
Sebagai seorang pria, Riko membukakan pintu untuk dokter Fitri. setelah dokter Fitri masuk, Riko segera menutup pintu mobil nya.
Ia berjalan ke sisi mobil lainnya, masuk serta duduk di belakang kemudi.
Mobil mulai melaju, tapi tidak ada percakapan di antara mereka. suasana terasa canggung.
Apalagi Riko sesekali melirik dokter Fitri dengan tatapan tidak nyaman. membuat dokter Fitri risih, dan merasa tidak nyaman.
"Berhenti!.", ucap dokter Fitri, tiba-tiba. tapi Riko masih melajukan mobilnya.
"Berhenti, aku bilang!.", ucapnya, lebih keras. membuat Riko segera merendahkan laju kendaraannya, dan menepikan mobilnya.
"Kenapa?!. kamu, mau ke toilet?.", tanya Riko. yang mana, pertanyaan itu malah membuat dokter Fitri, semakin kesal.
Riko yang tidak tau apa-apa, hanya mengerutkan keningnya melihat ekspresi wajah dokter Fitri yang kesal.
"Kenapa?!.", tanya Riko lagi. dokter Fitri menghela nafas dalam disana.
"Seharusnya, saya yang tanya sama njenengan. kenapa dari tadi ngeliriknya ndak enak?!. ada yang salah sama penampilan, saya?!.", ucap dokter Fitri, yang suka langsung to the points. membuat Riko langsung terdiam.
"Ayo, jawab kenapa?!.", tanyanya lagi. membuat Riko menghela nafas, lalu berdehem. ia bingung, bagaimana mengatakan nya.
"Mm..., kamu nggak ngerasa dingin?!.", tanya Riko ragu-ragu.
"Nggak, kenapa?!.", dokter Fitri menjawab dengan pertanyaan.
"Bajunya, kan cuma segitu.", jawabnya ragu dan lirih, tapi terdengar jelas di telinga dokter Fitri. membuat gadis cantik itu, menggembungkan pipinya.
Riko yang melihatnya ngambek agak takut juga. ia bingung mau berkata apa?!. sementara dokter Fitri sudah melipat kedua tangannya di depan dada dan terlihat sangat kesal.
"Ma...,
"Njenengan, maunya saya dandan kaya' gimana sich?!. kaya' Ning Aisyah?!.", tanyanya ketus. menyahut ucapan Riko yang urung selesai.
"Yang pakai daster dan gamis kemana-mana?!.",
__ADS_1
"Kalau, njenengan masih terobsesi dengan Ning Aisyah, ndak usah ngajak saya untuk memulai hubungan kita dari awal.", ucapnya. lantas dokter Fitri, membuka pintu mobil Riko dan turun. ia meninggalkan Riko, yang masih berusaha membuka pintu mobilnya.
"Tunggu!.", ucap Riko, setelah berhasil mengejar dan menarik tangan dokter Fitri. dokter Fitri, berhenti. ia menunggu penjelasan dari Riko.
Sedang Riko, melepas jaketnya. sehingga menampakkan kaos lengan pendek se siku yang ia pakai.
Di pakaikan nya jaket kulit miliknya, di tubuh dokter Fitri untuk menutupi dress selutut yang memiliki model terbuka di bagian atasnya. ia mengancingkan dengan benar resleting jaketnya, agar tubuh bagian atas dokter Fitri tidak di lihat orang.
Dokter Fitri, hanya diam melihat perlakuan Riko untuk nya?!. apa artinya ini?. Riko peduli kah?!. sehingga tidak ingin ada orang lain yang melihat tubuhnya?!, dokter Fitri nampak berpikir. wajahnya, terlihat menahan malu dengan sikap dan ucapannya barusan.
"Wanita, itu terhormat. setiap wanita, dilahirkan dengan kecantikan sempurna.", ucap Riko.
"Kecantikan seorang wanita, itu relatif. dan seorang wanita akan lebih terhormat dan lebih cantik, saat ia menutup aurat nya.",
"Hanya memperlihatkan kecantikan luar dalam nya pada sang suami.",
"Kalau di luar, cukup bersikap lemah lembut, ramah. dan, sebaiknya menutup aurat, agar tidak mengundang syahwat.", ucap Riko, pelan. membuat dokter Fitri terdiam dan menunduk malu.
"Maaf, ya?!.", ucap Riko, pelan. namun dokter Fitri bisa merasakan ketulusan dari setiap ucapannya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Nyonya Aisyah, silahkan masuk.", ucap seorang perawat dari pintu ruangan dokter spesialis kandungan di rumah sakit RSIA putri, Surabaya.
Akhirnya, setelah menunggu cukup lama. ia di panggil juga. Gus Aham segera mendorong kursi roda, yang di naiki istrinya. sementara perawat yang mengikuti mereka menunggu di luar ruangan.
Aisyah dan Gus Aham masuk. nampak seorang dokter kandungan wanita sudah menunggunya.
"Silahkan, naik ke ranjang.", ucap seorang perawat, yang segera membuat Gus Aham menggendong tubuh istrinya ke ranjang pemeriksaan.
Perawat itu, nampak menyelimuti tubuh bagian bawah milik Aisyah. lalu membuka baju yang menutupi perut Aisyah. lantas perawat itu, mengoleskan gel di perut Aisyah. untuk sesaat Aisyah merasakan dingin dari gel yang menempel di perutnya, sebelum akhirnya di ratakan oleh perawat tersebut.
Tak berselang lama, dokter yang sedari tadi duduk di tempat kerjanya menghampiri Aisyah yang sedang terbaring.
Dokter mulai menempelkan sebuah alat di perut Aisyah, yang mana langsung memperlihatkan sebuah janin kecil di layar monitor.
__ADS_1
Di usia kehamilan nya yang menginjak usia 8 Minggu, terlihat di layar monitor bentuk dari janin kecil yang nyaman di perutnya
"Bentuknya sempurna ya, pak, Bu?!.", ucap dokter, memperlihatkan layar pada Gus Aham dan Aisyah.
Gus Aham takjub dan terharu melihatnya. itu adalah bagian kecil dari dirinya dan Aisyah.
"Ukuran nya, masih sebesar kacang merah bunda. tapi ini normal, dan sudah sesuai, ya?!.", sambungnya. Aisyah terlihat tersenyum haru, ia nampak beberapa kali mengusap matanya, yang tak kuasa membendung aliran air matanya.
Gus Aham mencoba menenangkan istrinya, dengan menggenggam tangan Aisyah,di sisi ranjang yang lain. ia nampak mengecup tangan istrinya beberapa kali.
"Sekarang panjangnya, masih sekitar 2,8 sampai 2,9 centimeter, sangat bagus. sepertinya dia lebih tinggi nantinya.", ucap dokter itu. yang membuat Aisyah tersenyum dan menoleh ke arah suaminya. Gus Aham pun membalasnya.
"Dan wajahnya....", dokter itu, memperlihatkan wajah dari bayi mereka.
"Lihat!. mirip siapa kira-kira?!.", tanya dokter itu, melirik dan tersenyum pada Aisyah serta Gus Aham bergantian.
"Mirip siapapun, yang penting sehat.", jawab Gus Aham, yang di angguki oleh Aisyah. dokter tersenyum mendengar jawaban pasangan yang penuh kasih sayang ini.
"Mata, telinga, hidung, bibir sudah lengkap ya bund?!.", ucapnya. seraya memperjelas gambarnya.
"Mau di cetak?.", tanya dokter itu. Aisyah menoleh pada suaminya, untuk menjawab. tapi, Gus Aham mempersilahkan ia menjawab sendiri sesuai keinginannya.
"Tidak.", jawab Aisyah. ia menggeleng untuk meyakinkan tidak ingin mencetak hasil USG itu. biarlah, hanya ia dan suaminya yang tau bagaimana rupa janin yang sedang berkembang di perutnya.
"Baiklah. sudah selesai.", ucap dokter itu.
"Sus, tolong di bantu ya?!.", perintahdokter itu, sementara ia segera pergi ke mejanya untuk menulis laporan hasil pemeriksaan Aisyah, yang harus di serahkan ke klinik tempatnya di rawat.
Perawat itu mengelap gel yang tersisa di kulit perut Aisyah. lalu, membantunya merapikan pakaiannya dan melipat selimut yang sedari tadi menutupi tubuh bagian bawah dari Aisyah.
Setelahnya, Gus Aham segera menggendong istrinya untuk di duduk kan di kursi roda.
Saat Gus Aham mendorong kursi roda istrinya, perawat yang mengantarkan mereka dengan surat rujukan sudah berada di dalam ruangan. menunggu hasil pemeriksaan kandungan Aisyah yang sedang di tulis oleh dokter spesialis kandungan itu.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
🌺TO BE CONTINUED 🌺