
Pagi menjelang. Gus Aham, sedari subuh sudah bangun lebih dulu. ia mempersiapkan air mandi hingga baju ganti untuk istrinya.
Ia ingat dengan jelas. dulu, istrinya pasti mandi sebelum melakukan sholat subuh, berganti pakaian dan siap ke mushola untuk membantu Ummi menyimak setoran Qur'an santri yang hafalan. jadilah sekarang, meskipun ia masih di panti, Gus Aham melakukan hal yang sama.
Beberapa saat setelah Gus Aham selesai menyiapkan semua kebutuhan istrinya, Aisyah bangun. segera ia menghampiri istrinya.
"Mau mandi?. airnya sudah mas siapkan.", ucapnya. Aisyah diam duduk di tepian ranjang.
"Ayo, mas bantu!.", sambung Gus Aham yang melihat Aisyah hanya diam.
Gus Aham mengangkat tubuh Aisyah. membuatnya sedikit terkejut dan refleks mengalungkan tangannya ke leher Gus Aham.
Sampai di kamar mandi, Gus Aham menurunkannya.
"Mau mas, bantu?.", tanyanya.
"Tidak.", jawabnya cepat. Gus Aham tersenyum melihat pipi istrinya yang terlihat memerah karena malu itu.
"Baiklah. mas, tunggu di luar. harus cepat ya?!, karena kita mau jama'ah sholat subuh.", ucapnya mengingatkan. lalu menutup pintu kamar mandi.
Gus Aham tetap berjaga di luar kamar mandi untuk memastikan keadaan istrinya aman. ada rasa khawatir, mengingat istrinya tidak bisa melihat sekarang.
Terdengar gemericik air untuk waktu yang cukup lama, sampai akhirnya Aisyah membuka pintu kamar mandi.
"Pegang lengan, mas!.", Gus Aham mengulurkan lengannya yang terbalut lengan panjang dari baju agar Aisyah bisa berpegangan padanya dan tidak membatalkan wudhunya.
Aisyah menurut dan melakukannya. ia menggamit lengan Gus Aham dan mulai berjalan pelan-pelan.
Sementara Aisyah duduk di tepi ranjang dan berganti baju, Gus Aham masuk ke kamar mandi untuk wudhu. dan saat ia kembali, Aisyah sudah siap menunggunya untuk jama'ah sholat subuh dengannya.
Mereka pun melaksanakan sholat dua rakaat secara berjamaah dan di lanjut dengan berdoa setelah sholat selesai.
Setelah selesai, seperti biasa. Aisyah muroja'ah hafalannya, sedang Gus Aham sibuk memainkan ponselnya. mengecek semua laporan dan data yang dikirimkan lewat email oleh orang-orang kepercayaannya.
__ADS_1
"Tok...
"Tok...
"Tok...
Pintu kamar di ketuk, segera Gus Aham membukanya. terlihat mba Yati yang sudah berdiri di depan pintu.
"Di tunggu sarapan, Gus.", ucapnya. menyampaikan pesan ibu yang sudah menunggu di meja makan bersama dengan mba Amira, mas Raihan dan Abel.
"Iya mba. terimakasih.", jawabnya. setelah mba Yati pergi, Gus Aham segera menutup pintu, lalu menghampiri Aisyah yang masih mengaji.
"Mba Yati datang. katanya, kita di tunggu ibu dan yang lain buat sarapan, sayang.", ucapnya ketika sudah berada di samping istrinya.
Aisyah tidak menjawab. ia hanya menutup Qur'an nya, lalu melepas mukenanya. Gus Aham segera menaruh Qur'an di meja samping ranjang, lalu menyingkirkan meja kecil yang di gunakan Aisyah untuk mengaji tadi agar istrinya bisa turun dari ranjang.
Gus Aham menuntun Aisyah memasuki ruang makan. sebelum duduk, ia terlebih dahulu mengambilkan kursi untuk Aisyah, barulah ia duduk setelah istrinya duduk dengan benar.
Gus Aham mengambilkan nasi, sayur, lauk dan minum untuk Aisyah.
"Saya bisa sendiri, Gus. saya, bukan orang cacat yang hanya bisa nyusahin orang lain", jawabnya. membuat ibu, mas Raihan dan mba Amira terkejut dengan sikap dan perkataan Aisyah. ia seakan ingin mengeluarkan semua kekecewaan dan kekesalannya atas pernikahan ini. tapi Gus Aham hanya tersenyum mendengar jawaban dari istrinya.
Bukankah untuk mendapatkan sesuatu hanya bisa di peroleh dengan sebuah kesabaran dan usaha?!.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Sore menjelang, Gus Aham dan Aisyah bersiap ke ndalem.
"Ndak usah bawa baju. semua baju sudah di siapkan, Ummi.", ucap Gus Aham pada Aisyah yang duduk di tepi ranjang. sedang Gus Aham mengemas baju gantinya selama tinggal dirumah Aisyah.
Aisyah hanya diam. dulu, sewaktu ia mau di bawa ke ndalem juga Gus Aham mengatakan hal yang sama. baju untuk Aisyah sudah di siapkan, semua baju baru. jadi ia tidak perlu membawa baju ganti dari panti.
Itu dimaksudkan, agar bila Aisyah ingin menginap di panti. ia tidak perlu membawa baju ganti lagi. jadi di ndalem ada, di panti juga ada baju ganti.
__ADS_1
Sekarang, Gus Aham mengatakan hal yang sama. mungkin agar nanti, saat ia pergi tidak perlu membawa baju lagi, seperti kemarin saat pergi dari rumah ke Ampel. pikirnya.
"Sudah siap?.", tanya Gus Aham. Aisyah hanya mengangguk. Gus Aham segera menuntun Aisyah untuk keluar kamar. ibu, mas Raihan dan mba Amira sudah menunggu di ruang tamu.
Ibu dan mas Raihan segera berdiri begitu melihat Aisyah masuk ke ruang tamu. di susul mba Amira kemudian.
"Sini, nduk.", ucap ibu, yang berjalan ke arah Aisyah. lalu menuntunnya untuk duduk di kursi tamu.
"Baik-baik disana ya, nduk?.", ucap ibu. mengelus rambut anaknya. Aisyah hanya diam, ia tak menjawab baik dengan ucapan ataupun gerakan.
Semua tau Aisyah kecewa dengan keputusan keluarganya, tapi yang terjadi memang harus seperti ini. ibu melepas pelukannya, merasa bersalah dengan Aisyah karena tidak bisa menuruti permintaannya, untuk tidak rujuk dengan Gus Aham.
Mba Amira berjalan mendekat, lalu memeluk Aisyah.
"Sehat-sehat ya, nduk?!. kalau kangen, minta saja, Gus Aham untuk nganter ke sini.", ucapnya. lalu melepas pelukannya.
Amira mundur, untuk memberi ruang pada mas Raihan yang hendak memeluk Aisyah.
"Baik-baik disana. kalau ada apa-apa, jangan lupa telfon, mas.",
"Ingat!, ada mas disini, yang selalu siap jadi tameng pertama kali buat Syasya.",
"Insyaallah, semuanya akan baik-baik saja. Syasya percaya, mas. kan?!.", bisiknya ketika memeluk adiknya. dan pada saat itulah, wajah Aisyah yang sedari tadi tidak menunjukkan ekspresi apapun, terlihat sedih. air matanya mulai menetes. tangannya mulai bergerak meraih tubuh mas Raihan, ia membalas untuk memeluknya. setelah hanya diam dan tidak membalas pelukan ibu dan mba Amira.
Gus Aham berpamitan pada ibu dan mba Amira. setelah Aisyah dan mas Raihan melepaskan pelukannya, barulah Gus Aham berpamitan pada kakak iparnya.
"Jaga baik-baik, adikku. jika terjadi sesuatu padanya, aku sendiri yang akan membawa dia pergi dan memisahkan kalian berdua.", ucap mas Raihan. berpesan sekaligus mengancam. dan Gus Aham hanya tersenyum seraya mengangguk mendengar ancaman kakak iparnya.
Ibu, mas Raihan dan mba Amira mengantarkan mereka hingga teras panti. sementara Gus Aham menuntun Aisyah untuk masuk ke dalam mobil. kali ini ia membawa mobil BMW, mengingat mobil Jeep Rubicon nya terlalu tinggi. khawatir istrinya kesusahan saat naik dan turun, mengingat kondisi Aisyah saat ini.
Begitu istrinya duduk dengan benar, Gus Aham segera menutup pintu mobil. lalu berjalan ke sisi mobil yang lain, naik dan menutup pintu mobil. lalu mulai menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
🌺TO BE CONTINUED 🌺