Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 107


__ADS_3

Akhirnya, setelah bernegosiasi cukup lama dengan adik dan pengacara. Gus Ma'adz menyetujui ide adiknya untuk segera menaikkan kasus ini ke kejaksaan.


Gus Aham sendiri meminta Gus Ma'adz menemui Mike. ia yakin, Mike bisa membantunya.


"Cari nomer Mike, di ponselku mas. insyaallah, dia bisa bantu kita.", pesannya, sebelum Gus Ma'adz pergi dari kantor polisi. Gus Ma'adz menganguk pasrah. ia tidak tega meninggalkan adiknya dalam masa pemulihan di penjara.


Bagaimana kalau Aisyah menanyakan suaminya?!. apa yang harus ia katakan pada adik iparnya?!. pikiran Gus Ma'adz berkecamuk.


Terlebih lagi, bagaimana cara memberitahu Ummi?!, bahwa putera kesayangannya kini masuk penjara. ah, sungguh itu membuat pusing di kepalanya, karena berpikir keras.


Gus Ma'adz keluar dari kantor polisi bersama pengacara yang meng-handle kasus adiknya. ia melangkahkan kakinya ke mobil, membuka pintu dan duduk di jok kemudi.


"Gus, lebih baik. kita, segera mengumpulkan bukti-bukti.", ucap pengacara itu, memberi saran.


"Iya, pak. mohon bantuannya, ya?!.", sahut Gus Ma'adz. pengacara itu mengangguk tegas.


"Kalau gitu, saya mau pulang dulu. mau, ngasih kabar ke orang rumah.", ucapnya, pamit undur diri.


"Injih, Gus. silahkan!.", ucap pengacara itu.


Mereka berjabat tangan, sebelum berpisah dan naik mobil masing-masing.


Gus Ma'adz segera menutup pintu mobil dan menyalakan mesin. ia ingin segera pulang ke ndalem.


Gus Ma'adz teringat istrinya, Ning Nafis. ia lah yang mampu menenangkan dan memberinya pemikiran bijak seperti saat ini.


Mobil yang ia kendarai perlahan memasuki pelataran ndalem. Gus Ma'adz memarkir kan mobilnya di garasi ndalem nya.


Ia lantas segera turun setelah mematikan mesin mobil, dan segera masuk ke ndalem nya.


"Assalamualaikum.", ucapnya, memasuki pintu samping ndalemnya.


"Waalaikum salam.", jawab Abah, yang kebetulan sedang berada di ndalem nya, menyimak hafalan juz 'Amma kedua cucunya.


"Abah?!.", ucapnya, sedikit terkejut. segera Gus Ma'adz merendahkan dirinya, dan sungkem pada Abah nya.


"Abah, nyimak hafalan anak-anak?.", tanya Gus Ma'adz. dan hanya di jawab Abah dengan anggukan.


"Nafis kemana, bah?!.", tanyanya lagi. masih dengan posisinya. duduk di bawah, di depan Abahnya.


"Nafis, lagi nemenin Ummi mu. dari tadi, geger minta ke panti. mau njenguk Aisyah.", jawab Abah.


Gus Ma'adz menghela nafas berat. wajahnya terlihat kelelahan, yang membuat Abah segera menghentikan hafalan kedua cucunya, dan meminta untuk di panggilkan seorang mba ndalem.

__ADS_1


Seorang mba ndalem datang, memasuki ndalem Gus Ma'adz. berjalan dengan kedua lututnya, sebagai bentuk ta'dhim nya pada Gus Ma'adz dan Abah. lalu, mba ndalem itu mengajak Ning Dija dan Ning Shofy ke taman belakang. menyimak hafalan mereka di gazebo.


"Eneng opo?!.", ( ada apa?).", tanya Abah, begitu cucunya sudah tidak terlihat.


"Aham, teng kantor polisi.", jawabnya, lemas. ia menatap Abahnya dengan wajah sedih. tapi, Abah hanya tersenyum.


"Bah?!.", panggil Gus Ma'adz. yang tidak mengerti dengan ekspresi Abahnya.


"Kok, njenengan malah mesem?.", ( kok, njenengan malah senyum?).", tanya Gus Ma'adz lagi, merasa heran.


"Yowes. arep piye?!, kabeh karepe, Gusti. ora usah bingung.", (yasudah. mau gimana?!, semua kehendak, Gusti Allah. ndak usah bingung).", jawab Abah, tenang.


"Tapi, Ummi?!.", sahutnya.


"Ummi, urusane Abah.", jawab Abah. yang membuat Gus Ma'adz sedikit merasa tenang dan lega.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Gus Ma'adz masih menyandarkan kepalanya di pangkuan sang istri. ia merindukan belaian Ning Nafis, yang menenangkan nya.


Berlutut di depan istrinya, dan bermanja di pangkuan Ning Nafis. menerima usapan dan belaian di rambut serta wajahnya. membuatnya sedikit melupakan kepenatan pikiran nya.


"Terus, Abi harus gimana?!.", tanyanya pada Ning Nafis. wajahnya mendongak, menatap istrinya. ia mengharapkan jawaban yang bisa menjadi solusi baginya. Ning Nafis tersenyum, ia membelai wajah suaminya lembut.


"Sekarang, Abi istirahat dulu. Nafis, kasih jawabannya besok ya?!.", ucapnya lembut. membuat Gus Ma'adz menyadarkan kepalanya lagi di pangkuan istrinya.


Seperti biasa, saat Gus Ma'adz merasa penat. ia akan manja pada istrinya. seperti saat ini, mereka sedang berada di ranjang dengan posisi Ning Nafis yang bersandar dan Gus Ma'adz yang tidur di pangkuan istrinya. membuat Ning Nafis, mengusap rambut dan punggung suaminya, agar Gus Ma'adz bisa cepat terlelap.


Di rumah sakit....


Mas Raihan masih terdiam duduk di samping ranjang adiknya. dan karena haus, membuatnya meraih botol air mineral yang berada di atas nakas.


Tanpa sengaja, ia menjatuhkan tas adiknya. semua isi di dalamnya berhamburan keluar, karena memang resleting tas nya terbuka.


Banyak buku dan lembar catatan berserakan di lantai. membuatnya segera mengambil dan memungutinya, memasukkan ke dalam tas adiknya.


Ada yang menyita perhatian nya, saat ia memunguti semua barang-barang adiknya.


Sebuah buku berwarna pink, bertuliskan "BUKU KESEHATAN IBU DAN ANAK".


Buku yang tidak asing baginya, karena pernah melihatnya di suatu tempat. ia mencoba mengingat beberapa saat, tapi tak kunjung juga ingat. jadilah, ia mengacuhkan pemikiran nya dan memasukkan buku itu dalam tas adiknya.


Keesokan harinya, Gus Ma'adz mulai mencari info tentang teman-teman adiknya. ia harus mengumpulkan bukti-bukti untuk membebaskan adiknya dari segala tuduhan, di pengadilan.

__ADS_1


"Assalamualaikum.", ucapnya. saat panggilan nya tersambung.


"Waalaikum salam.", jawab suara di seberang.


"Ini benar, Mike?.", tanya Gus Ma'adz.


"Iya. ini siapa, ya?!.",


"Saya, kakaknya Aham.",


"Oalah. Gus Ma'adz?!.",


"Iya.",


"Ada apa, mas?.",


"Mike, saya mau minta tolong...


Gus Ma'adz pun menceritakan semua yang terjadi dengan Gus Aham, pada Mike. ia meminta pertolongan Mike, sesuai dengan pesan dari sang adik. berharap, sahabat adiknya mau dan bisa membantunya.


"Oh. iya, mas. akan, saya usahakan.", sahut Mike. setelah mengetahui detail permasalahan yang sedang di hadapi Gus Aham.


"Yasudah, kalau gitu. terimakasih, ya?!.", ucap Gus Ma'adz.


"Iya, mas.",


"Assalamualaikum.", ucap Gus Ma'adz, mengakhiri sambungan teleponnya.


"Waalaikum salam.",


Gus Ma'adz sedikit merasa lega, karena Mike bersedia membantunya mencari bukti untuk membebaskan adiknya.


Di rumah sakit...


Perawat memasuki ruangan tempat Aisyah dirawat. ia nampak membawa sebuah map yang berisi laporan kesehatan.


"Bapak Raihan. dimohon untuk ke ruang dokter.", ucapnya. lantas perawat itu pergi dan masuk ke ruang dokter.


Mas Raihan, melangkahkan kakinya meninggalkan Aisyah dan mengikuti perawat itu, menuju ruangan dokter yang menangani adiknya.


"Silahkan duduk.", seperti biasa. dokter itu mempersilahkan setiap orang yang datang ke ruangan nya.


Ia nampak membuka sebuah map berisi laporan kesehatan Aisyah.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2