
Gus Aham pergi ke lintasan balap motor liar. disinilah dulu ia sering menghabiskan malamnya, sekedar untuk melihat pertandingan atau untuk mengikutinya juga.
Suara mesin motor bersahut-sahutan, terlihat dua pembalap saling adu kecepatan menjadi yang tercepat dengan motor kebanggaannya masing-masing.
"Woe, anak Sholeh lama nggak muncul.", sapa Roky menggodanya. Gus Aham hanya meliriknya.
"Mau tanding, mas bro?!. pengen lihat masih layak di juluki "King of race" enggak." sambung Roky.
Gus Aham tersenyum, lebih tepatnya senyum mengejek.
Akhirnya Gus Aham memutuskan untuk balap motor melawan Roky. Gus Aham dan Roky sudah berada di posisi masing-masing, sementara pengawas arena mengangkat bendera tinggi-tinggi. dan begitu bendera di turunkan, baik Gus Aham maupun Roky sama-sama langsung tancap gas.
Pada awalnya, mereka diposisi yang sama setelah beberapa kali saling balap. namun saat sampai finish tetap Gus Aham yang lebih unggul sedikit dari Roky.
Roky, memukul setir motornya pertanda kesal kare kalah. membuat Gus Aham hanya tersenyum melihatnya.
Sebuah nada dering khas ponsel milik Gus Aham terdengar. Gus Aham yang baru saja melepas helm nya segera merogoh saku jaketnya dan menatap layar ponselnya.
"Hai, aku sekarang baru sampai di rumah Nigham.", sapa suara di seberang yang tak lain adalah Mike.
Nigham sudah bekerja di sebuah CV, jadi ia pun mendapatkan fasilitas rumah dinas seperti kebanyakan karyawan lain.
"Besok aku akan kerumah. pastikan kau tidak keluar bersama istri Manismu.", goda Mike.
"Aku akan kesana sekarang.", jawabnya lalu mengakhiri panggilan.
Gus Aham menyalakan motor nya. motor ninja berwarna kuning yang sedikit di modif itu begitu tangguh di arenanya.
"Eits, mau kemana?.", tanya Roky menghadang Gus Aham untuk tidak pergi lebih dulu.
"Mau ketemu temen dulu. kalau mau tanding dan kalah lagi, kita ulangi besok. Ok?.", ucapnya tersenyum mengejek lalu menepuk pundak Roky.
Roky yang merasa sebal itu, segera menyingkir sehingga membuat Gus Aham pergi melaju meninggalkan arena dengan senyum mengejeknya.
Gus Aham langsung menuju ke kantor sebuah CV, dimana Nigham tinggal. ada Mike juga yang sudah menunggunya disana. begitu sampai, satpam yang sudah hafal dengan Gus Aham itu, segera membuka gerbang dan mempersilahkan Gus Aham masuk.
__ADS_1
Gus Aham segera turun dari motor begitu sampai. ia melepaskan helm nya sebelum masuk ke rumah dinas Nigham.
"Tumben bawa motor. nge-drag lagi?.", tanya Mike yang keluar dan berdiri di teras rumah Nigham begitu mendengar suara motor Gus Aham.
Gus Aham hanya diam, ia berjalan menghampiri Mike lalu menyahut soda di tangan Mike dan meneguknya. seperti biasa Mike hanya geleng-geleng melihat kelakuan temannya.
Gus Aham masuk, lalu merebahkan tubuhnya di kursi tamu milik Nigham.
"Ada perlu apa?.", tanya Gus Aham pada Mike yang mengikutinya dan duduk di kursi lain.
Mike mengeluarkan sebuah amplop. dari luarnya, jelas itu amplop rumah sakit.
"Selamat. bayi itu milikmu.", ucapnya seraya meletakkan amplop itu di meja.
Gus Aham terperanjat. ia segera bangun dan duduk, secepat kilat ia membuka amplop itu.
Gus Aham membaca laporan itu dengan seksama, yang menjelaskan bahwa memang antara ia dan bayi dalam kandungan Aisyah, memang adalah anaknya.
Gus Aham terdiam. jika laporan ini mengatakan bahwa ia adalah ayah kandung dari bayi dalam kandungan Aisyah, lalu..., laporan yang ada di rumahnya tadi?!,
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Kenapa?.", tanya Mike. ia menangkap kebingungan dari wajah sahabatnya.
"Apakah ini hasil asli?.", ia malah bertanya balik pada Mike.
"Tentu. Sintya memberikannya langsung padaku."
"Apakah kalian biasanya mengirimkan hasil lab, atau hasil apapun lewat kurir?.",
"Tentu saja tidak. itu adalah privacy pasien. rumah sakit manapun tidak akan berani mengirimkan hasil apapun lewat kurir.", jelasnya.
Tiba-tiba Gus Aham teringat saat melakukan hubungan badan itu dengan Aisyah, ia ingat dengan jelas darah per*wan yang keluar karena ulahnya. mendadak Gus Aham terlihat begitu resah.
"Gus, tidak ada aktivitas mencurigakan dari ponsel Aisyah.", ucap Nigham yang memberikan ponsel Aisyah pada Gus Aham.
__ADS_1
Beberapa hari yang lalu, saking curiganya ia sampai menyita handphone Aisyah dan di berikan pada Nigham untuk di periksa.
"Apakah ada kemungkinan, dia menghapusnya?.", tanya Gus Aham pada Nigham.
"Tidak. ini iPhone, sekalipun ia menghapus semua data, video atau apapun itu kita masih bisa mengambilnya dan melihatnya dari folder sampah.", jelasnya.
Pernyataan Nigham semakin membuat Gus Aham yakin kalau Aisyah tidak memiliki hubungan apapun dengan orang lain. apalagi di tambah hasil DNA yang diberikan Mike.
Gus Aham memasukkan hasil tes DNA itu ke sakunya. ia berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari rumah Nigham tanpa menghiraukan kedua sahabatnya.
Begitu mesin motornya menyala. ia segera tancap gas, keluar dari gerbang kantor CV itu. pikirannya hanya satu, Aisyah.
Ia harus segera menemui istrinya, menjelaskan semua kesalahpahaman diantara mereka.
Waktu menunjukkan pukul tiga lewat dini hari. Aisyah turun dari bis di makam sunan Ampel. ia ingin menenangkan diri sebelum akhirnya kembali ke panti.
Ia mulai menyusuri jalan yang penuh dengan penjual aksesoris, kurma, baju, karpet dan penjual lainnya, yang kebanyakan memiliki postur wajah seperti orang Arab. hingga terkenal dengan sebutan kampung Arab.
Makam sunan Ampel atau yang bernama asli raden Ahmad Rohmatulloh itu tidak pernah sepi dari para peziarah sekalipun di waktu tengah malam.
Aisyah berjalan mendekat. sebelum masuk lebih jauh, Aisyah mengambil air wudhu.
Selesai berwudhu, Aisyah mulai memasuki pelataran makam. ia pergi ke makam Mbah Bolong atau yang mempunyai nama asli Mbah Shonhaji terlebih dahulu.
Menurut cerita, Mbah Shonhaji atau mbah Bolong adalah orang yang menunjukkan arah kiblat pada semua orang, saat orang-orang ragu apakah musholla yang di bangun sunan Ampel sudah benar menghadap Ka'bah atau belum?.
Dengan karomahnya, Mbah Bolong melubangi dinding musholla yang mana saat dinding musholla itu berlubang nampak jelaslah Ka'bah lewat lubang itu, yang artinya bahwa musholla sunan Ampel benar-benar menghadap kiblat.
Mbah Bolong ini juga seorang mantan nahkoda kapal, sehingga ia begitu fasih dan ahli dalam menentukan arah, ilmu Falaq atau astronomi. pengetahuan beliau inilah yang di gunakan untuk menentukan arah kiblat masjid.
Aisyah mulai duduk bersila, ia mulai bertawasul kepada sang ahli rumah, Mbah Bolong. tidak lupa,ia juga mengaji beberapa surat, seperti Al-fatihah, surat tiga Qul, surat Kahfi, Yasin, surat as-Sajadah, surat Jum'at dan surat al-Mulk.
Selesai membaca semua surat itu, Aisyah hanya minta di berikan kekuatan, kesehatan dan kesabaran melewati masa-masa nya kini.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
🌺TO BE CONTINUED 🌺