Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 111


__ADS_3

Hakim menganguk, menyetujui permohonan Mike. segera Mike menyerahkan ponselnya pada pengacara Gus Aham. lalu meminta seseorang yang di bawanya, yang tidak lain adalah orang yang merekam dan menyebarkan video itu untuk bersaksi.


Orang itu segera di sumpah, sebelum akhirnya bersaksi.


"Waktu itu, hujan lebat disertai angin. saya terpaksa berhenti di tol, karena jarak pandang tidak terlihat.",


"Tiba-tiba dari tol sisi lain, saya melihat mobil Jeep Rubicon di serang secara brutal dengan tiba-tiba oleh seseorang yang menghadangnya.",


"Perkelahian itu terjadi. saya, sebenarnya tidak ada niat merekam. tapi, ntah lah...


"Saya, rasa. saya harus merekamnya.",


"Pikiran saya, hanya akan saya unggah sebagai pengingat pada orang lain, agar berhati-hati.", ceritanya.


Semua hakim, jaksa penuntut umum, dan semua anggota yang hadir, melihat video itu dengan seksama.


Disitu terlihat jelas bahwa, Gus Aham tidak mendorong. ia hanya menghindar, dan karena jalanan licin akibat hujan membuat Kevin tersandung dan jatuh.


Video itu benar-benar memperlihatkan bahwa Gus Aham hanya menghindar. berbeda dengan video dari cctv. bisa jelas demikian, karena tempat pengambilan nya berbeda-beda.


Setelah semua melihat dengan seksama dan menganalisa. hakim, jaksa penuntut umum dan yang lain pun sepakat untuk membebaskan Gus Aham dengan hormat.


Semua bersorak mendengarnya. Gus Ma'adz terlihat menengadahkan tangannya, mengucap syukur dan mengusap wajahnya.


Gus Aham sendiri terlihat sedang melakukan sujud syukur. sementara orang-orang, seperti Mike, Sintya, Nigham dan orang-orang saling berpelukan haru.


Riko tersenyum mendengar keputusan hakim. ia pun diam-diam pergi saat mereka tengah merasakan euforia kemenangan.


Riko masuk dalam mobilnya dan segera berjalan menuju panti. ia tidak sabar, memberi tau Aisyah dan ibu serta mas Raihan bahwa, Gus Aham di bebaskan dari semua dakwaan secara terhormat.


Ponselnya berdering di perjalanan. membuat Riko mengangkat nya.


"Assalamualaikum, mas.", sapa suara di seberang.


"Waalaikum salam.", jawab Riko singkat.


"Mas, njenengan lupa?!.",


"Maaf, ya. mas, lagi repot.",


"Oh, iya. ndak apa.",


"Kamu, sudah di sana?!.",


"Sudah. tapi, kalau mas repot. ndak usah ketemu, lain kali saja.", jawabnya.


"Tunggu sebentar. sepuluh menitan, mas sampe.",

__ADS_1


"Iya.",


"Tunggu, ya?!. wassalamu'alaikum.",


"Waalaikum salam.", jawab suara di seberang. lantas sambungan telepon nya terputus.


Akhirnya, Riko harus mampir ke sebuah tempat makan lebih dulu, karena sudah ada janji.


Ia memarkirkan mobilnya di tempatnya, dan bergegas keluar menemui seseorang yang sudah menunggunya.


Sebenarnya, ia malas. tapi ini sudah di atur oleh ibunya. ia di jodohkan dengan wanita pilihan ibunya.


"Assalamualaikum.", sapanya. lalu duduk di kursi depan wanita itu.


"Waalaikum salam.", jawab perempuan cantik, yang juga seorang dokter itu.


"Maaf. mas, tadi lupa.", ucap Riko. dan dokter Fitri hanya tersenyum.


Setiap kali bertemu, setiap kali pula Riko selalu terlambat dengan alasan sama, repot ataupun lupa. seolah-olah jelas mengatakan secara terang-terangan, bahwa ia tidak menginginkan perjodohan ini.


"Udah pesen?!.", tanya Riko. yang di jawab dengan anggukan oleh dokter Fitri.


"Yaudah. mas, temenin makan aja ya?!. habis itu, mas harus segera ke panti. mas, harus ngecek dan ngontrol keadaan Aisyah.", ucap Riko. membuat dokter Fitri tersenyum pahit.


Calonnya siapa?!. yang dapat perhatian siapa?!. andaikan hatinya bukan buatan Allah. pasti sudah remuk dari dulu, pikirnya.


Mobil Gus Ma'adz dan mobil Mike memasuki pelataran ndalem. membuat Ummi, yang berada di ruang tengah, segera berjalan ke teras.


Nampak Gus Ma'adz, turun. lalu mobil Mike juga terbuka, Mike, Sintya, Nigham dan seseorang yang menjadi saksi kunci atas kasus Gus Aham itu turun. sementara Gus Aham tidak terlihat. membuat Ummi menunduk sedih dan berpaling.


"Ummi...", panggil suara khas milik Gus Aham. membuat Ummi, segera berbalik dan menatap putranya yang tengah berdiri di halaman ndalem.


Air mata Ummi tumpah begitu saja, melihat Gus Aham di sana. dengan langkah cepat, Ummi menghampiri putranya. hingga tanpa kontrol, menubruk tubuh Gus Aham.


Ummi memeluk Gus Aham erat, dan menangis di dada bidang milik putranya. tangis bahagia, serta tangis kerinduannya meledak jadi satu. Gus Aham pun, membalas pelukan Ummi erat. ia juga sangat merindukan ibu dan Abah nya.


Rindu suasana ndalem, rindu kedua keponakannya dan yang pasti, ia merindukan Aisyah.


Di tempat lain....


Riko meninggalkan dokter Fitri begitu saja, setelah mereka selesai makan bersama.


Haich..., bagaimana calonnya bisa jatuh cinta padanya?!. kalau fokus pikiran nya hanya pada Aisyah?.


Dokter Fitri masih terduduk di tempatnya janjian tadi. padahal, hari ini sengaja ia meliburkan diri, agar mereka bisa lebih dekat. agar mereka memiliki quality time untuk saling mengenal lebih lanjut. tapi Riko, mengabaikan nya begitu saja.


"Insyaallah, kalau kondisi Aisyah terus stabil seperti ini. kita bisa melakukan perjalanan ke Banyuwangi, sesegera mungkin, Bu.", ucap Riko, selesai memeriksa Aisyah. ibu dan mas Raihan senang mendengarnya.

__ADS_1


Rencananya, untuk perjalanan itu juga akan di ikut sertakan seorang dokter, untuk mengontrol kondisi Aisyah selama di perjalanan.


"Tok...,


"Tok...,


"Bu. mas, wonten tamu.", ucap mba Yati, di depan pintu. yang mendapat jawaban anggukan dari keduanya.


Mas Raihan dan ibu keluar, untuk menemui tamu mereka. sementara Riko, masih berada di kamar Aisyah.


Ia duduk di tepi ranjang. matanya terus menatap tubuh yang sudah tidak merespon selama hampir tiga minggu ini.


"Bangunlah!.",


"Gus Aham, sudah bebas. dia pasti mencarimu.",


"Dia di bebaskan secara terhormat, karena memang bukan ia pembunuhnya.", Riko terus bercerita. duduknya membelakangi Aisyah, tapi sesekali ia melirik gadis cantik itu.


"Apalagi, kalau dia tau kamu hamil. dia pasti sangat bahagia.",


"Aku, tidak akan bisa menyerahkan surat itu, saat dia kesini mencarimu. itu terlalu kejam.", Riko menarik nafas dalam, setiap ia merasakan ucapannya berat.


"Kenapa tidak biarkan dia menemanimu?.",


"Kenapa sembunyi?!.",


"Kenapa takut buat dia kecewa. inilah, kenyataannya.",


"Dia tidak akan membencimu, karena kamu mencintainya. dan karena kamu, berbuat seperti ini.",


"Kamu hanya takut pada bayanganmu sendiri.",


"Dia tidak akan sedih saat melihat keadaan mu begini. justru, ia akan sangat sedih karena tau tidak berada di sisimu di saat, kamu membutuhkannya.",


Riko terdiam. ia mulai mengusap-usap bagian bawah kelopak matanya. ada buliran bening jatuh dari sana.


Ia berpikir, betapa beruntungnya Gus Aham di cintai oleh Aisyah, yang rela melakukan apapun untuknya. bahkan, berkorban nyawa.


Bahkan setelah berkorban, ia tidak menuntut apapun. ia memilih sembunyi sampai semuanya membaik, menanggungnya seorang diri.


Baru, saat ia sudah merasa lebih baik. ia memilih kembali tanpa banyak kata, dan hadir hanya dengan senyuman.


Ia tau, Aisyah tidak ingin memberi Gus Aham harapan lebih. ia tidak ingin Gus Aham kecewa, dengan mengharap bahwa Aisyah bisa sembuh total. oleh sebab itu, Aisyah membuat jarak dengan Gus Aham.


Minimal, jika sampai kemungkinan terburuk terjadi. Gus Aham lebih dulu melupakannya. jadi, Gus Aham tidak akan terlalu sedih dengan kepergiannya. Riko, paham betul dengan pemikiran Aisyah ini.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2