Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 89


__ADS_3

Aisyah dan Ning Nafis selesai berbelanja kain untuk seragam para wisudawati Khotmil Qur'an. mereka segera keluar dari toko setelah menyelesaikan pembayaran.


"Terimakasih. silahkan datang lain kali.", ucap kasir yang melayani mereka. Aisyah tersenyum.


Ia lantas menghampiri Ning Nafis dan pemilik toko, yang sedang mengawasi karyawannya untuk memasukkan belanjaan mereka ke bagasi mobil.


"Sudah selesai?.", tanya Ning Nafis, yang mengetahui adiknya berdiri di belakangnya.


"Sudah, mba.", jawabnya.


Terdengar pintu bagasi mobil di tutup. pertanda semua barang sudah selesai di masukkan dan siap untuk pulang.


"Baiklah. kami, permisi dulu.", ucap Ning Nafis menjabat tangan pemilik toko.


"Sama-sama, Ning.", jawabnya.


"Terimakasih, umik.", ucap Aisyah. ia juga menjabat tangan pemilik toko setelah kakaknya.


Mereka segera masuk ke dalam mobil, dimana dua keponakannya sudah duduk manis dengan cemilan mereka.


Kang Mu'idz menutup pintu mobil untuk Aisyah dan Ning Nafis. ia segera naik dan duduk di belakang kemudi untuk menyalakan mesin mobil dan bersiap pulang.


Mobil mulai berjalan menyusuri jalanan sepanjang kota Malang. Aisyah menikmati pemandangan begitu juga kakak iparnya.


"Ting..", satu notif pesan masuk ke dalam ponselnya. Aisyah segera meraih ponsel di tas dan melihatnya.


"Alhamdulillah, acara berlangsung lancar.",


"Sayangku, sedang apa?.", dua pesan WhatsApp dari suaminya. membuatnya tersenyum saat membacanya.


"Sedang baca chat, njenengan.", balasnya


"πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…".


"Coba ndak jauh. udah tak gigit hidungmu.", balas Gus Aham. yang membuat Aisyah tertawa hingga mengeluarkan suara.


"Bulek, lihat apa?!.", tanya Ning Dija, yang heran melihat tingkah buleknya.


"Mm...?!.", Aisyah bingung harus menjawab apa?!.


"Bulek. lagi bales pesannya, pak lek. udah, jangan ganggu.", sahut Ning Nafis, menyodorkan sebotol air putih pada Ning Dija dan langsung di terimanya. ia meminumnya.

__ADS_1


Aisyah nyengir melihat kakak iparnya. yang membuat Ning Nafis tersenyum.


"Mba, juga pernah dulu. sekarang malah jarang.", ucap Ning Nafis.


"Ini kan, karena kita lagi jauh-jauhan mba. makanya, kirim dan balas pesan.", ucap Aisyah.


"Bukan karena lagi jauh-jauhan, tapi karena lagi jatuh cinta. makannya, begitu.", ucap Ning Nafis. lirikannya, membuat Aisyah tersenyum. begitu manis, hingga membuat kang Mu'idz pun ikut meliriknya dari kaca.


"Berarti, mas langsung pulang?.",


"Insyaallah. doain, ya?!."


"Ini, anak-anak mau ngajak bakar-bakar dulu sich. syukuran katanya.",


"πŸ™„..


"Katanya, tadi janji. sebelum petang sudah pulang ke ndalem.",


"Iya. mas, usahain.",


"Jadi keluar?.",


Cukup lama Aisyah tidak membalas pesannya, membuatnya berpikir, istrinya marah karena ia belum juga berangkat pulang.


Ia mulai berpikir akan segera pulang setelah semua siap dan hanya ikut bakar-bakar sekali saja. Gus Aham tidak ingin Aisyah merajuk ataupun marah, mengingat hubungan mereka semakin manis sekarang.


Gus Aham masuk di perpustakaan. ia duduk di tempat anak-anak biasa membaca bukunya disini. ia mengeluarkan ponselnya, mengecek apakah ada pesan dari istrinya. yang ternyata memang tidak ada. ia mendengus berat melihat ponselnya.


Sedang apa Aisyah sekarang?!, pikirnya. otaknya hanya di isi dengan pertanyaan seputar istrinya.


Gus Aham mengalihkan pikirannya. ntah kenapa, jarinya usil membuka galeri foto pada ponselnya. Banyak foto-foto Aisyah yang ia ambil secara candid. nyatanya, meskipun foto-foto itu di ambil secara candid, istrinya tetap terlihat cantik dan manis dengan berbagai ekspresi wajah yang polos.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Gus Aham men-scrol foto itu satu persatu. sampai ia menemukan foto sebuah kertas putih. dimana di dalamnya tertulis sebuah perjanjian pernikahan pura-pura antara ia sebagai pihak pertama dan Aisyah sebagai pihak kedua.


Bukan isi perjanjian itu yang jadi fokusnya, karena itu adalah surat perjanjian lama, sebelum ia menikah untuk yang pertama kali dengan Aisyah. jadi, surat itu sudah tidak sah.


Gus Aham menutup galeri dan melihat kalender di ponselnya juga. ia mengangguk dan tersenyum.


"Mas. mau jama'ah sholat Maghrib?.", tanya Ali yang berdiri di pintu perpustakaan, membuat Gus Aham menoleh, tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


Gus Aham segera keluar dari perpustakaan bersama Ali. lalu menuju kamar mandi untuk wudhu, selanjutnya ikut bergabung bersama anak-anak jalanan penghuni yayasan yang di kelolanya.


"Monggo, mas!.", ucap Ali. mempersilahkan Gus Aham menjadi imam.


"Kamu aja. aku ikut.", jawabnya. lantas ia berdiri dengan jama'ah lain untuk sholat Maghrib berjamaah.


Seperti biasa, selesai sholat. di isi dengan dzikir terlebih dahulu. suara anak-anak terdengar semangat mengucapkan kalimat-kalimat toyyibah, hingga berakhir dengan doa.


Begitu doa selesai di panjatkan. anak-anak bergegas bersalam-salaman dengan jama'ah lain. yang sudah selesai, segera berlari menuju tempat bakar-bakaran.


Mereka mulai menyalakan api untuk membakar arang. sementara di meja, nampak aneka daging yang sudah di bumbui siap untuk di panggang.


"Al, aku pulang dulu.", ucap Gus Aham. sambil memakai jas nya.


"Loh. ndak ikut makan-makan dulu, mas?.", tanyanya.


"Nikmatin aja sama anak-anak. puas-puasin biar mereka seneng.", ucapnya melihat anak-anak yang begitu bahagia dan senang dengan perhatian dari walikota.


Gurauan dan tawa serta teriakan-teriakan kebahagiaan menghiasi yayasan anak jalanan itu malam ini.


Gus Aham meraih tangan Ali, lalu meletakkan beberapa lembar uang disana.


"Buat apa, mas?.", tanyanya kaget. uang dengan nominal yang lumayan banyak baginya.


"Terimakasih. sudah mengelola yayasan ini dengan baik. uang itu, kamu bagi sama pengurus lain. sebagai rasa terimakasih saya.", ucap Gus Aham.


"Ini terlalu banyak lho, mas. lagi pula, kami kerja dengan sepenuh hati, mas. kami ingin, yayasan ini maju. agar lebih banyak bermanfaat bagi banyak orang, terutama anak-anak jalanan dan anak-anak yang kurang mampu.", ucapnya, menjelaskan.


"Saya, tau benar. bagaimana rasanya hidup di jalan?!. bersyukur, bisa ketemu mas.", ucapnya lirih.


"Saya, ndak bisa terima ini mas.", sambungnya. ia menyelipkan uang ke tangan Gus Aham. dan Gus Aham hanya tersenyum.


"Uang ini, udah aku kasih sama kamu. terserah mau di apain?!.", ucap Gus Aham. ia tetap memberikan uang itu pada Ali.


Begitu anak-anak tau, Gus Aham mau pulang. mereka segera berebut untuk bersalaman. Gus Aham senang melihat usahanya mulai membuahkan hasil bagi mereka.


Gus Aham sudah menaiki mobilnya. Jeep Rubicon warna putih itu, teman setianya di jalan. ia melambaikan tangan yang di balas oleh semua anak-anak yayasan, hingga mobil itu menghilang di balik pagar.


Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh. ia mampir sebentar ke sebuah pusat perbelanjaan, membelikan sesuatu untuk istri tercintanya.


Tidak butuh waktu lama bagi Gus Aham untuk belanja ke dalam pusat perbelanjaan itu. hanya beberapa menit, ia sudah keluar dan menaiki mobilnya lagi.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2