
Aisyah bahkan bisa terlelap di pelataran makam sunan Ampel ketika ia selesai bertawasul pada Shohibul bait, yaitu Raden Ahmad rohmatulloh atau yang biasa di kenal sunan Ampel.
"Ning, bangun.", ucap seorang wanita paruh baya membangunkan Aisyah yang tertidur karena kelelahan.
Aisyah membuka matanya, wanita paruh baya itu terlihat membersihkan area makam.
"apa sudah subuh?.", tanya Aisyah.
"Sebentar lagi.", jawabnya. lalu terdengar tarkhim berkumandang. pertanda adzan subuh sebentar lagi di kumandangkan.
Aisyah mengedarkan pandangannya ke sekitar, suasana makam terlihat sedikit sepi. ia beranjak berdiri.
"Ning. kalau mau mandi dan ganti baju, ayo ikut nenek. kebetulan nenek ada baju bisa untuk ganti kalau butuh baju bersih untuk sholat.", ucap nenek itu menawarkan bantuan.
Aisyah tersenyum dan mengangguk. ia kemudian membantu nenek itu membersihkan area makam, ia mengumpulkan semua sampah dan plastik yang di tinggalkan oleh para peziarah yang datang.
Selesai itu, ia membantu nenek untuk menyapu arena makam. bila memungkinkan biasanya nenek juga mengepel lantai di area makam.
Aisyah di ajak pulang ke rumah nenek. terlihat seorang pria tua juga yang baru datang.
"Mbah kung. ada tamu.", ucap si nenek memberi tau pria tua yang baru datang itu bahwa ada tamu.
Aisyah bergegas menghampiri dan mencium tangan pria tua itu.
"Panggil Mbah kung, saja.", ucap pria tua itu yang di angguki Aisyah, ia tersenyum.
"Ini suaminya si Mbah.", sahut wanita paruh baya yang mengajak Aisyah kerumahnya tadi.
"Saya Aisyah.", ucapnya, memperkenalkan diri.
Mereka lantas bersiap untuk jamaah sholat subuh di masjid Ampel.
Selesai sholat, Aisyah dengan khusyuk berdoa. dalam doanya, ia tidak ingin mengeluh. ia sudah pasrah dan terima dengan apa yang terjadi dalam hidupnya.
Ia yakin, "Gusti mboten sare" (Allah tidak tidur). cepat atau lambat, baik atau buruk, semuanya akan segera terungkap.
Ia hanya berdoa, memohon kesehatan untuk bayinya, untuk keluarganya dan mohon di kuatkan serta di beri kesabaran dalam menjalani masalah yang sedang di hadapinya.
__ADS_1
..................................................................................
Gus Aham masih di jalan menuju rumah. kini ia tau, jelas ada orang yang berniat mengobrak-abrik hubungannya dengan Aisyah. tapi siapa?!, ia yakin tidak memiliki musuh.
"Foto-foto yang njenengan kirim. saya juga menemukannya di akun sosial media atas nama Ahmad Abu Raihan.",
"Sepertinya foto-foto itu, asli milik si pengunggah. dan foto-foto itu di ambil sekitar dua tahun yang lalu. tempatnya seperti di daerah pegunungan Malang.",
"Njenengan, pasti lebih tau alasannya. dari sekian banyak foto mesra Aisyah dan laki-laki itu, kenapa yang dikirim ke njenengan selalu foto yang tidak jelas terlihat wajahnya.",
Kata-kata dan penjelasan Nigham tentang penyelidikannya pada Aisyah terus bergaung di telinganya.
Iya, sengaja yang di ambil foto-foto yang tidak jelas wajahnya, karena jika sampai terlihat. jelas, Gus Aham akan mengenalinya, dan karena sudah mengenal laki-laki itu, ia tidak akan marah dan tidak akan cemburu.
Aisyah-nya tidak bersalah. Aisyah-nya di fitnah, dan ia malah mempercayai semua pesan dari si peneror.
Tapi siapa?!, orang yang menerornya?. kenapa sasaran nya Aisyah?!, apakah ada orang yang membenci Aisyah?, apakah Aisyah pernah menyinggung seseorang, hingga membuatnya dendam?!.",
Ahmad Abu Raihan, nama yang sangat ia kenal. ya, nama dari seseorang yang sangat di sayangi istrinya karena sangat memanjakannya.
Ahmad Abu Raihan, adalah kakak kandung Aisyah. bahkan setelah kakaknya menikah, Aisyah tetap yang utama baginya. tak heran jika foto-foto mereka terlihat begitu mesra.
Begitu sampai pelataran ndalem, Gus Aham segera melangkahkan kakinya, masuk ke ndalem.
ia bergegas berjalan menuju kamarnya. satu tujuannya, menemui cintanya, menjelaskan semua dan minta maaf.
Tapi saat Gus Aham membuka pintu kamar, ia tidak menjumpai sosok yang benar-benar membuatnya tidak berkutik itu. ia mencari ke kamar mandi, ke loteng dan ke balkon.
Tapi ia tidak menjumpai istrinya. "mungkinkah sedang mengajar diniyah?.," pikirnya.
Gus Aham memutuskan untuk menunggu Aisyah di kamar hingga ia tertidur. ia merasa Aisyah sedang tidur di sampingnya.
Gus Aham membuka mata perlahan, senyuman Aisyah menyambutnya, Gus Aham membalas senyuman itu. tapi saat matanya benar-benar terbuka dan ia sepenuhnya sadar. yang di sampingnya bukanlah Aisyah.
Bantal guling yang sedari tadi di peluknya membuatnya sadar istrinya tidak ada di ruangan ini. ia segera bangun, jam menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Ia berpikir, sebentar lagi istrinya pulang karena ini jam istirahat mengajar. Gus Aham bergegas menuju kamar mandi, ia berpikir harus terlihat tampan saat bertemu dengan istrinya nanti.
__ADS_1
Begitu selesai, Gus Aham segera mengambil baju ganti di lemarinya. Gus Aham duduk di tepian ranjang. ia melihat ponselnya, baterai nya hanya tinggal beberapa persen.
Ia mencari charger ponselnya di meja tempat biasa ia mengecas handphone nya, tapi tidak ada. jadilah ia mencari di laci samping ranjangnya.
Dibukanya, laci itu satu persatu. dari paling bawah, atas, tengah lalu kembali lagi ke laci atas karena melihat benda yang tak asing disana.
Sebuah kotak perhiasan terlihat berada di sana. sebelum ini tidak pernah ada kotak perhiasan di laci itu, dan kotak itu sangat khas. kotak yang di berikan kepada istrinya begitu sah menjadi suami istri.
Gus Aham ingat dengan benar, ia sendiri yang membuka kotak cincin itu dan memakaikannya pada jari Aisyah setelah para kyai sepuh selesai membaca doa untuk kelanggengan pernikahan mereka.
Ragu Gus Aham mengambilnya, ada perasaan takut dan ragu disana. ia sempat menghela nafas dalam sebelum akhirnya kotak cincin itu terbuka dan memperlihatkan penghuninya.
Ya, cincin berwarna putih. cincin perak bermata berlian di tengahnya itu tertancap indah di dalamnya, ia tau itu milik Aisyah.
"Kenapa dia melepasnya?.", Gus Aham terdiam sejenak. ia berpikir kemana istrinya?!, kenapa belum kembali ke kamar?,
Biasanya. saat istirahat jam sekolah, istrinya pasti akan pulang menemuinya.
Gus Aham mengurungkan niatnya untuk men-charge ponselnya. ia bergegas keluar kamar hendak menyusul Aisyah ke pondok putri.
"Ham.", belum sempat ia beranjak dari depan kamarnya, panggilan Ummi sudah lebih dulu menghentikan langkahnya. Gus Aham menoleh, menunggu Ummi menghampirinya.
"Aisyah, ke panti?. kok ndak pamit sama, Ummi?!.", dan "Duaarr" perkataan Ummi menyabet hatinya. ia tau, arti kata Ummi adalah Aisyah tidak disini. lalu, kemana dia pergi?!.
"Ham.", suara Ummi menyadarkan pikirannya.
"Kenapa?.", tanya Ummi.
"Ndak apa, Ummi.", jawab Gus Aham.
"Yowes. kalau emang Aisyah di panti, suruh hati-hati sama jaga kesehatan ya, le?!. dia kan lagi hamil, trus kamu juga harus nemeni dia kesana. kan, Aisyah ndak bisa maem dari tangannya sendiri.", ucap Ummi seperti biasa agak sedikit cerewet untuk mengingatkan. Gus Aham tersenyum dan mengangguk.
Ia pamit pada Ummi, hendak ke panti untuk menemui Aisyah.
Gus Aham bergegas berjalan menuju mobilnya. ia ingin segera bertemu Aisyah. dengan cepat ia menaiki mobilnya, duduk di belakang kemudi, menyalakan mesin mobilnya dan segera melajukannya menuju panti.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
🌺TO BE CONTINUED 🌺