
๐ธ Terimakasih kepada para pembaca ๐ธ
๐บ Jangan lupa like, komen dan vote ya!!?๐บ
๐Pastinya, di tunggu kritik, saran serta masukannya. untuk membangun dan membuat karya lebih bagus lagi dan berkualitas ๐๐๐.
ย
Kamila duduk di karpet ndalem. memenuhi pesan Bu nyai nya yang memintanya ke ndalem untuk menemui Ummi. saat sedang menunggu Ummi, tiba-tiba kang Mu'idz juga masuk. kang Mu'idz juga di panggil Ummi rupanya. suasana canggung menyelimuti mereka, tapi itu tidak lama. karena kemudian Ummi sudah datang.
ย
Ummi duduk di kursi sedang kang Mu'idz dan Kamila duduk di karpet sebagai ta'dhim mereka kepada Bu nyai nya. tak berapa lama, Abah juga ikut datang dan duduk di dekat Ummi.
"Mba Mila, kang Mu'idz. soal ujian nya di bawa?", tanya Ummi memulai pembicaraan.
"Injih, Ummi", jawab mereka bersamaan yang kemudian menambah rasa canggung dan malu bagi Kamila dan kang Mu'idz. mereka menyerahkan map berisi soal secara bergantian pada Ummi dan Abah.
Soal-soal itu nantinya akan di priksa dulu oleh Abah sebelum di serahkan ke masing-masing wali kelas agar tidak ada soal yang keliru.
"Mba Mila,nsudah ada jodoh?". tanya Ummi tanpa tedeng aling-aling. yang mana pertanyaan itu mampu membuat Kamila terkejut. dia hanya menggeleng pelan.
"Qur'an sudah khatam, umur juga sudah waktunya nikah. kenapa?", tanya Ummi lagi.
"Belum ada yang pas di hati, bu". jawabnya lirih.
"Kalau ta'aruf dulu sama kang Mu'idz, mau?". Ummi bertanya lagi.
"Kalau mau, biar nanti Abah dan Ummi yang matur ke orang tua mu". timpal Abah seraya membolak-balik kertas soal dan mengoreksi pertanyaan-pertanyaan yang akan keluar pada ujian Minggu depan. kang Mu'idz hanya diam, menunduk. walaupun tidak setuju, tapi kang mu'idz tidak berani membantah atau menolak. berbanding terbalik dengan Kamila, bibirnya tersenyum tipis.
Yah, dari dulu memang Kamila sudah mengangumi dan menyukai kang Mu'idz. sifatnya yang sederhana, tidak mudah menyerah, tutur katanya yang kalem dan sangat berbakti kepada Ummi serta mengabdi kepada pondok mampu menimbulkan rasa kagum yang berubah menjadi suka dalam hatinya.
"Ndereaken Bu nyai (terserah Bu nyai)", jawab Kamila.
"Alhamdulillah.....", ucap Ummi, tersenyum dan ikut bahagia mendengar jawaban Kamila.
__ADS_1
"Kalau kang Mu'idz, gimana?". tanya Ummi.
"Kulo, manut ibu mawon (saya, nurut ibu saja)". jawabnya.
"Alhamdulillah, bah." ucap Ummi lega. di sambut senyuman Abah.
"Yowes, besok insyaallah Ummi sama Abah ke rumah orang tua kalian ngomongin masalah ini ya!", ucap Ummi lagi.
"Injih Ummi". jawab Kamila. kang Mu'idz hanya diam dan malah melihat Aisyah yang lewat di lorong samping ruang tamu. lorong yang menghubungkan kamarnya dengan ruang tamu putri (yang saat ini ada Abah, Ummi, Kamila dan kang Mu'idz), ruang makan dan dapur ndalem.
"Kang...", panggil Ummi yang sadar bahwa kang Mu'idz memperhatikan Aisyah.
"Mm..., saya pamit dulu Bu, Abah". ucapnya setelah sadar tindakan nya di ketahui Ummi.
Kang Mu'idz pamit dan keluar dari ndalem, disusul kemudian Kamila juga mengundurkan diri mau balik ke pondok. Ummi yang melihat Aisyah sibuk di dapur segera berjalan menghampiri nya.
"Bikin apa to nduk?". tanyanya saat sudah mendekat.
"Bikin wedang jahe Ummi, Gus Aham muntah-muntah. mungkin masuk angin". jawabnya
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
ย
Akhirnya Gus Aham bisa tidur setelah minum wedang jahe. mungkin dia merasa perutnya sudah enakan. tadi sempat muntah-muntah hingga membuat wajahnya pucat dan bibirnya sedikit membiru. apalagi yang keluar dari tubuhnya adalah keringat dingin. membuat Aisyah cukup panik dan khawatir.
ย
Aisyah tertidur di kasurnya dengan posisi duduk dan kasur Gus Aham sebagai bantalan kepalanya. dari sehabis jama'ah sholat dhuhur hingga menjelang ashar dia terus merawat suaminya. memijit tengkuk suaminya, memberi minyak pada perut dan dada suaminya, serta bolak balik ke dapur untuk membuat minuman panas.
Setiap kali Gus Aham mutah dan lemas, Aisyah memberinya minuman hangat agar perutnya merasa lebih baik. hingga akhirnya Gus Aham tertidur juga.
"Tok..,
"Tok..,
__ADS_1
"Ttok..,
Pintu kamar mereka di ketuk. Gus Aham membuka mata, badannya masih lemas. dilihatnya Aisyah tertidur dengan posisi seperti itu.
"Aisyah...", panggilnya dengan suara lemas sambil meraih tangan istrinya. merasakan sentuhan, Aisyah pun terbangun.
"Pintunya. ada yang ngetuk pintu". ucapnya lagi. Aisyah segera beranjak dari kasurnya dan berjalan ke arah pintu lalu membukanya. terlihat dokter keluarga sedang berdiri di depan pintu kamar mereka di antar oleh Mba ndalem.
"Ning, di suruh ibu nganter dokter Fadhli ke kamar njenengan buat meriksa Gus Aham". ucap mba ndalem itu. Aisyah mengangguk dan mempersilahkan dokter itu masuk. sementara mba ndalem itu undur diri. Aisyah menutup pintu.
Dokter Fadhli segera menghampiri Gus Aham dan memeriksa nya sambil sesekali bertanya.
"Tadi makan apa saja, Gus?". tanyanya.
Gus Aham pun bercerita kalau tadi pas main ke bengkel otomotif nya ada salah satu karyawan nya datang bawa banyak makanan, syukuran kelahiran putranya. jadi, semua dapat bagian. jadilah mereka istirahat dulu dan makan bersama. setelah makan beberapa menit kemudian, Gus Aham merasakan perutnya mulas dan tidak nyaman. Gus Aham juga sempat muntah hingga akhirnya memutuskan menyetir sendiri untuk pulang.
"Ini memerah dan ruam. artinya njenengan tidak masuk angin, tapi alergi makanan. alergi seperti ini biasanya ditimbulkan dari makanan laut", jelas dokter Fadhli. membuat Gus Aham ingat bahwa dia makan sarden dari sales yang di tolongnya saat sepeda sales itu macet. dan sebagai balasannya dia memberi Gus Aham beberapa kaleng sarden dagangannya karna Gus Aham menolak di beri uang.
"Di infus dulu ya, Gus?!. buat ganti cairan yang hilang". ucapnya sambil mengeluarkan beberapa alat kesehatan seperti,infus dan jarum.
ย
Dokter Fadhli selesai melakukan tugasnya, dia segera mengemas barang-barangnya dan pamit. Aisyah mengantarnya sampai pintu kamar. setelah dokter Fadhli pergi barulah dia menutup pintu kamar dan kembali menghampiri suaminya.
ย
"Saya ambilkan maem (makan) ya, Gus?!. setelah itu minum obat". bujuk Aisyah. Gus Aham mengedipkan kedua matanya, menyetujui usul Aisyah. Aisyah membenarkan selimut suaminya lalu pergi keluar kamar menuju dapur.
"Gimana mas mu, nduk?", tanya Ummi yang baru saja selesai menemui wali santri yang sowan (bertamu) ke ndalem.
"Tinggal lemesnya, Ummi". jawabnya
"Kata dokter, mas mu keno opo (kenapa)?, kamu hamil to nduk?!, dan mas mu yang ngerasain mual nya?!,". selidik Ummi. Aisyah terdiam, kemudian tersenyum lembut.
"Ndak Ummi. kata dokter, Gus Aham alergi makanan laut". jawabnya sontak Ummi agak terkejut karena memang pagi ini tidak ada menu ikan, udang ataupun makanan laut lainnya. dan biasanya Gus Aham tidak pernah alergi seperti itu saat makan makanan laut.
__ADS_1
๐บTO BE CONTINUED ๐บ