Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 23


__ADS_3

Pagi ini Ummi sudah bersiap hendak kerumah ibu, berkunjung sekalian memberi kabar bahagia.


"Nduk, Ummi pamit dulu. kamu istirahat saja, pokoknya jangan capek-capek.", pesan Ummi pada Aisyah.


Aisyah tersenyum dan mengangguk.


"Le, kamu jaga istrimu. jangan di tinggal kalau Ummi belum balik. urusan pondok nanti biar Ummi yang bilang ke mas mu, biar di urus dia dulu.",


"Injih, mi.", jawabnya


"Yowes, Ummi berangkat dulu.ya.",


Ummi pamit dan keluar dari kamar Gus Aham. untuk menghilangkan kejenuhan, Gus Aham mengambil laptopnya dan membuka email melihat laporan dari para karyawan nya.


Ia mengerjakan dan mengecek laporan di ranjang, menemani istrinya.


"Gus. apa orang hamil ndak boleh keluar sama sekali?.", tanya Aisyah.


"Ndak tau, tapi pesen Ummi gitu.", jawabnya dengan tetap sibuk menatap layar laptopnya.


"Gus. ini baru hari pertama, dan sudah ndak boleh ngapa-ngapain. saya takut, bukannya malah sehat tapi malah makin stress.",,


Jari Gus Aham berhenti mengetik, ia melihat istrinya. benar juga, yang ada malah stress karena ndak boleh kemana-mana.", pikirnya.


"Mau kemana?.", tanya Gus Aham.


"Ndak tau.",


"Mau keluar?.", tanya suaminya lagi yang di angguki Aisyah.


"Ok. ayo.", ajaknya.


Gus Aham menutup laptopnya dan turun dari ranjang, lalu beralih ke sisi ranjang yang lain dan membantu Aisyah turun.


"Masih pusing?.", tanyanya ketika Aisyah sudah berdiri di sampingnya.


"Ndak. cuma lemes.", jawabnya.


"Uaudah. ayo jalan pelan-pelan.",


"Gus, ndak usah di tuntun gini. kaya' orang sakit jadinya.",


"Trus, mas mesti ngapain?.", tanyanya. yang membuat aisyah terdiam dengan kata "mas". ia yang salah dengar?!, atau suaminya yang salah ucap?.", pikirnya.


"Kenapa?.", tanya Gus Aham yang melihat Aisyah terdiam.


"Ndak. jalan sendiri-sendiri aja,". jawabnya pelan.

__ADS_1


Aisyah dan Gus Aham keluar kamar juga pada akhirnya. mereka menuju gazebo di taman belakang.


Gazebo di ndalem Ummi dan Abah semua dari kayu jati yang di ukir dan di plitur dengan warna yang masih memperlihatkan serat kayu.


Banyak tanaman hias di tiap-tiap sekitar gazebo yang kebanyakan adalah bunga Amarylis, bunga Anthurium, bunga Aglaonema, bunga Calla Lily, bunga Alamanda, bunga Camellia dan Anggrek, yang semua adalah bunga favorit Ummi.


Ada juga kolam ikan hias, yang airnya terus mengalir dengan pohon bunga Oliander yang tumbuh di tengahnya, menambah kesejukan mata yang memandang.


Aisyah duduk di gazebo, ia membawa semua pekerjaan nya untuk persiapan acara wali murid. sedang Gus Aham membawa laptopnya, duduk dan mulai mengetik susunan acara untuk haflah akhirussanah.


Seorang mba ndalem datang dengan membawa nampan berisi teh panas dan cemilan, lalu meletakkan di meja tempat Aisyah dan Gus Aham. begitu selesai mba ndalem itu segera undur diri.


"Njenengan, minta di bawain teh?.", tanya Aisyah pada suaminya.


"Iya. tadi pas kamu minta keluar, mas langsung ke ndalem, minta mba ndalem buatin teh panas sama cemilan buat di anter kesini. siapa tau kamu mau ngemil?!. kan, dari kemarin susah makan.", jawabnya sambil terus mengetik dan sesekali melihat layar laptopnya.


Diam-diam Aisyah tersenyum mendengar penjelasan suaminya. mungkin, hadirnya bayi ini adalah jalan bagi mereka untuk semakin dekat. untuk membangun tujuan pernikahan yang sesungguhnya, bukan hanya sekedar terikat tanpa menjalankan kewajiban masing-masing dan bukan hanya sekedar untuk membahagiakan kedua orang tua masing-masing.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Assalamualaikum." ,ucap Ummi begitu sampai di depan pintu panti.


"Waalaikum salam.", jawab mba Yati yang langsung menghampiri Ummi dan mencium tangannya.


"Monggo, Ummi.", ucap mba Yati mempersilahkan Ummi untuk duduk di ruang tamu.


"Mba' yu, kemana?.", tanya Ummi sambil memasuki ruang tamu panti, tempat biasa ibu menerima kunjungan para donatur.


"Ayo. aku di anterin ke sana wae, mba.", perintah Ummi.


"Injih, monggo.",


Mba Yati berjalan lebih dulu dengan tetap sedikit menundukkan badannya sebagai rasa ta'dhim dan hormat nya pada Ummi.


"Assalamualaikum, mba yu.", ucap Ummi begitu sampai di depan gazebo tempat ibu bekerja mencatat semua laporan pemasukan dana pengeluaran panti, untuk laporan tiap akhir bulan pada semua pengurus panti.


"Waalaikum salam.", jawab ibu. begitu sumringah melihat Ummi datang yang segera di sambut dengan mencium tangan Ummi lalu memeluknya.


kedua besan itu terlihat begitu bahagia dengan pertemuan mereka.


"Alhamdulillah. aku di sambangi.", celetuk ibu.


"(alhamdulillah. aku di jenguk).


"Kangen, aku mba' yu.", ucap Ummi.


"Sami, nyai. kulo geh kangen.",

__ADS_1


"(Sama, Bu nyai. saya juga kangen).",


Ibu dan Ummi pun segera naik dan duduk di gazebo. mba Yati datang dengan membawa teh dan cemilan untuk menemani ibu dan Ummi mengobrol. sementara ibu membereskan dan merapikan semua pekerjaannya.


"Yu. selain jenguk sampean, aku bawa berita bahagia, lho.", ucap Ummi setelah mba Yati pergi.


"Kabar bahagia nopo, nyai?.",


"Aisyah hamil. mantuku hamil, yu.", jawab Ummi dengan bersemangat. terlihat jelas betapa Ummi sangat bahagia dengan kabar kehamilan Aisyah.


"Loch. leres to ,nyai?.(Loch. benarkah itu, Bu nyai?).",


Ummi menjawab dengan anggukan cepat saking senengnya.


"Pun pinten Minggu usia kehamilane, nyai?.",


(sudah berapa Minggu usia kehamilan nya, Bu nyai?.)


"Belum ada dua Minggu, kata dokter.",


"Alhamdulillah.", ucap ibu yang juga sangat bahagia mendengar kabar ini.


Ummi dan ibu berbincang-bincang dan mengobrol. ada saja obrolan yang membuat kedua besan itu tertawa.


Sementara di pondok....


Aisyah memijit pelipisnya dan menyandarkan punggungnya.


"Kenapa?.", tanya Gus Aham yang tidak melihat istrinya mengetik laptop. padahal tadi Aisyah bilang ingin pinjam laptop untuk mengetik susunan acara saat wali murid, membuat Gus Aham meminjamkannya dan mengerjakan tugas lainnya.


"Pusing, Gus.", jawabnya pelan.


"Pusing kenapa?.",


"Ndak tau. lihat layar laptop, lama-lama kok pusing.",


"Masih banyak yang harus di ketik?.", tanyanya dan di jawab anggukan lemah dari Aisyah.


"Sini bukunya. mas, ketikin.", ucapnya menggeser buku dan laptop lalu mulai mengetik.


Baru beberapa ketikan. Gus Aham melihat Aisyah tidak nyaman dengan rasa pusing di kepalanya. maka gus Aham pun bergeser mendekati Aisyah, lalu memijit kepalanya pelan dengan tetap duduk di samping istrinya. Aisyah sedikit terkejut. ia sempat memandang wajah suaminya yang masih serius membaca layar laptop, mencocokkan dengan tulisan di buku yang sudah di tulis Aisyah.


"Gimana?. berkurang?.", tanya Gus Aham memandang istrinya. Aisyah tersenyum dan mengangguk yang di balas dengan senyuman lega dari bibir Gus Aham.


Gus Aham menyandarkan kepala Aisyah di bahunya. ia pun mulai mengetik lagi, melanjutkan tugas istrinya sambil sesekali memberikan pijatan atau pun mengelus rambut ikal istrinya.


Aisyah tersenyum, mengamati suaminya diam-diam saat sedang fokus bekerja. apalagi melihat rambutnya yang di ikat Cepol ke belakang, tapi rambut bagian kening masih ada yang berantakan, membuatnya terlihat lebih manis, dengan di tambah perlakuannya akhir-akhir ini pada Aisyah.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2