Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 97


__ADS_3

Aisyah tidak bisa tidur semalaman. pikirannya menerawang kemana-mana. apalagi Gus Aham tidak bisa ia hubungi.


Ia masih terduduk di ranjangnya. ponselnya terus ia genggam, berharap suaminya segera menghubunginya, mengingat ia telah meninggalkan begitu banyak pesan untuk Gus Aham.


Hingga akhirnya, tanpa ia sadari. ia tertidur karena lelah dan terlalu tegang. untunglah, itu tidak mempengaruhi janin di kandungannya.


Adzan subuh berkumandang. Aisyah terbangun, ia menoleh ke seluruh ruangan kamarnya.


"Syukurlah, aku hanya bermimpi.", gumamnya. ia segera beranjak ke kamar mandi, berharap suaminya sudah menyiapkan air mandi seperti biasa untuknya. tapi begitu sampai disana. ia mendapati bak mandinya kosong, yang mengisyaratkan bahwa suaminya tidak menyiapkan air untuknya.


Tunggu!. tidak menyiapkan?!, atau tidak pulang?.",


Aisyah hendak melangkah meninggalkan kamar mandi dan mencari suaminya di ruang tamu.


Biasanya, kalau sedang menginap di panti, setelah sholat subuh, Gus Aham akan duduk bercengkrama dengan kakaknya di ruang tamu panti atau di gazebo samping kamarnya.


Tapi baru saja ia melangkah, Aisyah berhenti dan kembali ke kamar mandi. ia memilih berwudhu untuk menenangkan dirinya dan segera melaksanakan sholat subuh.


Aisyah selesai melaksanakan sholat wajib dua rakaat. ia melanjutkan dengan berdoa. hatinya gusar dan tidak tenang.


Baru saja ia menengadahkan tangannya. suara berisik dan panik di ruang tamu mengusik di telinganya. ia keluar kamar. dan mendekat ke sumber suara.


Suara orang-orang yang tidak asing di telinganya. dan mereka terdengar menyebut-nyebut nama suaminya.


"Injih, Bu. kulo, nembe angsal kabar niki wau.", ( iya, bu. saya, baru saja dapat kabar).", ucap mas Raihan.


"Bu. kulo, mriki. selain maringi perso lan kabar. kul,o nggeh ajenge nyuwun tulung. Aisyah, ampun semerap riyen, nggeh?!.", ( Bu. saya, kesini. selain memberi tau dan kabar. saya, juga mau minta tolong. Aisyah, jangan sampai tau dulu, ya?!.", ucap Gus Ma'adz pelan. suaranya terdengar berusaha menenangkan ibu.


Aisyah terdiam di balik tembok. ia bersandar, tubuhnya yang masih terbalut mukena lemas seketika, tapi ia berusaha menguatkan hatinya.


Air matanya menetes, mewakili perasaannya yang kalang kabut. ia meraba perutnya, ingat!. ada janin yang butuh kekuatan disana.


Aisyah menghela nafas dalam lalu menghapus air matanya. suara-suara di ruang tamu itu, masih saling beradu.


"Dimana Gus Aham?!. saya mau ikut.", ucap Aisyah. sontak kehadirannya mengangetkan ibu, mas Raihan, mba Amira dan Gus Ma'adz, yang sedang berdiskusi di sana.


Mba Mira berdiri dari duduknya. ia hendak melangkah untuk menenangkan adik iparnya, tapi mas Raihan menahannya dengan isyarat yang membuatnya duduk kembali.

__ADS_1


Mas Raihan yang menghampirinya.


"Aham, ndak....,


"Jangan bohong, mas!. aku, tau apa yang terjadi. saat Gus Aham menjerit kesakitan, kita sedang telfonan.", sahut Aisyah yang memotong perkataan kakaknya. mas Raihan menghela nafas di sana.


"Gus, saya ikut. sebentar, saya ganti baju dulu.", ucapnya. ia lantas meninggalkan mereka semua dan berjalan ke kamarnya.


Sampai kamar. Aisyah segera melepas mukenanya dan berganti baju. tidak lupa, ia memakai jilbab dan menyahut ponsel dan memasukkan nya kedalam tas, sebelum keluar dari kamarnya.


Ia berjalan tergesa-gesa dari kamarnya, menuju ruang tamu.


"Sya, kamu naik sama, mas. biar nanti, Gus Ma'adz ndak riwa-riwi nganter kamu.", ucap mas Raihan, yang hanya di angguki adiknya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Setelah hampir empat puluh lima menit perjalanan. akhirnya, mobil berhenti didepan sebuah rumah sakit. terlihat Gus Ma'adz turun dari mobilnya. Aisyah pun juga cepat-cepat turun dari mobil mas Raihan.


Ia melihat sebuah mobil Jeep Rubicon warna putih yang ia kenal. mobil itu terparkir di depan rumah sakit ini juga.


"Ayo.", ajak mas Raihan. Aisyah memandang kakaknya lalu kakak iparnya bergantian. Gus Ma'adz mengangguk, yang membuatnya menyetujui ajakan kakaknya untuk masuk ke rumah sakit.


Bukan tanpa sebab. mas Raihan, khawatir Aisyah shock. sebab, saat di panti tadi. Gus Ma'adz bilang, bahwa jok mobil berlumuran darah. kemungkinan, sekuat tenaga Gus Aham menyetir mobilnya sampai berhenti di gerbang rumah sakit.


Entahlah, ia belum menanyakan lebih lanjut pada orang yang menemukan adiknya. ia hanya mendapat telfon lewat ponsel adiknya, dari orang yang menolongnya tadi pagi.


Mereka menuju resepsionis, menanyakan dimana kamar pasien dirawat?!. setelah mendapat petunjuk dan arahan, mereka segera pergi menuju ruang ICU.


Ya, Gus Aham terbaring disana. dan masih berjuang, beberapa perawat terlihat membawa kantung darah ke ruang ICU. membuat degup jantung Aisyah berdetak cepat.


Ia melangkahkan kakinya lebih cepat. dan terhenti di depan ruang ICU. ia masih berdiri, memandang pintu yang menyembunyikan suaminya disana.


"Duduk dulu, nduk.", ucap Gus Ma'adz. Aisyah hanya diam, pandangannya menunduk. membuat mas Raihan yang duduk bersama Gus Ma'adz beranjak berdiri dan menghampiri adiknya.


"Duduk dulu, sya.", ajak mas Raihan. ia menarik kedua bahu adiknya, dan mendudukkan tubuh Aisyah di kursi.


Ini sudah lewat lima belas menit, dan belum ada dokter ataupun perawat yang keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Permisi, pak.", ucap seorang perawat yang menghampiri mereka. membuat Gus Ma'adz, Aisyah dan mas Raihan berdiri serentak.


"Saya, dari bagian administrasi. mohon untuk mengurus administrasi lebih dulu.", ucapnya.


"Baik.", jawab Gus Ma'adz.


"Mari iku,t saya.", ajak perawat itu.


"Tunggu!.", ucap Aisyah. ia mendekati perawat itu.


"Bagaimana, suami saya bisa sampai disini?.", tanyanya, pada perawat wanita itu.


"Sekitar jam empat pagi tadi, tiba-tiba ada mobil Jeep yang berhenti di tengah jalan, tepat di depan rumah sakit kami. satpam, berpikir. mobil itu mogok.",


"Tapi, setelah beberapa saat. satpam, kami tidak melihat ada orang yang keluar dari mobil itu.",


"Karena mobil itu berhenti tepat di tengah jalan, dan posisinya melintang, seperti ingin menyeberang. akhirnya, satpam kami mencoba mengecek.",


"Takut terjadi kecelakaan, atau sopir tertidur. satpam, kami berusaha membangunkan si pengemudi. tapi, kemudian satpam menyadari kalau kondisi pengendara tidak baik. jadilah, ia memanggil satpam lain dan meminta bantuan perawat untuk membawa brankar.",


"Kami, membuka pintu mobil. untungnya tidak di kunci. lalu bersama-sama mengevakuasi di pengemudi dan membawanya ke rumah sakit kami.", ucapnya mengakhiri ceritanya.


"Lalu, yang menelpon saya?!.", Gus Ma'adz bertanya.


"Salah seorang perawat pria, pak.", jawabnya.


"Lalu, bagaimana kondisi suami saya, saat ditemukan.",


"Kondisinya cukup memperihatinkan. ada beberapa luka tusukan di pinggang. luka-luka kecil, dan kehilangan banyak darah.", jawabnya. membuat Aisyah menoleh pintu ruang ICU yang berada di samping kanannya.


Dalam hatinya, ia hanya berharap. suaminya baik-baik saja. karena sekarang, bukan hanya dirinya yang menunggu Gus Aham, tapi ada calon anak mereka.


Ia mengusap perutnya pelan. meminta janinnya untuk tenang.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺

__ADS_1


__ADS_2