Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 51


__ADS_3

"Tapi, mas. Ummi, sedang butuh, Ning Aisyah. Ummi terus nunggu kedatangan, Ning Aisyah.", teriaknya sambil terus mengetuk jendela.


"Mas. tolong izinin, Ning Aisyah ikut saya.",


"Tolong. izinkan, Ning Aisyah ketemu, Ummi. sebentar saja.",


Kang Mu'idz, masih terus berusaha untuk mengajak Aisyah ikut ke ndalem, agar bisa bertemu dengan Ummi. sampai akhirnya, ia di hampiri oleh pak Budi, satpam yang biasa menjaga gerbang panti.


Awalnya, pak Budi meminta kang Mu'idz secara baik-baik untuk pergi dari panti. tapi kang Mu'idz tetap kekeuh ingin bertemu Aisyah dan ibu. jadilah, pak Budi terpaksa menyeret kang Mu'idz keluar gerbang. begitu juga dengan sepeda kang Mu'idz, di lemparkan begitu saja oleh pak Budi.


"Ngapunten, kang. Monggo, njenengan wangsul mawon. (Maaf, kang. silahkan anda pulang saja).", ucap pak Budi. kang Mu'idz masih terus berusaha untuk masuk dan menemui Aisyah, tapi terus di halangi oleh pak Budi. pak Budi menutup gerbang pada akhirnya.


Malam beranjak, kang Mu'idz masih berdiri di depan gerbang.


"Mas. kang Mu'idz tetap berdiam di depan gerbang.", lapor pak Budi pada mas Raihan. Aisyah mendengarnya ketika melewati aula, hendak menuju kamarnya.


"Biarin.", jawab mas Raihan.


Aisyah terdiam. kang Mu'idz sangat menyayangi Ummi, ia menganggap Ummi seperti ibunya sendiri. pastinya keadaan Ummi sangat mengkhawatirkan, sampai kang Mu'idz rela menunggunya di luar dari siang hingga petang.


"Mba Yati.", panggilnya.


"Iya, mba.", sahut mba Yati yang sedari tadi menemani Aisyah jalan-jalan.


"Ibu, dimana?.", tanyanya.


"Ibu, teng kamar kadose. (ibu, sepertinya di kamar).", jawab mba Yati.


"Anter, Aisyah. ya?!.", pintanya.


"Injih.",


Mba Yati mengantar Aisyah ke kamar ibu. karena pintu terbuka, langsung saja mba Yati mengucapkan salam.


"Assalamualaikum, Bu.",


"Wassalamu'alaikum salam.", jawab ibu dari dalam yang langsung menghampiri mba Yati dan Aisyah di pintu kamar.

__ADS_1


"Bu. mba Aisyah, minta di anter kesini.", ucap mba Yati setelah ibu berdiri di depannya. ibu mengangguk, lalu mba Yati mengundurkan diri.


"Ayo masuk, nduk.", ajak ibu seraya mengambil alih menuntun Aisyah masuk ke kamar.


Ibu mengajak Aisyah duduk di kursi yang juga berada di dalam kamarnya.


"Ada apa?.", tanya ibu, setelah mereka duduk di kursi yang sama.


"Bu, tadi. kang Mu'idz, kesini.", ucapnya membuka pembicaraan.


"Kang Mu'idz, bilang. Ummi sakit. ndak mau maem sebelum ketemu Aisyah.",


"Bu. tolong anter Aisyah, jenguk Ummi.", ucapnya. ibunya terdiam.


"Hanya jenguk saja, Bu. lagi pula, keluarga kita dari dulu adalah abdi ndalem, kan?!. dari Mbah kung, Mbah buyut sampai Mbah-Mbah yang dulu, selalu jadi kepercayaan pondok yang di babat dan di dirikan kyai Malik.", ucapnya ketika ibunya lama terdiam, tidak mengiyakan ataupun menolak permintaan Aisyah.


Iya. dari awal pondok itu di dirikan, kyai Malik yang merupakan "Mbah gantung siwur" (istilah silsilah turunan orang Jawa yang ke tujuh), atau simpelnya, Mbah buyut dari Mbah canggah e Gus Aham dan Aisyah adalah teman karib. si Mbah gantung siwur dari pihak Aisyah inilah yang mengawal proses Mbah gantung siwur dari pihak Gus Aham untuk mbabat atau mengawali proses belajar mengajar sampai terbentuk nya pondok. dari santri yang hanya beberapa orang dan kamar-kamar santri yang hanya terbuat dari bambu (angkringan), sampai pondoknya berkembang pesat seperti sekarang ini.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Setelah Aisyah mengingatkan perjalanan Mbah nya dengan si Mbah dari Gus Aham. ibunya terdiam sejenak, berfikir.


Mungkin, mengungkit masa lalu terlalu kejam untuk mengingatkan ibunya, tapi ia tidak punya pilihan lain. silaturahmi dan rasa seduluran (persaudaraan) yang sudah tercipta bertahun-tahun dulu, tidak baik di abaikan begitu saja hanya karena kesalahan seorang Gus Aham.


Almarhum Mbah, juga pasti tidak ridho, tidak ikhlas. jika hanya karena masalahnya dengan Gus Aham, menjadi pemutus silaturahmi antara keturunannya dan keturunan ndalem.


Aisyah, meminta mba Yati untuk menyampaikan pada kang Mu'idz yang masih berada di depan gerbang untuk pulang. dan meminta mba Yati untuk mengatakan bahwa, Aisyah akan menyusul kesana.


"Kang.", panggil mba Yati setelah berdiri di depan gerbang bagian dalam.


"Njenengan, pulang saja dulu. sebentar lagi mba Aisyah, nyusul.", ucapnya.


"Saya, nunggu saja disini.", jawabnya.


Kang Mu'idz tidak yakin kalau, Aisyah akan benar-benar menyusul nya ke ndalem. bisa saja, ia berbohong. untuk memastikan apakah Aisyah benar ke ndalem atau tidak?!, maka, kang Mu'idz pun berencana untuk menunggunya di depan gerbang. nanti saat mobil membawa Ning Aisyah pergi, barulah ia akan pulang ke ndalem, pikirnya.


Setelah menunggu beberapa lama, terlihat Aisyah keluar dari rumah menuju mobil yang terparkir di halaman panti. dengan di bantu ibunya, Aisyah berjalan pelan-pelan.

__ADS_1


Setelah Aisyah masuk, barulah ibunya masuk dan menutup pintu mobil.


Pak Budi membuka pintu gerbang. kang Mu'idz mendekat dan mencoba mencari info, hendak kemana mobil itu membawa Aisyah.


"Nuwun sewu, pak. ajenge teng pundi, geh?!. Ning Aisyah, kaleh ibu?.", (Permisi, pak. mau kemana, ya?!. Ning Aisyah, dan ibu?).", tanya kang Mu'idz pada pak Budi.


"Mau ke pondok. jenguk, Bu nyai.", jawab pak Budi.


"Masyaalloh. geh, pak. matur nuwun.",( masyaalloh. iya, pak


terimakasih).", ucapnya.


Kang Mu'idz bergegas mengambil sepedanya, dengan semangat ia mengayuh menuju ndalem, sementara mobil yang di tumpangi Aisyah mengikutinya dari belakang.


Kang Mu'idz segera melompat dari sepedanya, begitu memasuki pelataran ndalem. ia terlihat sangat senang dan bersemangat.


"Assalamualaikum.", ucap kang Mu'idz. ia terus berjalan memasuki ndalem dan sampai di depan kamar Ummi. ia tersenyum melihat Gus Aham, Gus Ma'adz dan Ning Nafis yang masih berjaga di depan kamar Ummi.


Nafasnya ngos-ngosan, membuat Gus Aham, Gus Ma'adz dan Ning Nafis terheran-heran.


"Ada apa, kang?.", tanya Ning Nafis, heran.


"Assalamualaikum.", terdengar seseorang mengucap salam di depan ndalem. suara yang khas, milik ibu.


Ning Nafis yang merasa sangat kenal dengan suara itu, segera menjawab salam seraya berjalan cepat ke aula ruang tamu.


Dan tebakan Ning Nafis, benar. ia melihat ibu dan Aisyah serta mas Raihan berdiri di depan pintu.


"Waalaikum salam.", jawabnya. tidak percaya.


"Masyaalloh, ibu. Aisyah.", Ning Nafis terlalu bahagia melihat mereka datang ke ndalem.


Ning Nafis, segera menghampiri mereka dan mencium tangan ibu. ia tidak bisa menutupi rasa senangnya. dengan perasaan bahagia, Ning Nafis menuntun Aisyah masuk.


"Pinarak, ibu.", (Silahkan duduk, ibu).", ucap Ning Nafis mempersilahkan mereka masuk dan duduk di ruang tamu.


"Ning. saget anter Kulo, kepanggih ibu?.", (Ning. bisa antar saya, bertemu ibu?).", ucap Aisyah. Ning Nafis terdiam sejenak mendengar panggilan Aisyah untuknya. baru kemarin, Aisyah bermanja padanya. memanggilnya "Mba", memanggil Bu nyai nya dengan sebutan Ummi, tapi dalam sekejap juga, hubungan mereka berubah seperti ini.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2