Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 132


__ADS_3

Gus Aham pun, akhirnya menyetujui untuk ikut dalam acara tersebut.


Ya. Aisyah benar, walaupun nantinya ia tidak menggantikan Abah dan Ummi untuk mengelola pondok. tapi, ia sendiri juga harus mencari pengalaman dalam acara-acara seperti ini.


Hari-hari berlalu begitu saja, dan nampak sekali kerepotan di ndalem hari ini.


Ya, hari ini tepat tujuh bulanan kandungan Aisyah. ia sendiri, sedang di bantu sang kakak ipar, yang tak lain adalah Ning Nafis untuk mengenakan bunga melati yang sudah di ronce di badan dan kerudung Aisyah.


Ibu sendiri, sudah datang dari kemarin bersama mba Mira dan kedua cucunya. mas Raihan, nyusul karena sedang seminar diluar kota.


Dan sekarang, ibu juga Ummi sedang mempersiapkan air siraman untuk Aisyah dan Gus Aham.


Ya. meskipun mereka keluarga pondok, tapi baik Ummi maupun Abah sangat menjunjung tinggi adat istiadat, terutama adat Jawa. karena, memang mereka berasal dari Jawa. dan lagi, para kyai-kyai terdahulu juga melakukannya.


Gus Aham keluar dari kamar mandi. ia nampak sedikit berbeda.


Ya. untuk mengikuti ritual ini, baik Gus Aham maupun Aisyah sama-sama memakai jarik, yang di lilitkan di pinggang sebagai bawahan. sedang atasannya, ia memakai baju adat jawa, yaitu Surjan.


Sedang Aisyah memakai jarik sebagai bawahan nya, dan atasannya ia memakai baju putih biasa, hijab dan hiasan melati di kepala serta badannya.


"Ngajinya, sudah sampai juz berapa, mba?!.", tanya Aisyah pada Ning Nafis, yang masih sibuk memakaikan melati sebagai hiasan hijab adik iparnya.


"Sebentar lagi khatam. setelah khataman, baru proses siraman.", jawabnya. Gus Aham duduk di bibir ranjang, ia masih mengamati wajah cantik istrinya dari kaca.


"Nah, selesai. mba, keluar dulu ya?!. sekalian ngecek tadi souvenir tujuh bulanan ne udah di masukin dalam bingkisan yang mau di bawa pulang para hafidzoh, belum?!.", ucapnya, yang di jawab anggukan dan senyuman dari adiknya.


"Matur nuwun, mba.", ucap Aisyah, sebelum Ning Nafis pergi. membuat kakak iparnya itu, gemas dan merangkup pipi adik iparnya dari belakang, sehingga mereka berdua tertawa.


Selanjutnya, Ning Nafis pun segera keluar dari kamar Aisyah untuk melanjutkan tugas lainnya.


Aisyah melihat suaminya yang masih memperhatikan nya dari kaca meja rias. membuatnya tersenyum, melihat penampilannya saat ini.


Bagaimanapun tidak?!, meskipun suaminya cukup tampan dalam pakaian adat Jawa. tapi, karena tidak biasa melihatnya membuat Aisyah tertawa karena terlihat lucu.


"Kenapa?!.", tanya Gus Aham.


"Njenengan, lucu ya?!.", jawab Aisyah. Gus Aham, sudah bisa menebak, pasti penampilan nya membuat Aisyah tertawa.

__ADS_1


Pasalnya, meskipun sehari-hari ia memakai sarung, tapi untuk atasan Gus Aham sangat pilih-pilih. lha, sekarang malah pakai baju adat, pake blangkon lagi.


"Ini, kalau bukan demi kamu, sama anak kita. aku, nggak mau deh pake baju ribet begini.", jawabnya, membuat Aisyah tersenyum.


"So sweet.", ucap Aisyah, membuat Gus Aham melangkah ke arahnya, lalu memeluknya dari belakang.


Mereka saling menatap satu sama lain dari kaca rias, sesekali Gus Aham mengecup puncak kepala istrinya yang sudah di hiasi melati segar.


Sementara Aisyah, menggenggam tangan suaminya dan meletakkan di depan dadanya. entah kenapa, ia merasa suaminya gugup, terasa dari tangan Gus Aham yang mengeluarkan keringat dingin.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Njenengan, gugup?!.", tanya Aisyah. Gus Aham nampak menghela nafas dan menganguk.


"Kenapa?!.", tanya Aisyah, di sertai senyuman nya.


"Mas, pengen tau aja sih. dia cewek apa cowok?!.", jawabnya, membuat Aisyah tersenyum mendengarnya.


"Kalau, njenengan pengen tau cewek apa cowok?!. kenapa ndak tanya, waktu priksa?!.",


"Kita kan, sering priksa dan kontrol.", sambung Aisyah.


"Kata kamu kan, yang penting sehat.", ucap Gus Aham, lagi.


"Tok...",


"Tok...",


"Tok...",


Mendengar pintu kamar di ketuk, Gus Aham segera membukanya.


"Gus, pun ajenge khataman. njenengan, kalih Ning Aisyah, di aturi teng panggen siraman.", ucap mba ndalem, suruhan Ummi. Gus Aham menganguk sebagai jawaban, sebelum mba ndalem itu undur diri.


Ia segera menutup pintu kamar, dan menghampiri istrinya.


"Ayo.", ajak Gus Aham, pada istrinya.

__ADS_1


Upacara adat tujuh bulanan, biasa juga di sebut dengan tingkepan atau piton-piton (mitoni), dalam adat Jawa.


Upacara ini, biasanya di lakukan ketika seorang wanita hamil untuk pertama kali. untuk anak kedua, ketiga dan seterusnya, biasanya tidak ada acara tingkepan. biasanya, hanya acara kecil, bancakan untuk mendoakan si jabang bayi dan ibunya.


Dalam acara tingkepan ini, Aisyah akan di mandikan dengan air kembang setaman, oleh para sesepuh. tujuh orang dari garis keturunan si ayah jabang bayi, dan tujuh orang dari garis keturunan si ibu dari jabang bayi.


Sebelum acara siraman dimulai, terlebih dahulu Aisyah mengikuti doa Khotmil Qur'an bersama yang langsung di pimpin Ummi. hanya saja, kali ini ia ikut mengaminkan di tempat siramannya, sedang para hafidzoh berada di aula dan musholla.


Suara Ummi, memimpin doa Khotmil Qur'an menggema di seluruh majelis. apalagi dengan memakai mic, membuat semua santri yang mendengar di seluruh pondok ikut mengaminkan.


"Washollallahu 'ala sayyidina Muhammad wa 'alaa aalihi wa ashaabihi al-akhyaari wa sallama tasliiman katsiroo. wal hamdulillahi robbil alamin.", Ummi, mengakhiri doa Khotmil Qur'an nya.


"Lagu Al-fatihah.", ucap Ummi setelah nya. yang langsung di sahut oleh semua orang untuk membaca surat alfatihah.


Doa selesai. mba ndalem, segera menyajikan aneka hidangan yang di susul dengan bingkisan berisi nasi beserta lauk, jajanan khas Jawa seperti, kacang tanah yang sudah di rebus dan di kemas, singkong, rujak piton-piton, ubi dan aneka kukusan polo Pendem ubi-ubian lainnya. tidak lupa dengan souvenir siramannya juga.


Sementara Ummi, segera menuju tempat siraman. bergabung dengan semua anggota keluarga yang sudah menunggu. mas Raihan, pun nampak sudah hadir mendampingi ibu.


Sebelum acara siraman dimulai. Abah terlebih dahulu memimpin doa, yang segera di aminkan oleh keluarga besar kedua belah pihak yang hadir.


Aisyah nampak duduk di dampingi sang suami, mereka terlihat khusyu' mengaminkan setiap lantunan doa yang terucap dari Abah.


"Amin....", ucap Abah. mengakhiri doanya dan mengusap wajahnya, diikuti oleh semua anggota keluarga yang hadir.


Proses siraman di mulai. ibu, orang pertama yang mendapat kesempatan untuk melakukan siraman pada putrinya.


"Bismillahirrahmanirrahim.", bibir ibu, nampak jelas mengucapkan kalimat itu, bersamaan dengan siraman pertama yang mengguyur basah hijab Aisyah.


Ada rasa haru merasuk dalam batin ibu, mengingat putrinya pernah keguguran di kehamilan pertama. dan kehamilan kali ini, penuh dengan perhatian dan perawatan ekstra. mengingat jahitan bekas operasinya, belum kering dengan sempurna, karena perutnya yang terus membesar.


Aisyah menengadahkan kedua tangannya, menerima kucuran air setaman dari ibunya, untuk membasuh wajahnya.


Wajah cerah penuh kebahagiaan senyum manis dan rasa haru, menyelimuti semua yang hadir. terutama Aisyah dan Gus Aham.


Para hafidzoh pun, ikut menyaksikan proses siraman dan ikut mendoakan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺



__ADS_2