
Gus Aham dan Aisyah, sudah menunggu dan ikut mengantri di rumah sakit khusus ibu dan anak.
Aisyah, biasanya melakukan pemeriksaan kehamilan di klinik dokter Fitri. tapi, kali ini karena di klinik dokter Fitri tidak ada USG, mereka harus pergi ke rumah sakit spesialis kandungan, untuk USG.
Gus Aham terlihat begitu antusias, ia terus duduk di samping istrinya. tangannya, terus mengusap punggung Aisyah untuk membuat duduk istrinya nyaman.
Lalu lalang pengunjung, dan ibu hamil yang di dampingi suami maupun orang tua nya, terlihat begitu ceria menghiasi ruang tunggu tempatnya untuk mengantri.
"Ibu Aisyah.", panggil asisten dokter, yang membuat Gus Aham segera membantu istrinya untuk bangun dari duduknya.
Dengan langkah perlahan, Gus Aham dan Aisyah masuk ke ruang praktek tersebut.
Aisyah menyapa dokter spesialis kandungan itu, untuk berbasa-basi. sebelum akhirnya, ia pergi menemui seorang perawat yang memintanya, untuk segera berbaring.
"Silahkan kemari, ibu, bapak.", ucap perawat tersebut. membuat Aisyah dan Gus Aham melangkah, mendekat ke arah suara yang berasal dari balik tirai.
"Silahkan naik, dan berbaring.", ucapnya lagi, memberi instruksi pada Aisyah.
Gus Aham yang mendengarnya, segera membopong tubuh sang istri ke ranjang. dan Aisyah segera merebahkan tubuhnya.
Asisten dokter segera menyelimuti tubuh bagian bawah Aisyah, dan perlahan menaikkan gamisnya. setelah nya, perawat itu segera memberi gel pada perut buncit miliknya.
Gus Aham duduk di sisi istrinya. tak berapa lama kemudian, dokter spesialis kandungan itu masuk.
"Selamat malam ayah, bunda.", sapanya ramah, sebelum melakukan tindakan USG pada Aisyah.
"Selamat malam.", jawab Gus Aham dan Aisyah bersamaan.
"Ok. kita mulai jenguk baby nya, ya?!.", dokter itu, segera menempelkan ujung alat USG 4 dimensi pada perut Aisyah.
Nampak jelas di layar rupa bayi mereka. ia terlihat begitu gemuk, pantas Aisyah merasa perutnya kian berat.
"Mau tau apanya dulu, nih?!", tanya dokter, saat wajah bayi itu mulai nampak di monitor.
"Jenis kelamin.", jawab Gus Aham, tanpa ragu. membuat Aisyah tersenyum, melihat begitu antusias nya sang suami ingin mengetahui jenis kelamin bayi mereka.
"Ok. kita geser dulu, ya?!.", ucap dokter kandungan itu. ia nampak piawai menggeser alat di tangannya.
Wajah dokter dan Gus Aham nampak berubah, saat tangan dokter itu tetap berputar-putar di satu titik perut Aisyah.
__ADS_1
"Kenapa?!.", tanya Gus Aham, yang sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
"Tidak bisa dilihat.", jawab dokter perempuan itu.
Gus Aham refleks menatap layar. ya, benar, bayi mereka terlihat malu untuk menunjukkan jenis kelaminnya.
Untuk sesaat dokter itu, mengusap-usap perut Aisyah. berharap, bayi itu membuat gerakan sehingga mereka bisa melihat jenis kelamin nya.
Dan benar saja, bayi itu bergerak. tapi, bukannya terlihat malah semakin tertutup. pasalnya, sekarang yang terlihat adalah pantat si bayi.
"Kaya'nya malu dia. lihat!, di malah nunjukin pantatnya.", ucap dokter, membuat Gus Aham dan Aisyah tertawa, serta semua yang ada di ruangan itu tertawa.
"Cek organ dan anggota tubuh lainnya dulu aja, ya?!. sambil nunggu, siapa tau nanti udah gak di tutupin.", tawar dokter, yang segera di angguki dan di setujui oleh Aisyah dan Gus Aham.
Dokter segera mengarahkan alat itu ke sisi perut Aisyah lainnya. dan nampaklah dengan jelas di layar, bentuk dari janin yang bersarang di rahim istrinya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Bentuknya sempurna ya, ayah, bunda?!.", ucapnya. ketika di layar nampak wujud bayi mereka dengan sempurna.
"Rambutnya lebat, ya?!.", ucap dokter, menunjukkan wajah dari bayi mereka.
"Mata, alis, hidung dan bibir. lengkap ya?!.",
"Dia terlihat cantik, kalau dilihat dari bibir dan hidungnya. tapi terlihat tampan dari struktur wajahnya.", jelas dokter. membuat Gus Aham yang sedari tadi menggenggam tangan Aisyah, tersenyum pada istrinya.
"Jari-jari nya sempurna ya bunda?!.," ucap dokter itu, menunjukkan jari tangan dan kaki si jabang bayi.
"Untuk kelaminnya, dia masih malu-malu.", ucapnya. membuat Aisyah dan Gus Aham tersenyum.
"Sekarang, malah di tutupin pake kaki.", sambung dokter.
"Kaya' nya, pengen ngasih surprise buat ayah bundanya ini.", ucap dokter lagi.
Gus Aham dan Aisyah masih menatap layar, sembari menunggu pemeriksaan selesai.
"Jadinya, masih mau nunggu untuk lihat jenisnya?!. atau lain waktu saja?.", tanya dokter kandungan itu.
Aisyah menoleh pada suaminya. mengingat, Gus Aham yang begitu ingin tau jenis kelamin bayi mereka.
__ADS_1
"Cukup.", jawab Gus Aham pelan.
"Mungkin, bisa lain waktu ya, ayah?!.", sahut dokter. membuat Gus Aham menganguk, menyetujui usulan tersebut.
"Baiklah. mau di cetak?!.", tanya dokter. Aisyah melirik suaminya lagi.
"Tidak.", jawab Gus Aham, di sertai gelengan.
"Ok. kita selesai, dengan pemeriksaan baby nya.",
"Sampai bertemu di dunia, ayah bunda.", ucap dokter lembut. sebelum mengakhiri pemeriksaan nya.
Setelah dokter itu pergi, asisten dokter segera membantu Aisyah berkemas.
Mulai dengan membersihkan sisa-sisa cairan gel di perut Aisyah. lalu membantu Aisyah menurunkan gamisnya, sebelum akhirnya menarik selimut yang menutupi tubuh bagian bawah milik Aisyah dan melipatnya.
Selanjutnya, Gus Aham segera membantu istrinya turun dari ranjang, dan menghampiri dokter yang sedang duduk di meja kerjanya.
"Silahkan duduk.", ucap asisten dokter mempersilahkan Gus Aham dan Aisyah, untuk duduk di depan dokter.
"Ini laporannya, ya ayah bunda?!.", ucap dokter, menyerahkan laporan perkembangan bayi di rahim Aisyah pada Aisyah dan Gus Aham.
"Silahkan di cek dan di lihat. silahkan, bila ada yang perlu di tanyakan.", ucap dokter, seraya menunggu Gus Aham dan Aisyah membaca dan melihat laporan USG bayi mereka.
"Beratnya 2,2 kilogram?!.", tanya Aisyah, tidak percaya.
"Ia bunda. cukup besar untuk usia kandungan tujuh bulan. tapi, seperti ayah dan bunda lihat tadi. ia nampak sangat sehat, bahkan pipinya terlihat berisi.", jawab dokter.
"Paru-parunya?!.", pertanyaan Gus Aham menggantung, saat ia membaca laporan itu. ia khawatir, anaknya memiliki bronkitis seperti dirinya.
"Iya. jadi memang, untuk usia kandungan tujuh bulan. semua organ tubuh sudah terbentuk sempurna. hanya saja, untuk paru-paru baru belum berkembang sempurna.", jelas dokter.
"Apa akan ada masalah dengan paru-parunya?!.", tanya Gus Aham. membuat dokter itu tersenyum, faham akan ke khawatiran keduanya sebagai orang tua baru.
"Tidak.", jawab dokter tegas.
"Usia kandungan bunda menginjak 32minggu. dan memang pada usia 28 minggu ke atas, adalah waktu yang tepat bagi paru-paru untuk terus berkembang.",
"Jadi, meskipun paru-parunya belum berkembang sempurna, itu tidak menjadi masalah di kehamilan dan kesehatan bunda dan bayi. karena, setelah kelahiran pun, paru-paru akan terus berkembang hingga sempurna.", jelas dokter. membuat Gus Aham lega mendengarnya.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺