagi.
__ADS_1
"Mas, salah lagi?.",
"Coba bilang!, salahnya dimana?. mas, akan memperbaikinya.", pertanyaan nya tidak mendapat jawaban dari istrinya.
"Mas, banyak salah ya?!. makanya, kamu sering nangis.", ucapnya lagi.
"Mas, emang gak tau diri. egois, nuruti mau sendiri. tapi itu karena, sayang. mungkin, Sayange mas berlebihan.", ucapnya. Aisyah hanya menggeleng mendengar ucapan suaminya. Gus Aham juga mulai menangis.
"Apakah semuanya akan baik-baik saja, kalau kita bersama lagi?!.",
"Apakah njenengan bisa jamin, saya ndak akan sedih lagi?!.",
"Apakah semua yang sudah lewat tidak akan terulang lagi?!.
"Apakah njenengan, bisa percaya saya?!. tanpa percaya pada apa yang hanya njenengan dengar?!.",
Aisyah memberondong Gus Aham dengan semua pertanyaan yang sudah lama menari-nari di benaknya. dengan semua imajinasi dan kilatan masa lalu yang menyakitinya.
"Apakah njenengan tidak akan meragukan saya lagi?!.", semua pertanyaan nya di jawab dengan anggukan cepat oleh suaminya.
"Tidak lagi. mas, janji!.", Gus Aham yang juga tidak bisa lagi menahan air matanya itu hanya bisa berucap demikian. ia tidak tau lagi harus berucap apa?!. ia hanya ingin memeluk Aisyah dan menenangkannya. sudah cukup banyak air mata yang di tumpahkan istriku karena kesalahannya. dan ia menyesali itu.
Ia hampir saja kehilangan hubungan, status dan hak nya sebagai suami saat Aisyah memintanya untuk melepaskan. kini istrinya datang dengan sebuah harapan besar padanya dan ia tidak akan menyia-nyiakan nya.
"Bisakah, kita memulai semuanya dari awal?!. kita berteman dulu tapi tetap dalam hubungan dan status pernikahan.", pinta Aisyah. yang di setujui suaminya dengan anggukan.
Gus Aham meraih tubuh istrinya yang terduduk di lantai. ia menggendong Aisyah masuk ke kamar dan menidurkan diranjang. ia menyelimuti istrinya dengan penuh kasih, lalu berjalan ke sisi lain tempat tidurnya dan ikut masuk ke ranjang.
"Sini. tidur yang nyenyak.", ucap Gus Aham menarik Aisyah untuk tidur di dadanya seperti dulu. tangan Aisyah menggenggam erat tangan Gus Aham melewati sela-sela jarinya. ia berharap penuh kali ini, berharap ikatan ini akan abadi.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
🌺TO BE CONTINUED 🌺