
"Bulek.", sapa anak kecil yang selalu menempel padanya saat ia berada di ndalem, Ning Shofy.
"Gendong pak lek saja. jangan minta gendong bulek.", ucap Gus Aham yang baru saja turun dari mobil menyusul istrinya.
"Kenapa?!.", tanyanya polos.
"Shofy, sudah makin gede. makin berat, kasihan bulek.", ucap Gus Aham menjawab pertanyaan keponakannya dan langsung mengangkat tubuh kecil itu dalam gendongannya.
"Dija, juga pak lek.", pinta putra Gus Ma'adz yang pertama. ia nampak berlari menuruni tangga teras ndalem Abi nya, memakai alas kaki dan langsung lompat ke punggung Gus Aham. ia menggelayut dengan menarik pundak Gus Aham sebagai pegangan.
"Kok turun?!.", protes Dija karena Gus Aham berjongkok.
"Naik yang bener.", ucap Gus Aham. yang membuat keponakannya segera memeluk punggung pak lek nya lagi.
Mereka nampak riang di gendongan Gus Aham. Ning Shofy di depan sedang Ning Dija di belakang. nampak juga, mba-mba ndalem yang keluar untuk membantu Aisyah membawa barang-barang.
Ummi yang berada di ruang tamu bersama Abah memperhatikan dengan seksama kedatangan Gus Aham dan Aisyah. bukan bawaan yang di perhatikan mereka, tapi lebih ke ramenya kedua cucu perempuan.
"Assalamualaikum.", ucap Gus Aham ketika sampai di teras, hendak memasuki ndalem.
"Waalaikum salam.", sahut Abah dan Ummi bergantian. seperti biasa, Gus Aham dan Aisyah segera mencium tangan Abah dan Ummi secara bergantian. tidak ketinggalan dengan kedua keponakannya yang masih bergelayut pada tubuh Gus Aham, mereka juga ikut berebut untuk mencium tangan Mbah kung dan Mbah uti nya.
"Kok rame temen, toh?!.", ucap Ummi. menegur kedua cucunya, yang membuat mereka malah semakin tertawa renyah.
"Turun. wong, pak lek sama bulek baru dateng.", ucap Abah pelan, meminta kedua cucunya turun dari gendongan Gus Aham. kedua cucunya menjawab dengan senyuman dan gelengan kepala.
"Ini di taruh mana, Ning?.", tanya mba-mba ndalem yang membantu Aisyah membawa oleh-oleh.
"Bawa duren to, nduk?.", tanya Abah, begitu mencium aroma buah yang cukup menyengat itu.
"Injih. Abah, kerso?.", (Iya. Abah mau)?.", jawab Aisyah.
"Lha yo jelas.", jawab Abah.
"Mba. bawa kebelakang, ya?!.", ucap Aisyah. yang di jawab anggukan oleh mba-mba ndalem, dan mereka segera undur diri.
"Ayo, turun dulu. panggil Abi!.", ucap Gus Aham. ia berjongkok untuk menurunkan kedua keponakannya.
"Pak lek, aja gendong kita, buat manggil Abi.", ucap Ning Dija.
__ADS_1
"Ho'oh.", sahut Ning Shofy, yang mendukung ide kakaknya.
"Lho..., lho..., wong disuruh kok gitu?!.", hardik Ummi pada Ning Dija dan Ning Shofy.
"Panggil Abi dulu, ya?!. nanti, bulek kasih hadiah.", ucap Aisyah pada kedua keponakannya, yang membuat mereka bersemangat.
"Bener ya, bulek?!.", ucap Ning Shofy, memastikan ia sedang tidak dibohongi. Aisyah mengangguk dan tersenyum. membuat kedua anak itu berlomba lari untuk memanggil Abi dan Mimi nya.
"Aisyah, ke kamar dulu njih, bah, mi?!. mau ganti baju dulu.", ucap Aisyah, meminta izin.
"Iya, nduk.", jawab Ummi.
Aisyah pun segera pergi meninggalkan Abah dan Ummi di ruang tamu. ia memasuki kamar dan meletakkan koper di sudut kamar.
Selesai mengganti baju. Aisyah membuka koper dan mengeluarkan baju kotor milik suaminya dan meletakkannya di keranjang baju kotor. tiba-tiba ada tangan melingkar di pinggangnya.
"Ech?!.", Aisyah sedikit terkejut. ia menoleh ke belakang, memastikan siapa yang memeluknya.
"Njenengan?!.", ucapnya.
"Kenapa?!. kaget?.", tanya Gus Aham.
"Injih. wong, ndak kedengaran ada orang masuk. kok.", jawabnya.
Sebenarnya, Aisyah merasa cukup lelah. tapi, Gus Aham ingin menggeletakkan tubuhnya sejenak di pangkuan Aisyah. jadilah, ia hanya duduk bersandar di sofa, sementara Gus Aham berbaring, dengan paha Aisyah sebagai bantalan nya.
"Njenengan, ndak ganti baju dulu?!.," tanya Aisyah yang sedari tadi mengusap rambut suaminya pelan.
"Mas, mau rebahan dulu. mas, capek. setelah semalam nurutin kamu, trus pagi ini langsung pulang.", jawabnya. membuat Aisyah menahan malu. Gus Aham menyembunyikan wajahnya di perut Aisyah.
"Ndak usah malu. mas, malah seneng.", ucapannya dengan tersenyum. Aisyah menutup bibirnya dengan satu tangannya. ia menyembunyikan malunya dengan melihat ke sembarang arah dan menghela nafas.
"Kan, kalau istri dulu yang nawarin diri. istrinya dapat tiket surga. kalau di Indonesian idol, dapat nya golden tiket.", ucap Gus Aham lagi. ntah kenapa?!, melihat Aisyah malu membuat Gus Aham malah semakin suka menggodanya.
"Kalau masih di terusin, saya pergi.", ucap Aisyah sebal. ia tidak tau, kenapa malam itu, ia meminta hal itu pada Gus Aham.
Terlebih sekarang suaminya, senang sekali menggodanya. membuatnya malu setengah mati. dan kacaunya, ia sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa malu dan wajah yang memerah itu, tiap kali Gus Aham menggodanya.
Aisyah hendak berdiri, tapi Gus Aham malah memeluk pinggang istrinya dan menempelkan pipinya pada perut Aisyah.
__ADS_1
"Mas, salah. jangan pergi, ya?!. mas, masih mau ditemenin.", pinta Gus Aham. ia merengek seperti anak kecil pada Aisyah. Aisyah meliriknya sebal.
"Tok....,
"Tok....,
"Tok....,
"Assalamualaikum.", ucap suara di depan yang tidak asing. dan benar saja. saat pintu terbuka, dua orang keponakannya langsung lari masuk ke dalam kamar Gus Aham.
"Wassalamu'alaikum salam.", jawab Aisyah. membuat kedua keponakannya berlari ke arahnya. melihat pak lek nya yang rebahan di sofa bersama bulek nya membuat mereka segera ikut ke sofa dan menaiki tubuh Gus Aham.
"Pak lek. di panggil, Mbah kung.", ucap Ning Dija.
"Kenapa, pak lek di panggil?.", tanya Gus Aham.
"Abi, sudah datang. katanya, mau maem duren.", jawabnya.
"Ho'oh.", sahut Ning Nafis, yang juga tak mau kalah dengan ikut naik ke punggung pak lek nya.
"Yasudah. ayo, kesana!.", ucap Aisyah mengajak keponakannya untuk segera bergabung dengan anggota keluarga yang lain.
"Bulek, duluan saja. Dija, masih mau disini. ini seru.", ucapnya. ia malah kesenangan berjalan di punggung pak leknya dengan Ning Shofy.
"Nggak bisa, dong. kalau, bulek pergi. pak lek, juga.", ucap Gus Aham.
"Boleh pergi sama, bulek. tapi, kita gendong ya, pak lek?!.", ucap Ning Dija. yang setuju pak lek nya pergi, asal ia dan adiknya di gendong seperti tadi.
"Ok.", jawab Gus Aham. membuat kedua keponakannya turun dari tubuhnya. ia segera duduk di sofa.
Aisyah meninggalkan mereka lebih dulu. membuat Gus Aham mengikutinya dan meninggalkan kedua keponakannya.
"Pak lek.", jerit Ning Dija dan Ning Shofy, hampir bersamaan melihat pak lek nya menyusul buleknnya. mereka pun segera turun dari sofa dan berlari mengejar Gus Aham.
"Pak lek.", panggil Ning Dija, pada Gus Aham.
"Pak lek, ngapusi. ngapusi, duso. ben, tak bilangne Mbah uti.", ( pak lek, bohong. bohong, berdosa. biar, nanti tak bilangin ke Mbah uti).", gerutu Ning Dija. ia terus merengek dan menarik kaos pak leknya, dan mengikuti Gus Aham yang berjalan di belakang Aisyah.
"Ojo mba. Ojo di omongne, Mbah uti. di omongne Gusti Allah ae. ben, di pukul malaikat.", ( jangan mba. jangan di bilangin, Mbah uti. di bilangin ke Gusti Allah ae. biar, di pukul malaikat).", seloroh Ning Shofy. yang membuat semua orang yang hadir di ruang tengah tertawa mendengarnya.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺