
Setelah suaminya berangkat. Aisyah seperti biasa, berangkat mengajar di diniyah. ia melakukan kegiatan sehari-hari nya seperti biasa.
Mengajar, menyimak, mengaji bersama para santri. hingga ikut dalam kegiatan batshul masa'il yang sering di selenggarakan para santri dalam membahas, dan menghukumi berbagai masalah, kebiasaan dan hal lain di zaman yang semakin modern ini.
Bila waktunya senggang, ia akan bermain dengan kedua ponakannya. siapa lagi?!, tentu saja putri dari Ning Nafis dan Gus Ma'adz, Ning Dija dan Ning Shofy.
Belum lagi, akhir-akhir ini pondok dan diniyah sering mengadakan rapat triwulan. rapat yang membahas ujian pertengahan semester dan liburan bulan maulud setelah semester.
Ya, di pondok semester pertama sebelum liburan bulan maulud. liburan bulan maulud biasanya di mulai dari tanggal 10 bulan maulud sampai tanggal 17-18 maulud.
Liburan ini, terjadi setelah semester pertama. waktunya satu minggu, dan santri di izinkan untuk pulang.
Bagi yang jauh, seperti luar Jawa. biasanya, mereka tidak akan pulang. tapi, memilih liburan di rumah teman mereka atau di pondok.
Apa bedanya?!, liburan di pondok?. bukankah sama saja dengan hari biasa?!.
Tidak!. biasanya, kalau liburan bulan Maulud. mereka bebas, bisa nonton TV, mendengarkan musik, membawa ponsel. dan mendapat izin rukhsoh untuk pergi ke luar pondok.
Ponsel Aisyah berdering saat ia sedang mengikuti rapat membuat soal ujian untuk diniyah.
"Maaf.", ucapnya. lalu, meminta izin pada kakak iparnya. untuk keluar sebentar, hendak menerima telepon dari suaminya.
"Assalamualaikum.", sapa suara suaminya dari seberang. membuat Aisyah tersenyum senang
"Waalaikum salam.", jawabnya.
"Mas, baru sampai. baru ketemu Abah, mas sama beberapa jama'ah yang ikut nyusul ke sini.", ucapnya memberi kabar pada istrinya.
"Alhamdulillah. mas, istirahat dulu ya?!.", pinta Aisyah. berharap suaminya mematikan panggilannya, karena merasa tidak enak dengan para guru, pengurus dan Masyayikh yang mengikuti rapat, bila ia keluar terlalu lama.
"Ini, mas sambil rebahan.", jawabnya. dan memang Gus Aham sedang rebahan di ranjang apartemen yang di sediakan salah seorang jamaah Abah, untuk Abah dan para jama'ah yang ikut. tentu saja, ada apartemen khusus untuk Abah dan putra-putranya. itu sebabnya, Gus Aham bisa leluasa untuk istirahat.
"Yasudah. njenengan istirahat dulu, nanti telfon lagi. ini, saya lagi rapat. ndak enak sama Masyayikh yang hadir.", ucap Aisyah. meminta pengertian suaminya.
Terdengar Gus Aham mendengus disana.
"Yasudah. nanti kalau sudah selesai, telepon mas ya?!.", ucapnya setelah diam beberapa saat.
"Injih, njenengan istirahat dulu nggeh?!. saya ikut rapat dulu.", jawab Aisyah.
"Ok. assalamualaikum, cintaku.", ucapnya, sebelum menutup telepon nya. membuat Aisyah tersenyum di sana.
__ADS_1
"Waalaikum salam.", jawabnya.
Panggilan berakhir. Aisyah, segera memasukkan ponsel ke dalam saku gamisnya dan segera masuk ke aula, untuk mengikuti rapat selanjutnya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Begitu rapat selesai, Aisyah dan Ning Nafis berniat segera pulang ke ndalem.
Kakak iparnya, begitu perhatian. ia bahkan terus menggandeng tangan Aisyah saat menuruni tangga aula.
Bukan tanpa sebab ia melakukan itu. selain amanah dari adik suaminya, Ning Nafis juga ndak ingin adiknya kenapa-kenapa. mengingat rapat berada di lantai dua, dan perut Aisyah semakin besar. pasti sulit bagi adiknya, untuk menuruni tangga.
"Mba, langsung pulang ya nduk?!.", ucap Ning Nafis, setelah mengantarkan Aisyah ke kamarnya.
"Iya, mba.", jawabnya.
"Yasudah. kamu, istirahat ya?!.", ucapnya, setelah membantu adiknya duduk di pinggir ranjang. membuat Aisyah menganguk sebagai jawaban.
"Assalamualaikum.", pamit Ning Nafis. dan ia segera membuka pintu kamar Aisyah, meninggalkan Aisyah di kamar sendiri.
Aisyah mencoba menghubungi suaminya. tapi, setelah menunggu beberapa saat. Gus Aham tidak kunjung mengangkat ponselnya.
Aisyah pun berpikir, mungkin suaminya sedang istirahat. jadi, tidak mendengar saat ponselnya berdering.
Ya, Abah mengajak berkunjung untuk "ngalap berkah". meminta doa dari para kyai-kyai sepuh dan habaib untuk para jama'ah nya, para santrinya, para muridnya, untuk keluarga serta anak cucunya, dan pastinya yang terakhir untuk bangsa dan negaranya.
Hari ini ada sekitar lima ndalem kyai sepuh dan habaib yang bisa di sowani oleh Abah beserta jama'ah. rencananya, besok mereka akan ke ndalem dan apartemen tempat kyai-kyai sepuh dan habaib lainnya menginap.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam lewat. Abah, Gus Ma'adz dan Gus Aham baru saja memasuki apartemen tempat mereka menginap.
Apartemen yang besar dengan tiga kamar tidur dan satu kamar mandi. lalu, ada ruang tamu, dapur minimalis dan meja makan.
"Bah. Aham, langsung istirahat nggeh?!.", ucapnya. meminta izin pada Abahnya.
"Iya. jangan lupa, besok berangkat pagi ke acara istighosah nya. soale mampir-mampir, sek.", ucap Abah, mengingatkan. yang segera di jawab anggukan oleh Gus Aham.
"Injih, bah.", jawabnya.
"Mas, saya istirahat dulu, ya?!.", ucapnya, pada Gus Ma'adz. sebelum meninggalkan mereka dan masuk kamar.
"Iya, le.", jawab Gus Ma'adz. yang segera membuat adiknya berlalu.
__ADS_1
Gus Aham masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaian. setelah nya, ia baru merebahkan diri di ranjang.
Gus Aham mengambil ponsel nya, yang ia simpan di atas meja. ada beberapa panggilan dari sang istri tercinta, yang segera membuat nya duduk seketika.
Ia segera menelepon balik istrinya. ia tau, ini sudah sangat larut. tapi, ia tidak ingin Aisyah terjaga karena menunggu panggilan darinya.
"Assalamualaikum.", ucapnya. ketika panggilan video itu tersambung. benar saja, istrinya belum tidur.
"Waalaikum salam.", jawab Aisyah pelan.
"Nungguin, mas?!.", tanya Gus Aham. dan Aisyah hanya tersenyum. ia terlihat kelelahan.
"Capek?!.
"Seharian ini ngapain?!.", tanya Gus Aham.
"Rapat, ngurus persiapan ujian, sama....
"Jangan terlalu capek.", sahut Gus Aham. ia memotong ucapan istrinya yang belum selesai menjawab pertanyaan nya. sehingga membuat Aisyah tersenyum.
"Taruh ponselnya di perut, sayang. mas, mau ngobrol sama dia.", perintahnya, yang membuat Aisyah segera menaruh ponselnya di atas perut.
"Assalamualaikum, sayang.", sapanya, pada perut buncit istrinya.
"Seharian ini, ngapain aja sama ibu?!.", tanyanya lagi. membuat Aisyah tersenyum mendengarnya.
"Pinter, kan?!. ndak rewel dan bikin ibu sakit, kan?!.", tanya Gus Aham.
"Mboten, yah.", jawab Aisyah. menirukan suara anak kecil sambil tersenyum. membuat Gus Aham, yang berada di seberang juga tersenyum.
"Yaudah. ibu, sudah capek. bobo, ya?!. yang pintar, ya?!. besok kalau pulang, ayah beliin banyak oleh-oleh.", ucapnya. berbicara pada bayi mereka.
"Sayang!.", panggilnya. yang membuat Aisyah, mengarahkan layar ponsel pada wajah nya.
"Hari ini, beneran nggak ada apa-apa, kan?.", tanyanya, memastikan. Aisyah menggeleng, membuat Gus nampak menghela nafas disana.
"Perasaan, mas. ndak enak.", ucapnya.
"Itu karena, njenengan terlalu khawatir.", jawabnya. mencoba menenangkan hati suaminya.
"Karena, sekarang kita kepisah. jadi, njenengan terlalu khawatir.", sambungnya. membuat Gus Aham nampak berpikir.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺