Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 145


__ADS_3

Karena prosedur operasi sudah di penuhi. maka, mulai hari ini Aisyah harus berpuasa makan dan minum, sebagai salah satu syarat sebelum operasi di lakukan.


Operasi akan dilakukan besok pagi, setelah sholat subuh. pukul enam pagi tepatnya.


Dan seharian ini, baik dari keluarga Ummi dan Abah, serta ibu, mas Raihan dan mba Mira bergantian datang ke rumah sakit untuk menemani Aisyah, serta memberi support.


Lumayanlah, untuk mengalihkan rasa sakit dan nyeri pada perutnya yang lebih sering datang. terutama, sore ini.


Ya, sudah sedari sore menjelang maghrib, Aisyah merasakan nyeri dan sakit perut yang lebih intens.


Dokter bilang, itu efek obat perangsang. tapi meskipun begitu, tidak ada tanda-tanda bayi yang berusaha turun untuk membuka jalan lahir, setelah dokter memeriksanya. jadi kemungkinan, Aisyah merasakan nyeri karena kondisi bayi mereka, yang kekurangan air ketuban.


"Mas, malam ini tidur disini ya?!.", ucap mas Raihan, pada mba Mira yang sedang mengupas kan buah pear untuk suaminya.


"Terserah, njenengan. tapi, nanti mas anter aku pulang dulu. kasian Abel sama Michael.", jawab mba Mira. ia nampak sibuk memotong buah itu, lalu menyuapkan pada bibir mas Raihan. sementara Gus Aham lebih sibuk mengusap perut istrinya untuk mengurangi rasa nyeri yang sering datang.


"Mas, kalau njenengan tidur disini. besok, ibu ke sini sama siapa?!", tanya mba Mira, sesaat kemudian. membuat suaminya nampak berpikir sesaat. ia terlihat mengangguk-angguk kan kepalanya.


Setelah di rasa cukup menemani adiknya, mas Raihan dan mba Mira pamit pulang. ya, ada kedua anak mereka yang sedang menunggu di rumah. dan lagi, besok ia harus mengantar ibu ke rumah sakit. jadilah, mas Raihan mengurungkan niatnya untuk tidur di rumah sakit.


Selain itu, adiknya juga harus segera beristirahat untuk operasi besok. jadi saat jam menunjukkan pukul delapan lewat mereka pamit.


"Hati-hati di jalan, mas.", ucap Gus Aham, ketika mas Raihan memeluknya.


"Insyaallah. titip Aisyah, ya?!. kalau ada apa-apa cepat telepon, mas.", jawabnya, sembari melepaskan pelukannya dari Gus Aham.


"Cepat istirahat ya, nduk.", ucap mba Mira. ia nampak meraih tubuh adik iparnya dan memeluknya erat.


"Jangan mikir yang aneh-aneh. berdoa saja.", sambungnya lagi, lalu melepaskan pelukannya. Aisyah, dengan wajah lelahnya hanya tersenyum dan menatap mba Mira.


"Doanya ya, mba?!.", ucap Aisyah.


"Pasti, nduk. ndak usah minta, kita semua pasti doa'in kamu.", jawab mba Mira, dengan senyuman. yang membuat Aisyah sedikit terhibur.

__ADS_1


"Pulang dulu, ya?!.", ucap mas Raihan. ia nampak berjalan mendekati pintu kamar yang di ikuti oleh mba Mira.


"Assalamualaikum.", ucap mba Mira, kemudian. yang di susul dengan suara pintu kamar yang tertutup setelah ia keluar.


"Waalaikum salam.", jawab Gus Aham dan Aisyah, bersamaan.


Gus Aham menatap Aisyah. di wajahnya, nampak terlihat kelelahan yang sangat. ya, bagaimana tidak lelah?!. rasa nyerinya lebih sering datang, ketubannya merembes semakin banyak, sehingga membuatnya tidak leluasa bergerak. dan lagi, ia tidak di izinkan untuk makan ataupun minum karena harus berpuasa untuk persiapan operasi besok.


"Apakah merasa nyaman?!.", tanya Gus Aham. tangannya terus mengusap perut istrinya. Ummi, bilang itu bisa meredakan rasa nyeri dan mengurangi rasa sakit.


Aisyah menganguk sebagai jawaban nya. membuat Gus Aham tersenyum tipis, karena merasa sedikit lega bisa membantu Aisyah mengurangi rasa sakitnya.


"Tidurlah!. mas, akan terus mengusapnya.", ucap Gus Aham.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Aisyah meraih lengan tangan suaminya. sehingga membuat Gus Aham menggeser kursinya, agar posisi mereka lebih dekat.


Ia tau, istrinya paling nyaman dengan aroma tubuhnya. apalagi, kini istrinya tidak bisa leluasa bergerak. sehingga ia yang harus beralih posisi, bahkan duduk di pinggiran ranjang hanya agar istrinya, bisa menyandarkan kepala serta tubuhnya di bahu Gus Aham.


Ia tau istrinya lelah, jadi ia menyuruh Aisyah untuk beristirahat. menyiapkan tubuhnya untuk hari esok.


Akhirnya, Gus Aham bisa melihat Aisyah memejamkan matanya.


Ya. semenjak ia datang, Aisyah terlihat sangat tidak nyaman dengan perutnya. ia tidak bisa berganti posisi dengan leluasa karena takut air ketuban keluar semakin banyak, yang dapat membahayakan nyawa ia dan bayinya.


Jadilah, ia hanya bersandar pada kepala ranjang dan sesekali mengedarkan pandangannya ke sekeliling. atau juga menghela nafas dalam.


Gus Aham menatap wajah manis nan cantik milik istrinya, yang terlihat lelap dengan semua kelelahan nya hari ini. tangannya masih terus mengusap perut istrinya.


Ia terlihat menghela nafas dalam beberapa kali. berharap dalam hati, semua akan berjalan lancar sehingga semuanya berakhir dengan sempurna.


Malam semakin larut. suasana hening pun, mengantarkan Gus Aham ke alam mimpi.

__ADS_1


Ia sendiri juga lelah. dari acara istighosah, ke yayasan dan langsung ke rumah sakit untuk menemani Aisyah, setelah mendapat kabar.


Gus Aham dan Aisyah terlelap, masih dengan posisi yang sama. duduk berdampingan berdua. Aisyah menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, dan Gus Aham menyandarkan kepalanya di tembok rumah sakit.


Sampai terdengar tarkhim subuh berkumandang. pertanda sebentar lagi waktu sholat subuh tiba.


Gus Aham, membuka matanya karena merasakan Aisyah bergerak.


"Kenapa?!.", tanya Gus Aham, yang melihat Aisyah bergerak. ia nampak tidak nyaman dengan perutnya.


"Sakit?.", tanyanya lagi, membuat Aisyah mengangguk pelan. Gus Aham dengan sigap mengusap-usapnya perut istrinya lagi. tapi kali ini, bukan hanya perutnya yang sakit. punggungnya juga terasa nyeri dan panas.


"Mas.", panggilnya. membuat Gus Aham menoleh padanya.


"Iya. kenapa?!.", tanya Gus Aham, sigap begitu Aisyah memanggilnya.


"Punggung sama pinggang saya, nyeri, panas.", jawabnya. Gus Aham yang mendengarnya, segera beralih duduk di kursi samping ranjang. tangannya kini berada di perut dan pinggang sang istri. mengusap-usapnya, untuk mengurangi rasa sakit seperti kata Ummi.


Terdengar, suara adzan subuh berkumandang. tapi, Gus Aham belum juga beranjak dari duduknya. biarlah, ia tidak ikut jama'ah di musholla rumah sakit, untuk menemani istrinya lebih dulu.


Bila Aisyah, sudah merasa lebih baik. barulah, ia akan pergi untuk sholat.


"Njenengan, ndak jama'ah?!.", tanya Aisyah, dengan suara pelan.


"Kamunya, lagi ngerasa nggak enak. mas, khawatir kalau harus ninggalin kamu, sayang.", jawabnya.


"Udah mendingan, kok. njenengan, jama'ah dulu nggeh?!.", ucapnya.


"Bener, udah mendingan?!.", tanya Gus Aham, memastikan. Aisyah menganguk dan tersenyum.


"Yasudah. mas, tinggal dulu ya?!.", ucapnya. lalu, mengecup puncak kepala istrinya.


Gus Aham mengambil kopyah nya yang ia taruh di atas meja. lalu, segera melangkah keluar kamar meninggalkan Aisyah. dan bergegas menuju musholla.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2