
ย
Jam 11lewat, hampir tengah malam. aisyah dan Gus Aham keluar dari asrama anak-anak, mereka menutup pintu perlahan agar tidak membangunkan anak panti yang sudah tidur. bukan tanpa alasan, karena sebelumnya mereka terbangun dan minta mendengar cerita dari Aisyah lagi ketika Gus Aham dan Aisyah tidak sengaja menutup pintu hingga menimbulkan suara.
ย
Dengan langkah pelan juga mereka meninggalkan asrama itu dan kembali ke kamar Aisyah. begitu masuk kamar, Aisyah segera menyiapkan tempat tidur untuk suaminya, sedang Gus Aham ke kamar mandi dan mengganti baju.
"Kenapa ada bantal di sofa?.", tanya Gus Aham saat baru keluar dari kamar mandi dan melihat Aisyah meletakkan bantal di sofa kamarnya.
"Njenengan tidur di ranjang, saya tidur di sofa. Gus.",
"Memangnya kenapa?!,
"Saya takut, njenengan ndak nyaman. bukane njenengan pernah bilang, kalau ndak biasa tidur Seranjang berdua sama orang lain?",
"Tapi, bukannya kemarin kita sudah tidur seranjang?!. malah nggak cuma tidur, kita juga ngapa-ngapain bareng.",
perkataan Gus Aham tentang ngapa-ngapain itu membuat Aisyah mengerutkan keningnya, karena melihat ekspresi wajah suaminya yang aneh dan ragu.
Gus Aham yang sadar raut wajahnya di perhatikan istrinya, segera menghela nafas agar ekspresinya berubah.
"Sudah. kita tidur di ranjang saja.", ucapnya meninggalkan Aisyah dan segera naik ke ranjang. Aisyah hanya diam, berdiri melihat punggung suaminya yang sudah merebahkan diri di ranjangnya.
Gus Aham mengharapkan Aisyah segera menyusulnya naik ke ranjang, tapi kenapa tidak ada suara atau pergerakan apapun?. ia pun membalikkan badannya, dan melihat Aisyah masih berdiri ditempatnya.
"Aisyah. kenapa berdiri disitu?, cepat kesini. tidur, istirahat, besok kita harus balik ke pondok.",
Aisyah tersenyum lalu segera naik ke ranjangnya. ada perasaan gugup. dulu, Aisyah tidak berani membayangkan hal indah di antara mereka layaknya pasangan suami istri akan terjadi, tapi kini tidak perlu di bayangkan, tidak perlu di hayalkan. perlahan mereka mulai merasakannya sendiri.
Aisyah dan Gus Aham saling beradu punggung awalnya, hingga saat Aisyah sudah hampir terpejam, ia merasakan ada tangan kekar yang melingkar di pinggangnya.
Aisyah terkejut, tapi tidak berani berontak. ia menatap kebawah, melihat tangan itu memeluk erat pinggangnya.
"Tidurlah.", terdengar suara Gus Aham.btepat disamping telinganya, membuat leher dan tengkuk Aisyah merasa merinding bercampur hangat karena terkena hembusan nafas Gus Aham.
Aisyah memejamkan mata, berharap ia bisa segera tidur. mencoba meredam perasaan dalam dadanya yang berdetak kencang tidak karuan dan terus mengatur nafasnya pelan agar kegusarannya mereda dan hilang, tapi sepertinya semua sia-sia, karena Gus Aham menariknya lebih dekat dan lebih masuk dalam pelukannya.
Bahkan dagu lancap itu kini telah masuk dicerung antara pundak dan leher Aisyah, terkadang dengan manja menggosokkannya di cerung leher dan pundak, membuat Aisyah menegang dan menahan desahan yang malah membuatnya mengeluarkan suara dengusan dari hidungnya.
"Kenapa?.", tanya Gus Aham tetap dengan posisinya.
Aisyah menarik nafas pelan dalam-dalam.
"Ndak apa, Gus.",
"Ndak nyaman tak peluk?,".
__ADS_1
"Ndak kok, Gus. nyaman.", jawabnya.
bagaimana mungkin Aisyah menjawab tidak nyaman?!, bukankan semua yang ada pada diri ini hak nya?. dan lagi, ini adalah kemajuan dalam hubungan mereka sebagai suami-istri, walaupun berawal dari tragedi yang membuatnya ketakutan setengah mati, hingga malam pertama yang menurut Aisyah sebagai kecelakaan, karena mungkin waktu itu mereka sama-sama dalam pikiran yang tidak jernih.
Tapi kelihatannya pemikirannya itu salah, kini secara terang-terangan Gus Aham memintanya tidur seranjang dan bahkan memeluknya setelah hampir empat bulan mereka hanya menjadi teman sekamar dengan ranjang yang berbeda.
Sebenarnya, bukan pelukan Gus Aham yang membuatnya tidak nyaman. lebih ke perasaannya sendiri yang tidak karu-karuan saat ini.
Dag dig dug di dadanya yang membuatnya tidak tenang, sampai membuatnya menarik nafas dalam-dalam dan berusaha meredamnya. takut kalau suaminya tahu apa yang dirasakannya saat ini.
Gus Aham membalikkan tubuh Aisyah sehingga posisi mereka saling berhadapan. ia mendongakkan dagu Aisyah, agar istrinya melihatnya.
"Maaf, untuk kejadian di hotel kemarin. mungkin itu terjadi karena kekhilafanku. tapi kali ini, dan mulai hari ini. saat kita akan melakukannya, aku akan menunggumu siap.", ucapnya setelah Aisyah menatapnya. Aisyah tersenyum lalu mengangguk.
"Sekarang, tidurlah.", perintahnya yang di angguki Aisyah.
Gus Aham meraih tubuh Aisyah, mendekapnya dalam pelukan sampai kepala Aisyah berada di bawah dagunya. beberapa kali Gus Aham mengecup rambut istrinya hingga mereka tertidur.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
ย
Suasana pagi di panti benar-benar ramai. berbagai pemandangan terlihat. mulai dari anak-anak yang bekerjasama mengerjakan tugas piketnya, seperti mengepel aula dan asrama, menyapu rumah dan halaman, terlihat juga anak-anak yang mengantri kamar mandi. suara gelak tawa dari candaan mereka saat melakukan tugasnya, bahkan suara dan teriakan mba Yati si tukang masak, yang selalu meneriakkan jam terupdate, agar anak-anak lebih cepat menyelesaikan tugasnya sebelum semua berangkat dengan tugasnya masing-masing sebagai murid bagi yang masih sekolah, kuliah dan bekerja bagi mereka yang sudah dewasa.
ย
Aisyah yang baru saja meletakkan nampan berisi kopi dan camilan di meja hanya tersenyum.
"Dipondok, gak serame ini.", lanjutnya sambil menerima secangkir kopi dari Aisyah. Gus Aham bersandar di tembok, sambil menatap keluar.
"Dipondok juga rame, hanya mungkin njenengan yang ndak tau. mereka sama dengan anak panti, apalagi kalau main ke ndalem Gus Ma'adz dan Ning Nafis yang memang pondok tarbiyah (pondok khusus untuk anak-anak), masyaalloh ramenya, tapi nyenengin. lucu.", cerita Aisyah sambil merapikan tempat tidurnya.
Gus Aham terdiam, perlahan ia menaruh cangkir itu di coaster yang di pegangnya.
"benar, selama ini aku tidak tau apapun tentang urusan pondok. apapun yang terjadi aku tidak mau tau?, itu sebabnya hubunganku dengan Abah tidak begitu baik.", pikirnya.
"Tok.....,
"Tok.....,
"Tok.....,
Suara ketukan pintu membuyarkan pikirannya. Aisyah yang hendak berjalan ke arah pintu, tapi di cegah oleh Gus Aham.
"Biar aku, saja.", ucapnya, lalu melangkah mendekati pintu dan membukanya.
"Sarapan sudah siap, Gus. monggo, ditunggu ibu.", ucap mba Yati begitu pintu terbuka dan melihat Gus Aham.
__ADS_1
"Iya, mba.", jawabnya
Mba Yati undur diri, Gus Aham menutup pintu dan menghampiri Aisyah.
"Mba Yati, barusan dateng. katanya sarapan sudah siap, ditunggu ibu.", ucapnya duduk di pinggiran ranjang.
"Sebentar geh, Gus. ini sebentar lagi selesai, kan habis sarapan kita langsung balik ke pondok. jadi saya beresin sekalian kamar dan barang-barangnya.", Gus Aham melihat Aisyah yang beralih memasukkan semua pakaian Gus Aham dalam koper.
"Sudah selesai?.", tanyanya ketika melihat Aisyah menutup resleting koper.
"Sudah.",
"Ayo keluar. pasti sudah ditunggu, ibu.", ajaknya. Aisyah mengiyakan.
"Pak lek sama bulek lama banget. ngapain aja to dikamar?.", tanya Abel begitu melihat pak lek dan bulek nya memasuki ruang makan. ia mengerucutkan bibirnya pertanda kesal.
"Maaf. tadi bulek beres-beres kamar dulu.", jawab Aisyah.
"Bulek, ndak lihat to?!, ini jam berapa?. anak-anak panti sudah pada berangkat. aku masih disini nungguin pak lek sama bulek buat sarapan.",
"Hech. lhawong pak lek sama bulek sudah dateng, yo kamu ndang berdoa. kok malah marahin pak lek bulek, malah tambah telat.", ucap ibu.
"Halah. yang ti, iki mesti bela bulek. yowes ayo berdoa.", ucap Abel kesal karena uti nya membela pak lek bulek nya.
Selesai sarapan, Abel segera meraih tasnya dan berlari keluar rumah. Aisyah dan Gus Aham pun pamit untuk kembali ke pondok.
"Ati-ati ya, nduk.", ucap ibu sambil memeluk dan mengelus punggung Aisyah sesaat lalu melepaskannya.
"Titip Aisyah ya, le?!.", pesannya pada menantunya, ketika Gus Aham meraih tangan ibu dan menciumnya.
"Injih, Bu.", jawabnya.
Mereka berjalan keluar rumah, ibu mengantarkan sampai teras. Gus Aham terkejut saat meraih pintu mobil.
"Pak lek, hari ini anterin aku sekolah.", ucap Abel yang muncul tiba-tiba dari jok belakang. membuat Gus Aham sedikit terkejut.
"Pak lek kaget ya?!, pak lek, kan belum tua. kok kagetan.", tanya bocah kecil itu. Gus Aham menghela nafas.
"Tua?!. kaget itu gak harus tua atau muda, Bel.", jawabnya. Abel hanya nyengir.
Gus Aham membukakan pintu untuk Aisyah dan segera menutupnya begitu Aisyah masuk dan duduk dengan benar. lalu Gus Aham berjalan menuju sisi pintu mobil yang lain, membukanya dan duduk di belakang kemudi. siap untuk menyetir.
"Da-da, yang ti.", teriak Abel mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil dan melambaikan tangan. utinya terkejut melihat itu karena mengira Abel sudah berangkat ikut mobil pengantar anak-anak panti yang lain.
๐บTO BE CONTINUED ๐บ
๐บbegini kira-kira wajah yang jenuh waktunya tidur tapi si istri malah lagi nidurin anak-anak panti๐บ
__ADS_1