
Aisyah mencium tangan suaminya dan dibalas dengan kecupan di kening oleh Gus Aham, saat ia akan berangkat mengajar.
Karena, Aisyah hari ini tidak ada jadwal mengajar. ia minta izin suaminya untuk pergi ke Malang. ia ingin belanja keperluan wisuda, terutama kain untuk seragam para hafidzoh.
"Nanti, saya ke Malang ya, mas?!.", ucapnya meminta izin.
"Sama siapa?.",
"Kang Mu'idz, kata Ummi sudah balik. Ummi, nyuruh kang Mu'idz yang anter.", jawabnya. Gus Aham terdiam, ada perasaan cemburu dihatinya. meskipun ia tau, kang Mu'idz sudah menikah dengan Kamila.
Aisyah yang melihat suaminya terdiam itu, segera ingat. mereka pernah bertengkar tentang kang Mu'idz, juga tentang Gus Irfan.
"Kalau njenengan, ndak ngizinin. saya, ndak akan pergi.", ucapnya, setelah beberapa saat suasana hening di antara mereka. Gus Aham terdengar menghela nafas. ia tersenyum dan mengusap rambut istrinya.
"Ndak apa, pergi saja. pulang jam berapa kira-kira?.", tanya Gus Aham. ia merubah ekspresi wajahnya dengan cepat.
bagaimanapun, ia harus bisa percaya pada istrinya.
Kesalahannya dimasa lalu, yang menuduh istrinya memiliki hubungan dengan kang Mu'idz ataupun dengan Gus Irfan, dengan bukti palsu, membuatnya hampir kehilangan Aisyah untuk selamanya.
Ia tidak tau, apa yang terjadi pada dirinya sekarang?!, bila Aisyah menolak untuk rujuk dan memaafkan nya. jadi, tidak peduli apapun yang terjadi, ia harus bisa mengontrol emosi, cemburu dan prasangka buruk pada istrinya. ya, ia harus percaya pada istrinya.
Aisyah menggeleng, ia meraih tangan suaminya yang sedari tadi mengelus puncak kepalanya.
"Ndak jadi.", jawabnya pelan.
"Kenapa?!.", tanya Gus Aham. Aisyah terdiam sesaat, ia tidak ingin hubungan yang hangat ini renggang lagi.
"Njenengan, nanti kan mau ke Surabaya. takut nanti, njenengan berangkat, tapi saya belum pulang.", jawabnya.
"Ndak apa. ndak perlu siapkan baju dan keperluan, mas. begitu acara selesai, mas mau langsung pulang aja.", ucap Gus Aham. ia berbasa-basi walau sebenarnya, tidak rela bila istrinya pergi dengan kang Mu'idz.
"Ndak. besok aja perginya.", ucap Aisyah lagi. kali ini ia meyakinkan suaminya, bahwa ia baik-baik saja pergi di lain waktu.
"Bener?.", tanya Gus Aham. Aisyah menjawab dengan anggukan cepat dan senyuman.
"Yasudah. mas, mau ngajar dulu kalau gitu.", ucap Gus Aham. Aisyah mengangguk. mereka berjalan keluar kamar bersamaan dan berpisah di ruang tengah.
Aisyah menghampiri Ummi yang sedang berbincang dengan kepala Mahids.
"Ini nama-nama tamu undangan. yang ini, wali santri. yang ini, para kyai dan Bu nyai.", ucap Ummi sembari menunjukkan catatan nama-nama yang tertulis di buku. mba Kamila yang merupakan ketua Mahids itu menganggukkan kepalanya, pertanda faham.
__ADS_1
"Kamu, periksa ulang ya?!. jangan ada yang kelewatan.", ucap Ummi, mengingatkan.
"Injih, Ummi.", jawabnya.
"Yasudah. kamu, boleh balik ke pondok.", ucap Ummi. mempersilahkan Kamila meninggalkan ruangan.
Kamila segera pamit undur diri dan perlahan keluar dari ndalem.
"Belum siap-siap, nduk?.", tanya Ummi, begitu Kamila keluar.
"Ndak jadi pergi, mi.", jawabnya.
"Ndak boleh sama, Aham?.",
"Ndak, mi. mas, ngizinin. tapi, saya yang...., perkataan Aisyah terhenti karena melihat Ummi senyum-senyum melihatnya.
"Ummi, teng nopo?!.", (Ummi, kenapa?!).", tanya Aisyah.
"Ndak apa.", jawab Ummi, yang menyadari bahwa Aisyah mengamatinya.
"Yo ngunu. manggilnya, mas. jangan, Gus. ndak enak di dengar.", ucap Ummi beberapa saat kemudian, setelah berusaha menyudahi senyumnya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Sejak kapan manggilnya, mas?.", ucap Ummi lagi, mengulangi pertanyaannya. membuat Aisyah tersipu.
"Sejak pulang dari Malang, Ummi. mas, minta di panggil begitu.", jawab Aisyah lirih. ia malu, bila Ummi bertanya lebih lanjut, tentang bagaimana ia menyetujui permintaan suaminya itu.
"Ndak peduli, manggilnya apa?!. Ummi, hanya berharap kalian bahagia selalu, langgeng sak lawase.", ucap Ummi, yang di jawab dengan anggukan dan jawaban "Amin" dari bibir Aisyah.
Waktu berlalu begitu cepat. sementara, karena Aisyah tidak bisa keluar. ia menghubungi semua relasi Ummi untuk acara lewat ponsel.
Mulai dari sewa tenda, sewa panggung, sewa dekor hingga sound sistem. tak lupa, ia juga menelpon percetakan untuk memesan buku memori sebagai kenang-kenangan bagi para hafidzoh wisuda tahun ini.
"Assalamualaikum.", terdengar suara di luar kamar, sebelum pintu itu terbuka.
Gus Aham masuk, ia nampak tersenyum melihat istrinya sedang sibuk memainkan ponsel dan sesekali menulis sesuatu di buku.
"Assalamualaikum, sayang.", ucap Gus Aham. ia mengulangi lagi salamnya, karena Aisyah tadi belum menjawabnya. istrinya terlalu fokus pada tugasnya.
"Waalaikum salam.", jawabnya. ia tersenyum menyambut suaminya pulang.
__ADS_1
Gus Aham beranjak duduk di sampingnya, lalu merebahkan tubuhnya di sofa dengan paha Aisyah sebagai bantalannya.
"Capek?.", tanya Aisyah. ia masih sibuk dengan ponsel dan bukunya, bahkan saat suaminya sudah berbaring di pangkuannya.
"Nggak. tapi, capek kalau ndak kamu perhatiin.", jawab Gus Aham. yang menghentikan aktivitas Aisyah seketika. ia segera meletakkan ponselnya dan menutup buku.
"Maaf.", ucap Aisyah. membuat Gus Aham meraih tangan istrinya dan menggenggamnya. sesekali, ia mengecup tangan berkulit putih bersih, milik istrinya.
"Mas. berangkat nanti malam, ya?!.", ucapnya. ia meminta izin dan pendapat istrinya.
"Jam berapa?.", tanya Aisyah.
"Mungkin, saat kamu sudah tidur.",
"Berarti, saya ndak bisa nganter njenengan?.",
Gus Aham terdiam mendengar pertanyaan istrinya. ia berbalik, posisinya kini tengkurap.
"Yasudah. bolehnya, mas berangkat kapan?.", tanya Gus Aham. ia mendongakkan kepalanya untuk bisa menatap wajah istrinya. Aisyah diam tidak menjawab. ia bahkan berat mengizinkan.
"Terserah, njenengan saja.", ucapnya setelah diam cukup lama. Aisyah, mengambil ponselnya. berpura-pura sibuk.
Gus Aham menatap istrinya lekat. ia mendongak, lalu meraih tengkuk istrinya. dan Aisyah hanya menurut. pada akhirnya, Gus Aham mengecup bibir itu cukup lama.
"Mas, janji. begitu selesai, mas akan segera pulang.", ucapnya sesaat setelah melepaskan pagutan bibirnya. Aisyah menghela nafas dan menatap suaminya.
Yasudahlah, biarlah suaminya pergi. toh itu juga untuk hal yang baik. percuma juga di tahan.
Bukankah, suaminya sudah berjanji akan segera pulang?!, begitu semua selesai?!.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. hanya pisah beberapa jam saja. itu tidak akan terasa, jika ia sibuk bukan?!.
Ayolah, ini adalah mimpi dan usaha suaminya untuk kebaikan semua orang.
Aisyah berbicara pada dirinya sendiri. ia menghela nafas lalu mengangguk pelan, membuat Gus Aham tersenyum dan mengecup pipinya beberapa saat.
"Mas, janji akan segera pulang begitu semua urusan selesai.", ucapnya lagi pada Aisyah. ia mengecup bibir istrinya lagi sebelum akhirnya benar-benar melepaskan tangannya dari tengkuk istrinya.
"Berangkatnya, habis subuh aja ya, tapi?!.", ucap Aisyah yang masih menatap suaminya dan segera di jawab dengan anggukan oleh Gus Aham.
Ia kembali menidurkan kepalanya di paha Aisyah, kali ini dengan posisi tengkurap. sehingga memudahkan Aisyah untuk membelai rambut panjang yang di ikat cepol itu.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺