Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 41


__ADS_3

Mobil yang membawa Aisyah itu, akhirnya berhenti di pelabuhan. pria itu segera memasukkan mobilnya ke dalam kapal Pelni ( pelayaran nasional Indonesia). agar jejaknya tidak terlacak.


Tujuannya bukan Aisyah, tujuannya untuk memancing Gus Aham keluar. sudah lama ia ingin balas dendam, dan baru beberapa kemarin menemukan kelemahan rivalnya itu.


Gus Ma'adz dan mas Raihan mencari Gus Aham di sekitar makam. Aisyah saja belum ketemu, kini Gus Aham juga ikut menghilang. di tambah, ponsel Gus Aham di bawa Gus Ma'adz saat memperlihatkan foto Aisyah pada si Mbah dan Mbah kung tadi.


Mereka pun mengikuti si Mbah dan Mbah kung yang mengajak mereka untuk mampir ke rumahnya sebentar. sebagai rasa terima kasih dan rasa hormat, tentu Gus Ma'adz dan mas Rai tidak menolak.


Rumah Mbah Mustajab sangat sederhana, rumah berukuran lebar lima meter dan panjang sepuluh meter itu terlihat sangat nyaman.


Ada dua kursi di teras bangunan berlantai semen itu. begitu masuk, mereka di suguhkan dengan tempat duduk sofa kayu dan meja yang terbuat dari kayu jati yang sudah di poles tentunya.


Tak banyak perabotan di dalam ruangan itu selain set meja dan sofa. tak ada TV, hanya radio yang menghiasi meja di sudut ruangan.


Si Mbah kembali lagi dengan membawa dua susu jahe, rebusan ketela dan roti kering untuk Gus Ma'adz dan mas Raihan.


"Monggo, di unjuk. ngapunten lho, wonten namung niki.",


("Silahkan, di minum. maaf ya, adanya hanya seperti ini).", ucap si Mbah, mempersilahkan Gus Ma'adz dan mas Raihan.


"Nggeh, Mbah. matur nuwun, ngapunten lho ngrepotne.",


("Iya, Mbah. terimakasih, maaf ya merepotkan).", jawab mas Raihan.


"Mboten. tamu niku rojo, nek saget ngeladeni, ngormati rojo, Kulo malah remen.", (" tidak. tamu itu raja, kalau bisa melayani, memberi penghormatan, saya malah seneng).", sahut Mbah kung.


Gus Ma'adz dan mas Raihan pun mencicipi dan meminum semua yang di sajikan.


Sementara Gus Aham masih terus mencari Aisyah, ia tidak berhenti saat ia terjatuh dan Aisyah tidak menolehnya. ia tau, ia salah. maka ia akan terus berusaha meraih hati istrinya lagi.

__ADS_1


Berkat penelusuran yang tak kenal lelah, Gus Aham bisa tau keberadaan Aisyah. ada yang memberi tahunya bahwa ia di bawa oleh mobil Jeep. sepertinya mengarah ke jalan perak timur 402.


Ya, itu jalan yang searah dengan pelabuhan. tapi kenapa?!, dan siapa yang membawa Aisyah dengan mengendarai mobil Jeep itu?. dan kenapa ia menuju jalan perak?!, mau kemana mereka?!. Gus Aham berpikir sejenak.


Ia pun menyusuri jalan perak 402 dengan di bantu ojek. ia menyewa ojek seharian untuk mengejar Aisyah.


"Kemana lagi, mas?.", tanya tukang ojek itu, mungkin ia sudah merasa lelah. Gus Aham faham ini sudah larut, sedangkan tukang ojek itu sudah menemaninya sedari siang untuk mencari Aisyah.


Gus Aham pun segera turun dari boncengan motor pemilik ojek. ia merogoh sakunya, mengeluarkan dompet lalu mengambil beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dan memberikannya pada tukang ojek itu.


"Terimakasih.", ucapnya seraya tersenyum tipis. tukang ojek itu menghitung uang dari Gus Aham.


"Mas. ini kebanyakan.", ucapnya sambil mengembalikan sisanya pada Gus Aham.


"Ndak apa, pak. bapak kan, sudah nemeni saya muter-muter. itu rezeki bapak dan keluarga.", jawabnya. ada rasa lelah terdengar dari suaranya.


"Bener, mas?. terimakasih ya, mas. semoga istrinya cepat ketemu.", ucapnya girang. Gus Aham hanya tersenyum dan mengangguk.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Gus Aham terdiam. ia duduk di tepi jalan, setelah berjalan menuju dermaga, pikirannya buntu. ia ingin berpikir sejenak dan menyejukkan diri dengan angin laut.


Kemana istrinya pergi?, siapa yang menjemputnya?!, menjadi pertanyaan yang terus terulang di pikirannya.


"Kasihan. ceweknya nangis, gak di bolehin turun dari mobil.", Gus Aham mendengar pembicaraan dua orang yang dilihatnya tadi baru keluar dari kapal.


"Heran. katanya istrinya, tapi kok kasar.",


"Jaman sekarang, udah biasa gitu. kalau udah gak cinta main hajar aja.",

__ADS_1


"Padahal tadi ceweknya mohon-mohon, minta di kasihani karena lagi hamil.",


Gus Aham terdiam mendengar obrolan dua anak buah kapal itu, ia teringat Aisyah. tanpa ampun ia menghakimi istrinya, tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan sama sekali.


Ia mengusap wajahnya kasar untuk sesaat. lagi-lagi bulu matanya basah oleh air mata yang belum sempat menetes. kedua tangannya menutup wajahnya sesaat. ada penyesalan yang luar biasa.


Ia menghela nafas dalam dan menghembuskannya dengan berat. ia beranjak dari duduknya, lalu mulai berjalan menyusuri pinggiran pelabuhan. melihat-lihat kapal barang dan muatan yang datang dan pergi. ada yang sedang membongkar muatan dan sedang menunggu penumpang penuh.


Matanya menangkap bayangan yang cukup ia kenal di jendela kapal, ia terlihat sedang menangis.


"Aisyah.", gumamnya. ia yakin itu istrinya.


Anak buah kapal itu mulai menaikkan jangkar, secepatnya Gus Aham berlari masuk ke dalam kapal.


Begitu Gus Aham masuk dalam kapal, ia segera mencari keberadaan istrinya. Gus Aham menyusuri geladak dasar tempat dimana semua barang dan muatan tersimpan. ia mencari ke setiap sudut. mencari di setiap kendaraan yang terparkir rapi.


Gus Aham ingat, ada yang melihat istrinya naik mobil Jeep. ia pun mencari di setiap mobil Jeep yang ada di geladak. satu persatu, di lihatnya setiap mobil Jeep yang terparkir di sana.


Ia hampir putus asa, karena dari sekian banyak mobil belum menemukan istrinya, atau minimal menemukan petunjuk. Gus Aham hampir saja menyerah. sampai akhirnya, ia melihat mobil Jeep terparkir disudut ruangan. jauh dari mobil-mobil yang lain.


Gus Aham berjalan menghampiri mobil itu, tidak ada orang di mobil Jeep Rubicon berwarna putih yang sama persis dengan kepunyaannya. tapi, ia melihat kerudung dengan warna yang sama, yang di pakai Aisyah tadi.


Gus Aham mengambilnya. ia bertambah yakin istrinya ada disini. tapi dimana?!. ia terus berjalan menyusuri geladak dasar. sedang kapal mulai berlayar.


Gus Aham sudah menyusuri geladak dasar, dan karena tidak menemukan Aisyah, ia pun pergi ke geladak antara (geladak tengah) yang memang biasanya di khususkan untuk penumpang. dengan cermat, ia memperhatikan satu persatu penumpang yang ia jumpai. Gus Aham sampai harus menyisir geladak antara beberapa kali untuk memastikan keberadaan istrinya.


Ia sedikit frustasi saat tak menemukan keberadaan Aisyah. ia pun pergi ke mushola di kapal Pelni itu yang terletak di geladak atas.


Waktu menunjukkan pukul dua dini hari, dan dari kemarin malam ia belum istirahat ataupun tidur. Gus Aham melaksanakan sholat isya' terlebih dahulu. memohon ampun dan memohon pertolongan agar di beri petunjuk dalam pencarian istrinya.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2